Selasa, 14 Juli 2026

Banjir Darah di Borobudur Kho Ping Hoo

Banjir Darah di Borobudur -- Kho Ping Hoo

Baca Online Banjir Darah di Borobudur -- Kho Ping Hoo

Cersil Banjir Darah di Borobudur -- Kho Ping Hoo

Sinopsis & Latar Belakang Kisah

Kisah ini terjadi pada waktu agama Hindu dan Agama Buddha berkembang luas, berpengaruh, serta berkuasa di Pulau Jawa. Seribu tahun lebih yang lalu, kedua agama ini yang datangnya dari India membawa kebudayaan yang tinggi kepada rakyat di Pulau Jawa. Betapapun besar dan hebat pengaruh agama-agama dan kebudayaan dari luar ini, namun tidak dapat menghilangkan ciri-ciri khas pada bangsa pribumi, serta tidak dapat melebur sama sekali kepribadian asli dari penduduk Pulau Jawa.

Kepribadian asli ini ada pada tiap bangsa di mana pun juga, suatu kepribadian yang tumbuh di tanah air sendiri, yang terbentuk sesuai dengan keadaan alam, watak, dan selera bangsa itu sendiri. Oleh karena inilah, maka agama dan kebudayaan luar yang masuk ke Pulau Jawa ini, setelah berkembang biak dan dapat diterima oleh seluruh rakyat, menjadi berubah sifatnya dari aslinya. Hal ini terjadi karena agama dan kebudayaan luar tersebut tidak dapat diterima bulat-bulat begitu saja oleh penduduk pribumi, melainkan disesuaikan dengan kepribadian sendiri. Yang tidak sesuai diubah sedemikian rupa sehingga cocok dan enak bagi selera sendiri.

Maka bukanlah hal yang mengherankan apabila kedua agama besar yang berkuasa di Pulau Jawa, yaitu Agama Hindu dan Agama Buddha, dapat hidup bersama dengan rukun di Pulau Jawa padahal di tempat asalnya kedua agama ini dijadikan sebab dan dasar pertikaian hingga peperangan. Kenyataan ini membuktikan betapa mulia, bijaksana, dan penuh cinta damai adanya watak dari kepribadian rakyat yang menjadi penduduk pribumi di Pulau Jawa. Agama apa saja dan kebudayaan yang bagaimanapun juga yang memasuki tanah air, akan diterima dengan ramah, namun tidak secara membuta. Pengaruh dari luar tidak akan dapat memaksa ataupun membujuk bangsa pribumi, melainkan diterima dengan penuh kebijaksanaan dan kesadaran; dipakai mana yang dirasa baik, dan dibuang mana yang dirasa kurang.

Kebijaksanaan ini tidak hanya nampak pada sikap rakyat jelata, bahkan dipelopori oleh Raja sendiri yang berkuasa di masa itu. Raja tidak melarang rakyatnya memeluk agama yang mana saja, baik Agama Hindu, maupun Agama Buddha, dipandang tinggi dan hal ini terbukti sampai sekarang dengan adanya candi-candi tempat pujaan penganut Agama Hindu maupun Agama Buddha. Kisah ini terjadi antara tahun 700 sampai 850 pada waktu di Jawa Tengah berkuasa dua kerajaan besar, yaitu Kerajaan Mataram dan Kerajaan Syailendra. Raja di Mataram adalah sang Prabu Sanjaya, yang selain pandai memegang kendali pemerintahan, juga amat sakti mandraguna sehingga dengan balatentaranya yang kuat, Sang Prabu Sanjaya menaklukan banyak raja-raja kecil di Pulau Jawa bahkan sampai di tanah seberang lautan.

Disqus Comments