Pedang Kayu Cendana -- Gan K H
Baca Online Pedang Kayu Cendana -- Gan K H
Cersil Pedang Kayu Cendana -- Gan K H
Ilustrasi Sampul & Bab Utama
Ulasan Khusus: Mengapa Pedang Kayu Cendana Karya Gan K H Begitu Legendaris?
Dunia Cerita Silat (Cersil) Klasik tanah air senantiasa menyimpan pesona tak ternilai. Salah satu karya monumental yang tiada tandingannya adalah Pedang Kayu Cendana karangan maestro Gan K H. Berbeda dengan novel silat pada umumnya, karya ini menyajikan misteri bertingkat, dinamika konflik inner persona, serta atmosfer Kangouw yang begitu mencekam sejak bab pembuka.
"Ceng-hun-kok (Lembah Mega Hijau) bukan sekadar jalur penghubung Utara dan Selatan, melainkan panggung takdir tempat di mana keberanian ksatria diuji oleh sesosok misteri berbalut perban sutra putih..."
Bagi pencinta kisah dunia persilatan yang ingin baca online gratis secara komplit, blog ini menghadirkan transkrip cerita orisinal dengan kualitas pengetikan terbaik. Selain membaca langsung cuplikan bab di bawah ini, Anda juga dapat membaca seri cersil unggulan lainnya melalui rekomendasi bacaan kami:
📌 Baca Juga Serial Terpopuler: Pendekar Kelana Sakti 14 Dewi Jalang - Baca Online Novel Silat Lengkap
Cuplikan Cerita Lengkap: Pedang Kayu Cendana (Bab 1)
Gan KH 1 MUSIM rontok daun-daun kuning berguguran, mega sering mendung meski jarang hujan, pada malam hari tanggal 6 bulan delapan, bulan sabit bercokol di tengah angkasa. Cahayanya yang redup menerangi jagat raya.
Kentong kedua sudah jelang.
Dua puluh li dari kota Soa-tay yang terletak di perbatasan propinsi Kam-siok terdapat sebuah ceng-hun-kok (Lembah Mega Hijau). Panjang lembah kira-kira setengah li, lebarnya hanya tiga tombak. Dinding gunung yang curam menjulang tinggi di kedua samping, jalannya yang lika-liku amat berbahaya, tapi lembah sempit ini merupakan jalan raya satu-satunya yang tembus antar utara dan selatan. Enam li dari ceng-hun-kok, terdengar derap kaki kuda yang berderap kencang. Dalam remang-remang nan sunyi ini, di atas pegunungan yang terpencil lagi, maka derap kuda terdengar begitu nyata dan berkumandang.
Debu tampak menjulang ke angkasa, dua ekor kuda tampak menerobos pesat dari kepulan debu kuning yang bergulung-gulung itu. Seekor kuda serba putih ditunggangi seorang laki-laki empat puluhan berwajah kereng, berwibawa, dan berperawakan tegap. Pedang tampak dipanggul di punggungnya—seorang gagah yang namanya telah menggetarkan Kangouw, pemilik dari Gi-teng-Piaukiok di Pak-khia, yaitu Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping.
Kawannya adalah Piausu Gi-teng-piaukiok bernama Hou Pui. Setelah tugas usai di kota Kay-hong, mereka menempuh perjalanan di tengah malam untuk memburu waktu pulang ke Pak-khia, supaya di malam hari raya Tiongciu nanti mereka bisa merayakan bersama dengan segenap keluarga. Saking bernafsu, Tio Kin-ping menjepit perut kudanya, maka kuda putihnya melaju seperti anak panah yang dikejar kepulan debu kuning. Dalam sekejap mata, Hou Pui telah ditinggal seratusan tombak di belakang.
Senyum simpul tampak menghias wajah Tio Kin-ping yang gagah dan tampan. Agaknya dia bangga dan puas akan lari kuda putihnya yang dibelinya dengan harga mahal sejak masih kecil dulu.
Maka dia melecut kudanya supaya berlari lebih pesat lagi, lekas sekali ceng-hun-kok sudah di depan mata. Tanpa ragu dan tidak banyak pikir, Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping terus membedal kudanya memasuki lembah sempit itu. Cuaca di ceng-hun-kok agak lembab dan lebih gelap. Cahaya rembulan yang sabit dan redup hanya samar-samar melampaui celah-celah mulut dinding curam di sebelah atasnya yang tinggi, serta merta Tio Kin-ping sedikit menarik kendali sehingga kudanya berlari agak lamban.
"Tik, tak tik tak..."
Tapal kuda seperti bunyi ketipung di dalam lembah yang sunyi dan berdentam sampai jauh, menimbulkan gema yang mendengung pula di ujung lembah sebelah depan, sehingga merupakan paduan suara yang amat nyata bedanya dengan derap langkah kuda Tio Kin-ping. Mau tak mau Tio Kin-ping tertarik perhatiannya. Habis bersuara heran, dia membatin:
MINDSET PENDEKAR: "Kecuali aku dengan Hou Pui, mungkinkah ada orang lain yang menempuh perjalanan di tengah malam ini? Insan persilatan yang biasa berkecimpung di Kangouw perasaannya amat sensitif sangat peka, terutama mereka yang hidupnya bergelimang dalam kalangan Piaukiok atau ekspedisi, setiap saat mereka selalu meningkatkan kewaspadaan."
Oleh karena itu, Yu-Liong-Kiam Tio Kin-ping juga berpikir: "Tidak benar, bunyi tapal kuda ini begitu lamban dan aneh suaranya, tidak mirip seorang yang sedang buru-buru menempuh perjalanan di tengah malam di dalam lembah yang lembab dan remang-remang ini. Mungkinkah dia menikmati panorama ceng-hun-kok? Jelas tidak mungkin! Kalau tidak, maka pasti ada sesuatu yang janggal dan tidak beres."
Maka dia lebih memperlambat lari kudanya, serta merta dia menoleh ke belakang, tapi hanya kegelapan yang melingkupi punggungnya. Jangankan bayangan orang, suara derap kuda Hou Pui yang ditinggalkan jauh di belakang pun tidak terdengar.
Hampir dua puluh tahun Yu Liong-kiam Tio Kin-ping terjun dalam percaturan dunia persilatan. Sudah betapa kali dia mengalami mara bahaya dalam setiap pertempuran besar kecil, berapa kali pula jiwanya tertolong dari renggutan maut. Dia cukup setimpal diagulkan sebagai Enghiong, laki-laki gagah perkasa berjiwa ksatria. Apapun berani dihadapinya dan dilawannya, belum pernah sekalipun dia mengerutkan kening.
Kungfunya tinggi, tapi dia tidak sombong. Belum genap dua puluh tahun dia berkecimpung di Kangouw, nama besarnya sudah mengungguli para pendekar besar yang lain. Bahwa Gi-teng Piaukiok mampu tegak sampai sekarang adalah berkat usahanya yang gigih tak kenal putus asa. Sifatnya supel terbuka tangan, tapi keras hati dan jujur. Kaum persilatan sama memuji dan mengaguminya. Siapa yang tidak kenal Gi-teng Piaukiok dari Pak-khia? Dalam setiap pembicaraan di hotel atau restoran, siapapun unjuk jempol bila menyinggung pemilik Piaukiok yang masih muda usia dan berhasil memimpin usahanya dengan sukses.
Belum pernah dia merasa gentar atau takut. Tapi sekarang berbeda, dia seperti mendapat firasat jelek.
"tik tak tik tak"
Bunyi tapal kuda yang lamban dan berat, seperti menusuk sanubarinya, sehingga dia merasa risi dan kurang enak. Hatinya menjadi tegang dan merinding pula, seakan-akan ada segulung hawa dingin yang merembes ke dalam tubuhnya lewat tengkuknya, sehingga dia bergidik, terutama kaki tangan menjadi berkeringat dingin...
Diam-diam dia menyesal, kenapa membedal kudanya yang mampu lari seribu li sehari tadi, sehingga Hou Pui jauh ketinggalan di belakang. Kalau dua orang bersama, sedikit banyak bisa saling bantu dan menambah keberanian. Secara refleks pelan-pelan sebelah tangannya terangkat menggenggam gagang pedang di punggungnya.
Bulan sabit seperti melonjak di angkasa raya sehingga lebih tinggi, maka cahaya dalam lembah seperti agak terang. Diam-diam Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping tertawa geli sendiri dan mentertawakan dirinya:
"Tio Kin-ping, Tio Kin-ping, kau terhitung Piauthau yang sudah terkenal di Kangouw, laki-laki perkasa yang berani berbuat berani bertanggung jawab di utara sungai besar. Kenapa sih aku hari ini, kenapa begini penakut?"
Belum habis benaknya bekerja, bunyi tapal kuda di depannya mendadak berhenti. Tak urung Tio Kin-ping bersuara heran. Sungguh dia merasa amat heran, dia tak habis mengerti apa sebetulnya yang bakal terjadi.
Dalam pada itu, Tio Kin-ping sudah berada di pengkolan lembah. Di punggung kudanya Tio Kin-ping membusungkan dada serta membetulkan letak duduknya. Kuda putihnya segera membelok mengikuti arah lekukan. Tubuh Tio Kin-ping yang tegak bercokol itu seketika seperti kaku dan tidak mampu bergerak lagi.
Kira-kira dua puluhan tombak di bawah penerangan cahaya rembulan yang remang-remang, di depan sana berdiri seekor kuda putih pula yang tinggi tegap dan perkasa. Kuda putih miliknya yang amat disayang, paling dibanggakan dan pilihan satu di antara seribu ternyata juga tidak lebih unggul dibanding kuda putih di depan itu. Perbandingan antara dua kuda putih tidak perlu dirisaukan, yang mengherankan adalah orang yang duduk di punggung kuda putih itu.
Pengalaman luas dan pengetahuan pun cukup banyak, tapi Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping menarik napas dingin dan bergidik seram mengawasi orang ini.
PENAMPILAN SOSOK MISTERIUS:
Di punggung kuda putih di depan itu duduk bayangan putih yang kaku. Dari kepala, badan sampai kaki tangannya pun serba putih. Kuda putih orangnya pun putih, keduanya berdiri diam tak bergeming. Lebih menggiriskan adalah penunggang kuda putih itu tak ubahnya seperti mumi yang telah kaku dan mati sejak ribuan tahun lalu. Kepalanya tampak agak miring, kedua kakinya semampai dan kaku di kedua samping. Meski keadaan agak gelap, tapi warna serba putih ini tetap cukup mencolok dan menarik perhatian juga.
Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping mengawasi dengan mendelong, sementara kuda putihnya tetap melangkah dengan lambat, maju dan maju terus. Dari belasan tombak tinggal lima tombak, akhirnya jarak tinggal tiga tombak lagi. Dalam jarak yang sudah dekat ini, pandangan Tio Kin-ping lebih jelas lagi.
Ternyata orang di punggung kuda putih itu dari kepala sampai di ujung kaki dibalut oleh perban sutra berwarna putih, sehingga perawakannya tampak kaku, tak ubahnya seperti mumi. Tapi kedua bola matanya yang seperti "keluar" dari balutan perban itu justru terasa dingin yang menyedot sukma orang! Rona matanya jelas menunjukkan bahwa dia manusia dan bukan mayat hidup. Tanpa berkedip bola mata mencorong itu menatap tajam pada Tio Kin-ping yang maju semakin dekat. Di pinggir pelana tampak bergantung sebatang gendewa besar warna merah darah, sehingga perpaduan warna yang kontras ini kelihatan nyata.
Tio Kin-ping tak berani beradu pandang dengan sorot mata orang yang dingin seperti memancarkan daya magis itu. Entah kenapa badannya ternyata bergidik dan merinding. Mayat gentayangan? Atau mungkinkah manusia yang dibalut perban sutra ini belum mati? Dalam sekejap ini, otak Tio Kin-ping seperti beku dan tak sempat pikirkan segala keanehan yang dihadapinya. Kuda tunggangannya masih terus beranjak ke depan, namun jarak tiga tombak ini rasanya seperti tiga puluh li amat panjang, sangat jauh.
Tio Kin-ping sampai tidak berani menarik napas besar. Jantungnya seperti sembunyi di bawah kulit dan siap mencotot keluar. Tanpa terasa keringat dingin sebesar kacang telah berjatuhan di dahinya.
Sekonyong-konyong segulung hawa panas seperti merangsang sanubarinya, tiba-tiba perasaannya seperti berhenti. Ingin dia menyaksikan dari dekat, manusia kaku yang dibalut perban sekujur badannya ini masih hidup atau sudah mati? Diam-diam ia membatin:
"Biasanya aku agulkan diri sebagai kaum pendekar. Menghadapi kejadian aneh ini, mana boleh aku berpeluk tangan? Jikalau dia tidak mati dan memerlukan bantuan orang lain, adalah jamak kalau aku menolongnya."
Waktu dia mengangkat pandangannya, ternyata tatapan tajam kedua bola mata orang yang menyala dingin tengah melotot kepadanya. Kontan dia bergidik merinding pula, rasa takut seketika membayangi sanubarinya.
Selama ini belum pernah dia mengalami kejadian seganjil yang dihadapinya sekarang. Namun lubuk hatinya serta merta berkeputusan bahwa hari ini, sekarang bagaimanapun dia tidak boleh mencampuri urusan orang lain, tak boleh menyentuh manusia kaku yang dibalut perban putih ini. Mungkin dia akan sempat keluar dari ceng-hun-kok, terhindar dari perkara malam ini, karena bukan mustahil kematian telah mengintai jiwanya.
Karena giris ditatap sorot mata mayat hidup yang kaku itu, lekas Tio Kin-ping menarik pandangannya dan menundukkan kepala, lalu mengeprak kudanya supaya jalan lebih cepat, seolah-olah dia juga merasa dirinya jadi besi dan kaku, seperti tidak mampu bergerak. Namun dia memang tidak berani bergerak.
Sang waktu seperti merambat, langkah kudanya dirasakan seperti semut berjalan, selambat keong merambat. Akhirnya dia lewat di samping kuda putih itu. Terhindar dari tatapan sorot mata yang dingin berwibawa dari mayat hidup terbalut perban sutra ini, dia tidak berani menoleh. Setelah menarik napas panjang, terasa lega hatinya. Rasa takut yang menghantui hatinya sedikit mengendor sementara kudanya terus maju ke depan semakin cepat.