Selasa, 14 Juli 2026

Dewa Arak 41 Macan Macan Betina

Dewa Arak 41 Macan Macan Betina

Cersil Dewa Arak 41 Macan Macan Betina

Baca Online Dewa Arak 41 Macan Macan Betina

"Uh! Panas sekali udara di sini, Kang," keluh salah seorang dari dua sosok yang tengah melintasi lapangan berumput. Dia adalah seorang gadis berwajah cantik. Rambutnya hitam dan panjang terurai. Pakaian ketat berwarna putih pembungkus tubuhnya yang montok dan menggiurkan, semakin menambah kecantikannya. Sementara yang seorang lagi adalah pemuda tampan berwajah jantan. Rambutnya putih keperakan. Kini pandangannya dialihkan ke arah gadis berpakaian putih itu. Keluhan tadi tidak langsung disambutnya kecuali seulas senyum yang terkembang di bibir. Kemudian napasnya dihembuskan. Sehingga, dadanya yang tegap dan bidang terbungkus pakaian ungu, mengempis beberapa saat lamanya.

Hari ini, matahari memang tepat berada di tengah-tengah. Sinarnya memancar garang ke persada. Semua makhluk di bawahnya bagaikan terpanggang saja layaknya. "Benar, Melati," sahut pemuda berambut putih keperakan sambil mengangguk. Gadis berpakaian putih itu memang Melati, putri angkat Raja Bojong Gading. Dulu, julukan yang terkenal buat gadis itu adalah Dewi Penyebar Maut. "Bagaimana kalau kita beristirahat sejenak, Kang," usul Melati. "Sebuah usul yang baik sekali, Melati." Pemuda berpakaian ungu yang sudah pasti Arya atau lebih dikenal berjuluk Dewa Arak, cepat menyambut gembira. Sebuah guci yang tergantung di punggung, semakin memperjelas kalau pemuda itu benar-benar Dewa Arak.

"Tak jauh di depan kita ada sebuah hutan yang cukup besar. Hutan Kawi, namanya. Bagaimana kalau kita beristirahat di sana saja, Melati? Sambil beristirahat, kita bisa menikmati santapan di sana. Bagaimana?!" "Aku setuju sekali, Kang," jawab Melati sambil tersenyum manis. "Ayo kita ke sana!" Tanpa menunggu tanggapan Arya, Melati segera melesat ke depan. Dan sekali langkah, seluruh kemampuan ilmu lari cepatnya telah dikeluarkan. Tak heran kalau dalam sekali lesatan saja, tubuhnya telah berjarak sepuluh tombak di depan. Arya hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tindakan kekasihnya. Itu pun hanya dilakukan sebentar saja, karena harus buru-buru menyusul. Kalau tidak, dia tentu akan tertinggal jauh. Sesaat kemudian, tubuh sepasang pendekar muda itu telah lenyap. Yang terlihat hanyalah dua sosok bayangan putih dan ungu. Bentuk bayangan mereka tidak kelihatan jelas, namun tampak saling berkejaran menuju Hutan Kawi.

Misteri di Pinggir Sungai Hutan Kawi

"Uh, segarnya...!" desah Melati penuh rasa gembira, begitu wajahnya telah dibasuhi air sungai yang jernih. Usai membasuh wajah, Melati menggulung lengan bajunya hingga melewati siku. Maka, tampaklah tangan yang berkulit putih, halus, dan mulus. Tampak indah dan menggiurkan. Kali ini, Melati memasukkan kedua tangannya sampai hampir sebatas siku ke dalam sungai, lalu dibasuhnya. Gadis itu sama sekali tidak merasa kesulitan melakukannya. Dia berjongkok di antara batu-batu di pinggir sungai yang tanahnya lebih rendah dari yang lain.

"Hehhh...?!" Melati kontan menghentikan gerakan membasuhnya. Pendengarannya yang tajam menangkap adanya suara mendesing nyaring. Seketika itu pula, sekujur urat syarafnya langsung menegang waspada. Secepat kilat kepalanya ditoleh ke arah suara itu. Tampak beberapa buah batu kecil yang diambil dari sekitar tempat itu tengah meluncur ke arahnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera dijumputnya beberapa buah batu kecil yang berserakan di dekatnya, lalu disambitnya ke arah batu yang meluncur itu. Siut, siut..! Pyarrr...! Patut diacungi jempol ketepatan timpukan Melati. Lima buah batu yang meluncur ke arahnya berhasil dipapak lima buah batu yang dilemparnya. Seketika, batu-batu itu telah hancur di tengah perjalanan sebelum mengenai sasaran.

"Kepandaianmu rupanya tidak sejelek kelakuanmu, Wanita Rendah!" Sebuah suara melengking tinggi bernada ejekan terdengar, ketika hancuran batu-batu yang berbenturan itu berguguran di tengah jalan. Pedas dan tajam bukan main ejekan itu. Sehingga membuat Melati yang memang memiliki watak keras dan mudah tersinggung, menjadi kalap. Wajahnya langsung merah padam. Sepasang matanya berkilat-kilat penuh kemarahan, ketika menatap ke arah si pemilik suara. Pemilik suara itu ternyata bertubuh ramping. Pakaiannya berwarna biru. Hanya saja, wajahnya tidak tampak jelas karena tertutup sapu tangan dan caping bambu. Menilik suara dan potongan tubuhnya, dia adalah seorang wanita. Karena wanita itu berdiri di tebing pinggir sungai, tentu membuat Melati terpara mendongakkan kepalanya. Kendati berusaha untuk melihat tetap saja Melati tidak bisa melihat jelas wajah wanita berpakaian biru itu. Sapu tangan penutup wajah itulah yang menyulitkan Melati.

"Siapa kau, Wanita liar?! Ada urusan apa kau menyerangku secara pengecut seperti itu?!" sambut Melati, tak kalah keras. "Cuhhh...!" Wanita berpakaian biru menyemburkan ludahnya, walau tidak ditujukan pada Melati. Tapi, tetap saja percikan-percikannya ada yang mengenai tubuh Melati. "Aku tidak sudi mengenalkan diri pada seorang perempuan rendah dan tidak tahu malu sepertimu, Wanita Sundal!" sambut wanita berpakaian biru itu, kasar. Melati menggertakkan gigi mendengar sambutan bernada penghinaan itu. Sepasang matanya mencorong kehijauan, seperti mata seekor harimau dalam gelap. Dadanya nampak bergerak cepat naik turun tandanya, Melati tengah dilanda amarah yang amat sangat. Tapi, rupanya bukan hanya Melati saja yang dilanda kemarahan. Wanita berpakaian biru itu pun demikian pula. Terbukti dialah yang lebih dulu menghampiri Melati, dengan melompati tebing yang tak begitu tinggi, yang menjorok ke pinggir sungai.

Hati Melati agak tercekat ketika melihat gerakan wanita berpakaian biru itu. Betapa tidak? Gerakannya demikian ringan, tak ubahnya seekor burung garuda yang hendak menerkam mangsa. "Hih...!" Dan selagi berada di udara, wanita berpakaian biru itu berputaran beberapa kali. Dan tahu-tahu, kedua tangannya yang terkembang membentuk cakar melayang ke arah ubun-ubun Melati. Serangannya tak ubahnya serangan seekor garuda yang menyambar mangsa! Suara angin mencicit nyaring terdengar mengiringi tibanya serangan wanita berpakaian biru. Dari sini saja sudah terlihat, betapa kuatnya tenaga dalam yang terkandung di dalamnya.

Melati adalah seorang pendekar yang telah cukup kenyang merambah kerasnya rimba persilatan. Dan tentu saja gadis itu tahu, betapa berbahayanya serangan yang dilancarkan lawan. Apabila serangan itu ditangkis, serangan kaki akan menyusul. Itulah sebabnya, diputuskannya untuk mengelak. Wuttt..! Serangan wanita berpakaian biru itu hanya mengenai tempat kosong ketika Melati melompat jauh ke belakang. Jleg! Begitu kedua kaki Melati mendarat di tanah, wanita berpakaian biru itu juga telah mendaratkan kedua kakinya di tanah pula. Tapi itu hanya berlangsung sekejap saja, karena wanita berpakaian biru itu melompat menerjang Melati. Tampaknya serangan susulan yang akan dilancarkannya adalah serangan kaki. Di saat wanita berpakaian biru itu berada di udara, tubuhnya segera berbalik seraya melancarkan kibasan tangan kanan ke arah kepala. Kali ini, Melati tidak tinggal diam. Seketika dia pun melompat pula untuk memapak. Rupanya Melati bermaksud menangkis serangan susulan lawan. Hebatnya, gerakannya ternyata sama dengan lawannya. Dia menangkis dengan kibasan kaki yang dilakukan sambil membalikkan tubuh ketika berada di udara. Prattt! Benturan dua kaki yang sama-sama mengibas seketika terjadi! Keras bukan kepalang seperti benturan dua buah logam keras. Akibatnya tubuh dua orang wanita berkepandaian tinggi itu sama-sama terputar balik, lalu hinggap di tanah. Masing-masing agak terhuyung sedikit tapi cepat dapat memperbaiki keseimbangan kembali. Sebentar kemudian mereka kembali saling menerjang.

Kini pertarungan sengit pun tidak bisa dielakkan lagi. Melati tidak berani bertindak setengah-setengah lagi. Disadari kalau lawannya memiliki kepandaian yang amat tinggi. Kecepatan gerak maupun tenaga dalam wanita berpakaian biru itu ternyata tidak di bawahnya. Maka buru-buru ilmu 'Cakar Naga Merah' andalannya dikeluarkan. Kedua tangan Melati disusun mengembang membentuk cakar naga. Bahkan mulai dari ujung-ujung jari sampai pergelangan sudah tampak berwarna merah seperti darah. Dan dalam penggunaan ilmunya, gadis berpakaian putih itu berusaha menanggulangi serangan lawan. Malah kalau bisa melumpuhkannya. Tapi hal itu hanya mudah direncanakan saja. Pelaksanaannya ternyata sulit bukan kepalang. Wanita berpakaian biru itu ternyata memiliki kepandaian amat tinggi. Tambahan lagi, seluruh kemampuannya juga dikerahkan untuk mengalahkan Melati. Serangan-serangan yang dilancarkannya selalu mengarah pada bagian-bagian yang mematikan! Jelas, maksudnya adalah menewaskan Melati.

Hebat bukan kepalang pertarungan antara kedua wanita yang sama-sama berkepandaian tinggi ini. Suara menderu, mencicit, dan mengaung, mengiringi setiap gerakan tangan atau kaki. Tampaknya setiap gerakan mereka ditunjang tenaga dalam tinggi. Enam puluh jurus telah lewat. Tapi selama itu tidak nampak ada tanda-tanda yang akan terdesak. Pertarungan berjalan masih seimbang. Kedua belah pihak masih sama-sama mampu melancarkan serangan. Dan rupanya, hal ini membuat wanita berpakaian biru itu jadi kehilangan kesabaran. "Haaat..!" Sambil mengeluarkan pekikan nyaring, wanita berpakaian biru itu memperhebat serangan. Kedua tangannya dipukulkan bertubi-tubi ke arah dada dan ulu hati lawannya. Melati terperanjat juga melihat perubahan serangan yang begitu mendadak. Tapi, bukan berarti dia jadi gentar. Kekerasan hatinya memaksanya untuk memapak serangan itu. Plak, plak, plak...! Semua serangan yang dikirimkan wanita berpakaian biru itu bisa dikandaskan ketika Melati berhasil menangkisnya. Akibatnya tubuh satu sama lain sama-sama terhuyung mundur tiga langkah. Dari sini sudah bisa dinilai kalau tenaga dalam yang mereka miliki berimbang.

Tapi begitu tubuh wanita berpakaian biru itu terhuyung mundur, segera dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dalam keadaan terhuyung-huyung, tangan kanannya cepat bergerak ke arah pinggang, tempat pedangnya tergantung. Dan.... Srattt...! Sinar terang menyilaukan kontan berkeredep ketika pedang itu keluar dari sarungnya. "Cabut pedangmu kalau tidak ingin mati percuma, Wanita Tak Tahu Malu...!" teriak wanita berpakaian biru itu keras, di saat tubuhnya masih terhuyung-huyung. Melati sama sekali tidak membantah ajakan lawannya. Kembali sinar terang memancar, namun kali ini dari pedang Melati. Kini kedua wanita sakti ini sama-sama saling menatap dalam jarak sekitar dua tombak. Pedang telanjang mereka sama-sama tergenggam di tangan. Tidak ada yang lebih dulu memulai menyerang. Satu sama lain saling memperhatikan gerak-gerik dengan sepasang mata hampir tidak berkedip, itu dilakukan sambil melangkah mendekati lawan.

"Haaat..!" Wanita berpakaian biru itu rupanya tidak sabar lagi menunggu. Diiringi pekikan keras melengking, dia menyerang lebih dahulu. Hal itu dilakukan karena Melati belum menunjukkan tanda-tanda menyerang. Sebagai ahli silat tingkat tinggi, mereka sama-sama tahu, menyerang lebih dulu merupakan tindakan yang merugikan. Dalam persilatan, setiap serangan selalu terdapat celah-celah yang dapat dijadikan sasaran lawan. Singg! Pedang di tangan wanita berpakaian biru itu meluncur lurus ke arah leher. Lagi-lagi bagian mematikan yang jadi sasaran. Wuttt! Ujung pedang wanita berpakaian biru itu meluncur, lewat beberapa jengkal di atas kepala, begitu Melati merendahkan tubuhnya sebelum serangan tiba. Dan tindakannya tidak hanya sampai di situ saja. Sambil mengelak, pedangnya diluncurkan ke arah ulu hati lawan. Singgg! Wanita berpakaian biru itu tidak gugup melihat serangan balasan Melati. Buru-buru kakinya dijejakkan, sehingga tubuhnya melayang ke atas. Langsung dilewatinya kepala Melati. Dan dari sana, dilancarkannya tusukan ke arah kuduk Melati.

Kali ini, Melati tidak memiliki kesempatan mengelak. Sambil membalikkan tubuh, pedangnya diayunkan ke belakang untuk mencegah agar tengkuknya tidak ditembus senjata lawan. Tranggg...! Benturan dua pasang senjata terjadi. Suaranya keras bukan kepalang, disertai percikan bunga-bunga api ke sana kemari. "Hup!" Wanita berpakaian biru itu segera hinggap di tanah. Sementara Melati telah bersiap siaga. Dan malah, Melati yang sekarang lebih dulu melancarkan serangan. Pertarungan yang jauh lebih seru dan menarik dari sebelumnya kembali terjadi. Melati kini mengamuk bagai singa betina terluka. Ilmu 'Pedang Seribu Naga' andalannya dikerahkan, sampai menimbulkan suara menggerung keras, setiap kali pedangnya berkelebat. Tapi ternyata ilmu pedang wanita berpakaian biru itu ternyata tidak kalah hebat. Terbukti, setiap serangan Melati mampu dipatahkan. Bahkan serangan balasan tak kalah hebat mampu dilancarkan. Setiap gerakan pedangnya menimbulkan suara mencicit dan mendesing nyaring. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, tubuh kedua wanita sakti itu sudah tidak terlihat lagi. Yang tampak hanya bayangan putih dan biru yang tidak jelas bentuknya. Saling belit, tapi terkadang saling pisah. Bahkan semakin lama, bayangan tubuh yang tidak jelas itu mulai jarang terlihat karena tertutup gerakan pedang masing-masing.

Karena ilmu meringankan tubuh mereka telah sama-sama mencapai tingkat tinggi, maka pertarungan tampak berlangsung cepat. Hanya dalam waktu yang tak berapa lama, empat puluh jurus telah berlalu. Dan selama itu, belum terlihat tanda-tanda yang lebih unggul. Tampaknya, pertarungan masih berlangsung imbang. Mendadak.... "Melati...! Masih lamakah kau...! Cepat..! Nanti makanan ini keburu dingin...!" Kontan kedua orang yang tengah bertarung, memisahkan diri. Seketika pertarungan terhenti Masing-masing menatap tajam, dengan dada turun naik. "Hmh...!" Wanita berpakaian biru mendengus jengkel, karena merasa terganggu oleh suara tadi. Sambil memutar pedangnya di depan dada laksana baling-baling, dia melompat mundur. "Kali ini kau bernasib baik, Wanita Liar! Tapi lain kali, jangan harap...!" Sambil berkata demikian, wanita berpakaian biru itu melesat kabur meninggalkan Melati.

Tentu saja Melati yang merasa penasaran sekali tidak membiarkannya. Langsung tubuhnya melesat, mengejar lawannya yang telah berada di tebing pinggir sungai. Tapi selagi tubuh Melati tengah melayang di udara, wanita berpakaian biru itu mengibaskan tangannya. Dan.... Sing, sing, sing...! Beberapa bilah pisau berkilat meluncur ke arah Melati. Tanpa ragu-ragu lagi, gadis berpakaian putih ini pun membabatkan pedang untuk menangkis. Trang, trang, trang...! Pisau-pisau itu pun berpentalan tak tentu arah, karena tertangkis oleh Melati. Tapi, akibatnya lesatan tubuh Melati pun terhambat. Maka, tubuhnya pun meluncur turun kembali. Dan ketika Melati kembali melakukan pengejaran hingga sampai di atas tebing sungai, wanita berpakaian biru sudah tidak berada di situ lagi. "Hhh...!" Melati hanya bisa menghembuskan napas berat. Dia merasa penasaran dan jengkel bukan kepalang. Betapa tidak? Tanpa ada angin dan tak ada hujan, wanita berpakaian biru itu mati-matian menyerangnya. Dan sialnya, dia tidak mampu mengalahkan. Maka, tindakan wanita berpakaian biru itu tetap menjadi teka-teki baginya.

Disqus Comments