Pedang Darah Bunga Iblis -- Gkh
Baca Online Pedang Darah Bunga Iblis -- Gkh
Cersil Pedang Darah Bunga Iblis -- Gkh
Darah yang mengalir memanjang sudah membeku seperti beratus ekor ular hitam yang mati kaku di bawah terik matahari. Mayat-mayat dengan anggota tubuh yang tidak lengkap bergelimpangan di puncak Hou-thau-hong (puncak kepala harimau) di gunung Tiam-tjong-san; kepala, tangan, atau kaki berserakan di mana-mana mengeluarkan bau amis yang memualkan.
Satu jam yang lalu beberapa ratus gembong silat dari berbagai aliran atau golongan hitam dan putih telah melakukan suatu upacara penyembelihan besar-besaran di puncak gunung ini. Sekarang keadaan sudah tenang, namun bau darah dan keseraman masih meliputi bekas gelanggang jagal manusia ini.
"Hong-ko, aku tidak minta agar kau memaafkan aku, tapi kau harus mengerti, demi keturunan keluarga Suma, demi darah dagingmu dan dendam kesumat ini, terpaksa aku berbuat demikian, aku...."
Seorang wanita yang mengemban seorang anak kecil kira-kira berusia tiga tahun berjalan keluar sempoyongan dari balik batu gunung sana. Walaupun rambutnya awut-awutan, tubuhnya penuh luka dan berlepotan darah, bajunya koyak-koyak tak karuan, namun semua itu masih belum dapat menutupi wajahnya yang ayu molek dan tubuh yang langsing menggiurkan. Di belakangnya muncul pula seorang laki-laki pertengahan umur berdagu panjang dan berwajah putih halus; sambil berjalan dia sedang merapikan celana dan bajunya.
Si wanita langsung mendekati sesosok mayat yang penuh luka-luka dan susah dikenal lagi, perlahan-lahan ia berlutut di samping mayat dan menggumam dengan suara igauan seperti orang bermimpi. Anak kecil di pelukannya mendadak menggigil gemetar dan mengejang, mulutnya yang kecil megap-megap, bibirnya gemetar tapi sedikit pun tidak mampu mengeluarkan suara.
"Nak, apakah kau sangat menderita? Ibumu ingin menggantikan kau, oh ibumu rela menderita segala kesengsaraan dalam dunia fana ini asalkan dapat menggantikan jiwamu nak.... kau.... kau jangan mati...."
Demikian ratap si wanita. Anak itu tetap membisu, kedua matanya terpejam, tubuhnya basah kuyup oleh keringat, wajahnya penuh diliputi hawa hijau, bibirnya mulai membiru dan tubuhnya tak henti-hentinya berkelejetan, naga-naganya jiwa kecilnya tengah berontak dari renggutan maut. Mendadak si wanita angkat kepala dan berseru kepada laki-laki pertengahan umur yang tengah berdiri kira-kira dua tombak jauhnya: "Kumohon padamu, tolonglah jiwa anakku ini!"
"Menolong dia?" Sahut si lelaki pertengahan umur sambil menyeringai.
"Kau sendiri pernah berjanji hendak menolong jiwanya?"
"Nadi pengantarnya sudah putus. Kalau aku menolong jiwanya dengan menggunakan Kiu-yang-sin-kang, tenaga murniku akan susut terlalu banyak. Dalam jangka waktu lima tahun aku tidak dapat bergebrak dengan orang, padahal tahun depan tibalah waktunya mengadu kepandaian di puncak Hoa-san, aku tidak mau kehilangan kesempatan memegang simbol teragung sebagai tokoh silat nomor satu di dunia!"
Wajah si wanita yang memang pucat kini semakin pucat keabu-abuan. Dengan suara hampir menggila ia berseru, "Tadi kau mengatakan mau menolong anakku, kau menginginkan tubuhku, aku sudah berikan padamu. Oh.... kumohon padamu, tolonglah jiwanya, aku rela selama hidup ini melayani kau, akan kupersembahkan segala milikku, termasuk jiwa ragaku...."
"Tidak bisa!"
"Kau.... kau tidak boleh begitu, tolonglah, tolonglah jiwanya...."
"Maaf, aku tidak dapat melulusi permintaanmu!"
Seketika kedua mata si wanita mendelik, sambil menuding laki-laki pertengahan umur itu dengan suara melengking menyeramkan ia memaki, "Loh Tju-gi, binatang kau, anjing.... kau manusia hina dina, tubuhku sudah kau nodai tapi kau...."
Sekilas wajah Lo Tju-gi berubah, tapi lantas pulih lagi seperti semula, katanya, "San hoa li, aku tidak mungkin menolongnya, tapi aku cinta padamu."
"Tutup mulut, binatang...."
"San hoa li, memang tidak salah aku telah merasakan kenikmatan tubuhmu, akan tetapi jikalau bukan karena aku, mungkin hari ini kamu sudah menemui ajal!"
"Anjing, karena kau hendak melampiaskan nafsu kebinatanganmu, tujuan kau anjing hina dina ini, bukankah hendak mengangkangi 'Hiat-kiam' (Pedang Darah)...."
Wajah si anak dari hijau telah berubah ungu gelap, berkelejetan semakin menjadi-jadi, rasa sakit yang sangat tengah menyiksa nyawa kecil yang sudah di ambang pintu kematian itu. San hoa li memeluk anaknya semakin kencang, kedua matanya yang redup kuyu mengalirkan air darah. Dengan suara yang sangat memilukan ia berkata:
"Nak, ibumu tak dapat menolong kau, tapi aku dapat membuatmu tidak menderita terlalu lama, nak kau tidak akan menderita lagi selamanya!"
Sret! Tangan San hoa li tahu-tahu sudah menghunus sebilah cundrik yang berkilauan. Sambil menggertak gigi ia tusukkan cundrik itu ke ulu hati anaknya, namun cundrik itu hanya menusuk satu dim, tangannya sudah gemetaran hampir tak kuat lagi memegang cundrik itu. Setelah berkelejetan dua kali lagi, si anak kecil itu berhenti bergerak.
"Anakku, kau tidurlah tenang menyusul ayahmu...."
Diletakkannya jenazah anaknya di pinggir mayat yang penuh berlepotan darah itu, lalu ia berdiri. "Lo Tju-gi, kau ingat pada suatu hari tentu cundrik ini akan menusuk ke dalam ulu hatimu, termasuk juga dada anak muridmu!" Mendadak San hoa li mendongak dan tertawa panjang histeris, sekali berkelebat dengan cepat ia berlari turun gunung.
"Dia sudah gila!" Loh Tju-gi menggumam. Dimana tangannya menyapu, jenazah anak kecil itu terpental terbang masuk ke dalam jurang yang dalam di samping sana, lalu sekali melejit tubuhnya pun terbang menghilang dari pandangan mata.
BANJIR DARAH DI KUIL KUNO
Hujan lebat disertai angin puyuh membuat jagat remang-remang gelap. Keadaan seluruh kehidupan dalam dunia fana ini menjadi sedemikian sunyi senyap, yang terdengar hanyalah deru angin dan hujan, jarang terlihat ada manusia atau insan hidup berlalu lalang di bawah hujan lebat ini.
Tapi di depan pintu sebuah biara "Pek-hun-ko-sat" (biara kuno awan putih) berdirilah seorang pemuda dengan tenangnya diterpa air hujan. Dengan nanar kedua matanya memandang pintu biara kuno ini. Pemuda ini kira-kira berusia tujuh belas-delapan belas tahun, berwajah ganteng dan membawa sedikit sifat keangkuhan. Air mukanya penuh diliputi hawa membunuh membuat siapa yang bertemu pandangan bergidik seram ketakutan.
"Masa para kepala gundul ini semua sudah modar!" si pemuda bicara seorang diri. Tangan diangkat dengan ringannya, sebuah jarinya menyentil dari kejauhan.
Blang! Gelang besi di atas pintu biara itu mengeluarkan suara keras yang menggetarkan telinga. Tidak lama kemudian pintu biara terpentang perlahan-lahan. Seorang hwesio beralis tebal bermata besar dengan marah-marah melangkah keluar dari dalam, dan sebelum sempat membentak sapa, sinar matanya bentrok dengan pandangan si pemuda yang berdiri di bawah hujan lebat di depan pintu biara. Tanpa merasa bulu kuduknya mengkirik seram, diam-diam hatinya berkata: "Nafsu membunuh yang besar!"
Dingin si pemuda menyapu pandang ke arah si hwesio, kaki diangkat ia langkahi undakan di depan pintu biara. Sejenak si hwesio menenangkan hati lalu berkata dengan nada berat, "Sicu (tuan) harap berhenti!"
Si pemuda berhenti di undakan paling atas. "Apa keperluan sicu berkunjung ke biara kita?"
"Mencari Tji Kong si hwesio tua!"
Berubah wajah si hwesio, semprotnya gusar, "Dia adalah taysu ketua, sicu bicaralah mengenal aturan!"
"Ini sudah terhitung paling beraturan!"
"Huh," ejek si hwesio. "Kau mengejek siapa?" Sontak timbullah gelora kemarahan di benak si hwesio, bentaknya keras, "Pek hun ko sat bukan tempat kau bertingkah, tahu?"
Si pemuda melerok hina ke arah si hwesio serta ujarnya dingin, "Kau perlu memberitahukan kedatanganku dulu atau aku harus masuk sendiri?"
"Silahkan sicu sebutkan namamu."
"Bu (Go) Bing!"
"Bu bing? (tak bernama)"
"Lebih baik kau jangan cerewet!"
Si hwesio sudah tidak sabar menahan gusar, teriaknya menggeledek, "Siaucu...."
Plak! Seketika si hwesio terhuyung mundur tiga langkah, pipinya berpeta jelas bekas lima jari tangan. Agaknya si pemuda masih berdiri tenang di tempatnya, dan bagaimana si hwesio kena ditempeleng dia sendiri tidak melihat, tahu-tahu pipinya sudah bengap. Nada si pemuda tetap sedingin es: "Berani sekali lagi kau buka mulut kotor, akan kubuat kau selamanya tidak bisa bicara!"
Keder dan kuncuplah nyali si hwesio. Tahu dia bahwa si pemuda di hadapannya ini ternyata berkepandaian silat sangat tinggi. Tanpa merasa ia berdiri termangu di tempatnya tanpa berani membuka suara lagi.
Terdengar langkah berat mendatangi. Dua hwesio tua yang berusia 50-an bergegas mendatangi, selayang pandang terhenyaklah mereka beberapa langkah jauhnya. Dua pasang mata yang tajam berbareng menatap ke arah si pemuda. Segera si hwesio yang barusan kena ditempeleng melapor dengan suara lirih, "Lapor Susiok, sicu ini ingin bertemu dengan ketua kita."
Kedua hwesio tua mengiyakan berbareng, lalu salah seorang di antaranya lantas bertanya, "Apa sicu benar-benar hendak menemui ketua kami?"
"Tidak salah!"
"Harap sukalah terangkan maksud kedatanganmu ini!"
"Setelah bertemu dengan Tji Khong Hwesio dia sendiri tentu akan tahu!"
Berbareng kedua hwesio tua menarik muka. Seorang yang lain segera menyahut, "Mengapa datang-datang sicu lantas memukul anak murid kami?"
"Itu hanya suatu hukuman kecil bagi mulutnya yang kotor."
Lagi-lagi kedua hwesio tua ini bersungut dongkol. Salah seorang yang membuka suara dulu tadi bicara pula dengan sabar, "Kalau sicu tidak menerangkan maksud kedatanganmu, maaf pinceng tidak dapat melayani."
Si pemuda mendengus sekali. "Kalau begitu terpaksa aku mencari sendiri." Habis berkata, dengan langkah lebar ia hendak memasuki pintu besar biara.
"Mana boleh kamu bertingkah di tempat Budha yang tenang suci!" Kedua hwesio tua itu menghardik berbareng dengan melayangkan pukulan masing-masing. Si pemuda tidak peduli dan bagai tak merasa apa-apa, kakinya masih tetap melangkah maju.
Plak-plok! Dua suara nyaring menggema. Seketika kedua hwesio tua merasakan pukulan mereka membal atau memantul balik menerjang mereka sendiri. Kontan tubuh mereka tergetar mundur sempoyongan. Di tengah suara keluhan mereka, si pemuda sudah memasuki pintu biara dengan tenangnya.
Karena keributan ini sudah menggemparkan para hwesio lain dalam biara, waktu si pemuda melenggang melalui samping patung pemujaan, belasan hwesio sudah bersiaga mencegat di depannya. Dari belakang terdengar seruan gusar kedua hwesio tua tadi, "Kedatangannya bermaksud jahat, cegat dia!"
Serentak belasan hwesio itu berjajar menghadang di tengah jalan. Sambil berjalan si pemuda berkata mengancam, "Kalau kalian tahu diri lebih baik menyingkir, aku tidak ingin melukai kalian."
"Bocah sombong rasakan ini!" Serempat kepalan dan jotosan beruntun dilancarkan untuk merintanginya.
Sekilas berkelebat sinar merah dalam mata si pemuda. Sebelah tangan diangkat dan diayun, seketika terbit angin badai menghembus deras ke depan. Sontak terdengar suara keluhan dan kesakitan. Beberapa hwesio yang memberondong tiba-tiba terpental jauh oleh gulungan angin kencang yang menerjang mereka. Hanya sekali berkelebat, bayangan si pemuda tahu-tahu sudah tiba di pekarangan dalam.
Tang-tang-tang! Lonceng tanda bahaya bergema keras, maka ributlah suasana dalam biara itu. Para hwesio yang tak terhitung banyaknya bergegas berlarian keluar dari empat penjuru sambil membekal golok dan pentungannya. Mereka berdiri rapi bagai pagar mengepung si pemuda.
"Kalian mundur!" Mendengar suara keras berwibawa ini, serentak para hwesio membungkukkan tubuh dan merangkapkan tangan terus mundur ke samping. Di tengah ruangan sana berdiri seorang hwesio berusia lanjut mengenakan kasat warna merah marun. Sepasang matanya berkilat-kilat menatap si pemuda. Tanyanya, "Siau-sicu siapakah namamu?"
"Go bing!"
"Ada urusan apa kau mencari lolap?"
Pandangan dingin bagai aliran listrik Go Bing menyorot ke arah si hwesio tua. "Kau inikah Tji Kong Hwesio?" tanyanya lantang. Ucapannya ini menimbulkan geraman gusar dari semua hwesio yang hadir, tidak ketinggalan si hwesio itu pun berubah air mukanya.
"Omitohud, itulah gelaran pinceng."
Go Bing ulurkan jari tengah tangan kanannya. Secarik sinar terang mencorong keluar dari tengah jarinya. Katanya dingin, "Apa kau masih kenal ini?"
Seketika wajah Tji Kong Hwesio berubah pucat lesi dan terhuyung mundur ketakutan, mulutnya mendesis, "Mo hoan (cincin iblis)!"
"Tidak salah!"
Begitu "Mo-hoan" disebut, seketika gemparlah seluruh hadirin. Semua hwesio yang hadir berubah pucat dan bergemetaran.
"Apa hubunganmu dengan Sia-Sin Kho Djiang?" Suara Tji Khong tergetar menahan gelora hatinya.
"Muridnya!"
"Dia.... dia.... belum mati?"
Hawa membunuh di wajah Go Bing semakin memuncak, mendengus sekali dia menjawab, "Hal itu kau tidak perlu tahu!"
Otot di jidat Tji Kong Hwesio merongkol keluar, keringat pun membanjir membasahi tubuh, tanyanya gemetar, "Kau.... apa maksud kedatanganmu?"
"Mengambil batok kepalamu!"
Betapa keder dan takutnya para hwesio mendengar nama Sia-Sin Kho Djiang, serta mendengar si pemuda hijau ini berani hendak mengambil batok kepala ketuanya. Semua menggeram gusar, masa mereka harus diam saja membiarkan orang memenggal kepala ketuanya. Satu bergerak, yang lain mengikuti, beramai-ramai mereka merubung tiba di depan ruang besar.
Dengan pandangan dingin Go Bing menyapu pandang ke arah para hwesio itu lalu serunya dengan datar, "Tji Khong Hwesio, aku tidak suka membunuh orang yang tidak berdosa, lebih baik kau perintahkan mereka menyingkir saja!"
"Sudahlah!" Teriak Tji Khong keras sambil mengebutkan lengan jubahnya yang besar, seruannya hampir mengeluh, "Saudara-saudara dan semua anak muridku, lekas kalian mundur!"
Sejenak para hwesio itu merandek. Tidak mundur, malah dengan nekat mereka maju lagi.
"Tji Khong, maaf aku hendak turun tangan!" Habis ucapannya, tubuhnya pun menerjang maju, sebuah jotosan mengarah tepat ke dada Tji Khong. Serangan pukulan ini bukan saja sangat cepat laksana kilat, juga hebat dan seram. Meskipun kelihatannya hanya sekali pukulan, namun di antaranya mengandung banyak perubahan yang susah diselami, seluruh jalan darah di dada lawan sudah dalam incaran cengkeramannya.
Sudah tentu Tji Khong tidak pasrah terima binasa. Akan tetapi kecepatan musuh turun tangan tiada kesempatan lagi untuk dirinya berkelit atau balas menyerang. Dalam saat-saat jiwa di ambang pintu kematian, sekuatnya ia lintangkan tangannya untuk menjaga di depan dada.
Blang! Disertai suara keras seperti orang hendak muntah dari mulut Tji Kong, tubuhnya terhuyung surut tiga langkah ke belakang. Bersamaan dengan itu dua batang tongkat besar dan tiga sinar pedang berbareng memberondong mengurung tubuh Go Bing dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.
Tanpa berpaling lagi, sebelah tangan diayun ke belakang. Terbitlah angin deras bergulung-gulung menerpa ke belakang hingga tujuh hwesio yang menyerang dirinya terpental pontang-panting ke empat penjuru. Hampir saja mereka tidak kuat lagi mencekal senjata masing-masing. Masih untung Go Bing masih belum mau turunkan tangan jahatnya.
Sebat luar biasa tubuh Tji Khong berkelebat lari memasuki Tay-hiong-po-tian. "Tji Khong, ke mana kau hendak lari?" Seru Go Bing. Belum habis ucapannya, tubuhnya pun sudah melejit tiba bagai kilat menghadang di hadapan Tji Khong.
Terasa semangat Tji Khong bagai terbang ke awang-awang. Dilihatnya bibit bencana yang menyertai kedatangan anak muda ini berkepandaian tidak kalah lihai dari Sia Sin Kho Djiang dulu, jelas bahwa dirinya tentu bukan tandingan musuh. Maut kematian terbayang di depan matanya hingga wajahnya yang pucat lesi berubah kehijau-hijauan.
Go Bing kerahkan tenaganya di jari tengah, maka menyorotlah sinar dingin dari "Cincin Iblis" itu lebih lebar dan terang. Perlahan-lahan tangan bergerak, dimana sinar dingin itu menyambar, terdengarlah suara jeritan panjang yang menyayat hati. Kepala Tji Khong yang gundul terbang meninggalkan tubuhnya, darah pun menyembur keras bagai mata air dari luka di lehernya. Mayatnya terkapar di lantai tanpa bergerak lagi.
Seketika para hwesio yang memburu tiba di depan pintu Tay-hiong-po-tian terkesima menyaksikan adegan pembunuhan yang aneh dan kejam ini. Mereka terlongong bagai patung dan kehilangan semangat serta kesadaran. Dengan tenang dan seenaknya Go Bing mengeluarkan sebuah kantongan dan memasukkan kepala Tji Khong ke dalamnya. Sekali melejit, tubuhnya terbang melewati kepala para hwesio dan menghilang di tengah udara dalam sekejap mata.
Sayup-sayup terdengar gema lonceng pertanda duka cita dari biara Pek Hun Ko Sat.
***
Dalam pada itu, begitu sampai di luar dengan kecepatan yang susah diukur, Go Bing berlarian keras. Cuaca masih tetap gelap, namun hujan dan angin badai sudah lama berhenti. Di tengah keremangan cuaca itulah dia berlari tiba di depan sebuah gua.
"Siapa?" Bentakan dingin dan serak terdengar dari dalam gua.
"Murid sudah kembali, Su...."
"Apa tugasnya sudah kau selesaikan?"
"Sudah selesai menurut perintah!"
"Masuklah!"
Sambil menjinjing kantongannya Go Bing berkelebat memasuki gua. Gua itu tidak terlalu dalam, di tengah gua tersulut api unggun. Di bawah penerangan api unggun itulah terlihat di pojok dinding sebelah dalam sana duduk bersila seorang aneh yang rambut dan cambang bauknya menutupi mukanya, matanya tinggal sebelah dan merem melek, kedua kakinya sudah buntung tinggal tulang keringnya saja yang masih kelihatan memutih.
Go Bing meletakkan buntalan kantongnya serta berkata, "Suhu...."
Mata tunggal si orang aneh mendelik, sinar matanya hijau mengancam, desisnya gusar, "Bocah, sekali lagi kau berani memanggil 'Suhu', kubunuh kau!"
Go bing menyahut sedih, "Budi kau orang tua membesarkan murid selama lima belas tahun ini...."
"Kentut! Dulu secara kebetulan kau terjatuh dalam tanganku, itu pertanda ajalmu memang belum tiba saatnya. Lohu menolong dan memberi pelajaran silat kepadamu adalah supaya kau kelak dapat menyelesaikan urusanku. Budi apa segala...."
"Akan tetapi.... suhu...."
Si orang aneh ayunkan tangannya, seketika Go Bing tersurut mundur tiga langkah dengan ketakutan.
"Bocah, ingat! Panggil aku Kho Lo-sia (Kho tua sesat). Kau dengar tidak? Dulu Lohu sudah bersumpah untuk tidak terima murid selama hidup!"
Di mulut Go Bing mengiyakan, namun dalam hati ia membatin: Kau melarang aku memanggil, kalau dalam hati aku tetap menganggap kau sebagai Suhu, bukankah beres.
Selama lima belas tahun ini berkawan dengan si orang aneh yang cacat kedua kakinya dan sebuah matanya, bermula dia menyangka si orang aneh ini sudah gila atau sinting, lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Dalam ingatannya yang pertama memang gurunya ini sangat aneh dan sesat, tindak tanduk dan ucapannya selalu bertentangan dengan adat dan peraturan umum, selain kata "Sesat" susahlah mengungkapkan keanehan wataknya itu.
Terhadap riwayat hidup suhunya ini boleh dikata hanya samar-samar saja diketahui dari mulut orang-orang di kalangan kang-ouw. Yang jelas diketahui hanyalah bahwa nama Sia-sin Kho Djiang (Kho Djiang si malaikat sesat) sudah sejak dua puluh tahun yang lalu menggetarkan dan menciutkan nyali setiap tokoh silat dari aliran hitam maupun golongan putih.