Senin, 13 Juli 2026

Dewa Arak 39 Misteri Dewa Seribu Kepalan

Dewa Arak 39 Misteri Dewa Seribu Kepalan
Cersil Dewa Arak 39 Misteri Dewa Seribu Kepalan
Baca Online Dewa Arak 39 Misteri Dewa Seribu Kepalan

MISTERI DEWA SERIBU KEPALAN

Oleh: Aji Saka | Cetakan Pertama | Penerbit: Cintamedia, Jakarta | Penyunting: Puji S.
Hak cipta pada Penerbit. Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Serial Dewa Arak Dalam episode: Misteri Dewa Seribu Kepalan. 128 hal ; 12 x 18 cm.

Cuplikan Cerita:

Sang Surya menyorot garang ke bumi. Saat ini, bola api raksasa itu memang telah berada tepat di atas kepala. Dan siraman cahayanya jatuh tepat ke persada bagai hendak membakar apa saja di bawahnya.

"Hhh!" Seorang pemuda berpakaian coklat mendongakkan kepala ke atas sebentar. Dengan sepasang matanya yang tajam berkilat-kilat, ditatapnya kemilau bola api raksasa di langit. Tapi hanya sekejap saja hal itu dilakukannya, karena sesaat kemudian matanya telah silau, tak mampu menentang matahari. Pandangannya kini beralih ke arah jalan di hadapannya.

Pemuda itu bertubuh kekar, berotot, dan berisi. Langkah kaki maupun sorot matanya menunjukkan kalau dirinya bukan orang sembarangan. Buktinya, langkahnya terlihat gesit. Sedangkan sepasang matanya tampak berkilat-kilat tajam. Sambil memanggul sebuah buntalan kain cukup besar yang tersampir di ketiak, pemuda berusia sekitar dua puluh satu tahun itu melangkah cepat. Pandangannya terus tertuju ke depan, karena beberapa tombak di depan sana tampak tembok batas sebuah desa. Ke sanalah, pemuda berpakaian coklat tengah menuju.

Tak lama kemudian, pemuda berpakaian coklat itu berhenti begitu telah memasuki mulut desa. Dan langsung saja pandangannya beredar berkeliling. Tapi, yang dilihatnya hanya kesunyian belaka. Sepanjang jalan utama desa itu tampak lengang. Memang tidak aneh kalau suasana di sekitar tempat itu sepi, karena suasana saat ini panas bukan kepalang. Tampaknya orang-orang lebih suka beristirahat di tempat-tempat yang teduh, daripada di jalan yang panas berdebu.

Mulut pemuda berpakaian coklat itu menyunggingkan senyum kecil ketika menyadari hanya dirinya yang berada di tempat terbuka dalam suasana seperti ini. Masih dengan senyum di bibir, kakinya kembali melangkah untuk menyusuri jalan utama desa. Pemuda berpakaian coklat itu terus saja melangkah sambil mengedarkan pandangan ke kanan kiri. Tapi yang dijumpainya hanya rumah-rumah penduduk yang pintunya tertutup rapat. Hanya jendelanya saja yang terbuka. Tanpa mempedulikan semua itu, kakinya terus saja melangkah.

Entah, sudah berapa lama pemuda berpakaian coklat itu melangkah. Dia sama sekali tidak menghitungnya. Apalagi ketika pandangannya tertumbuk pada sebuah kedai. Maka, wajahnya berseri-seri. Sepasang matanya pun bersinar-sinar. Raut kegembiraan terlihat pada wajahnya. Memang, pemuda berpakaian coklat itu telah merasa lapar dan haus bukan kepalang. Dengan langkah agak bergegas, dihampirinya kedai itu. Hanya dalam beberapa langkah, dia telah berada di ambang pintu kedai.

Untuk Anda yang belum membaca episode sebelumnya, sangat disarankan untuk mengikuti keseruan aksi Palasena dalam Dewa Arak 32: Algojo-Algojo Bukit yang tak kalah mendebarkan sebelum melanjutkan cerita ini.

Di tempat ini langkahnya dihentikan. Lalu, sepasang matanya beredar ke seluruh penjuru bagian dalam kedai. Dan rupanya, kedai itu telah dipenuhi orang, sehingga hampir semua meja telah terisi. Untung masih tersisa sebuah meja. Maka, tanpa membuang-buang waktu lagi, dia melangkah menuju ke sana.

"Hhh!" Sambil menghembuskan napas lega, pantatnya dihempaskan ke kursi. Namun baru saja punggung pemuda berpakaian coklat itu bersentuhan dengan sandaran kursi, seorang laki-laki setengah tua dan bertubuh kecil kurus melangkah menghampiri.

"Pesan apa, Den?" Tanya laki-laki kecil kurus yang ternyata pemilik kedai.

"Singkong goreng, pisang rebus, dan teh hangat, Ki," Sebut pemuda berpakaian coklat itu.

Laki-laki kecil kurus itu pun berlalu untuk menyiapkan pesanan tamunya. Dan tak lama kemudian, dia telah kembali sambil membawa baki yang berisi pesanan.

"Apa nama desa ini, Ki?" Pemuda berpakaian coklat mengajukan pertanyaan di saat laki-laki pemilik kedai tengah meletakkan makanan dan minuman ke atas meja.

"Desa Sawang," Jawab laki-laki kecil kurus itu. "Memangnya kenapa, Den?"

"Ah, tidak ada apa-apa. Hanya tanya saja, Ki," Sahut pemuda itu buru-buru.

"Kalau ada yang ingin ditanyakan, katakan saja, Den. Dengan senang hati akan kujawab pertanyaan itu, kalau aku bisa menjawabnya," Ujar lelaki kecil kurus itu, setelah selesai meletakkan semua pesanan.

"Apakah tawaran seperti itu kau ajukan pada setiap orang yang bersantap di sini, Ki?" Tanya pemuda berpakaian coklat itu.

"Tidak, Den. Tawaran ini hanya kuajukan pada orang-orang yang menarik hatiku," Jawab pemilik kedai jujur.

"Jadi..., aku menarik hatimu, Ki?"

Laki-laki kecil kurus itu langsung menganggukkan kepala. "Wajahmu mengingatkanku pada orang yang keluarganya telah banyak berjasa pada desa ini," Lirih jawaban yang keluar dari mulut pemilik kedai.

Sementara, pemuda berpakaian coklat itu mulai mengupas ujung kulit pisangnya. "Memang, paman guruku sendiri mengatakan kalau aku mempunyai wajah yang mirip ibuku. Sayang, aku lupa nama ibuku. Aku masih terlalu kecil untuk bisa mengetahui nama ibu."

Wajah laki-laki kecil kurus itu kontan berubah hebat. Tapi, pemuda berpakaian coklat itu seperti tidak mengetahuinya. Bahkan terus saja melanjutkan ucapannya. "Malah, nama ayahku sendiri aku tidak tahu. Untungnya, aku sering mendengar kalau julukannya disebut-sebut orang..., Pendekar Tombak Sakti, demikian julukannya. Dan...."

"Kau...?! Kau...?!" Sepasang mata laki-laki kecil kurus itu terbelalak lebar, seakan tengah melihat hantu. "Ya Tuhan! Kau pasti..., Palasena!"

Pemuda berpakaian coklat yang ternyata bernama Palasena itu menganggukkan kepala. Pisang rebus yang telah terkupas kulitnya dimasukkan ke dalam mulut, digigit, dan dikunyahnya. Pelan dan lembut sekali Palasena mengunyahnya.

"Duduklah, Ki. Kita rayakan pertemuan ini," Ujar Palasena masih sambil mengunyah potongan pisang di mulutnya.

Bagai kerbau dicocok hidungnya, laki-laki kecil kurus itu meletakkan pantatnya di kursi di hadapan Palasena. Sebuah meja berbentuk persegi menjadi pembatas antara mereka berdua.

"Makanlah, Ki," Ujar Palasena mempersilakan.

"Terima kasih, Sena!" Hanya itu yang bisa diucapkan laki-laki kecil kurus itu. "Oh, ya. Coba ceritakan, hingga kau sampai disini dan sudah demikian besar seperti ini."

Palasena kemudian menerawang jauh, ke masa silamnya. Dia berusaha mengingat-ingat peristiwa enam tahun yang lalu, ketika masih berusia lima belas tahun.


Malam ini langit terlihat cerah. Bulan bersinar penuh, menggantung di langit. Sinarnya yang putih keperakan menyorot ke bumi, lembut menguak kegelapan malam. Bintang yang bertebaran di angkasa, membuat angkasa tambah semarak. Tapi ternyata hal itu tidak berlangsung lama, begitu sekelompok awan hitam dan pekat tiba-tiba muncul.

Secara perlahan-lahan, gerombolan awan itu mulai bergerak menyebar. Langit tampak mulai gelap. Dan dengan sendirinya keadaan di persada pun menjadi temaram. Apalagi ketika kumpulan awan itu mulai menyembunyikan sang Dewi Malam, sehingga sinarnya tidak lagi sampai ke persada.

Seiring mulai gelapnya keadaan di persada, hembusan angin pun mulai berubah dingin. Semakin lama, semakin keras hembusannya dan semakin menggigit tulang. Sesaat kemudian, hujan mulai turun. Semula hanya berupa titik-titik air yang jatuh satu persatu, tapi tak lama kemudian hujan lebat mengguyur bumi. Air yang turun bagaikan dicurahkan dari langit.

Hembusan angin kencang berhawa dingin, seakan-akan ingin menumbangkan sekaligus membekukan benda-benda yang ada di persada. Itu pun masih ditambah gelegar halilintar! Alam benar-benar menunjukkan kekuasaannya sekarang ini. Glarrr! Halilintar menggelegar lagi. Kontan suasana di persada yang semula gelap gulita sekejap jadi terang benderang.

Meskipun hanya sekejap, tapi cukup memperlihatkan sesosok tubuh sedang berpakaian coklat yang tengah berlari keluar dari pintu sebuah bangunan yang cukup megah. Sosok tubuh sedang itu ternyata anak lelaki berusia sekitar lima belas tahun. Tubuhnya kurus seperti orang kurang makan. Wajahnya berbentuk bulat telur. Dan ada setitik tahi lalat di bibir bawahnya.

Anak lelaki berpakaian coklat itu berlari cepat, melintasi halaman ketika telah berada di luar pintu. Tak dihiraukannya lagi curahan hujan lebat dan hembusan angin kencang yang menerpa tubuhnya. Prat, prat...! Air berwarna kecoklatan muncrat ke sana kemari ketika anak lelaki berpakaian coklat itu berlari di halaman. Dan memang, hujan telah membuat sebagian halaman depan bangunan itu tergenang air.

Baru saja beberapa tombak bocah berpakaian coklat itu menempuh halaman, sesosok tubuh lain muncul di ambang pintu yang baru saja ditinggalkan.

"Kang Palasena...! Jangan pergi...! Jangan tinggalkan aku...!" Teriak sosok tubuh yang berdiri di ambang pintu, keras. Rupanya, seluruh kemampuan berteriaknya dikerahkan. Terbukti, panggilannya mampu menembus riuhnya suara hujan dan angin.

Anak berpakaian coklat dalam siraman hujan yang ternyata bernama Palasena itu menghentikan larinya. Kemudian tubuhnya berbalik menatap ke arah sosok tubuh yang memanggilnya. Keberadaan sosok tubuh di ambang pintu memang bisa terlihat karena di sudut-sudut rumah itu tergantung obor-obor.

Halilintar kembali menggelegar bagai hendak merobohkan bumi. Suasana di persada kembali terang-benderang sekejap. Dan kini, sosok yang berdiri di ambang pintu bisa melihat Palasena. Sosok tubuh di ambang pintu itu ternyata seorang gadis sedang berusia tiga belas tahun, mengenakan pakaian serba hitam. Tampak oleh gadis itu, Palasena tengah berdiri mematung menatap ke arahnya.

Anak lelaki berpakaian coklat itu sama sekali tidak mempedulikan curahan hujan dan debu angin keras yang berhawa dingin menusuk tulangnya.

"Kang Palasena...! Kembali...!" Teriak gadis berpakaian hitam itu lagi, seraya melambaikan tangannya.

Palasena terpaku. Tarikan wajahnya memancarkan kebimbangan. Jelas, ucapan bocah perempuan itu yang membuat hatinya ragu. Tapi sebelum Palasena sempat memutuskan sesuatu, di belakang tubuh gadis berpakaian hitam itu muncul seorang wanita berusia tiga puluh tahun dan berpakaian hijau. Raut wajahnya memperlihatkan kecantikan yang sudah matang.

Begitu tiba, wanita berpakaian hijau itu langsung saja menyentuh bahu gadis di depannya. "Biarkan anak jahanam itu pergi, Widuri," Ujar wanita berpakaian hijau. Sambil berkata demikian, pandangannya dilayangkan ke depan. Tapi, yang terlihat hanya kegelapan belaka.

"Tapi.... Tapi, kasihan Kang Palasena, Bu. Cuaca begitu dingin. Kang Sena bisa sakit, Bu. Jangan biarkan Kang Sena pergi...," Ratap gadis cilik yang ternyata bernama Widuri.

"Biar anak sialan itu mampus!" Dengus wanita berpakaian hijau yang ternyata ibu Widuri. "Sudah! Mari kita masuk, Widuri!"

Sambil berkata demikian, wanita berpakaian hijau itu menarik tangan putrinya. Diajaknya gadis itu masuk ke dalam. Tapi Widuri tidak mau, dan malah meronta-ronta.

"Tidaaak...! Aku tidak mau...! Kang Sena...!" Jerit Widuri sambil terus meronta-ronta. Tangan kiri Widuri cepat memegang pinggir ambang pintu erat-erat, agar tidak bisa ditarik ke dalam oleh ibunya. Namun perlawanan Widuri membuat wanita berpakaian hijau itu menjadi kehilangan kesabaran. Ditambahkan lagi, tenaga untuk membawa gadis itu masuk ke dalam rumah jauh lebih kuat.

Widuri berusaha keras untuk bertahan. Seluruh tenaganya dikerahkan. Tapi, apa artinya tenaga seorang anak berusia tiga belasan tahun dalam menghadapi tenaga orang dewasa? Mau tak mau tubuhnya pun tertarik ke dalam. Widuri terus menjerit-jerit keras, tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh ibunya.

Dan ketika tubuh gadis itu telah melewati ambang pintu, wanita berpakaian hijau itu melepaskan tangan kiri. Kemudian, tangan kirinya itu diulurkan untuk menjangkau daun pintu. Dan.... Blammm...! Daun pintu itu tertutup kembali disertai suara yang demikian keras.

Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, wanita berpakaian hijau itu memasang palang pintu, leluasalah dia membawa Widuri ke dalam.

"Aku tidak mau...! Kang Sena...!" Teriak Widuri, sehingga sampai terdengar keluar.

Sementara itu Palasena mengusap wajahnya. Di samping untuk mengusap air hujan yang telah membasahi selebar wajahnya, juga untuk mencegah mengalirnya keluar air mata. Nyatanya, sepasang mata anak laki-laki itu memang telah berkaca-kaca sejak tadi, karena Palasena menyaksikan adegan yang terjadi di sekitar empat tombak di hadapannya. Adegan yang terjadi antara Widuri dengan ibunya.

Tapi, ternyata Palasena bukan orang yang berjiwa cengeng. Dia tidak ingin terlalu berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan. Kepalanya segera digeleng-gelengkan untuk mengusir gambaran-gambaran tadi. Lalu, dipandanginya bangunan yang baru ditinggalkannya beberapa saat. Dan setelah menggertakkan gigi untuk menguatkan hati, tubuh Palasena berbalik, kemudian berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Hujan masih terus turun deras. Hembusan angin berhawa dingin yang sesekali bertiup keras, masih juga berlangsung. Gelegar halilintar pun tidak juga terhenti. Namun, Palasena terus saja berlari. Bahkan tidak ingin berhenti untuk berteduh. Dia tahu, apabila hal itu dilakukan, perjalanannya tak akan bisa diteruskan. Hawa dingin akan semakin menyiksanya. Sesaat kemudian, tubuh Palasena pun lenyap ditelan kegelapan malam yang menyelimuti sekitarnya.


(Catatan: Untuk menikmati kisah lengkap secara offline atau melalui media sosial pendukung, Anda dapat mengakses tautan-tautan di bawah ini).

Disqus Comments