Rabu, 15 Juli 2026

Dewa Arak 60 Perawan Perawan Persembahan

Dewa Arak 60 Perawan Perawan Persembahan

Cersil Dewa Arak 60 Perawan Perawan Persembahan

Baca Online Dewa Arak 60 Perawan Perawan Persembahan

Misteri Desa Banyu dan Perawan Persembahan

Pertempuran Membela Kesucian di Lorong Gelap Desa Banyu

Bagi Anda penggemar berat kisah petualangan Arya Buana, ikuti juga ketegangan luar biasa dalam seri terdahulu yang tidak kalah seru di halaman Dewa Arak 47 Bencana Patung Keramat yang menjadi kunci penting beberapa misteri persilatan.

Sang Surya sudah bergulir dan terbenam di ufuk barat. Sinarnya yang merah jingga, telah lama menghilang di kaki-kaki langit sebelah barat. Dan sekarang, sang Dewi Malam yang menggantikan tugas-nya untuk menerangi persada dengan sinarnya yang temaram. Tapi gerombolan awan tebal berwarna hitam yang bergumpal-gumpal di angkasa, seolah menghalangi sinarnya. Sehingga suasana di muka bumi jadi remang-remang.

Keadaan seperti ini saja sudah membuat malam menjadi mencekam. Apalagi, angin dingin menggigilkan tulang sesekali berhembus keras. Tak heran kalau keadaan ini cukup membuat orang lebih suka tinggal di dalam rumah. Kalau saja di luar sana masih ada juga orang dalam suasana seperti itu, tentu ada hal penting yang harus diselesaikannya. Dan ini dialami oleh dua sosok yang tampak melangkah menyusuri jalan utama Desa Banyu.

Satu di antara mereka tampak membawa kentongan. Tentu saja, mereka adalah peronda yang harus menyelesaikan tugasnya hingga fajar nanti.

Tong, tong, tong...!

Bunyi kentongan yang terdengar keras mengiringi langkah kedua sosok itu. Apalagi, dalam suasana malam yang demikian sunyi.

"Ginta...," panggil salah seorang. Lelaki pendek kekar yang memegang kentongan dan dipanggil Ginta menoleh. "Ada apa, Pertala?" tanya Ginta. Pertala yang memiliki tubuh tinggi kurus, terdiam sesaat. Nampak kalau sikapnya ragu-ragu untuk berbicara, sehingga membuat Ginta kesal.

"Kau tidak merasa ada keanehan malam ini, Ginta?" tanya Pertala, sebelum Ginta memuntahkan kekesalannya. Ginta kontan terperanjat mendengar ucapan Pertala. Tanpa sadar kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi, tidak ada yang dilihatnya, kecuali bentuk yang serba tidak jelas di tengah suasana yang remang-remang.

"Apa maksudmu, Pertala?" Ginta malah balas mengajukan pertanyaan. Namun nada suaranya terdengar agak gemetar. Perlu diakui, lelaki pendek kekar ini memiliki sifat penakut, terutama jika berada di tempat-tempat yang menyeramkan. Dan sebenarnya, sejak tadi Ginta sudah merasa ketakutan yang terus ditahan-tahan. Tapi ucapan Pertala barusan, seperti menyergapnya dalam suasana yang mencekam.

"Malam ini perasaanku tidak enak sekali, Ginta," desah Pertala, bernada keluh. "Bahkan bulu kudukku sampai berdiri."

"Hm..., lalu?" tanya Ginta, semakin bergetar karena rasa takut yang kian melunturkan keyakinannya. Meskipun tidak menoleh, sepasang mata Ginta berkeliaran liar mengawasi sekeliling. Dan perasaan takut itu kian menjadi-jadi ketika menyadari kalau sekarang berada dekat perbatasan desa. Di sini memang sudah tidak ada pondok lagi. Rumah penduduk yang paling dekat dengan mulut desa telah cukup jauh di belakang mereka. Itu pun hanya sebuah!

"Perasaanku mengatakan, ada sesuatu yang akan terjadi...," sambung Pertala pelan, lebih mirip bisikan. Kali ini Ginta tidak bisa menahan rasa takutnya lagi. Buru-buru tubuhnya berbalik, kemudian berlari kembali ke dalam desa! Karuan saja tindakan Ginta mengejutkan Pertala. Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera dikejarnya Ginta.

"Ginta! Tunggu...!" Maka dalam suasana malam sunyi mencekam itu, terjadi kejar-kejaran antara dua orang peronda Desa Banyu.

"Akh...!" Belum juga sepuluh tombak berlari, Ginta menjerit kaget. Tubuhnya langsung terjerembab ke depan dan jatuh ke tanah, begitu kakinya tersangkut batu yang menonjol di tanah. Karena Ginta berlari dalam suasana gelap tanpa obor, tentu saja bagai orang buta berlari. Dan tak lama, Pertala berhasil menyusul Ginta yang meringis-ringis kesakitan.

"Hhh... hhh.... Apa yang terjadi, Ginta?! Hhh... hhh.... Mengapa kau berlari-lari seperti dikejar setan?" tanya Pertala dengan napas tersengal-sengal. Obor di tangannya hampir padam terhembus angin ketika berlari tadi.

"Semua ini karena kau!" sentak Ginta keras. "Aku?!" Dengan nada tidak percaya, Pertala meminta penjelasan. "Benar!" tandas Ginta mantap. "Kalau tidak karena ceritamu, aku tidak akan ketakutan."

"Hhh...!" Pertala menghela napas berat. "Bukan hanya kau saja yang takut, Ginta! Aku juga! Bahkan mungkin lebih besar darimu! Buktinya, aku tidak mampu menahannya, sehingga menceritakannya padamu!"

Ginta kontan terdiam. Pertala juga diam. Maka suasana hening langsung melingkupi tempat itu. "Kau dengar bunyi itu, Pertala?" tanya Ginta, memecah keheningan. Pertala menatap wajah rekannya sejenak, kemudian diam. Dicobanya untuk mencari tahu, tentang bunyi yang dikatakan Ginta. Dahinya berkernyit dalam, dengan perhatian terpusat pada pendengarannya.

"Ya," jawab Pertala seraya menganggukkan kepala. "Kalau tidak salah, bunyi derap kaki kuda. Entah berapa jumlahnya.... Tapi yang jelas, banyak juga."

"Dugaanmu sama denganku, Pertala," sahut Ginta. "Entah siapa yang di malam seperti ini mengendarai kuda...."

"Jangan-jangan...," Pertala menghentikan ucapannya. Sepasang matanya langsung diarahkan ke arah mulut desa yang baru saja ditinggalkan tadi. Lelaki tinggi kurus ini segera mengalihkan perhatian ke arah Ginta. Pada saat yang sama, Ginta menatapnya. Maka kini dalam keremangan sinar obor, dua peronda Desa Banyu ini saling berpandangan. Ada sorot kekhawatiran dalam pancaran mata mereka.

"Perampok...?!"

Hampir berbareng, Ginta dan Pertala mendesiskan kata itu. Ada alasan kuat yang mendorong dugaan itu muncul. Mereka memang telah mendengar tentang rombongan perampok berkuda yang melakukan penculikan terhadap wanita-wanita muda! Setelah menegaskan kalau arah yang dituju rombongan berkuda itu adalah desa mereka, maka seperti telah disepakati, keduanya berlari cepat menuju lambung desa.

Tong, tong, tongngng! Bunyi kentongan yang mengisyaratkan adanya bahaya mengancam, langsung dipukul Ginta tanpa menghentikan larinya. Isyarat yang diberikan Ginta pun langsung mendapatkan sambutan. Daun pintu rumah yang letaknya paling dekat dengan tempat Ginta dan Pertala berada, langsung terbuka. Dari dalamnya keluar seorang lelaki tinggi besar yang langsung memukul kentongan, menyambung kentongan Ginta.

Namun takdir berkata lain bagi para peronda malang itu. Rombongan berkuda pimpinan Prakosa tiba dengan kejam. Prakosa, kepala rampok berwatak bengis yang terkenal memiliki ilmu sekuat baja di kedua tangannya, langsung menghabisi Ginta dan Pertala dengan lemparan pisau terbang yang menghunjam punggung mereka. Ayah sang gadis yang memukul kentongan pun tewas tertembus anak panah.

Desa Banyu seketika berubah menjadi neraka pertumpahan darah. Gadis-gadis diculik untuk dijadikan "Perawan Persembahan" bagi para tokoh sesat pelarian Perguruan Kalong Merah yang haus darah demi menyempurnakan ilmu sihir mereka. Mampukah Arya Buana sang Dewa Arak bersama kekasihnya, Melati, menghentikan kekejian tanpa batas ini? Simak kisah lengkapnya!


Link Resmi Episode Facebook (Komunitas Cersil)

Untuk membaca kelanjutan per-bab serta bergabung dengan ribuan pecinta cerita silat klasik lainnya, silakan akses tautan resmi di bawah ini:

Disqus Comments