Dewa Arak 67 Makhluk Jejadian
Bab Pembuka: Kejaran Maut di Tengah Siang Bolong
"Ayaaah...! Tolong...!"
Jeritan nyaring melengking, dan berasal dari sesosok tubuh ramping yang berada di pondongan sosok kekar berpakaian hitam, menguak keheningan siang. Tubuh wanita itu menggeliat-geliat dalam pelukan tangan kanan sosok berpakaian serba hitam.
"Penjahat-penjahat keji! Jangan harap kalian dapat lolos dari tanganku!"
Sebuah suara keras dan parau bernada kemarahan, menimpali teriakan wanita berpakaian merah itu. Pemilik suara kedua ini ternyata seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun bertubuh tinggi kurus dan berkumis melintang.
Dia berlari cepat mengejar sosok hitam yang membawa kabur putrinya. Sebuah golok pendek berwarna hitam mengkilat tergenggam di tangan kanannya. Lelaki berpakaian coklat tua itu ternyata memiliki kecepatan lari berada di atas sosok hitam yang dikejarnya. Jarak antara mereka yang semula cukup jauh, semakin lama semakin dekat. Namun ketika jarak mereka tinggal sekitar sepuluh tombak, kawan-kawan sosok berpakaian hitam membalikkan tubuh, menghadang di depannya. Hal ini membuat lelaki berkumis melintang tidak bisa melanjutkan pengejarannya.
"Tua bangka dungu! Rupanya kau sudah kepingin mampus!" bentak salah seorang penghadang dengan nada bengis.
Lelaki berkumis melintang tidak mempedulikan gertakan itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia langsung menerjang dengan goloknya. Gerakannya cepat dan bertenaga, pertanda dia memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi.
Trang...! Trang...!
Dua kali benturan senjata tajam terdengar nyaring. Dua orang penghadang terpaksa surut dua langkah ke belakang dengan pergelangan tangan terasa pegal. Mereka terkejut merasakan kekuatan tenaga dalam lelaki berkumis melintang itu.
"Tahan...! Jangan bunuh dia!" teriak sosok kekar yang memondong wanita berpakaian merah dari kejauhan. "Tahan dia saja! Jangan biarkan dia menyusulku!"
Mendengar perintah itu, empat orang penghadang berpakaian hitam segera mengepung rapat lelaki berkumis melintang. Mereka tidak lagi berniat membunuh, melainkan hanya ingin mengulur waktu agar rekan mereka yang membawa rampasan wanita cantik itu bisa meloloskan diri sejauh mungkin.
Pertarungan sengit pun pecah di jalanan berdebu itu. Lelaki berkumis melintang yang sangat mengkhawatirkan keselamatan putrinya, bertarung bagaikan harimau terluka. Golok pendeknya berkelebat cepat menciptakan gulungan sinar hitam yang menebar maut. Namun, empat lawannya bertarung dengan taktis dan rapat, membuat setiap terobosannya selalu membentur tembok pertahanan yang kokoh.
"Keparat! Menyingkir kalian semua!" teriak lelaki berkumis melintang itu gusar setengah mati melihat sosok penculik putrinya kian menjauh di balik rimbunnya hutan.
Sementara itu, sosok hitam yang memondong wanita berpakaian merah terus berlari kencang menerobos pepohonan. Jeritan dan rontaan wanita itu perlahan mulai melemah karena kehabisan tenaga, berganti menjadi isak tangis yang memilukan hati.
"Lepaskan aku, Jahanam! Ayahku pasti akan mencincangmu!" ratap wanita itu dengan sisa tenaganya.
"Hehehe... bersuara lah sepuasmu, Manis. Ayahmu tidak akan pernah bisa menolongmu lagi. Sebentar lagi kau akan menjadi persembahan yang sangat berharga," jawab penculik itu dengan tawa mesum yang memuakkan.
Namun, kegembiraan penculik itu tidak berlangsung lama. Ketika kakinya baru saja hendak melompati sebuah batang pohon yang tumbang melintang di jalan setapak, sesosok bayangan jangkung tiba-tiba berkelebat dari atas pohon dan mendarat tepat di hadapannya dengan suara seringan kapas!
Wuttt!
Penculik berpakaian hitam itu tersentak kaget. Dia terpaksa menghentikan langkahnya secara mendadak hingga debu kering mengebul di sekitar kakinya. Sepasang matanya menatap tajam ke arah sosok penghalang yang berdiri tegak membelakangi sinar matahari.
Sosok itu adalah seorang kakek bertubuh jangkung kurus dengan wajah berwarna kehijauan yang menyeramkan. Kakek ini mengenakan pakaian jubah longgar berwarna abu-abu, memegang sebuah kendi tanah liat di tangan kirinya.
"Siapa kau, Tua Bangka? Jangan ikut campur urusan kami kalau masih sayang nyawa!" ancam penculik berpakaian hitam itu dengan suara bergetar menutupi kegugupannya.
Kakek bermuka kehijauan itu tidak menjawab. Dia hanya menyunggingkan senyum dingin yang membuat bulu kuduk merinding, lalu mengalihkan pandangannya ke arah wanita berpakaian merah yang tampak pucat ketakutan dalam pondongan.
"Lepaskan gadis itu, atau aku akan membuat tubuhmu menjadi abu!" ujar kakek bermuka kehijauan dengan suara parau yang berwibawa tinggi.
"Kurang ajar! Rasakan ini!"
Merasa terdesak oleh waktu dan kehadiran tokoh misterius ini, penculik berpakaian hitam itu langsung melempar tubuh wanita di pondongannya ke tanah, lalu menarik sebilah pedang tipis dari pinggangnya. Dia menerjang maju dengan jurus tusukan maut mengarah langsung ke tenggorokan sang kakek.
Namun, apa yang terjadi sungguh di luar dugaan!
Kakek bermuka kehijauan itu bahkan tidak berkedip sedikit pun. Ketika ujung pedang tipis itu tinggal berjarak tiga inci dari kulit lehernya, tangan kanannya bergerak secepat kilat. Dua jarinya menjepit ujung pedang lawan dengan sangat akurat!
Tinggg!
Bunyi dentingan nyaring terdengar. Penculik berpakaian hitam itu terbelalak tidak percaya. Dia mencoba menarik pedangnya dengan sekuat tenaga hingga wajahnya merah padam, namun pedang itu seolah-olah telah tertanam kuat di dalam bongkahan batu karang yang kokoh.
"Tenaga dalam yang luar biasa...! Siapakah kakek ini sebenarnya?!" batin penculik itu gemetar ketakutan.
Sebelum dia sempat mengambil keputusan untuk melepaskan gagang pedangnya dan melarikan diri, kakek jangkung bermuka kehijauan itu mengirimkan kibasan tangan kirinya yang bebas. Angin pukulan yang sangat dahsyat menderu keluar dari lengan jubah abu-abunya.
Plakkk! Desss!
Penculik itu menjerit tertahan saat dadanya terhantam telak oleh gelombang tenaga dalam yang dingin mencekam. Tubuhnya melayang setinggi satu tombak sebelum akhirnya terbanting keras ke tanah dan bergulingan sejauh beberapa meter. Darah segar tampak merembes dari sela-sela bibirnya yang tertutup cadar hitam.
Melihat rekannya roboh hanya dalam satu jurus, empat orang berpakaian hitam yang tadi bertarung dengan lelaki berkumis melintang dan baru saja tiba di tempat itu, langsung menghentikan langkah dengan wajah pucat pasi. Nyali mereka ciut seketika melihat kehebatan kakek bermuka kehijauan tersebut.
Mereka tahu bahwa kakek jangkung misterius itu terlalu tangguh bagi mereka. Kakek itu memiliki kepandaian yang amat tinggi. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, setelah saling pandang sebentar, mereka membalikkan tubuh dan berlari tunggang-langgang meninggalkan tempat itu.
Sebuah keuntungan masih berada di pihak mereka, kakek bertubuh jangkung tidak berwatak telengas dan menjatuhkan tangan maut kepada mereka. Bahkan melukai pun tidak. Kakek bermuka kehijauan itu hanya merampas senjata dan membuat tubuh mereka terlempar! Sehingga kelima lelaki berpakaian hitam masih mampu berlari cepat meninggalkan tempat itu dengan sisa nyawa mereka.
Sementara kakek bermuka kehijauan itu tidak mempedulikan lima orang lawannya lagi. Diayunkan kakinya menghampiri wanita muda berpakaian merah yang tergolek di atas tanah kering dengan pandangan penuh rasa terima kasih sekaligus keheranan mendalam...