Rabu, 15 Juli 2026

Dewa Arak 48 Tenaga Inti Bumi

Dewa Arak 48 Tenaga Inti Bumi

Cersil Dewa Arak 48 Tenaga Inti Bumi

Baca Online Dewa Arak 48 Tenaga Inti Bumi

Selamat membaca kisah petualangan luar biasa dari dunia persilatan klasik tanah air. Bagi Anda penggemar setia cerita silat (cersil), sajian online ini dirancang khusus dengan naskah orisinal berkualitas tinggi yang disempurnakan tanpa merusak cita rasa vintage aslinya.

Fragmen Pilihan: Gemblengan di Lereng Gunung Ganjar

Keheningan pagi yang sejuk di lereng Gunung Ganjar tiba-tiba terpecah oleh teriakan-teriakan keras melengking yang mengandung tenaga dalam tinggi. Suara riuh rendah itu ternyata berasal dari mulut dua sosok tubuh yang terlibat dalam sebuah pertarungan. Ciri-ciri mereka sulit dikenali karena cepatnya gerakan yang dilakukan. Yang pasti kedua sosok itu mengenakan pakaian abu-abu dan kuning.

Pertarungan itu berlangsung begitu seru dan menarik. Deru angin keras terdengar setiap kali tangan atau kaki kedua sosok itu melancarkan serangan. Hal ini menjadi pertanda kalau kedua belah pihak sama-sama memiliki tenaga dalam kuat.

"Haaat...!" Diiringi teriakan keras, sosok bayangan kuning menghentakkan kedua tangan ke arah lawan. Seketika itu pula segumpal angin keras keluar dari kedua belah telapak tangannya. Rupanya sosok berpakaian abu-abu tahu kedahsyatan serangan lawannya. Buktinya sosok berpakaian kuning tak berusaha menanggapi. Namun sambil menggertakkan gigi tubuhnya melenting ke atas, sehingga serangan itu lewat di bawah kakinya.

* * * GLARRR! * * *

Suara menggelegar terdengar memekakkan telinga. Gundukan batu sebesar kerbau di belakang sosok berpakaian abu-abu hancur berantakan ketika angin pukulan sosok berpakaian kuning menghantamnya.

"Cukup, Gandara!" Seru sosok berpakaian abu-abu ketika kedua kakinya telah mendarat di tanah. Sosok berpakaian kuning yang baru saja hendak mengeluarkan serangan susulan, langsung menghentikan gerakan begitu mendengar ucapan itu.

"Bagaimana, Guru?" Tanya sosok berpakaian kuning yang ternyata seorang pemuda berwajah persegi bernama Gandara, setelah terlebih dulu memberi hormat.

"Memuaskan! Kau benar-benar tidak mengecewakan Gandara! Kau tahu, tingkat kepandaian yang kau miliki sekarang malah telah melampaui tingkatanku. Aku bangga padamu, Gandara," sahut sosok berpakaian abu-abu yang ternyata seorang kakek bertubuh kecil kurus bernama Tirta Geni.

"Ah! Itu semua berkat gemblengan Guru," kilah Gandara merendah.

"He he he...! Kau keliru, Gandara. Betapapun kerasnya aku mengajarmu, tapi kalau kau tak berlatih keras, hasilnya tetap akan sia-sia! Dengan kata lain, keberhasilan ini tercipta atas kerjasama kita berdua." Gandara mengangguk-anggukkan kepala pertanda menyetujui ucapan gurunya.

"Satu hal yang perlu kau ingat, Gandara. Jangan kau sembarangan mempergunakan 'Tenaga Inti Bumi', kecuali apabila keadaan memaksa. Perlu kau ketahui, Gandara. Akibatnya akan sangat dahsyat! Kau tahu, aku sendiri pun tidak memiliki Tenaga Inti Bumi itu. Hanya kau yang memilikinya karena pemusatan pikiran dari semadi yang kau lakukan. Dan untuk yang terakhir kalinya kuperingatkan, jangan sembarangan mempergunakannya! Kau mengerti, Gandara?!"

"Mengerti, Guru," Jawab Gandara penuh hormat.

"O ya, kapan kau pergi meninggalkan tempat ini, Gandara?"

"Kemungkinan besar besok pagi, Guru. Tapi sebelum pergi, aku ingin menyajikan sebuah acara perpisahan antara kita. Aku ingin membuatkan masakan kesenangan Guru," ucap Gandara, agak malu-malu.

"Ha ha ha...!" Kakek kecil kurus tertawa lunak sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rupanya hatinya merasa geli mendengar perbuatan yang akan dilakukan muridnya. "Ada-ada saja kau, Gandara!"

"Bagaimana, Guru?" Tanya Gandara meminta kepastian karena kakek itu belum memberikan jawaban.

"Kalau hal itu akan membuat kau merasa tenang untuk meninggalkan tempat ini, lakukanlah!" ujar kakek kecil kurus itu bijaksana. Orang tua berpakaian abu-abu itu menyadari kalau muridnya ingin membalas jasa. Itulah sebabnya keinginan Gandara dikabulkan.

"Terima kasih, Guru," Wajah Gandara berseri-seri mendengar persetujuan gurunya. "Kalau begitu, sekarang juga aku akan mempersiapkan segala sesuatunya."

Kakek kecil kurus hanya mengembangkan senyum. Bahkan sampai Gandara melesat meninggalkan tempat itu senyumnya masih tersungging. "Seorang pemuda yang baik. Aku yakin Gandara akan menggemparkan dunia persilatan. Dia akan menjadi seorang pendekar yang tangguh. Hhh...! Prakasa..., kau boleh bangga dengan anakmu," gumam kakek kecil kurus itu pelan sambil menatap tubuh muridnya yang semakin mengecil di kejauhan.

Masih dengan senyum tersungging di bibir, kakek kecil kurus itu membalikkan tubuh. Kemudian kakinya terayun meninggalkan tempat itu. Tapi baru beberapa tindak kakinya melangkah, terdengar panggilan keras dari belakang....

"Tirta Geni...! Berhenti...!"

Kakek kecil kurus yang ternyata bernama Tirta Geni itu menoleh ke belakang sambil membalikkan tubuh. Lalu pandangannya diarahkan ke depan. Tampak dua titik hitam tengah melesat cepat ke arahnya. Kakek kecil kurus itu mengernyitkan dahi. Disadari kalau dua titik hitam yang tengah menuju ke arahnya tentu tokoh-tokoh sakti. Suara panggilan barusan terdengar begitu keras di telinganya, padahal pemiliknya masih demikian jauh. Hal itu menjadi pertanda betapa hebat kekuatan tenaga dalam mereka.

Tirta Geni tak perlu menunggu lama untuk bisa melihat jelas dua titik hitam yang tengah menuju ke arahnya. Gerakan mereka begitu cepat. Sehingga hanya dalam sesaat kedua titik itu telah berada sekitar tiga tombak di depannya.

"Hak hak hak...!" Setelah berada di depan Tirta Geni, terlihat kedua titik hitam itu ternyata dua sosok tubuh berwajah seram. Salah seorang dari mereka memperdengarkan tawanya yang mirip suara burung. Dan memang, ciri-ciri sosok yang tertawa itu mirip burung elang. Potongan tubuhnya tinggi kurus dengan kulit berwarna gelap dan hidung melengkung. Sorot mata yang bersinar hijau kebiruan, benar-benar memperlihatkan sosok manusia yang mirip burung!

"Elang Cakar lima!" desah Tirta Geni tanpa menyembunyikan perasaan kagetnya. Jelas, dia mengenal sosok yang tengah tertawa dengan suara aneh itu.

Akses Bab Selengkapnya (Media Sosial Resmi):

Bergabunglah bersama ribuan penikmat cersil klasik tanah air lainnya untuk berdiskusi dan berbagi koleksi buku langka:

Gabung Grup Diskusi Komunitas Cerita Silat »
Disqus Comments