Rabu, 15 Juli 2026

Dewa Arak 55 Perintah Maut

Dewa Arak 55 Perintah Maut

Cersil Dewa Arak 55 Perintah Maut

Baca Online Dewa Arak 55 Perintah Maut

Sajian eksklusif baca online kelanjutan petualangan Dewa Arak dalam episode ke-55 Perintah Maut.

EPISODE PEMBUKA: MISTERI DI BANGUNAN TUA

Srakkk...! "Keparat!" Bunyi berkerosakan yang disusul dengan suara makian keras penuh kejengkelan, merobek keheningan suasana yang masih diselimuti kegelapan. Sebenarnya, saat itu malam telah berlalu. Tugas rembulan, telah hampir usai. Hanya saja sang Surya belum menampakkan diri di ufuk timur. Meskipun demikian, kicau burung sudah mulai terdengar. Kokok ayam jantan pun sesekali bersuara, seakan hendak menyambut pagi.

Di tengah suasana seperti itulah suara makian tadi terdengar dari mulut sesosok tubuh berpakaian hitam. Wajahnya tak tampak karena tertutup kain hitam dari bawah mata sampai ke leher. Kain itu diikatkan ke belakang kepala. Hal itu sebagai pertanda kalau dirinya tak ingin dikenal.

"Hih!" Dengan menggeram, sosok berpakaian hitam itu menarik kuat-kuat kakinya. Ternyata salah satu kakinya terperosok ke dalam sebuah lubang yang tak terlihat karena tertutup semak-semak dan rerumputan. Lubang itu kecil tapi cukup dalam.

Sosok berpakaian hitam itu tampak merasa kesakitan, mungkin kalau tak tertutup kain, mulutnya meringis-ringis menahan nyeri di kaki yang terjepit lubang itu. Hanya matanya yang tajam tampak jelalatan ke sana kemari, seperti ada yang tengah diawasi. Namun sosok berpakaian hitam itu tidak mempedulikan rasa sakit yang mendera. Begitu terbebas dari lubang, kakinya kembali melanjutkan perjalanan. Langkahnya terburu-buru sekali, sehingga tampak agak terpincang-pincang karena kaki sebelah kanan yang terperosok di lubang tadi dirasakan masih sangat sakit ketika dijejakkan ke tanah.

Srak! Srak! Srak!

Bunyi berkerosakan dari semak-semak dan rerumputan yang dilewati sosok berpakaian hitam itu terdengar, hampir tiada henti. Terlihat jelas, sosok berpakaian hitam itu tengah tergesa-gesa. Setelah cukup lama menerobos semak-semak dan rerumputan, akhirnya sosok berpakaian hitam itu sampai di sebuah tanah lapang yang membentang luas. Tak satu pun pohon besar yang menghalangi tempat itu, kecuali rumput-rumput pendek dan kering.

Bagi pembaca setia cersil klasik nusantara yang ingin mendalami sejarah persilatan tanah Jawa, Anda juga dapat membaca kembali kisah hebat penguasaan hawa murni dalam petualangan terdahulu di Dewa Arak 48 Tenaga Inti Bumi untuk melengkapi koleksi bacaan online Anda.

Sosok berpakaian hitam itu menghentikan langkah dan mengedarkan pandangan. Namun, hal itu hanya dilakukannya sebentar. Sesaat kemudian, kakinya kembali diayunkan. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Rupanya rasa sakit yang melanda kaki telah mulai berkurang. Ternyata sosok berpakaian hitam itu bukan orang sembarangan. Setidak-tidaknya, memiliki ilmu yang cukup tinggi. Hal itu dapat dibuktikan dari larinya yang cepat dan gesit.

Tak berapa lama kemudian, dalam jarak belasan tombak di hadapan sosok berpakaian hitam, samar-samar tampak sebuah bangunan. Ke tempat itulah kakinya diayunkan. Hanya dalam beberapa kali lesatan, tubuhnya telah berada tepat di depan bangunan itu. Sebuah bangunan yang tampak menyeramkan, apalagi dalam suasana pagi yang masih gelap dan sunyi seperti ini. Setelah berhenti di depan bangunan itu diedarkan matanya, mengawasi ke sekitar pekarangan yang luas. Bangunan tua itu tampaknya sudah tak berpenghuni. Hal itu bisa dibuktikan dari keadaannya yang terbengkalai seperti tak terawat. Pepohonan kecil tampak meranggas di tengah halaman luas yang kotor.

Setelah puas memperhatikan, sosok berpakaian hitam itu lalu melangkah menuju bagian kiri bangunan. Ada suatu yang aneh di bagian itu. Di sana tampak tertancap sebatang tombak berwarna mengkilat. Setengah dari tombak itu menancap di tanah. Hal itu membuktikan betapa kuat tenaga dalam yang telah menghunjamkannya. Begitu berada di dekat tombak, sosok berpakaian hitam itu menghentikan langkah. Ditolehkan kepalanya ke sana kemari, seakan-akan tak ingin ada orang lain melihat tindakan yang akan dilakukannya.

Setelah merasa yakin tidak ada orang melihat, sosok berpakaian hitam itu memasukkan tangan kanannya ke balik baju. Sesaat kemudian tangannya telah keluar dengan menggenggam segulungan surat dan sebuah kantung kain sebesar kepalan bayi. Kantung yang tampak menggembung itu mengeluarkan bunyi berdencing nyaring ketika dikeluarkan. Setelah kembali menoleh ke sana kemari, sosok berpakaian hitam itu buru-buru menggantungkan gulungan surat dan kantung kain ke gagang tombak.

"Hhh...! Akhirnya selesai juga tugasku. Kini tinggal menunggu hasilnya. Ha ha ha...! Tunggulah kematianmu, Bima Seta! Ha ha ha...!" Ujarnya seraya tertawa terbahak-bahak, merasa puas dan bangga. Rasa gembira itu pun tampak tersirat dari sepasang matanya yang tak tertutup kain. Masih dengan tawa yang belum putus, sosok berpakaian hitam segera meninggalkan tempat itu. Hanya dalam beberapa kali lesatan, tubuhnya telah menjauh, dan akhirnya lenyap ditelan kegelapan pagi.

***

"Aneh...! Aku tak mengerti arti semua itu, Kang." Sebuah pertanyaan dengan suara lembut terdengar, ketika tubuh sosok berpakaian hitam telah jauh meninggalkan bangunan itu. Suara itu berasal dari salah satu pohon yang berada tak jauh dari bangunan tua. Ternyata pada salah satu cabang pohon besar di sebelah kanan bangunan itu, tampak dua sosok tubuh yang duduk berdampingan. Rimbunnya dedaunan pohon ditambah suasana pagi yang masih gelap, membuat keberadaan mereka sulit untuk diketahui.

"Aku juga tidak mengerti, Melati," Jawab pemuda di sebelahnya lirih dengan pandangan mata tajam lurus menatap ke arah kepulan kabut pagi yang dingin.

Disqus Comments