Kamis, 30 Juli 2026

Patung Emas Kaki Tunggal Gan KH

Patung Emas Kaki Tunggal -- Gan KH

Baca Online Patung Emas Kaki Tunggal -- Gan KH

Cersil Patung Emas Kaki Tunggal -- Gan KH

Ulasan Cerita Silat: Patung Emas Kaki Tunggal Karya Gan KH

Cuplikan Eksklusif Cerita Silat Klasik

Patung Emas Kaki Tunggal (Tok Kak Cin Jin) ~ Unta Sakti ~ Diceritakan oleh Gan KH.

Tiraikasih Website

Jilid 1 SELAYANG PANDANG Pasir menguning terbentang luas tidak berujung pangkal, jejak sejarah telah terbenam di bawah tebaran pasir yang bergulung tertiup angin tak pernah berhenti. Sang sunya memancarkan cahayanya yang merah menguning menyinari padang pasir yang semakin dingin ditaburi kabut malam.

Tatkala itu, di padang pasir nan luas tak berujung pangkal itu, berkumpul banyak sekali orang-orang gagah dan Para Enghiong dari empat penjuru, mereka terdiri dari berbagai aliran dan golongan yang satu sama lain berlainan haluan dan cita-cita. Tapi jelas bahwa mereka sama mempunyai pengalaman juang dalam mengarungi kehidupan kaum persilatan yang penuh diliputi mara bahaya dan elmaut.

Pengalaman gagah dan perbuatan yang perwira mereka sama dilandasi dengan segala pengorbanan yang besar, entah darah, keringat, pengalaman dan keyakinan yang teguh, dan yang terutama mereka mempertaruhkan jiwa dan raga. Apakah tujuan mereka mengadakan pencarian besar di tengah padang pasir yang serba kekurangan ini?

Tabir malam sudah menyelimuti seluruh alam semesta. Para gembala yang jauh berada di padang pasir sana mulai mengumpulkan kotoran untuk membikin api unggun, menyambut kedatangan kabut malam yang sudah menyelimuti seluruh penghuni dunia ini. Bintang mulai bermunculan berkelap-kelip di tengah cakrawala, putri malam pun mulai menongolkan mukanya yang cantik molek laksana raut wajah seorang putri remaja yang sedang memadu cinta. Para gembala sedang bergembira ria, menyanyi dan menari, ada yang memetik harpa ada pula yang menggesek biola dan menyebul tanduk, mereka sama melagukan nyanyian kisah perjuangan kaum gembala yang gagah perwira, suasana semakin riang dan gegap gempita.

Kelompok orang-orang gagah yang sedang meringkuk tersebar membentuk sebuah bundaran diam tak bersuara, suasana sunyi dan kelam, kadang-kadang terdengar suara gerutu dan umpat caci penasaran tapi itu hanya terjadi selintas lalu saja. Apakah yang mereka sedang nantikan?

Dari gundukan pasir tinggi sebelah sana mendadak terdengar dengusan rendah lirih, disusul sebuah bayangan yang ditimpa cahaya rembulan muncul dari kejauhan, bayangan tinggi dan besar, itulah seorang sebatangkara yang bercokol di punuk unta. Orang-orang yang meringkuk ada yang duduk ada yang berbaring itu jadi gempar dan ribut, dalam batin mereka sama berkata:

"Datang. Akhirnya datang?"

Hadirin menjadi tegang serasa hampir susah bernapas tapi tiada seorangpun yang berani mengeluarkan suara keras, begitulah sementara bayangan unta itu sudah semakin mendekat masuk ke tengah bundaran di antara mereka. Di bawah cahaya rembulan yang terang benderang semua orang dapat melihat tegas, orang yang bercokol di atas punggung unta itu ternyata seorang pemuda, meskipun ia sudah menanjak usia lima enam belasan, tapi usianya yang masih muda ini, sungguh membuat semua hadirin menjadi heran dan hampir tak percaya akan pandangan mata sendiri.

Menghadapi sekian banyak orang-orang gagah yang kenamaan dalam Bulim, ketenangan si pemuda hampir sulit dipercaya. Pelan-pelan ia menghentikan tunggangannya, sepasang bijimatanya memancarkan sinar terang setajam ujung pisau menyapu pandang ke sekitarnya, lalu dengan suara yang kalem ia berkata:

"Maafkanlah keterlambatanku sehingga tuan-tuan lama menunggu. Apakah kalian sudah lengkap semua....?"

Suasana sekelilingnya tetap sunyi, tidak terdengar jawaban seorangpun, pemuda itu menunggu sebentar lalu berseru pula dengan lantang, "Bagaimana kalian ini, sebelumnya Cayhe sudah memberi pengumuman, bahwa Kiu-sun-sam-pay, Citkok Cap-si-po, asal ada salah seorang dari mereka yang tidak hadir, maka pertemuan ini kuanggap batal!"

Sesaat lamanya keadaan masih sunyi senyap, mendadak terdengar sebuah suara serak dan ketua-tuaan berteriak, "Matamu kan tidak picak, apakah semua sudah hadir atau belum masa kau tidak bisa lihat sendiri?"

Pemuda itu tersenyum, tanyanya, "Siapa yang bicara? berdiri!"

Di sebelah samping kiri berdiri seorang laki-laki tua tinggi besar, serunya dengan suara serak, "Lohu Kok Liang dari Kimsapo!"

Seperti kilat biji mata si pemuda menyapu pandang ke arahnya, ditatap sinar mata yang tajam itu Kok Liang jadi merinding dan berdiri bulu kuduknya, ia tak habis mengerti pengalaman puluhan tahun di kalangan Kangouw entah kenapa hatinya jeri dan kuncup nyalinya menghadapi pemuda gagah di atas unta itu. Tampak si pemuda tersenyum ramah, katanya:

"Oo, kiranya Kok-pocu, pengalamanmu sangat luas, minta tolong untuk memeriksanya sebentar, apakah orang-orang dari semua aliran dan golongan yang kusebut tadi sudah hadir semua. Soalnya Cayhe baru pertama kali ini bersua dengan kalian, terpaksa aku bertanya lebih dulu."

Seru Kok Liang dengan nada dongkol, "Tak perlu diperiksa lagi, Lohu berani tanggung seorangpun tidak akan kurang. Selama dua puluh tahun, seluruh sahabat Bulim menantikan pertemuan malam ini, tak mungkin mereka yang berkepentingan tidak hadir pada saat ini."

"Kalau begitu bagus!" Seru si pemuda sambil tertawa keras. "Marilah kita mulai menyelesaikan urusan kita! Siapa yang maju lebih dulu?"

Sesaat lamanya suasana sunyi mencekam mata, baru saja Kok Liang hendak membuka suara, tiba-tiba seorang di sampingnya keburu berseru, "Kok-pocu harap berhenti sebentar! Pinceng punya persoalan yang perlu dibikin jelas lebih dulu."

Kok Liang berpaling dengan laku hormat berkata, "Silakan Ciangbunjin!"

Orang itu maju beberapa langkah, jubahnya yang besar gerombyongan dari kain kasar merupakan seragam keagamaannya, itulah dia Siau-lim Ciangbun yang menjagoi dunia Kangouw masa ini, Thong-sian Taysu, beliau sudah berusia delapan puluhan, suaranya keras berisi, serunya sambil merangkap tangan di depan dada, "Omitohud! terhadap asal-usul Sicu tetap masih rada curiga."

"Jadi Taysu menyangsikan Cayhe bukan Bing-tho-ling-cu yang tulen?" Tanya si pemuda tertawa lebar. Thong-sian Taysu manggut-manggut, sahutnya, "Dua puluh tahun yang lalu, Lohu beruntung pernah melihat wajah asli Bing-tho-ling-cu, sebaliknya siau Sicu...."

Pemuda itu bergelak tertawa, ujarnya, "Dua puluh tahun yang lalu aku berusia lima puluh tahun, yang Taysu jumpai sudah tentu bukan aku, sang waktu berlalu dengan cepat, kini guruku sudah mangkat, maka janji beliau kepada tuan-tuan sekalian terpaksa menjadi tanggung jawabku."

Hadirin menjadi ribut bisik-bisik dan bersuara heran. Agaknya mereka tidak mau percaya bahwa tokoh kosen gagah perwira yang pernah malang melintang menjagoi dunia persilatan dua puluh tahun yang lalu kini sudah berpulang ke tempat asal....

Ujar Thong-sian Taysu dengan kejut-kejut heran, "Tokkosiansing masih berusia sedang dan bertubuh sehat walafiat, mana bisa meninggalkan dunia fana di tengah jalan ...."

Dengan rasa rawan si pemuda menjawab, "Ya, guruku memang seorang genius yang tiada taranya, bakatnya tak ada yang dapat menandingi, sayang ...."

"Sungguh Lolap merasa sayang dan ikut berbela sungkawa akan nasib Tokko-sianseng yang malang itu. Tapi dapatkah Sicu membuktikan bahwa kau betul-betul murid Bing-tho-lingcu yang asli?"

Si pemuda tersenyum dengan angkuh, dari buntalan yang tergantung di punggung tunggangannya ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kuning, ia buka kain pembalut di sebelah luar, seketika mereka semua hadirin terbelalak kiranya buntalan itu berisi sebuah patung kaki tunggal berbentuk manusia yang terbuat dari emas, di bawah pancaran sinar rembulan, menyorot sinar kemilau yang menyilaukan mata.

Sambil angkat patung emas ke atas, pemuda itu berseru lantang tapi khidmat, "Orangnya sudah mati tapi untanya belum mati. Kalau tulang bisa menjadi keropos maka senjata ini akan tetap abadi, unta yang kutunggangi ini adalah peninggalan dari guruku almarhum. Tok-ga-kim-sin yang kupegang ini kukira Taysu tidak melupakannya bukan!?"

"Benar!" Sahut Thong-sian Taysu dengan sungguh-sungguh. "Memang senjata itu milik Tokko-sianseng dulu, apakah lolap boleh pinjam lihat sebentar?"

Si pemuda bergelak tertawa, serunya; "Taysu tidak perlu curiga lagi, di atas jidat Kimsin ini ada melekuk tiga lobang, ini kan hasil karya tangan Taysu dulu, waktu guru almarhum masih hidup beliau sangat mengindahkan Taysu. Dalam kolong langit ini tokoh yang dapat meninggalkan bekas di atas senjatanya ini cuma Taysu seorang."

Dengan sikap hormat Thong-sian Taysu merangkap tangan pula, cepat ia menjura ke arah Kim-sin di tangan si pemuda. serunya "Lolap tak curiga lagi. Dua puluh tahun yang lalu gurumu Tokko sianseng menerjang ke Siau-lim-si, dimana dia berhasil memecahkan Lo han-tin, syukurlah mengandal segala kemampuan Lolap selama puluhan tahun, aku hanya terkalahkan oleh gurumu, dengan suka rela kami menyerahkan Ling-hu dari partai kami. Meski peristiwa ini merupakan kejadian yang memalukan bagi kejayaan Siau-lim-pay kami selama ratusan tahun, tapi Lolap pribadi sangat segan dan menghargai gurumu, tak nyana takdir Tuhan menentukan dia harus mangkat lebih dulu, sungguh Lolap merasa sangat menyesal dan ikut berduka cita."

Si pemuda tertawa tawar, ujarnya, "Taysu terlalu sungkan, dalam masa dua puluh tahun ini tentu Taysu telah melatih dan menciptakan ilmu yang tiada taranya."

"Mencipta ilmu apa segala sungguh Lolap tidak berani menerima pujian ini. Cuma untuk merebut kembali Ling-hu perguruan kami, terpaksa nanti Lolap akan minta sedikit pelajaran dari Sicu...."

"Taysu tidak usah sungkan, bukan saja perguruan Taysu, Kiu-hun-lam-pai, Jit-ko-cap-si-po, seluruhnya berjumlah tiga puluh tiga Ling-hu atau tanda kepercayaan, seluruhnya sudah diserahkan kepadaku oleh guru almarhum. Setengah tahun yang lalu tujuanku menyebar Bing-tho-ling (perintah unta sakti), adalah untuk mengembalikan semua barang-barang itu. Tapi.... kalian harus dapat memenuhi syarat yang diajukan oleh guruku almarhum."

Dengan tajam Thong-sian Taysu menatapnya, katanya dengan suara heran, "Kapan Sicu ingin membereskan semua urusan itu?"

"Kukira semua orang sudah menunggu dengan gelisah, sudah tentu lebih cepat lebih baik. Maka kupikir harus segera dimulai."

Thong-sian Taysu agaknya masih kurang percaya, tanyanya, "Dulu gurumu mengandal bakatnya yang tiada taranya ia tokh harus makan waktu setengah tahun baru berhasil menundukkan sekian banyak golongan dan aliran. Tapi Sicu seorang diri malam ini hendak menghadapi tiga puluh tokoh kosen secara bergantian?"

Si pemuda menengadah sambil tertawa, serunya, "Dulu kalian berpencar terlalu jauh, guruku harus satu persatu meluruk ke tempat kalian, maka akhirnya menghabiskan waktu begitu lama, tapi sekarang aku lebih beradat keras dan ingin lekas selesai, maka sekaligus kuundang kalian semua untuk menyelesaikan urusan ini bersama."

Bagi Anda para penggemar kisah silat klasik yang menyukai dinamika pertarungan tingkat tinggi dan alur intrik dunia Kangouw, Anda juga dapat membaca koleksi menarik lainnya seperti Pendekar Kelana Sakti 12 Dua Pendekar yang menyajikan aksi pendekar legendaris penuh dengan penceritaan autentik dan taktik persilatan mendalam.

Perasaan Thong-sian Taysu rada tergetar oleh rasa sombong dan congkak pemuda di hadapannya ini, setelah terlongong sekian lamanya ia berkata pula dengan menggeleng kepala, "Mengandal kekuatan jasmani sicu sekarang yang perkasa, kau hendak angkat diri dan menciptakan rekor yang luar biasa, meski lohu percaya bila Sicu punya kemampuan itu, pihak kami tidak akan sudi meminta kembali Ling-hu kami dalam keadaan yang demikian, maka terpaksa Lolap mohon mengundurkan diri saja dari pertemuan malam ini."

Mengawasi jenggot memutih di depan dada si padri tua ini, timbul rasa hormat si pemuda, segera ia menjura serta katanya hormat, "Taysu punya perasaan yang luhur dan mengenal kebijaksanaan, sungguh Cayhe sangat kagum. kalau Taysu tidak sudi mengambil keuntungan ini, Cayhe tidak berani main paksa. silahkan Taysu menonton dari samping, nanti setelah Cayhe selesai mengurus persoalan di sini, kalau Taysu masih anggap Cayhe punya tenaga biarlah nanti kita lanjutkan babak terakhir saja."

Thong-sian Taysu geleng-geleng kepala, tanpa bicara lagi cepat ia menyingkir ke samping. Dengan seenaknya si pemuda melompat turun dari atas punggung unta, lalu menepuk paha belakangnya, katanya lembut "Sahabat tua, carilah tempat untuk istirahat, tidak akan lama aku pasti sudah menyelesaikan semua urusan di sini."

Agaknya unta cerdik yang Sakti itu seperti bisa mendengar ucapan majikannya, dengan mengeluh rendah perlahan-lahan ia jalan pergi meninggalkan gelanggang sambil mengobat-abitkan ekornya.


Disqus Comments