Si Bungkuk Pendekar Aneh -- Boe Beng Giok
Baca Online Si Bungkuk Pendekar Aneh -- Boe Beng Giok
Cersil Si Bungkuk Pendekar Aneh -- Boe Beng Giok
Misteri Teror Harimau Siluman Hitam dan Kemunculan Tokoh Sakti yang Misterius
Rekomendasi Bacaan Cersil Terbaik: Apabila Anda menyukai kisah persilatan klasik dengan petualangan yang mendebarkan hati, jangan lewatkan kisah legendaris Dewa Arak 66: Pembunuh Gelap yang menyajikan intrik tingkat tinggi di dunia Kang-ouw.
Bab I: Kabut Ketakutan di Kota Thiantay
Apabila anak-negeri di mana-mana sedang sibuk bersiap-siap menjongsong tibanya musim semi atau Tahun Baru dengan upacara istimewanya, sadji-sadjian serba ledzat, arak wangi, pakaian serba baru, petasan dan kembang-api, adalah penduduk di Thiantay sedang dalam ketjemasan dan ketakutan.
Laki-laki maupun perempuan, tua muda ataupun kanak-kanak tidak terkecuali berwadjah muram dengan Hati penuh kechawatiran. Apapula djika malam hari telah tiba, mereka tak mengerti, nasib apakah akan datang pada mereka. Anak-anak gadis djangan dikata lagi, setiap detik merasa terantjam keselamatannya, setiap saat merasa djiwanya berada di udjung tanduk.
Begitulah seluruh kota dalam duka-nestapa, udara dan suasananya seakan-akan gelap diselubungi kesedihan, membayangkan peristiwa jang mengerikan. Dan apakah sebenarja jang membikin penduduk Thian-tay mendjadi bingung ketakutan dan penuh kekhawatiran hidupnya seolah-olah dikejar-kejar maut?
Bab II: Kematian Sang Paderi yang Mendadak
Kira-kira empat bulan sebelum tiba musim semi, kepala Paderi dari geredja Seng-ong-bio meninggal tanpa sakit. Orang jang tahu mengatakan, bahwa satu hari sebelum kematiannya, kepala Paderi tersebut, In Tjeng Hweeshio, masih segar-bugar dan melakukan ibadat sutjinya seperti biasa. Karenanya, kematiannya itu mengherankan. Ia seorang Paderi welas-asih, penjajang rakjat, pengikut adjaran-adjaran sang Buddha jang sangat patuh.
Lalu tahu-tahu muntjul seorang Paderi lain menempati geredja Seng-ong-bio, mengakui dirinja pemimpin Buddhisme jang sangat luhur. Mula-mula ia mendjadi pemimpin Paderi dari geredja-besar di Hong-yang-hu di An-hwie, tiba-tiba ia muntjul di Thian-tay mengambil kedudukan sebagai pengganti kepala Paderi In Tjeng jang telah mangkat itu.
"Pintjenglah jang menerima tugas untuk melandjutkan memimpin geredja sutji ini, untuk menjebar lebih luas adjaran-adjaran Budha jang maha agung bagi kebaikan segenap ummat di Thian-thay membimbing mereka ke arah kebadjikan!", demikian Hweeshio jang baru itu memaklumkan didepan umum.
Memang tampaknya mesra dan sutji kepala Paderi baru itu, jang memperkenalkan diri dengan nama-Buddhanja Tong Hong Hweeshio. Dan orang menjebutnya Toa Hoosiang seperti kepala Paderi marhum In Tjeng Hweeshio. Orang melihat kegiatan-kegiatan Tong Hong Hweeshio dalam melakukan ibadatnja didalam klenteng pada waktu jang tertentu membatja kitab sutji. Bukan itu sadja, kegiatan-kegiatan mengembangkan adjaran perikemanusiaan pun atjapkali ditjeramahkan pada masjarakat umum.
Bab III: Tuntutan Korban Empat Puluh Gadis Suci
Haripun berputar terus dengan tjepatnja tanpa terasa empat bulan telah berlalu sedjak Tong Hong Hweeshio mendjadi pemimpin Seng-ong-bio. Disamping bersamaan pula tjepatnja terdjadi perubahan-perubahan luar biasa disekitar geredja. Mula-mula penduduk dikedjutkan oleh tjeramah Tong Hong Hweeshio ditempat umum, dimana diminta kehadiran orang-orang terkemuka dan pembesar-pembesar setempat.
“Ada suatu malaikat tiba2 muntjul melalui Hek Houw Sinbeng dari Seng-ongbio,” demikian Tong Hong Hweeshio memulai tjeritera dengan nada bergetar.
Ia menjelaskan bahwa kelalaian penduduk dalam memuja berhala telah membangkitkan kemurkaan sang Malaikat Harimau Hitam. Hanya ada satu cara menebus dosa yang sangat berat untuk dilaksanakan: menyerahkan empat puluh anak gadis suci sebagai persembahan untuk diterbangkan rohnya ke langit!
Semua hadirin mendjadi sangat keheranan, tetapi tak berkurang jang mendjadi ketakutan. Di tengah kegemparan tersebut, muncullah seorang pemuda gagah berani bernama Tjio Han Boe yang memiliki pandangan tajam dan ilmu silat tinggi. Dengan tegas, ia menentang tuntutan gila tersebut.
“Seorang Malaikat yang benar akan mengampuni setiap dosa, sebab tugasnya memang untuk menyelamatkan dan membahagiakan ummat di atas bumi, dan bukannya untuk membunuh! Hanyalah Malaikat palsu saja yang dapat berbuat seganas dan sebuas yang dikatakan Toa Hoosiang!” bentak Tjio Han Boe dengan berani.
Bab IV: Teror Malam Hari dan Jejak Harimau
Malam berikutnya, teror benar-benar dimulai. Di tengah malam yang sunyi senyap, mendadak bertiup angin kencang yang membawa bau anyir yang memuakkan dari arah perbukitan Goe-thauw-nia. Esok paginya, kota Thiantay gempar dengan berita hilangnya seorang gadis cantik jelita, anak tunggal pedagang sutera bernama Tjie.
Tjio Han Boe bersama kepala daerah, Kam Tihu, segera melakukan penyelidikan di tempat kejadian. Kamar korban berada di loteng yang tinggi, namun tidak ada tanda-tanda tangga atau tali yang digunakan penculik. Yang mengejutkan, di halaman rumput yang basah di bawah jendela, ditemukan tetesan darah segar dan tapak kaki harimau raksasa yang sangat nyata!
“Ini adalah perbuatan Tjay-hoa-tjat (penjahat pemetik bunga) yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, dikombinasikan dengan obat bius Bie-hun-hio!” duga Tjio Han Boe sambil memeriksa kusen jendela yang terbuka lebar.
Korban pun terus berjatuhan pada malam-malam berikutnya. Korban kedua, ketiga, hingga keempat lenyap dengan pola yang sama, menyisakan ketakutan luar biasa di hati segenap orang tua yang memiliki anak gadis. Suasana kota Thiantay yang seharusnya menyambut musim semi dengan gembira, kini berubah menjadi muram penuh jerit tangis kesedihan.
Bab V: Pertempuran Maut di Bukit Goe-thauw-nia
Tak tahan melihat kebiadaban yang terus merajalela, Tjio Han Boe bersama dua orang berbadan kuat, Tio Peng si tukang jagal babi dan Oey Kong Pek si penebang kayu, memutuskan untuk menyelidiki wilayah bukit Goe-thauw-nia di sebelah selatan kuil Seng-ong-bio pada malam hari yang gelap gulita.
Saat mereka mengintai di balik batu besar yang menyerupai kepala kerbau, angin kencang berbau anyir kembali bertiup kencang. Tiba-tiba dari kegelapan muncul sesosok makhluk raksasa berbulu hitam pekat dengan sepasang mata merah menyala bagaikan bola api!
Pertempuran sengit pun pecah di atas puncak bukit yang sunyi. Oey Kong Pek mengayunkan kapak besarnya secara brutal, disusul tebasan golok Tio Peng yang bertenaga raksasa. Namun, harimau iblis itu memiliki kegesitan luar biasa, gerakannya melompat dan menerkam sangat mirip dengan jurus-jurus pesilat tangguh Kang-ouw.
Dalam satu kesempatan, cakar tajam harimau itu merobek dada Oey Kong Pek hingga tewas seketika. Tio Peng yang terkejut pun tidak luput dari sergapan maut berikutnya, dadanya hancur tercakar tanpa ampun. Tinggallah Tjio Han Boe berjuang mati-matian dengan pedangnya.
Meskipun Tjio Han Boe memiliki ilmu pedang yang cukup lihay, kegesitan sang harimau iblis berada di luar batas kemampuannya. Saat ia mencoba melompat untuk menghindari terkaman, kaki kanannya ditarik paksa oleh cakar besi sang monster. Akibatnya, tubuh pemuda gagah itu terlempar jatuh ke dalam jurang tebing bukit yang dalam dan tewas seketika demi membela keadilan.
Bab VI: Munculnya si Bungkuk Pendekar Misterius
Ketika harapan penduduk Thiantay tampaknya telah sirna, dan Kam Tihu sang kepala daerah berada dalam keputusasaan yang mendalam karena putrinya sendiri, Kam Lian Tju, diancam akan diculik berikutnya, muncullah sesosok musafir tua yang sangat misterius di pinggiran kota.
Tubuhnya sangat buruk, punggungnya bungkuk, jalannya tertatih-tatih, dan pakaiannya compang-camping menyerupai pengemis jalanan. Namun, di balik penampilannya yang hina, sepasang matanya memancarkan sinar kewibawaan yang sangat tajam. Tokoh ini hanya mau dipanggil dengan sebutan Si Bungkuk.
Si Bungkuk mendatangi kediaman hartawan Pek Bie Sien yang putrinya, Pek Giok Im, telah ditunjuk oleh harimau iblis sebagai korban berikutnya pada malam ketiga. Dengan penuh ketenangan, Si Bungkuk menawarkan diri untuk berjaga di dalam kamar loteng sang gadis tanpa bantuan satu pun prajurit bersenjata.
“Jika ingin putri Anda selamat, biarkan dia tidur di kamarnya seperti biasa. Harimau iblis itu tidak akan bisa dilawan dengan ribuan prajurit biasa. Serahkan keselamatan putri Anda sepenuhnya di tangan saya!” ujar Si Bungkuk dengan nada yang penuh keyakinan.
Malam jahanam itu pun tiba. Angin kencang menderu mematikan pelita kamar, disusul kepulan asap biru yang membius Pek Giok Im hingga jatuh pingsan. Detik berikutnya, sesosok bayangan hitam raksasa melompat masuk dari jendela dan memanggul tubuh sang gadis di pundaknya layaknya manusia biasa.
Namun, sang penculik tidak menyadari bahwa dari balik kelambu randjang, sepasang mata tajam milik Si Bungkuk terus mengawasi gerakannya dengan senyuman dingin. Begitu sang harimau melesat pergi membawa mangsanya, Si Bungkuk segera menarik sebilah pedang pusaka dari bungkusan kain usangnya yang dekil. Pedang tersebut mengeluarkan cahaya berkilauan di tengah kegelapan malam!
Bagaikan seekor burung malam yang terbang tanpa suara, Si Bungkuk melompat keluar jendela dan membayangi langkah sang penculik melintasi hutan bambu yang gelap menuju sarang rahasia di dalam gua batu karang. Di sanalah, tabir kepalsuan Tong Hong Hweeshio dan murid-muridnya yang jahat akhirnya akan dibongkar habis oleh sang pendekar bungkuk yang sakti!