Rabu, 15 Juli 2026

Dewa Arak 54 Kabut Di Bukit Gondang

Dewa Arak 54 Kabut Di Bukit Gondang

Cersil Dewa Arak 54 Kabut Di Bukit Gondang

Baca Online Dewa Arak 54 Kabut Di Bukit Gondang

Sajian restorasi visual kualitas tinggi untuk seri legendaris Dewa Arak Episode 54.
"Hujan lebat turun bagai dicurahkan dari langit, diiringi pula dengan hembusan angin kencang. Semua itu membuat suasana malam terasa dingin menusuk tulang..."

Hujan lebat turun bagai dicurahkan dari langit, diiringi pula dengan hembusan angin kencang. Semua itu membuat suasana malam terasa dingin menusuk tulang. Hingga keadaan di persada terasa sangat tidak menyenangkan. Bulan bulat yang tampak di langit tidak berdaya memancarkan cahayanya, tertutup awan tebal dan hitam yang menggantung di sana.

Glarrr! Untuk kesekian kalinya halilintar menyambar bumi. Seketika itu pula suasana terang-benderang. Memang, hanya sesaat. Tapi cukup untuk menampakkan dua sosok tubuh yang berlari-lari cepat menembus lebatnya hujan.

Glarrr! Kembali halilintar menyambar. Terangnya yang hanya sekejap ternyata mampu memperjelas kedua sosok itu. Sosok yang pertama seorang lelaki tinggi besar berpakaian serba hitam. Kumis, jenggot, dan cambang lebat menghias wajahnya yang terlihat angker karena adanya luka codet. Sedangkan yang satu, berada di belakang lelaki tinggi besar itu, seorang lelaki pendek kekar. Berbeda dengan lelaki tinggi besar, sosok ini memiliki wajah kelimis. Tidak ada kumis, jenggot, atau cambang. Ciri-ciri yang dimilikinya benar-benar bertolak belakang dengan lelaki berwajah codet.

"Cepat, Wulung!" Seru lelaki tinggi besar dengan keras untuk mengatasi riuh rendahnya bunyi hujan. "Aku khawatir mereka telah mengetahui tindakan kita!"

"Larilah lebih dulu, Ketua!" Sambut lelaki pendek kekar yang dipanggil Wulung, juga dengan pengerahan seluruh tenaga dalamnya agar bisa terdengar lelaki bercodet.

Tanggapan yang diberikan lelaki tinggi besar ternyata sebaliknya. Dia menghentikan larinya dan menunggu kedatangan Wulung yang tertinggal di belakang. Sebentar kemudian, Wulung telah berada di sebelahnya.

"Mengapa kau menungguku, Ketua?! Bagaimana kalau mereka mengetahui kepergian kita? Itu sangat berbahaya!" Ujar Wulung dengan napas terengah-engah.

"Aku tahu, Wulung," Sahut lelaki tinggi besar. "Tapi, itu tidak menjadi alasan untuk meninggalkanmu! Seandainya usaha ini berhasil, aku tidak mau sendirian saja. Apa artinya aku berhasil kabur jika kau tertangkap!"

"Terima kasih atas perhatianmu, Ketua," Ucap Wulung agak tersendat. Merasa terharu mendapat perhatian begitu besar dari ketuanya.

"Sudahlah. Hentikan kecengengan itu. Sekarang yang penting kita harus lolos dari tempat ini!" Potong lelaki bercodet mengalihkan perhatian.

"Kau benar, Ketua. Maafkan kelemahanku."

"Lupakanlah," Lelaki bercodet mengulapkan tangannya. "Kau masih sanggup berlari?!"

"Sanggup, Ketua," Sambut Wulung mantap.

"Kalau begitu, mari lanjutkan perjalanan!"

Usai berkata, lelaki bercodet mengayunkan langkah meneruskan larinya yang tertunda. Wulung mengikuti langkah ketuanya. Di malam yang gelap dan dingin itu Wulung dan pimpinannya kembali berlari. Air memercik ke sana kemari ketika kaki-kaki mereka menapak tanah yang bergenang air.

Mendadak lelaki bercodet menoleh. "Kau dengar itu, Wulung?!" Tanyanya.

"Tidak, Ketua. Aku tidak mendengar apa-apa," Jawab lelaki pendek kekar itu. "Apa kau mendengarnya?"

"Benar," Jawab lelaki bercodet dengan terengah. "Kudengar derap kaki kuda. Banyak, Wulung!"

"Celaka!" Seru Wulung. Napasnya menderu-deru. Lelaki pendek kekar itu keletihan. "Mereka telah mengetahui pelarian kita, Ketua! Lebih baik kau tinggalkan aku. Tidak usah pikirkan diriku!"

Kisah petualangan ini merupakan bagian dari jagat cerita silat klasik nusantara yang saling terhubung. Sebelum melanjutkan kisah pelarian mendebarkan ini, simak juga perjuangan Arya Buana dalam episode sebelumnya di Dewa Arak 47 Bencana Patung Keramat secara lengkap.

"Wulung!" Sentak lelaki bercodet berwibawa. "Jangan kira aku serendah itu. Apa pun yang terjadi aku akan tetap bersamamu!"

"Tapi, Ketua...," Meski dengan terputus-putus, Wulung masih mencoba membantah.

"Tidak ada tapi-tapian!" Tandas lelaki bercodet tegas. "Tidak usah bicara lagi. Pusatkan seluruh perhatian pada larimu. Ingat! Sebentar lagi kita tiba di pantai!"

Wulung terdiam. Dia tidak berani membantah perintah lelaki bercodet. Disadarinya betapa besar perhatian ketuanya pada dirinya. Kalau tidak, dia telah ditinggalkan. Ketuanya memiliki ilmu lari cepat yang berada jauh di atasnya. Tahu kalau ketuanya telah berkorban, Wulung tidak ingin semakin menyulitkan lelaki bercodet itu. Dikerahkannya seluruh sisa-sisa kemampuan agar bisa berlari secepat mungkin.

Tapi meskipun demikian, berapa cepatnya lari orang yang telah lelah dengan medan yang amat berat. Tanah becek berlumpur sudah cukup menghambat kecepatan lari. Belum lagi pada beberapa tempat medannya licin. Juga lubang-lubang yang meskipun tidak dalam, tapi cukup untuk membuat kaki terkilir bila terperosok ke dalamnya. Semua itu cukup untuk membuat kecepatan lari seseorang berkurang. Demikian yang dialami lelaki bercodet dan Wulung!

Tentu saja hal seperti itu tidak dialami rombongan kuda yang mengejar Wulung dan ketuanya. Hingga jarak antara mereka semakin dekat. Sampai akhirnya terdengar oleh Wulung. Dan seperti mendukung rombongan pengejar Wulung dan ketuanya, perlahan-lahan hujan mereda. Awan tebal dan hitam yang menutup angkasa tertiup angin. Sehingga sinar sang Dewi Malam berhasil menembusnya sedikit demi sedikit.

Kejadian selanjutnya seperti yang sudah diperhitungkan akal sehat manusia. Keadaan di persada mulai terlihat. Suasana tidak gelap seperti sebelumnya, tapi remang-remang. Semua itu semakin menguntungkan pihak pengejar. Rombongan yang terdiri dari enam ekor kuda yang ditunggangi lelaki berwajah kasar mulai dapat melihat buruannya. Wulung dan ketuanya berada kira-kira sepuluh tombak di depan mereka.

"Ha ha ha...! Mau lari ke mana, Garang Laksa?! Jangan harap bisa lolos dari sini!" Seru seorang lelaki yang berwajah mirip kuda. "Serang!"

Tanpa menunggu perintah dua kali, lelaki-lelaki kasar itu mengibaskan tangan.

Wut, wut, wut!

Diiringi bunyi menderu cukup keras, lima batang tombak meluncur ke arah Wulung dan lelaki bercodet yang ternyata bernama Garang Laksa.

Garang Laksa dan Wulung mengetahui serangan itu. Deru angin keras yang mengiringi tibanya serangan menunjukkan semua itu. Maka cepat keduanya menoleh ke belakang melihat arah luncuran tombak. Lalu, melakukan lompatan harimau ke samping. Kemudian dengan bertelekan kedua tangan, mereka menggulingkan tubuh.

Hasilnya....

Cap, cap, cap!

Tombak-tombak menancap di tanah. Garang Laksa dan Wulung berhasil menghindar.

Disqus Comments