Kamis, 16 Juli 2026

Dewa Arak 61 Raja Iblis Tanpa Tanding

Dewa Arak 61 Raja Iblis Tanpa Tanding

Cersil Dewa Arak 61 Raja Iblis Tanpa Tanding

Baca Online Dewa Arak 61 Raja Iblis Tanpa Tanding

Visualisasi Karakter Utama Serial Dewa Arak: Raja Iblis Tanpa Tanding

Bagi para penggemar cerita silat klasik, kisah petualangan pendekar kita kali ini sangat erat kaitannya dengan konflik lama yang bisa Anda baca selengkapnya pada kisah Dewa Arak 54 Kabut di Bukit Gondang yang tidak kalah menegangkan.

Cuplikan Kisah: Pertempuran di Lembah Dewa

Brakkk...! Pintu sebuah rumah besar berdinding papan hancur berantakan, saat sebuah kaki kokoh menghantamnya. Diiringi bunyi hiruk-pikuk, kepingan-kepingan pintu itu jatuh berderai di tanah. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang tengah berbaring di dipan bambu tersentak kaget. Ia bangkit, dan langsung bersikap waspada. Untung saja senjatanya tidak pernah lepas, walaupun sedang berbaring.

"Mana Singa Hitam Tangan Sepuluh?! Cepat suruh keluar! Atau..., kepalamu kuremukkan!" bentak lelaki tinggi besar berkepala botak yang tadi menendang pintu. Pandangannya seketika beredar ke seluruh penjuru ruangan yang tak begitu luas ini. Dia berdiri paling depan. Di belakangnya, berdiri dua lelaki yang juga berwajah kasar. Mereka berpakaian sama, berwarna hitam. Menilik sikapnya, rasanya lelaki tinggi besar itu bertindak sebagai pemimpin.

"Maaf. Kurasa Ki sanak semua keliru. Di sini tidak ada orang yang bernama Singa Hitam Tangan Sepuluh. Yang ada hanya aku, Prataksa," jawab si pemilik rumah yang bertubuh tegap dan berpakaian coklat.

"Keparat! Kau berani berdusta, Prataksa?! Rupanya sudah bosan hidup, heh?! Rangkuti, Panca! Geledah rumah ini!" perintah lelaki tinggi besar pada dua anak buahnya. Tanpa banyak cakap lagi, dua orang berpakaian hitam yang bernama, Rangkuti dan Panca bergegas melaksanakan perintah itu. Tapi sebelum maksud mereka terkabul, laki-laki tua bernama Prataksa telah menggeser tubuh menutupi satu-satunya pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan yang lainnya.

"Kalian hanya dapat melakukannya, apabila aku telah menjadi mayat!" tandas Prataksa mantap.

"Keparat! Rupanya kau sudah ingin mampus, Tua Bangka! Hih...!" Seiring keluarnya ucapan itu, Rangkuti yang bertubuh pendek kekar, menerjang Prataksa. Goloknya langsung ke arah perut lelaki berpakaian coklat itu. Wuttt! Serangan Rangkuti mengenai tempat kosong, ketika Prataksa menarik kaki kanannya ke belakang sambil doyong ke belakang. Dan begitu serangan Rangkuti berhasil dielakkan, tangan kirinya langsung dikibaskan. Sungguh suatu serangan tak terduga, sehingga... Prattt! "Akh...!"

Rangkuti memekik keras ketika tangan Prataksa menghantam telak tangan kanannya. Mulutnya kontan meringis, merasakan sakit bukan kepalang. Seakan-akan tulang-belulang remuk-remuk. Begitu kerasnya hantaman lelaki berpakaian coklat itu, sehingga golok Rangkuti pun sampai terlempar. Tapi sebelum Prataksa melancarkan serangan susulan terhadap Rangkuti, Panca telah lebih dulu menyerang dengan sebuah bacokan ke arah leher. Wuttt, wuttt!

Kembali serangan anak buah lelaki tinggi besar itu hanya menemukan tempat kosong. Prataksa rupanya lebih cepat melompat mundur, sehingga semua serangan hanya lewat di hadapannya. "Keparat!" geram lelaki tinggi besar itu sambil mengepalkan tangannya melihat kegagalan serangan anak buahnya. Rupanya lelaki berkepala botak itu tidak bisa menahan sabar lagi. Belum lagi gema ucapannya lenyap, dia telah melompat menerjang Prataksa. Dengan kelincahan dan kekuatan pergelangan tangan, goloknya diputar beberapa saat, kemudian diluncurkan ke arah leher Prataksa. Wungngng!

Kali ini Prataksa tidak berani bertindak sembarangan. Buru-buru sepasang pedang yang tergantung di punggung dicabutnya. Dan seketika dipapaknya luncuran golok itu dengan sepasang pedangnya yang saling menyilang. Trangngng! Bunga api berpijar, ketika senjata yang berbeda jenis dan ukuran itu saling berbenturan. Begitu kuatnya benturan itu, mengakibatkan tubuh Prataksa terhuyung-huyung ke belakang. Sementara, laki-laki botak itu langsung melenting ke belakang. Tepat ketika kedua kaki lelaki tinggi besar itu mendarat di tanah, Prataksa pun telah berhasil memperbaiki keseimbangan tubuhnya. Dan secepat itu pula kedua belah pihak saling gebrak kembali.

Kedua orang yang bertarung itu memang memiliki kepandaian yang tidak bisa dipandang ringan. Tentu saja mereka tidak berani bertindak main-main. Maka dalam gebrakan selanjutnya, seluruh kemampuan yang dimiliki telah dikerahkan. Tak heran kalau di ruangan yang tak begitu luas ini, semua jadi begitu ramai di sekitar tempat itu. Desing dan dentang senjata beradu meningkahi teriakan-teriakan pertarungan. Meja dan kursi bermentalan ke sana kemari. Dinding dan langit-langit ruangan pun tergetar hebat, akibat angin-angin serangan. Untung ruangan itu cukup, untuk sebuah pertarungan satu lawan satu. Namun ketika pertarungan sudah memakai jurus-jurus tinggi, mereka agaknya kurang merasa leluasa di ruangan ini. Dan seperti telah disepakati bersama, mereka melesat keluar. Sehingga kini pertarungan sengit pun berlanjut di halaman.

Sementara Rangkuti dan Panca juga bergegas ke luar. Mereka tidak ingin ketinggalan menyaksikan pertarungan yang menarik ini. Sehingga mereka mengundurkan diri dari kancah pertarungan, dan lebih tertarik untuk menjadi penonton saja. Meskipun demikian golok telanjang tetap tercekal di tangan. Mereka memang harus bersiap-siap, apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atas pemimpin mereka. Sementara itu, tanpa diketahui seorang pun, sepasang mata lain tampak menyaksikan semua pertarungan itu secara sembunyi-sembunyi. Sepasang mata yang memiliki bulu mata lentik itu mengintai dari balik dedaunan di atas cabang pohon tinggi yang tak jauh dari situ. Menilik dari sorot matanya, jelas dia sangat menaruh perhatian atas pertarungan itu.

Pertarungan telah berlangsung lebih dari lima puluh jurus. Namun tidak nampak adanya tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang. Pada kenyataannya, pertarungan memang berlangsung seimbang. Meskipun demikian, tidak berarti kepandaian satu sama lain berimbang. Sebenarnya tenaga dalam Prataksa masih lebih unggul sedikit daripada lelaki tinggi besar itu. Tapi dia masih harus mengakui keunggulan ilmu meringankan tubuh lawannya. Sekarang, pertarungan telah menginjak jurus ketujuh puluh dua. Tapi, keadaan masih tetap berlangsung seimbang. Namun, justru keadaan ini membuat kesabaran lelaki tinggi besar itu hilang. Disadari kalau tidak membuat sebuah perubahan, pertarungan akan tetap berlangsung alot. Maka tanpa terlalu lama memutar otak, lelaki berkepala botak ini telah menemukan suatu cara yang dianggapnya jitu. Meskipun demikian, lelaki tinggi besar tidak terlalu terburu-buru untuk melaksanakan rencananya, karena hasilnya nanti kurang baik. Maka dengan sabar ditunggunya sampai keadaan menguntungkan.

"Hih!" Di jurus kedelapan puluh dua, lelaki tinggi besar baru mulai melancarkan rencananya. Pada kesempatan yang tepat, dilepaskannya satu tendangan berputar ke kepala Prataksa. Mendapat serangan ini, Prataksa cepat melenting ke belakang, berusaha menghindari. Tepat ketika Prataksa berada di udara, jari-jari tangan kanan memijit satu benjolan yang ada di gagang goloknya. Dan... Trekkk! Mengerikan! Mata golok yang semula menempel pada gagangnya, tiba-tiba meluncur ke arah Prataksa yang tengah berada di udara. Munculnya serangan itu membuat Prataksa kelabakan bukan kepalang. Tambahan lagi tibanya serangan itu terlalu mendadak. Sulit baginya untuk menghindar dalam keadaan begini. Dan.... Cappp! "Akh...!"

Lolong kesakitan terdengar dari mulut Prataksa, ketika mata golok lelaki tinggi besar itu menancap di dada sebelah kirinya. Dan sebelum Prataksa sempat berbuat sesuatu, lelaki tinggi besar kembali memijit benjolan lain pada gagang goloknya. Dan.... Brettt! Seketika mata golok yang semula tertancap di dada kiri Prataksa, kembali meluncur ke arah lelaki tinggi besar ini. Ternyata antara gagang dengan batang golok, terdapat pegas yang dapat memanjang dan memendek, apabila benjolan pada gagang golok dipencet. "Hugh!" Dengan agak sempoyongan, Prataksa hinggap di tanah. Dan tanpa mempedulikan keadaannya yang terhuyung-huyung, pedang yang terpegang di tangan kanan disimpannya ke punggung. Kemudian, tangan kanannya yang kosong menotok jalan darah di sekitar luka yang cukup besar dan dalam. Sehingga tidak ada lagi darah yang mengalir dari lukanya.

Tapi.... *** "Aaakh...!" Mendadak tubuh Prataksa kembali terhuyung-huyung ke belakang, dengan pedang terlempar dari tangannya. Kedua tangannya langsung digunakan untuk mendekap luka di perutnya. "Ha ha ha...!" Lelaki tinggi besar itu tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Prataksa. "Manusia Licik!" maki Prataksa dengan suara berdesis. Bibirnya menyeringai, menderita sakit yang amat sangat. "Kau membubuhi racun di senjatamu. Hhh...! Kini aku mengerti, mengapa kau tidak melancarkan serangan susulan di saat keadaanku tadi tidak memungkinkan. Aku kenal betul orang macam kau! Segala macam cara akan digunakan untuk mencapai kemenangan."

"Ha ha ha...!" Tawa keras bernada ejekan dari lelaki tinggi besar itu yang menyambuti ucapan Prataksa. "Syukurlah kalau kau sudah mengerti, Prataksa! Selagi masih ada kesempatan, cepat beritahukan di mana Singa Hitam Tangan Sepuluh! Cepat katakan, sebelum terlambat. Apabila racun itu sudah menjalar lebih jauh, jangan harap nyawamu akan tertolong!" Prataksa mengeretakkan gigi, menahan geram. Juga ditahannya sekuat tenaga rasa panas yang membakar di bagian perut. "Aku tidak tahu, Manusia Keji! Dan bila tahu pun, jangan harap akan kukatakan padamu! Kau pikir aku takut mati heh?! Kau salah sangka!" cibir Prataksa cukup lantang meskipun terdengar bergetar.

Lelaki tinggi besar itu mendengus geram mendengar anggapan sepele Prataksa. "Baik kalau itu maumu, Keparat! Aku tahu, kau tidak takut mati. Tapi, apakah kau mampu menanggung siksa racun yang bersarang di tubuhmu?!" "Apa?! Bangsat! Licik, kau!" Prataksa seketika merasakan dadanya berdebar tegang. Sudah bisa diduga, maksud kata-kata berbau ancaman dari lelaki tinggi besar ini. Dirinya akan mati secara perlahan-lahan, diiringi siksaan yang memilukan. Siapa yang sanggup mendapat kematian seperti itu? Lelaki tinggi besar itu menyunggingkan senyum kemenangan. Sambil melipat tangan di depan dada, dia terus memperhatikan wajah Prataksa. "Ha ha ha...!" Lelaki tinggi besar itu tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Prataksa. "Manusia licik!" maki Prataksa dengan suara berdesis. Bibirnya menyeringai, menahan rasa panas yang membakar bagian perutnya. "Kau membubuhi racun di senjatamu. Hhh...! Apabila racun itu telah menyebar dalam darahmu, kau akan menerima penderitaan yang hebat sebelum mati! Rasa panas dan gatal-gatal akan menyertai kematianmu!"

Prataksa merasakan bulu kuduknya meremang! Disadari benar kalau lelaki tinggi besar ini tidak hanya sekadar mengertaknya. Perlahan-lahan rasa ngeri mulai merasuki hatinya. Semakin lama perasaan ngeri itu semakin membesar. Sampai akhirnya, perasaan nekatlah yang meledak! "Keparat! Manusia keji! Mampuslah kau! Hiyaaa..., ugh!" Tubuh Prataksa kontan limbung sebelum berhasil menyerang lelaki tinggi besar itu. Kedua tangannya yang semula mengepal keras penuh kekuatan, kini didekapkan di perut. Seringai kesakitan yang tampak menggurat di wajahnya. Tubuh Prataksa membungkuk, merasakan rasa sakit yang menghebat. "Ha ha ha...!" Lelaki tinggi besar itu tertawa terbahak-bahak. Dengan mulut menyunggingkan senyum sinis, ditatapnya wajah Prataksa lekat-lekat.

"Perlu kau ketahui, Prataksa. Racun itu akan menjalar sangat cepat, apabila kau mengerahkan tenaga dalam. Kau telah merasakannya sendiri, bukan?" Prataksa sama sekali tidak menanggapi. Di samping rasa sakit yang tengah mendera, dia juga tak merasa perlu menanggapi. Dan tubuhnya terus membungkuk sambil memegang bagian yang dilanda sakit. Perutnya bagai diseruduk seekor kerbau ketika hendak menyerang lelaki berkepala botak tadi. Tapi dekapan kedua tangan Prataksa pun tidak berlangsung lama. Sebentar saja tangannya sudah sibuk menggaruk-garuk, begitu rasa gatal mulai melanda sekujur tubuhnya, yang disertai rasa panas membakar. Bahkan kini rasa panas dan gatal itu makin lama semakin menjadi-jadi. Prataksa terus menggaruk-garuk. Dan begitu digaruk, rasa gatal yang melanda malah semakin menjadi-jadi. Bahkan, bagian tubuh yang terasa gatal semakin meluas. "Ha ha ha...! Kau boleh menggaruk terus sampai kulit dan dagingmu habis tercakar, Manusia Bodoh! Ha ha ha...!" ejek lelaki tinggi besar itu. "Ha ha ha...!" Rangkuti dan Panca juga ikut menyemaraki. Kedua orang ini sepertinya ikut merasa senang melihat penderitaan Prataksa. Sedikit pun tak ada belas kasihan di hati mereka.

Disqus Comments