Dewa Arak 68 Biang Biang Iblis
Cersil Dewa Arak 68 Biang Biang Iblis — Baca Online Lengkap
Sinopsis Terkini & Informasi Penerbitan Klasik
Karya: Aji Saka | Penerbit: Cintamedia, Jakarta (Cetakan Pertama)
Penyunting: A. Suyudi | Tukang Edit Digital: Fujidenkikagawa
Hak cipta dilindungi undang-undang pada Penerbit. Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. Arsip digital bersumber resmi dari komunitas pecinta cersil nusantara.
Fragmen Bab Utama: Gejolak di Hamparan Gersang
Hari sudah siang. Sang Surya yang sudah tinggi memancarkan sinar ke persada. Sinar yang tidak nikmat, bahkan terasa menyengat di kulit. Namun, ketidaknyamanan suasana itu tidak dihiraukan oleh sosok bayangan merah. Padahal dia berada di tengah hamparan tanah lapang yang gersang, tanpa rumput dan pepohonan. Rupanya sosok itu tengah berlatih silat. Gerakannya yang cepat menyebabkan bentuk tubuhnya seakan lenyap. Yang terlihat hanya bayangan tak jelas berwarna merah berkelebatan ke sana kemari. Sesekali terdengar suara teriakan keras mengiringi pukulan atau tendangan sambil melompat melancarkan serangan terhadap lawan yang hanya ada dalam bayangannya.
Mendadak sosok merah itu menghentikan gerakannya, lalu berdiri tegak. Sosok itu ternyata seorang wanita cantik berusia paling banyak dua puluh tahun. Rambutnya yang hitam berkilat, terurai, menambah kecantikannya. Bentuk tubuhnya yang sintal terbalut kulit mulus kuning langsat, semakin menambah daya tarik wanita muda itu. Gadis berpakaian merah berdiri dengan kedua kaki agak terpentang beberapa saat untuk meredakan nafasnya yang memburu. Peluh yang membasahi wajah dan leher membuktikan kalau dirinya telah banyak menguras tenaga dalam latihan itu. Tidak aneh, sebab sejak sang Surya belum muncul gadis berpakaian merah itu telah sibuk berlatih.
"Bagus...! Bagus sekali, Lestari! Kau telah mengalami kemajuan yang pesat!"
Pernyataan bernada pujian itu membuat gadis berpakaian merah menoleh kepala ke arah asal suara.
"Benarkah itu, Ayah?!" Tanya gadis berpakaian merah yang dipanggil dengan nama Lestari. Dia segera mengayunkan kaki menghampiri lelaki setengah baya yang tengah memandanginya. "Tentu saja, Lestari. Pernahkah Ayah berbohong padamu?!" Ujar lelaki yang ternyata ayahnya Lestari. Dia seorang lelaki tinggi besar bertubuh gemuk tapi gagah dan tegap. Sambil memandangi gadis itu mulutnya tersenyum lebar, menggambarkan kepuasan hatinya.
"Tapi... mengapa aku tetap belum dapat melakukan hal seperti yang Ayah lakukan?! Setiap batu yang ku pukul selalu hancur berkeping-keping. Tidak pernah terjadi seperti yang Ayah lakukan. Kalau Ayah yang memukul, batu itu tak hancur, gompal pun tidak. Tapi, begitu angin berhembus agak kencang, batu itu hancur lebur menjadi debu," Ujar Lestari yang merasa tidak puas.
"Lestari... Lestari..." Lelaki tinggi besar berusia tak kurang dari lima puluh tahun itu menggeleng-gelengkan kepala mendengar bantahan putrinya. "Kau kira mudah melakukan hal itu?!" Kemampuan seperti itu hanya akan kau dapatkan apabila dirimu telah memiliki tenaga dalam yang sempurna. Sedangkan untuk mencapai tingkat kesempurnaan itu perlu berlatih semadi dan pernapasan yang sungguh-sungguh. Dan memang kini kau tinggal melatih tenaga dalam serta mempertinggi ilmu meringankan tubuh karena semua ilmu yang kumiliki telah kuwariskan kepadamu!
"Jadi..., tidak ada lagi yang akan Ayah ajarkan padaku?!" Tanya Lestari setengah tidak percaya. "Benar, Lestari," Jawab lelaki tinggi besar seraya menganggukkan kepala. Kau hanya tinggal mematangkannya. Setahun lagi kau boleh terjun ke dunia persilatan untuk mencari pengalaman dan menggunakan kepandaian yang kau miliki untuk menegakkan kebenaran. Oleh karena itu, waktu yang hanya setahun ini, pergunakan sebaik-baiknya, Lestari. Giat-giatlah kau berlatih semadi dan pernapasan serta ilmu meringankan tubuh agar aku tenang melepas kau pergi ke dunia persilatan. Pesanku, jangan sekali-kali kau beritahukan kalau dirimu mempunyai hubungan dekat denganku. Sedapat mungkin kau harus menyembunyikannya. Apabila hal itu kau langgar, atau tanpa sengaja diketahui orang lain, akan besar bahayanya buatmu. Asal kau tahu saja, Lestari, aku banyak menanam permusuhan dengan tokoh-tokoh persilatan. Aku yakin, mereka akan melampiaskan dendamnya padamu apabila hal yang ku khawatirkan itu terjadi.
Dan... Lelaki tinggi besar itu menghentikan ucapannya di tengah jalan karena tiba-tiba terasa ada getaran keras di tanah yang mereka pijak. Sepertinya, ada seekor gajah besar lewat di dekat tempat mereka. Lestari pun merasakannya. Maka dia tidak merasa heran melihat ayahnya menghentikan ucapan di tengah jalan. Dengan sendirinya percakapan terhenti. Lestari dan ayahnya memusatkan perhatian pada getaran-getaran keras di tanah yang mereka pijak. Lestari terkejut ketika melihat sikap ayahnya menjadi gelisah.
"Ada apa, Ayah?!" Tanya Lestari tanpa menyembunyikan rasa heran dan penasaran dalam nada suara dan tarikan wajahnya. "Tidak usah banyak tanya! Cepat tinggalkan tempat ini, Lestari! Tinggalkan sejauh-jauhnya, dan ingat pesanku tadi!" Ujar lelaki tinggi besar, penuh perasaan gelisah yang tidak dapat disembunyikan. Dia tidak mempedulikan pertanyaan anaknya sama sekali. Namun Lestari bukan gadis yang bisa digebah begitu saja, tanpa ada penjelasan yang meyakinkan. Sang Ayah sebenarnya tahu hal itu tapi kegelisahan yang melanda membuatnya lupa. Bahkan ketika melihat Lestari tidak mematuhi perintahnya, dia menjadi kalap.
"Cepat tinggalkan tempat ini, Lestari! Cepat, kataku!" Sentak sang Ayah dengan suara keras dan mata membelalak. "Atau kau ingin mencoba-coba menentang perintahku?!" Lestari sampai terjingkat ke belakang mendengar nada keras bentakan ayahnya. Gadis itu benar-benar kaget, karena selama ini belum pernah ayahnya bicara keras seperti ini Seketika dia tahu akan gawatnya keadaan, tapi rasa penasaran dan ingin tahu, membuatnya tidak segera melaksanakan perintah sang Ayah.
"Ha ha ha...!" Tawa keras menggelegar yang membuat keadaan di sekitar tempat itu bergetar hebat mengiringi getaran yang semakin keras pada tanah. Dan pada jarak dua puluh tombak dari tempat Lestari dan ayahnya, tampak sesosok tubuh tinggi besar berlari mendekati tempat mereka. Dan hanya dalam waktu sekejap, sosok itu telah berdiri di hadapan mereka. Lestari dan ayahnya membelalakkan mata kaget, seolah mereka tak percaya melihatnya. Sosok itu mampu berlari dengan menimbulkan getaran hebat bagaikan seekor gajah. Selain itu suara tawanya yang keras menyebabkan getaran hebat di dada mereka.
Lestari, yang sejak sosok itu terlihat memperhatikannya dengan penuh selidik, merasa ngeri ketika melihat adanya dua buah taring yang menyembul di mulut sosok yang baru tiba itu. Sosok yang memiliki taring di mulutnya ini memang memiliki ciri-ciri mengerikan. Tubuhnya tinggi dan besar. Sehingga ayahnya Lestari yang memiliki tubuh tinggi besar saja, tidak sampai sebahunya. Di samping tinggi besar, otot-ototnya tampak bersembulan dan melingkar-lingkar di tubuh sosok berwajah mengiriskan. Lestari dapat melihatnya dengan jelas, karena makhluk itu tak mengenakan pakaian pun, kecuali sehelai celana panjang hitam sebatas bawah lutut.
"Raksasa Pemangsa Manusia...!" Desis ayahnya Lestari dengan suara bergetar. "Mau apa kau kemari?" "Ha ha ha...!" Sosok tinggi besar berotot yang disapa dengan julukan Raksasa Pemangsa Manusia, tertawa bergelak. "Rupanya kau mengenaliku, Malaikat Petir! Kalau begitu tidak ada gunanya lagi kau berpura-pura. Aku yakin kau pasti mengetahui maksud pertanyaanku. Asal kau tahu saja, sudah lama aku mencari-carimu, Malaikat Petir. Ternyata mencarimu lebih sukar daripada mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kau lenyap begitu saja dari dunia persilatan."
Ayahnya Lestari yang berjuluk Malaikat Petir, tersenyum getir. Senyum yang muncul di saat dia tidak ingin tersenyum. "Pasti karena masalah muridmu, kan?!" Terka Malaikat Petir, datar. "Tepat! Aku datang untuk menuntut balas atas kematian muridku, Malaikat Petir. Bersiaplah untuk menerima kematian!" Sahut Raksasa Pemangsa Manusia penuh keyakinan akan keberhasilan usahanya itu.
"Menyingkirlah, Lestari, dan cepatlah pergi dari sini! Tinggalkan tempat ini sejauh-jauhnya!" Usai berkata demikian, tanpa memberikan kesempatan pada Lestari untuk memberikan tanggapan, Malaikat Petir langsung menerjang Raksasa Pemangsa Manusia. Dan sesuai julukannya, lelaki berpakaian abu-abu ini memang memiliki gerakan amat cepat. Bentuk tubuhnya langsung lenyap ketika melancarkan serangan, hingga yang terlihat hanya sekelebatan bayangan abu-abu, meluruk ke arah Raksasa Pemangsa Manusia.
Namun, Raksasa Pemangsa Manusia ternyata tidak hanya berbicara besar ketika mengucapkan perkataan hendak mengirim nyawa lawannya ke akherat. Meskipun gerakan Malaikat Petir amat cepat, dan bahkan sampai tidak terlihat mata, dia dapat melihatnya secara jelas. Lelaki bertelanjang dada ini tahu kalau Malaikat Petir menubruk ke arahnya dan mengirimkan serangan gedoran telapak tangan kanan terbuka ke arah ulu hatinya. Plakkk! Benturan keras terdengar ketika Raksasa Pemangsa Manusia menangkis serangan Malaikat Petir dengan gerakan dan sikap jari serupa. Akibatnya, tubuh Malaikat Petir terhuyung-huyung ke belakang, sementara lawannya tidak bergeming sama sekali.
Pertarungan epik pun berlanjut dengan pengorbanan dramatis dari sang ayah. Menghadirkan plot twist mendalam saat takdir mempertemukan Lestari dengan Prapanca, hingga tibanya Melati—kekasih dari sang Dewa Arak legendaris—yang harus berhadapan dengan keganasan datuk hitam golongan sesat legendaris tanah Jawa yang tergabung dalam kelompok mengerikan bernama Biang-Biang Iblis!
Daftar Tautan Resmi Baca Online Lengkap Jilid 68 via Facebook Group:
Bergabunglah dengan komunitas pembaca cersil nusantara: Grup Komunitas Facebook Resmi
- 🔹 Eps 1 Biang Biang Iblis: Baca Episode 1 Selesai
- 🔹 Eps 2 Biang Biang Iblis: Baca Episode 2 Selesai
- 🔹 Eps 3 Biang Biang Iblis: Baca Episode 3 Selesai
- 🔹 Eps 4 Biang Biang Iblis: Baca Episode 4 Selesai