Selasa, 14 Juli 2026

Keris Pusaka Dan Kuda Iblis Kho Ping Hoo

Keris Pusaka Dan Kuda Iblis Kho Ping Hoo

Cerita Silat Keris Pusaka Dan Kuda Iblis Kho Ping Hoo

Baca Online Keris Pusaka Dan Kuda Iblis Kho Ping Hoo

Mengenal Awal Kisah Legenda Keris Pusaka Dan Kuda Iblis

Jilid 01

Semenjak dunia berkembang, segala mahluk dan benda baik yang dapat bergerak maupun yang tidak, harus mengakui keunggulan tenaga alam, harus mengakui bahwa mereka tak kuasa melawannya, tak kuasa menolaknya, hanya kuasa lari menjauhinya atau pergi sembunyi mencari tempat perlindungan, jika sewaktu-waktu tenaga alam memperlihatkan keunggulannya, jika tenaga alam bangkit dan mempermainkan segala apa yang ada di muka bumi ini.

Demikian pula penduduk ibu kota Karta, ibu kota Kerajaan Mataram dengan daerahnya yang terkenal subur makmur gemah ripah loh Jinawi itu, dimana rakyat hidup penuh kebahagiaan karena murah sandang pangan, tata tenteram reja raharja, karena kendali pemerintah berada dalam sepasang lengan yang kuat dari Sultan Agung, Mas Rangsang yang bergelar Panembahan Agung Senapati Ing Alaga Ngabdurrahman, seorang penata praja yang arif bijaksana, sakti mandraguna dan luhur budi pekertinya.

Namun demikian, sewaktu-waktu, penduduk ibu kota Karta terpaksa menyerah kepada kekuasaan alam yang maha besar, hingga Sri Sultan sendiri yang terkenal sakti dan perkasa, tak kuasa menentang dan menghentikan kemurkaan alam berupa hujan badai, banjir, gunung meletus, dan lain-lain.

Suatu senja yang basah. Air hujan turun dari angkasa bagaikan sengaja dituang atau seakan-akan mega mendung yang tebal menghitam itu merupakan kantung air yang banyak berlubang dan membocor. Hujan mengamuk dari siang hari tiada hentinya, mendatangkan banjir di sana-sini, selokan-selokan di kanan kiri jalan raya ibu kota Karta meluap mendatangkan genangan air yang tingginya sampai selutut. Angin bertiup keras menggoyang-goyang pohon besar yang banyak tumbuh di sepanjang jalan raya, daun-daun kering beterbangan dan dahan-dahan pohon yang rapuh patah menimpa jalanan yang sunyi tergenang air.

Di sore hari yang sedemikian buruk cuacanya itu, tidak ada seorang pun penghuni kota Karta yang suka memperlihatkan batang hidungnya di luar rumah jika tidak terpaksa sekali oleh urusan yang amat penting. Toko-toko di sepanjang jalan pasar telah tutup semenjak siang hari, pintu-pintu rumah ditutup rapat dari dalam dan di dalam rumah-rumah yang sederhana itu, orang-orang duduk berkumpul mengelilingi perapian untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang, atau meringkuk di dalam kamar berselimut tebal.

Dalam keadaan alam yang sedang murka itu, di jalan raya yang membujur dari barat ke timur menuju ke pintu gerbang kota sebelah barat, tampak sebuah bayangan bergerak maju dengan langkah yang tegap dan tetap. Sungguh mengherankan sekali melihat jalannya bayangan manusia ini. Ia berjalan perlahan, lurus di tengah jalan tanpa menghiraukan air yang menggenang sampai ke lutut, seakan-akan ia tidak merasakan kedahsyatan hujan badai yang sedang mengamuk di sekelilingnya.

Jika orang memperhatikan lebih dekat, ia akan menjadi terkejut dan heran sekali. Orang ini sama sekali tidak memakai payung atau penutup kepala, ia hanya memakai sebuah caping bambu yang lebar, pakaiannya dari kain kasar yang berwarna hitam, celananya dipotong sebatas lutut, dan kakinya telanjang tanpa alas kaki. Pakaiannya yang hitam itu tampak basah kuyup melekat pada tubuhnya yang tegap, akan tetapi air hujan yang mengguyur dari atas seakan-akan meluncur turun dari tubuhnya tanpa dapat membasahi kulitnya yang kuning langsat.

Disqus Comments