Selasa, 14 Juli 2026

Ratna Wulan Kho Ping Hoo

Ratna Wulan Kho Ping Hoo

Cerita Silat Ratna Wulan Kho Ping Hoo

Baca Online Ratna Wulan Kho Ping Hoo

Latar Belakang Intrik Majapahit: Kisah Ratna Wulan

Setelah Sang Prabu Kertarajasa mangkat pada tahun 1309, putera mahkota, Raden Kalagemet naik tahta Kerajaan Majapahit menggantikan kedudukan ayahnya, dan bergelar Sang Prabu Jayanagara. Akan tetapi, raja muda ini banyak menimbulkan perasaan kecewa dan tidak senang di kalangan para panglima tua, yaitu panglima-panglima mendiang Prabu Kertarajasa. Banyak hal yang tidak mereka setujui berhubung dengan penobatan itu.

Pertama menurut faham mereka, Raden Kalagemet masih terlampau muda untuk memikul tugas menjadi raja di Kerajaan Majapahit yang demikian besar dan jaya dan mereka menyangsikan apakah pemuda yang baru berusia lima belas tahun ini akan dapat memberi pimpinan yang bijaksana seperti mendiang ayahnya. Kedua, mereka berpendapat bahwa sungguhpun Raden Kalagemet merupakan putera tunggal karena keturunan yang lain adalah putri-puteri belaka, namun ibu dari putera mahkota ini adalah seorang puteri dari Malayu yang bernama Dara Petak atau Sri Indreswari. Hal ini amat mengecewakan hati para panglima karena menurut pendapat mereka, yang berhak menjadi raja di Majapahit harus seorang keturunan Majapahit asli.

Ketegangan politik dan intrik perebutan kekuasaan di masa kerajaan Jawa kuno ini juga bisa Anda temukan dalam kisah petualangan luar biasa lainnya. Silakan luangkan waktu untuk membaca cersil legendaris Dewa Arak 35: Kemelut Rimba Hijau yang tidak kalah seru dan menegangkan.

Adapun hal ketiga yang amat mendatangkan rasa tidak puas dan tidak senang kepada mereka adalah bahwa di dalam pemerintahan Jayanagara ini terdapat seorang Kepala Agama Syiwa yang sangat besar kekuasaannya. Kepala Agama Syiwa ini bernama Bagawan Mahapati yang amat sakti mandraguna, cerdik pandai lagi kebal terhadap segala macam senjata. Bagawan Mahapati tidak disukai oleh para panglima yang telah banyak membantu Raden Wijaya atau Prabu Kertarajasa dalam membangun keraton Majapahit. Menurut anggapan mereka, Bagawan Mahapati ini adalah seorang pendeta yang mabok akan kemewahan hidup dan kedudukan tinggi, bahkan mereka menaruh hati syakwasangka bahwa bukan tak mungkin pendeta itu telah mempergunakan aji kesaktiannya untuk memasang guna-guna sehingga Prabu Jayanagara yang masih muda itu berada di bawah pengaruhnya.

Telah banyak panglima-panglima tua yang mengajukan usul dan nasihat kepada Prabu Jayanagara agar supaya mereka itu dienyahkan dari kerajaan. Akan tetapi, segala nasihat ini tidak dihiraukan oleh Sang Prabu yang masih muda belia itu, terutama sekali oleh karena ibunya juga berpihak dan membela Bagawan Mahapati. Tiga hal di atas itu merupakan sebagian daripada sebab-sebab sehingga tak lama sejak Sang Prabu Jayanagara naik tahta, timbullah pemberontakan-pemberontakan yang dipimpin oleh para panglima ayahnya dahulu, di antaranya Ranggalawe, Sora, dan Nambi. Ranggalawe adalah seorang panglima gagah perkasa yang menjadi bupati di Tuban. Maka bergulirlah pusaran darah persilatan yang melibatkan pendekar perkasa, termasuk kisah sang dara gagah berani Ratna Wulan.

Disqus Comments