Pendekar Kelana Sakti 14 Dewi Jalang Dari Gunung Tunggul
Cersil Pendekar Kelana Sakti 14 Dewi Jalang Dari Gunung Tunggul
Baca Online Pendekar Kelana Sakti 14 Dewi Jalang Dari Gunung Tunggul
Resensi & Sinopsis Cersil Klasik Nusantara
Dinamika Intrik Rimba Persilatan Gunung Tunggul
Konflik persilatan pasca-kejadian di tanah Sungkawarang terus berlanjut. Misteri dua tokoh wanita dari rimba hitam penguasa Gunung Tunggul membawa teror baru bagi para pendekar aliran lurus. Sosok Srikaton bersama gurunya menghadirkan gejolak asmara, dendam kesumat, serta pertarungan jurus-jurus simpanan yang menguji ketahanan batin sang pengembara, Wintara.
Bagi pembaca yang ingin menelusuri awal petualangan sengit Wintara sebelum babak pertarungan ini, Anda juga dapat membaca kisah klasik sebelumnya dalam Cersil Pendekar Kelana Sakti 04: Pemikat Nyi Ageng Serang yang menyajikan latar persilatan tak kalah mendebarkan.
Kutipan Cerita: Episode Dewi Jalang Dari Gunung Tunggul
Karya: Buce L. | Cetakan Pertama | Penerbit: Mutiara, JakartaGunung Tunggul tetap menyeramkan. Hutan-hutan yang gelap serta semak-semak belukar tumbuh di sana sini. Dataran tanahnya banyak berbatu. Namun sangat subur. Di situ pula banyak ditumbuhi alang-alang yang tinggi sebatas pinggang. Alang-alang itu terus menghampar sampai ke atas puncak. Meski keadaan Gunung Tunggul sangat menyeramkan, udara di sekitar puncak amatlah sejuk dan segar. Bila angin berhembus, suaranya menderu-deru bagai iringan musik alam yang membuat pohon-pohon cemara hutan bergoyang-goyang. Sesekali pula burung-burung beterbangan berkelompok-kelompok meninggalkan sarangnya. Mereka terbang meliuk-liuk kemudian hinggap pada satu bangunan yang nampaknya bekas sebuah kuil. Bangunan batu itu tetap tegar meski sudah sangat usang. Seluruh dindingnya banyak ditumbuhi akar-akar pohon merambat. Juga lumut-lumut jamur hampir menutupi seluruh genting yang nyaris ambruk. Di sekitar pelataran bangunan terkumpul tumpukan-tumpukan jerami kering. Di situlah tempat pemukiman dua pendekar wanita penguasa Gunung Tunggul. Dua perempuan sakti dari aliran sesat itu dapat tinggal tenang, tanpa ada yang mengetahui di mana adanya bekas sebuah kuil. Murid dan guru yang sama-sama malang melintang mengacaukan dunia persilatan kerap kali selalu turun gunung. Kehadiran mereka selalu mencemaskan orang-orang dari aliran lurus. Nama busuknya sebagai Penguasa Gunung Tunggul betul-betul sangat menakutkan.
Di pelataran kuil tua itu berdiri seorang wanita muda. Parasnya cukup jelita dengan pakaian yang menempel ketat di tubuhnya. Matanya tajam menatap ke arah lembah di bawah sana. Dialah Srikaton, sosok murid yang terkenal bengis dan tak kenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Angin pegunungan mengibaskan rambutnya yang panjang terurai.
"Guru, sampai kapan kita harus bersembunyi di tempat terpencil ini setelah kekacauan di tanah Sungkawarang?" tanya Srikaton seraya membalikkan badan.
Dari dalam pintu kuil yang remang-remang, melangkah keluar seorang wanita setengah baya namun masih menyisakan kecantikan masa mudanya. Tatapan matanya penuh dengan kearifan aliran hitam yang dingin. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tak bersuara menjejak tanah pelataran.
"Kesabaran adalah bagian dari ilmu kita, Srikaton. Pemuda bernama Wintara si Pendekar Kelana Sakti itu bukanlah lawan yang mudah ditundukkan hanya dengan kemarahan belaka," jawab sang guru tenang.
Analisis Latar Pertarungan & Karakter
Hubungan batin antara Umbayani, Arso Lumbing, dan Resi Wesakih memberikan dimensi emosional yang mendalam pada babak ini. Di samping pementangan jurus-jurus mematikan, dilema kekeluargaan dan penebusan dosa masa lalu menjadi daya tarik utama dari karya cersil Buce L. ini.
Deru angin malam semakin kencang menembus celah-celah pilar kuil tua di Gunung Tunggul. Ketegangan yang tercipta di antara para tokoh persilatan menandakan bahwa pertempuran besar berikutnya akan segera meletus di tanah rimba persilatan Nusantara.
Informasi Hak Cipta & Catatan Penerbitan
Judul Serial: Pendekar Kelana Sakti 14 - Dewi Jalang Dari Gunung Tunggul
Pengarang: Buce L.
Penerbit: Penerbit Mutiara, Jakarta (Pintu Besi Baru Plaza Lt. 11 B52/69 Jl. Samanhudi No.14-16, Jakarta-Pusat)
Setting Layout: Trias Typesetting
Disclaimer: Cerita ini adalah fiktif. Persamaan nama, tempat, dan ide hanya kebetulan belaka. Hak cipta dilindungi penerbit.