Dewa Arak 69 Peti Bertuah
Cersil Dewa Arak 69 Peti Bertuah
Baca Online Dewa Arak 69 Peti Bertuah
Sinopsis & Tempat Membaca Kelanjutan Kisah Jagat Persilatan
Catatan Pembaca: Sebelum menikmati bab 69 ini, pastikan Anda tidak melewatkan ketegangan tingkat tinggi pada episode sebelumnya di halaman Dewa Arak 67 Makhluk Jejadian yang menjadi jembatan misteri takdir Arya Buana.
Fragmen Eksklusif Kisah: Misteri di Balik Cermin Ajaib
Satu helaan berat keluar dari mulut sesosok bertubuh sedang, di sebuah ruangan luas dalam sebuah goa. Dengan langkah tertatih-tatih karena memang telah termakan usia, sosok itu mondar-mandir di ruangan yang cukup pengap ini. Wajahnya menunduk dengan tangan kiri mengelus-elus dagu. Agaknya, dia tengah berpikir keras. "Aku yakin ada sesuatu yang aneh.... Sesuatu mengerikan, yang mungkin akan terjadi. Benar! Aku yakin...," desah sosok yang ternyata seorang laki-laki tua berjubah putih.
Kini kakek itu berdiri diam dengan sikap tubuh agak miring. Memang kaki kirinya sampai sebatas pangkal paha sudah tidak ada lagi, dan diganti sebatang tongkat besi yang ditekankan ke tanah dengan tangan kiri. Usia kakek ini tidak kurang dari tujuh puluh lima tahun. Meski tidak memiliki kumis atau jenggot, tapi semua rambutnya yang panjang terurai telah berwarna putih laksana benang-benang perak. Kini kakek berkaki buntung ini kembali melangkah tertatih-tatih. Langkahnya yang bergelombang seperti berjalan di dataran tidak rata, tertuju pada mulut goa yang hanya satu-satunya terlihat di sini. Bagian lainnya merupakan dinding gua dari batu cadas yang tidak memiliki lubang sama sekali.
Lorong yang dimasuki kakek berkaki tunggal itu ternyata cukup panjang. Tapi, langkahnya tidak diteruskan sampai akhir lorong goa. Pada salah satu dinding di lorong terdapat mulut goa yang lebih kecil, langkahnya berbelok. Dan ternyata lorong ini menembus ke sebuah ruangan berbentuk segi empat yang jauh lebih kecil dari ruangan sebelumnya. Tidak ada apa-apa di ruangan itu, kecuali sebuah danau kecil berbentuk lingkaran, bergaris tengah setengah tombak. Airnya yang jernih membuat dasar danau kecil ini terlihat jelas. Di dalamnya banyak terdapat benda sebesar ibu jari kaki yang berkilauan. Mungkin intan berlian. Tapi kakek berkaki tunggal itu tidak mempedulikannya.
"Cermin Ajaib...! Cermin Sakti...! Beberapa hari ini hatiku tidak tenang. Aku tidak bisa bersemadi seperti sebelumnya. Jantungku terasa berdebar-debar.... Tidurku pun gelisah. Aku yakin ada sesuatu yang akan terjadi. Tolonglah tunjukkan padaku, apa yang menjadi penyebab semua ini, wahai Cermin Sakti...!"
Pinta kakek berjubah putih itu dengan suara pelan dan bergetar, penuh kekuatan. Sekejap setelah ucapan kakek berkaki tunggal ini lenyap, permukaan air di dalam danau kecil bergolak hebat, seakan-akan ada sesuatu yang akan timbul ke permukaan. Air berbuncah-buncah, menimbulkan gelembung-gelembung udara. Permukaan air seperti mendidih! Dan ketika semua keanehan itu lenyap, pada permukaan air tampak bayangan gambar sebuah pulau berwarna hitam kelam, penuh diliputi kabut. Tak lama kemudian berganti sebuah peti kecil berwarna hitam mengkilat dengan panjang sekitar dua jengkal dan lebar satu setengah jengkal. Bayangan gambar ini pun tidak lama karena segera berganti bayangan mayat-mayat bergelayutan berkubang darah!
Kemudian, permukaan air dalam danau kecil itu bergolak dahsyat kembali, sebelum akhirnya tenang seperti sedia kala. Jernih dengan batu-batu berkilauan di dasarnya. Kakek berkaki sebelah mengernyitkan dahinya seperti tengah berpikir keras. Beberapa saat lamanya dia bertindak demikian. Cermin Sakti...! Cermin Ajaib.... Aku belum jelas dengan semua keteranganmu. Tunjukkanlah padaku penjelasan yang dapat kumengerti...! Permintaan kakek berkaki tunggal langsung mendapatkan sambutan seperti sebelumnya. Tapi, bayangan gambar-gambar yang ditunjukkan danau kecil yang disebut Cermin Ajaib itu tidak berubah. Tetap seperti yang pertama kali.
Kenyataan ini membuat kerut-merut di dahi kakek berkaki tunggal semakin bertambah. Kemudian kakek berkaki tunggal ini kembali melangkah tertatih-tatih meninggalkan tempat itu dengan sepasang mata yang disipitkan, dan pandangan yang tertunduk ke bawah. "Aneh sekali..! Mengapa Cermin Ajaib tidak mampu memberi keterangan yang jelas? Apakah yang tersembunyi di balik pulau dan peti itu, sehingga Cermin Sakti tidak mampu mengungkapnya sama sekali! Gila! Ini benar-benar gila! Aku yakin, apa pun ini, merupakan ancaman besar bagi kelangsungan dunia persilatan! Aku harus bertindak...!" desis kakek ini.
Sementara itu di belahan tempat lain, pertarungan hebat pecah. Langkah kaki dan tangannya juga pendek-pendek dan bulat-bulat. Sehingga ketika berjalan, sosok yang lebih mirip gentong air ketimbang manusia ini bagaikan menggelinding! Siapa lagi kalau bukan Guraksa! Meskipun bentuk tubuhnya aneh dan kelihatan menggelikan, namun Guraksa memiliki ilmu aneh. Walau kedua kakinya pendek-pendek, tapi ketika berlari tak kalah dibanding orang-orang yang memiliki kaki sewajarnya. Bahkan boleh dibilang lebih cepat. Sampai-sampai bentuk tubuhnya lenyap ketika berlari. Dan yang terlihat, hanya sekelebatan bayangan dalam bentuk tidak jelas.
Guraksa baru memperlambat larinya dan menggantinya dengan berjalan biasa, ketika telah berada di sebuah jalan tanah yang kanan kirinya diapit hamparan rerumputan menjulang tinggi. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya rumput di sana-sini. Sosok pendek gemuk itu, menekankan caping bambu yang menutup kepalanya. Tindakan yang dilakukan seperti hendak menyembunyikan wajah. Baru beberapa tombak Guraksa berjalan biasa, mendadak terdengar bunyi gemerisik nyaring. Dan di depannya, berjarak tiga tombak, tahu-tahu telah berjajar beberapa sosok tubuh bersenjata di tangan. Sikap mereka mengisyaratkan siap untuk tarung. "Hm...!" Guraksa menggumam pelan, melihat hambatan di perjalanannya. Dengan gerak tidak kentara, ekor matanya memperhatikan belakangnya. Ternyata dalam jarak yang sama di belakangnya, telah berjajar sosok-sosok tubuh yang bersenjata di tangan.
Jelas, sosok pendek gemuk ini merasa kalau dirinya telah terkurung. Tidak ada lagi jalan keluar, kecuali menerobos kerimbunan rerumputan yang tinggi dan luas itu. Walaupun keadaannya telah terkurung, sosok mirip gentong air itu tidak kelihatan gugup. Guraksa berdiri diam di tempatnya, tidak melangkah maju atau mundur. Kepalanya malah semakin dibenamkan dalam kungkungan caping bambunya yang terus ditekankan. Sambil mengumbar tawa terkekeh, tiga lelaki kekar berkulit hitam legam di depan Guraksa melangkah maju. "Tidak ada gunanya menyembunyikan wajah di balik caping itu, Guraksa! Meski tubuhmu kau bungkus dengan gundukan kotoran manusia pun, kami akan tahu! Tubuhmu yang bulat seperti babi buntinglah yang membuat kami gampang menebak, siapa dirimu. He he he...!" Salah satu lelaki kekar berkulit hitam bertahi lalat besar yang ditumbuhi rambut di pipi berkata sombong sambil menudingkan pisau di tangannya pada sosok pendek gemuk di hadapannya.
"Ha ha ha...!" Guraksa tertawa bergelak. Caping bambu yang menutup wajah ditengadahkan, sehingga sekarang wajahnya yang bulat, terlihat jelas. "Rupanya matamu masih tajam, Tompel! Bahkan sepertinya lebih tajam lagi. Apakah tuanmu yang sekarang memberi lebih banyak tulang?! Kudengar gonggonganmu lebih berisi daripada dulu!" ejek Guraksa. "Keparat!" geram lelaki hitam bertompel, penuh kemarahan. Hatinya kontan terbakar mendengar ejekan Guraksa. "Rupanya kau sudah kepingin mati, Babi Gemuk!" Belum lenyap gema ucapan itu, serangan-serangan lelaki hitam bertompel ini telah lebih dulu menyambar. Sepasang tangannya bergerak cepat mengibas. Maka seketika beberapa batang pisau tajam mengkilat yang berada di balik pakaiannya meluncur ke arah Guraksa, diiringi bunyi berdesing nyaring.
Guraksa meski bertubuh gemuk dan gendut, ternyata memiliki gerakan gesit. Sebelum sambaran pisau-pisau itu mendekat, tangan kanannya bergerak meraih caping di kepalanya. Langsung dilemparkannya caping itu untuk memapak pisau-pisau yang meluncur ke arahnya. Dengan didahului bunyi mengaung nyaring laksana puluhan ekor lebah mengamuk, caping bambu itu meluncur ke arah tujuan. Bahkan sebelum masing-masing benda yang dilepaskan berbenturan di tengah jalan, dua orang yang bertikai ini melesat dari tempatnya. Begitu tubuhnya bergerak, lelaki hitam bertompel itu mengeluarkan perintah pada rekan-rekannya untuk menyerbu. Dan ketika beberapa orang kekar menyerbu, Guraksa pun meluruk dari tempatnya.
Buka Lembaran Cerita via Media Sosial Resmi
Guna menjaga keaslian pustaka kuno dan interaksi sesama penggemar cersil Indonesia, Anda dapat mengakses transliterasi per bab melalui dokumentasi Facebook Group & Mobile Link resmi berikut:
- Bergabung dengan Komunitas Utama: Grup Diskusi Pencinta Cersil Dewa Arak
- Kisah Bab Utama: Eps 1 Peti Bertuah
- Kisah Bab Lanjutan: Eps 2 Peti Bertuah
- Kisah Bab Pertengahan: Eps 3 Peti Bertuah
- Kisah Bab Klimaks: Eps 4 Peti Bertuah