Selasa, 14 Juli 2026

Dewa Arak 40 Gerombolan Singa Gurun

Dewa Arak 40 Gerombolan Singa Gurun

Cersil Dewa Arak 40 Gerombolan Singa Gurun

Baca Online Dewa Arak 40 Gerombolan Singa Gurun

GEROMBOLAN SINGA GURUN

Karya: Aji Saka
Cetakan pertama | Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Puji S. | Hak cipta pada Penerbit

Angin siang ini berhembus keras, membawa udara panas dan debu. Memang, saat itu musim kemarau tengah melanda sebagian belahan persada. Di sana-sini yang terlihat hanyalah kekeringan. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Pepohonan pun kering tak berseri.

"Uph!" Seorang gadis cantik berpakaian putih buru-buru menutupkan sapu tangan ke wajah untuk melindunginya dari sergapan angin yang membawa debu. Sejak tadi, sapu tangan itu memang telah tergenggam di tangannya.

Gadis itu berwajah cantik jelita. Kulitnya putih, halus, dan mulus. Paduan warna pakaiannya yang putih bersih dengan rambutnya yang hitam panjang tergerai, terlihat sangat pas. Apalagi, ditambah oleh wajahnya yang cantik. Bak bidadari dari kahyangan saja layaknya.

Rekomendasi Cerita Silat Pilihan: Jangan lewatkan ketegangan kisah klasik dalam Bajak Laut Kertapati karya Kho Ping Hoo yang melegenda dan penuh intrik dunia persilatan.

Masih dengan sapu tangan menutupi wajah, gadis berpakaian putih itu melangkah memasuki tembok batas Desa Telaga Sewu. Wajahnya tampak berseri-seri menandakan kegembiraan hatinya. Hanya dalam beberapa langkah saja, gadis berpakaian putih itu telah melewati tembok batas desa. Lalu, sepasang matanya beredar ke sekeliling. Tapi, yang terlihat hanya kesunyian belaka. Sepi, seperti mati. Agak berkerut sepasang alis yang berbentuk indah itu ketika melihat keadaan sekitarnya. Tarikan wajah maupun sorot matanya tampak menyiratkan keheranan. Entah, perasaan apa yang tengah berkecamuk dalam benak gadis berpakaian putih ini.

Suasana di sekitar Desa Telaga Sewu memang mengherankan. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya kesunyian. Jalan utama desa pun tampak lengang. Pintu dan jendela rumah-rumah penduduk pun tampak tertutup rapat. Sunyi sepi seperti mati! "Apakah yang telah terjadi di desa ini?" Tanya gadis itu dalam hati.

Usai berkata demikian, gadis itu menotolkan kaki. Kelihatan pelan saja saat kakinya dijejakkan, tapi akibatnya menakjubkan. Tubuhnya langsung melesat ke depan. Hanya dalam sekali langkah saja, dia telah berjarak sepuluh tombak di depan. Jelas, kepandaiannya telah cukup tinggi. Bagai orang tak waras, gadis berpakaian putih itu terus saja berlari cepat. Padahal saat itu keadaan di persada amat panas. Bahkan, matahari sudah berada di atas kepala. Kini yang terlihat hanya sekelebatan bayangan putih dalam bentuk tak jelas, melesat cepat menuju lambung Desa Telaga Sewu.

Entah sudah berapa jauh berlari, gadis berpakaian putih itu sama sekali tidak mempedulikannya. Terus saja berlari disertai pengerahan seluruh kemampuan yang dimiliki. Gadis berpakaian putih itu baru memperlambat lari ketika melihat sebuah bangunan yang terkurung pagar tembok. Dan ketika tepat di depan pintu gerbang, langkahnya dihentikan. "Hhh!" Hembusan napas berat terdengar dari mulut gadis itu. Entah, apa maksudnya. Hanya dia sendiri yang tahu. Yang jelas, sepasang matanya tertuju ke bagian dalam, melalui pintu gerbang yang terbuka lebar. Tapi hanya sesaat saja hal itu dilakukan, kemudian kakinya sudah melangkah memasuki pintu gerbang yang terbuka lebar. Tanpa suara, kedua kakinya bergerak melangkah di halaman yang cukup luas.

"Hm...!" Gadis berpakaian putih berguman tidak jelas ketika melihat suasana sekitar halaman yang tampak kumuh, kotor, dan tidak terurus. Dedaunan berserakan di sana sini. Ranting-ranting kering juga memenuhi tempat ini Sambil memperhatikan keadaan sekitar-nya, gadis berpakaian putih itu terus saja melangkah menuju ke arah bangunan yang tampak cukup megah. Kini, jaraknya tak sampai lima tombak dengan bangunan itu. Hanya dalam beberapa kali langkah, gadis berpakaian putih itu telah berada sekitar tiga tindak lagi dari pintu bangunan. Namun, tiba-tiba langkahnya dihentikan. Sepasang matanya menatap ke bagian dalam bangunan disertai sorot kecurigaan. Mendadak.... "Keluar, Tikus-tikus Busuk!" Pada saat yang bersamaan dengan keluarnya makian, kaki kanan gadis itu bergerak menendang dinding batu di sebelah kanan pintu. Brakkk...! "Akh...!"

Suara gemuruh hancurnya dinding batu bangunan, diselingi suara jerit kesakitan langsung terdengar. Tampaknya, di balik dinding dekat pintu ada orang yang bersiap membokong. "Hih!" Gadis berpakaian putih tidak tinggal diam. Begitu dinding batu hancur berantakan, dia melompat ke belakang. Hal itu dilakukan untuk berjaga-jaga terhadap kejadian yang tidak diinginkan. Dugaan gadis berpakaian putih itu ternyata tidak meleset! Dari dalam bangunan, meluruk tiga orang laki-laki berwajah kasar. Mereka mengenakan rompi coklat, dengan bahan yang sama membelit pergelangan tangan. "Siapa kalian?! Mengapa berada di rumahku?" Tanya gadis berpakaian putih, keras.

"Ha ha ha...!" Tiga orang berompi coklat itu tertawa bergelak. "Tidak usah berpura-pura lupa pada kami, Wanita Liar?" Sergah seorang yang mempunyai rajahan bergambar kepala seekor harimau di lengan atas bagian kanan. "Tidak usah berbasa-basi lagi padanya, Dipa!" Tegur rekannya yang wajahnya berbentuk persegi. "Ucapan Rodra benar! Wanita liar itu telah terlalu banyak membuat kesulitan pada kita! Telah banyak waktu terbuang hanya untuk mengejarnya. Kalau tidak atas perintah Ketua, sudah kubunuh dia! Apalagi, sekarang dia telah menewaskan dua orang kawan kita lagi!" Dukung yang lainnya, yang memiliki cambang bauk lebat.

Laki-laki yang lengan kanannya dirajah, dan ternyata bernama Dipa itu terdiam. Sama sekali tidak dibantahnya ucapan kedua orang rekannya. Disadari, ada kebenaran yang tidak bisa disangkal dalam ucapan mereka berdua. "Haaat...! Laki-laki yang bercambang bauk tidak bisa menahan diri lagi. Diiringi teriakan keras menggelegar, diterjangnya gadis berpakaian putih itu. Kedua tangannya diluncurkan bertubi-tubi ke arah dada dan ulu hati lawan. Wut, wut, wut! Deru angin yang cukup kuat mengiringi tibanya serangan laki-laki bercambang bauk itu. "Hmh!" Gadis berpakaian putih itu mendengus melihat serangan lawannya. Jelas, sikapnya tampak memandang rendah terhadap serangan laki-laki bercambang bauk itu. Bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengelak atau menangkis. Sepertinya, ingin dibiarkan saja serangan-serangan itu mengenai sasaran. Tapi, ternyata tidak demikian. Rupanya, gadis berpakaian putih itu tidak berdiam diri melihat serangan-serangan yang tertuju ke arahnya. Ketika pukulan-pukulan laki-laki bercambang bauk itu hampir mengenai sasaran, tangan kanannya cepat bergerak. Prattt! "Akh...!" Tappp!

Kejadiannya berlangsung demikian cepat. Serangan-serangan laki-laki bercambang bauk itu berhasil dimentahkan oleh gadis berpakaian putih dengan kibasan tangan kanannya. Kibasan yang pertama membuat laki-laki bercambang bauk itu menjerit kesakitan. Tangan kirinya seperti berbenturan dengan logam keras saja layaknya. Sakitnya bukan kepalang, sehingga dari mulutnya keluar jeritan kesakitan. Dan sebelum sempat berbuat sesuatu, tangan kanannya telah tercekal tangan kanan gadis berpakaian putih itu. Begitu tangan laki-laki bercambang bauk ini tercekal, gadis berpakaian putih itu bergegas mengerahkan tenaga untuk meremasnya. "Aaakh...!" Laki-laki bercambang bauk itu kontan memekik kesakitan. Tangannya seolah-olah seperti tergencet jepitan baja. Rasanya, tulang-tulang tangan yang terjepit seperti hancur berantakan. Bahkan sakit-nya sampai menembus tulang sumsum. "Cepat jawab pertanyaanku kalau tidak ingin kuhancurkan tulang-tulangmu! Siapa kalian?! Dan mengapa berada di rumahku? Cepat katakan!" Dengus gadis berpakaian putih itu seraya menambahkan pengerahan tenaga dalamnya pada tangan yang mencekal.

"Ah-ah uh-uh...!" Laki-laki bercambang bauk itu menjerit-jerit kesakitan. Keringat sebesar-besar biji jagung bermunculan di wajahnya. Jelas, dia tengah dilanda kesakitan yang hebat. Seringai yang muncul di wajah semakin menampakkan rasa sakit yang diderita. Tapi sebelum laki-laki bercambang bauk itu menjawab pertanyaan gadis berpakaian putih, dua orang rekannya, yang bernama Dipa dan Rodra telah lebih dulu melompat menerjang. Srattt! Wukkk, wukkk! Ketika tengah berada di udara, Dipa dan Rodra mencabut senjata masing-masing. Dipa menghunus pedangnya. Sedangkan Rodra mengeluarkan kapaknya. Dan dengan senjata andalan masing-masing di tangan, mereka melancarkan serangan dahsyat pada gadis berpakaian putih itu.

Rodra melompat tinggi ke atas melewati kepala rekannya yang tangannya tengah tercekal tangan gadis berpakaian putih. Malah kepala gadis berpakaian putih pun dilewatinya juga. Baru ketika telah berada di atas kepala gadis itu, tubuhnya cepat berputar. Lalu, sepasang kapaknya dikibaskan ke arah belakang kepala lawannya. Wukkk! Pada saat yang bersamaan, dari sebelah kanan, Dipa melesat. Pedang di tangan kanannya diluncurkan cepat ke arah rusuk kanan gadis berpakaian putih. Singgg! Lagi-lagi, gadis berpakaian putih itu hanya mendengus melihat serangan-serangan yang mengancam nyawanya. Kemudian dengan sebuah perhitungan yang luar biasa tubuh laki-laki bercambang bauk itu didorong ke kanan sambil merendahkan tubuhnya. Wusss! Cappp! "Aaakh...!"

Berbarengan dengan lewatnya babatan kapak Rodra di atas kepala gadis berpakaian putih, pedang di tangan Dipa menghunjam punggung laki-laki bercambang bauk hingga tembus ke punggung. Lolong kesakitan terdengar seiring bermuncratan-nya darah dari bagian tubuh yang tertembus pedang. Jliggg! Seiring hinggapnya kedua kaki Rodra di tanah, Dipa mencabut pedang yang menembus punggung rekannya. Wajah Dipa kontan berubah pucat. Memang sama sekali tidak disangka akan terjadi hal seperti itu. Sepasang mata Dipa terbelalak lebar. Bahkan mulutnya ternganga ketika melihat tubuh laki-laki bercambang bauk itu ambruk di tanah. "Keparat!" Maki Dipa keras. Laki-laki yang mempunyai rajah di pangkal lengan ini tampak marah bukan kepalang. Wajahnya kini jadi merah padam. Sepasang matanya pun menyorotkan kebencian dan dendam. "Kubunuh kau...!" Teriak Dipa bergetar penuh kemarahan. Seiring selesai ucapan itu, Dipa melompat menerjang. Pedang di tangannya diluncurkan cepat ke arah leher gadis berpakaian putih. Tapi.... "Tahan, Dipa!"

Laki-laki yang mempunyai rajahan di pangkal lengan ini menghentikan gerakan. Dipandanginya wajah Rodra yang tengah bergerak menghampiri. Memang, Rodralah yang tadi mengeluarkan cegahan itu. Sedangkan gadis berpakaian putih itu tampak masih bersikap tenang. Sama sekali kesempatan itu tidak dipergunakan untuk melancarkan serangan. Bahkan hanya memperhatikan saja ketika Rodra menghampiri Dipa. Sementara itu, hanya dalam beberapa langkah saja, Rodra telah berada di dekat Dipa. "Mengapa kau mencegah tindakanku, Rodra?" Tanya Dipa, tak sabar. Ada nada penasaran yang amat sangat dalam ucapan laki-laki berajah kepala harimau di pangkal lengan itu. Bahkan pertanyaan itu diutarakan di saat rekannya tengah mengayunkan langkah. Sementara itu Rodra tidak langsung menjawab, dan terus saja melangkah. Rupanya, dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu sebelum tiba di dekat Dipa. "Tahan amarahmu sebentar, Dipa. Aku merasa curiga pada gadis ini," bisik Rodra, di dekat telinga Dipa. Sambil berkata demikian, Rodra mengerling ke arah tempat gadis berpakaian putih itu. Dia khawatir, kalau-kalau gadis itu mendengarkan ucapannya. Dan hatinya terasa lega ketika tidak melihat tanda-tanda hal yang mencemaskan. Gadis berpakaian putih itu sepertinya tidak mempedulikan mereka sama sekali. Tidak nampak adanya tanda-tanda kalau tengah berusaha mendengarkan pembicaraan.

"Aku masih belum mengerti maksudmu, Rodra," Dipa balas berbisik seraya mengalihkan pandangan ke arah gadis berpakaian putih pula. "Kurasa dia bukan Mawar," semakin pelan ucapan laki-laki berwajah persegi itu. Wajah Dipa kontan berubah. Rupanya, ucapan Rodra bisa diterima akal sehatnya. Terbukti, dahinya kontan berkernyit dalam. Malah sekarang, sepasang matanya menatap gadis berpakaian putih yang berdiri di hadapannya penuh selidik. "Rasanya, ucapanmu benar, Rodra. Tapi, dari mana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?" Tanya Dipa setelah memperhatikan gadis berpakaian putih itu beberapa saat Namun demikian tetap pelan ucapan yang dikeluarkan. "Tidakkah kau perhatikan kepandaiannya? Aku tahu betul, Mawar tidak mungkin mampu menewaskan rekan kita demikian mudah," jawab Rodra, berbisik. "Hal kedua adalah, warna pakaian yang dikenakannya. Dan yang ketiga, ucapan pertama kali yang dikeluarkan sewaktu pertama kali melihat kita. Tidakkah hal itu menjadi bukti kalau dia bukan Mawar?" Sepasang alis Dipa berkerut dalam. Tampaknya dia tengah berpikir keras. "Kalau dugaanmu benar, lalu siapa gadis ini?" Tanya Dipa. "Mana kutahu?!" Rodra mengangkat bahu. "Siapa tahu dia saudaranya, atau temannya. Atau...."

"Dugaanmu tidak salah, Rodra. Aku adalah saudara kembar Mawar," jelas gadis berpakaian putih itu. "Hehhh...?!" Hampir berbareng, Dipa dan Rodra terperanjat. Tarikan wajah mereka memancarkan keterkejutan yang amat sangat ketika menatap ke arah gadis berpakaian putih itu. Ucapan itulah yang membuat mereka merasa kaget, karena mengandung pengertian kalau gadis berpakaian putih itu mendengar pembicaraan mereka. Padahal, jelas-jelas gadis berpakaian putih itu sama sekali tidak ambil peduli. Tapi, mengapa bisa mengetahui hal yang tengah dibicarakan? Dipa dan Rodra sama sekali tak tahu kalau tanpa melihat, gadis berpakaian putih bisa mengetahui hal yang tengah dibicarakan. Memang, tingkat kepandaiannya amat tinggi, sehingga pendengarannya amat tajam. Tak aneh kalau bisik kedua orang terdengar.

"Mengapa kalian berdua malah bengong?! Cepat katakan, siapa kalian?! Mengapa berada di rumahku?! Dan apa yang telah kalian perbuat pada ibu dan saudaraku?!" sambung gadis berpakaian putih itu lagi. Tak terlihat lagi sikap tak acuh pada gadis berpakaian putih itu. Yang tampak hanyalah ketegasan! Raut wajahnya menyiratkan kesungguhan ketika mengajukan pertanyaan tadi. Bahkan ada sorot penuh ancaman pada sepasang mata yang bening dan indah itu. Dipa dan Rodra saling berpandangan. Tapi hanya sebentar saja, karena.... "Haaat...!" "Hiyaaat...!"

Jawaban bagi pertanyaan gadis berpakaian putih adalah teriakan-teriakan melengking nyaring Dipa dan Rodra. Sesaat kemudian, pedang dan kapak di tangan mereka telah meluncur ke arah gadis berpakaian putih itu. Singgg! Pedang di tangan Dipa membabat ke arah leher gadis berpakaian putih dengan gerakan mendatar. Laki-laki berajah kepala harimau ini pada pangkal lengan kanan itu menyerbu dari sebelah kiri lawannya. Wuk, wuk! Rodra menyerang dari sebelah kanan gadis berpakaian putih. Sepasang kapaknya diputar-putarkan dengan bertumpu pada pergelangan tangan. Kemudian, senjata itu dibabatkan ke arah dada dan rusuk lawannya. Dalam serangan ini, Rodra memusatkan kekuatan pada pinggang kanan. Dan untuk melakukannya, laki-laki berwajah persegi ini menggeliatkan tubuhnya.

Gadis yang mengaku saudara kembar orang bernama Mawar itu tetap bersikap tenang melihat ancaman maut yang tengah meluruk ke arahnya. Tidak nampak adanya tanda-tanda gerakan yang akan dilakukan. Dan.... Takkk! Bukkk, bukkk! Dalam waktu yang hampir bersamaan, pedang dan kapak itu mengenai sasaran masing-masing. Namun akibatnya, justru Dipa dan Rodra yang tersentak kaget. Senjata-senjata mereka seakan-akan bukan membentur tubuh manusia, melainkan gumpalan karet keras. Sehingga, membuat senjata-senjata itu terpental balik. Malah kedua tangan yang menggenggam senjata terasa bergetar hebat hampir lumpuh! Sedangkan tubuh gadis berpakaian putih itu sama sekali tidak menampakkan pengaruh apa-apa. Jangankan terluka, tergores pun tidak! Dipa dan Rodra saling berpandangan. Tarikan wajah mereka menampakkan keterkejutan dan ketidakpercayaan. Memang, sama sekali tidak disangka kalau hal seperti itu akan terjadi. Untuk sesaat lamanya kedua orang berompi coklat ini sama-sama tertegun dengan raut wajah dicekam kebingungan.

"Hmh...!" Gadis berpakaian putih mendengus melihat kelakuan Dipa dan Rodra, namun tetap diam saja di tempatnya. Sama sekali kesempatan itu tidak dipergunakannya untuk melancarkan serangan pada kedua lawan. Sikapnya menunjukkan kalau gadis berpakaian putih itu tidak menganggap Dipa dan Rodra sebagai lawan yang patut diperhitungkan. Sementara itu dengusan tadi membuat Dipa dan Rodra sadar kembali. Maka, mereka langsung melancarkan serangan kembali. Teriakan-teriakan keras dari mulut mereka, dan desing senjata merobek udara mengiringi tibanya serangan-serangan.

Sekarang, gadis berpakaian putih itu tidak tinggal diam. Meskipun tanpa bergeser dari tempatnya, tapi serangan-serangan yang meluncur ke arahnya segera dipapak. Kedua tangannya yang berkulit putih, halus, dan mulus itu bergerak cepat menahan gempuran lawan. Cepat bukan kepalang gerakan tangan gadis berpakaian putih itu. Dan yang terlihat hanya seleret sinar berwarna putih yang tidak jelas bentuknya. Tapi, tahu-tahu... Takkk, takkk! "Aaakh...! Akh...!" Dipa dan Rodra sama-sama menjerit tertahan ketika tangan gadis berpakaian putih itu menghantam pergelangan tangan mereka yang memegang senjata. Kedua orang itu sama sekali tidak tahu, mengapa hal seperti itu sampai terjadi. Padahal, bukanlah senjata di tangan mereka yang tengah meluncur lebih dahulu? Tanpa dapat dicegah lagi, pedang dan sepasang kapak itu pun terlepas dari pegangan dan jatuh ke tanah. Betapa tidak? Tangan yang terbentur tangan gadis berpakaian putih seakan-akan telah beradu dengan logam keras. Dan sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, tangan gadis berpakaian putih itu kembali bergerak cepat seperti semula. Hanya saja, kali ini meluncur ke arah dada.

Dipa dan Rodra mengetahui akan ancaman yang tengah menuju ke arah mereka. Dengan susah payah, serangan itu dielakkan. Tapi.... Plakkk, plakkk! Tubuh Dipa dan Rodra sama-sama terjengkang ke belakang seperti diseruduk kerbau. Dada mereka terasa sesak bukan kepalang. Bahkan untuk beberapa saat lamanya, Dipa dan Rodra sama-sama mengalami kesulitan bernapas! Padahal, tangan gadis berpakaian putih itu hanya menepuk perlahan saja, dan seperti tanpa pengerahan tenaga dalam! Bisa diperkirakan akibatnya apabila dilakukan dengan sekuat tenaga.

"Hih...!" Gadis berpakaian putih menjejakkan kaki. Sesaat kemudian, tubuhnya melesat ke arah tubuh Dipa dan Rodra yang tengah terhuyung. Lalu, kaki yang mungil bentuknya itu bergerak mengait. Prattt, prattt! Brukkk, brukkk! Dipa dan Rodra sama-sama terjengkang di tanah dan jatuh bergulingan. Patut dipuji kekerasan hati kedua orang berompi coklat itu. Meskipun telah dibuat tak berdaya dalam segebrakan, mereka tetap tidak sudi menyerah. Buktinya, mereka masih berusaha bangkit berdiri. Tapi sebelum maksud itu terlaksana, kembali gadis berpakaian putih itu telah lebih dulu bertindak. Tubuhnya berputar beberapa kali di udara, dan.... "Hup!" Masing-masing kaki gadis itu hinggap di atas perut lawan-lawannya. Memang, kedua orang itu tergeletak di tanah secara berdekatan. Meskipun demikian, tak urung gadis berpakaian putih berdiri dengan kaki terpentang lebar.

Dipa dan Rodra tidak bisa berkutik lagi. Dada mereka terasa sesak bukan main. Seakan-akan bukan kaki seorang gadis cantik yang berada di atas mereka, melainkan kaki seekor gajah! "Apakah kalian berdua masih keras kepala untuk tidak menjawab pertanyaan ku?!" Tanya gadis berpakaian putih itu sambil menambahkan pengerahan tenaga dalam pada kedua kakinya. Hasilnya, siksaan yang melanda Dipa dan Rodra pun semakin menghebat Perasaan sesak yang mendera dada semakin menjadi-jadi. Tidak hanya itu saja. Butir-butir keringat sebesar biji jagung pun bermunculan di selebar wajah mereka. Dipa dan Rodra menatap gadis berpakaian putih yang memandangi wajah mereka berdua berganti-ganti. Dalam sinar mata kedua orang itu, sama sekali tidak terlihat adanya sorot kegentaran. Gadis berpakaian putih itu merasa penasaran bukan kepalang melihat tanggapan kedua orang laki-laki berompi coklat Mereka terus saja memandanginya dengan mulut terkatup rapat.

Tapi sesaat kemudian, gadis itu terkejut bukan kepalang. Tampak ada cairan berwarna kekuningan keluar dari sudut-sudut mulut mereka. Perasaan kaget kontan membuat gadis berpakaian putih itu melompat mundur. Jliggg! Begitu kedua kakinya mendarat di tanah, langsung dihampirinya tubuh Dipa dan Rodra. Ingin diketahuinya, apa sebenarnya cairan kuning itu. Tapi baru saja gadis berpakaian putih itu akan membungkukkan tubuh, kepala Dipa dan Rodra telah terkulai. Karuan saja hal itu membuat si gadis terkejut bukan kepalang. Agak bergegas tubuhnya dibungkukkan, kemudian diperiksanya tubuh kedua orang itu.

Gadis berpakaian putih itu ternyata memiliki sikap waspada. Buktinya sewaktu memeriksa tubuh dua orang berompi coklat itu, dia tidak berani sembarangan menyentuh. Diperhatikannya dada dan denyut jantung mereka itu beberapa taat lamanya. Hanya dengan cara demikian gadis berpakaian putih itu mampu mengetahui kalau Dipa dan Rodra telah tewas. Sambil menghela napas panjang, tubuhnya ditegakkan kembali. Kedua orang berompi coklat itu ternyata benar-benar telah tewas karena racun. Bisa diduga kalau racun itu terselip di dalam mulut. Entah di mana diletakkannya, dan bagaimana bentuknya, dia tidak tahu. Yang jelas, apabila dalam keadaan terancam, mereka bisa bunuh diri dengan menelan racun tanpa diduga. Benar-benar luar biasa!

Gadis berpakaian putih itu termenung melihat kenyataan yang dihadapi. Sama sekali tidak disangka kalau kenyataannya akan seperti ini. Tapi, segera dilupakannya masalah itu. Masih ada hal lain yang lebih perlu dipikirkan, yakni persoalan mengenai ibu dan saudaranya. Maka, gadis berpakaian putih itu melesat cepat ke arah bangunan di depannya. Kali ini gadis itu tidak berhenti lagi di depan pintu seperti sebelumnya, karena yakin sudah tidak ada orang yang tengah bersiap untuk membokongnya. Tadi, dia tahu ada orang yang bersembunyi di depan, pintu ketika mendengar desah napas orang itu. Langkah gadis berpakaian putih itu terhenti ketika melihat pemandangan yang terpampang di bawah kakinya. Sesosok tubuh mengenakan rompi coklat tampak tergeletak. Genangan darah tampak di sekitar tubuhnya, berdekatan dengan reruntuhan puing-puing dinding batu. Rupanya, dialah pengintai yang sial tadi. Dia tewas dengan dada pecah terkena tendangan gadis berpakaian putih tadi. Tapi hanya sebentar saja gadis berpakaian putih itu menghentikan langkah, kemudian kembali melangkah menuju ke dalam!

"Ibuuu...! Mawaaar...! Ini aku Melati...! Keluarlah kalian...!" Sambil melangkah, gadis berpakaian putih yang ternyata tidak lain dari Melati, putri angkat Raja Bojong Gading itu berteriak. Dan tidak aneh kalau ketiga lawannya dengan mudah dapat ditanggulangi. Karena memang, Melati memiliki kepandaian amat tinggi. Bahkan dulu pernah dijuluki Dewi Penyebar Laut. Tidak hanya sekali saja Melati memanggil-manggil ibu dan saudaranya, tapi berkali-kali. Setiap panggilannya dikeluarkan mempergunakan pengerahan tenaga dalam. Sehingga membuat suara itu terdengar keras. Apalagi diucapkan di dalam sebuah bangunan besar, sehingga semakin nyata kedengarannya. Tapi sampai lelah Melati memanggil-manggil, tidak juga terdengar adanya sahutan sepotong pun. Hasil yang sama diperoleh dari pencarian yang dilakukan. Semua tempat sunyi sepi, tidak terlihat sepotong pun orang di sana. Ruangan, setiap ruangan yang dimasuki hanya menampakkan kesunyian.

"Hhh...!" Melati menghempaskan pantatnya di kursi luar kamar. Menilik dari sepasang matanya yang menatap tajam pada satu titik, bisa diperkirakan kalau dia tengah melamun. Memang, gadis berpakaian putih ini tengah memikirkan ke mana perginya ibu dan saudaranya. Tapi sampai lelah berpikir, tidak juga menemukan jawabannya. "Kalau saja Kang Arya ada di sini, pasti bisa memecahkan masalah ini," gumam Melati penuh sesal. Teringat akan Arya yang berjuluk Dewa Arak timbul perasaan rindu di hati Melati. Sudah cukup lama dia tidak bertemu pemuda berambut putih keperakan itu. Seorang pemuda tampan dan jantan. Sikapnya tenang. Penuh percaya akan kemampuan sendiri. Tanpa sadar, Melati tersenyum sendiri ketika mengingat pengalaman-pengalamannya bersama Arya. Terutama, pengalaman yang lucu-lucu.

Tiba-tiba wajah Melati berubah cerah ketika teringat akan nasihat Arya padanya. Pemuda berambut putih keperakan itu pernah memberi nasihat padanya, apabila menghadapi sebuah persoalan, harus bersikap tenang. Kemudian, harus dicari hubungan demi hubungan dari persoalan itu. Lalu, korek melalui keterangan yang telah berhasil didapat. Plakkk! Melati menepak dahinya pelan. "Mengapa aku begitu bodoh?!" maki gadis berpakaian putih itu dalam hati. "Mengapa sampai bisa terlupakan nasihat yang amat berharga itu?!" Tanpa membuang-buang waktu lagi, Melati lalu menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat Beberapa kali hal itu dilakukannya, hingga tenang. Baru setelah pikirannya tenang, Melati mulai menghubung-hubungkan permasalahan. Dan seperti nasihat Arya, keterangan-keterangan yang telah didapat mulai dihubung-hubungkannya. Cukup lama juga Melati termenung, sebelum akhirnya berhasil menarik kesimpulan dari kejadian-kejadian yang dialami. Sesaat kemudian, gadis berpakaian putih itu telah melesat cepat meninggalkan tempat itu.

Disqus Comments