Senin, 13 Juli 2026

Dewa Arak 35 Kemelut Rimba Hijau

Dewa Arak 35 Kemelut Rimba Hijau
Cersil Dewa Arak 35 Kemelut Rimba Hijau
Baca Online Dewa Arak 35 Kemelut Rimba Hijau

Sinopsis dan Cuplikan Kisah Dewa Arak: Kemelut Rimba Hijau

Hari sudah agak siang. Kicau sang burung-burung sudah tidak seramai sebelumnya. Angin yang bertiup pun terasa tidak begitu nikmat lagi di kulit. Memang, sang surya sudah sejak tadi muncul di ufuk Timur, mengiringi perjalanan sebuah kereta kuda yang dikawal delapan orang penunggang kuda. Para pengiringnya rata-rata memiliki wajah maupun sikap gagah. Kereta kuda itu ternyata juga tidak memakai kusir. Jadi jalannya kereta itu karena tali kekang kuda penariknya ditarik oleh seorang pengawal yang berada di depan. Rombongan kereta kuda itu tampak bergerak pelan di dalam hutan Kaji. Sebuah hutan yang cukup lebat dan ditumbuhi pohon-pohon besar berdaun rimbun, sehingga menghalangi pancaran sinar matahari yang berhasil menerobos lebatnya hutan hanya berupa bias sinar-sinar yang berbentuk cahaya memanjang. Meskipun demikian, cukup membuat suasana di dalam hutan jadi terang.

Para pengiring kereta kuda itu masing-masing empat berada di depan, dan yang empat lagi berada di belakang. Menilik dari gerak-geriknya, bisa diduga kalau mereka benar-benar bertugas sebagai pengawal kereta. Memang, sebenarnya mereka bertugas sebagai pengawal barang-barang kiriman yang dibawa kereta kuda itu. Pada bagian badan kereta kuda tampak sehelai kain panjang berwarna putih bersih, bergambar seekor harimau bersayap yang disulam dari benang warna merah. Gambar serupa tampak pula pada bagian dada kiri pakaian para pengawal yang berwarna putih bersih itu. Seorang yang bertubuh kekar dan berkumis tebal rupanya menjadi pemimpin rombongan ini. Terbukti, dialah yang berkuda paling depan sambil memberi aba-aba.

"Kakang Sangga Juwana," sapa salah seorang dari empat orang yang berkuda paling depan. Laki-laki berkumis tebal yang ternyata bernama Sangga Juwana itu menoleh ke arah orang yang menyapanya. Dia seorang laki-laki bertubuh kekar berotot dan berwajah persegi. "Ada apa, Lantar?" tanya Sangga Juwana. "Begitu berhargakah kiriman yang harus kita antarkan, sehingga sampai-sampai guru menyuruhmu ikut dalam rombongan ini? Padahal, biasanya kau tidak pernah diikutsertakan." Dua orang penunggang kuda lainnya yang berada di depan kereta menganggukkan kepala, pertanda membenarkan ucapan Lantar. Sementara, Sangga Juwana menyunggingkan senyum lebar sebelum menjawab pertanyaan Lantar.

Bagi Anda yang menyukai petualangan dunia persilatan klasik dengan intrik yang mendalam, jangan lewatkan juga untuk membaca seri terdahulu yang tidak kalah seru di halaman Dewa Arak 28 Teror Macan Putih.

Link Tautan Resmi Episode Terkait:

Ikuti perbincangan hangat seputar kelanjutan kisah-kisah cersil legendaris dan bergabunglah dengan ribuan penggemar lainnya melalui tautan resmi Grup Facebook Komunitas Cerita Silat.

Disqus Comments