Dewa Arak 49 Geger Pulau Es
Cersil Dewa Arak 49 Geger Pulau Es
Baca Online Dewa Arak 49 Geger Pulau Es
Bergabunglah dengan ribuan penggemar cerita silat klasik lainnya di komunitas kami: Facebook Group Pecinta Cersil
Geger Pulau Es — Awal Badai di Hamparan Rerumputan Kuning
Trang, trang, tring! Dentang nyaring senjata beradu yang diiringi percikan bunga-bunga api ke udara, menambah tidak nyaman suasana persada. Memang, saat itu musim kemarau tengah melanda bumi. Matahari tepat berada di atas kepala, dan menyorotkan sinarnya dengan garang. Panasnya tak terkira lagi.
Dalam suasana demikian, pertarungan itu berlangsung. Yang lebih gila lagi, pertarungan itu terjadi di hamparan tanah lapang luas. Sejauh mata memandang tidak terlihat pepohonan, yang ada hanya rerumputan. Itu pun pendek-pendek dan berwarna kuning kecoklatan, terpanggang sinar matahari!
Tidak adanya pohon-pohon menyebabkan sengatan garang sinar matahari langsung menerpa tubuh orang-orang yang tengah bertarung. Tapi semua itu tidak dipedulikan mereka. Bahkan, sinar garang sang Surya semakin menambah semangat bertarung mereka.
Suasana riuh rendah pun melingkupi sekitar tempat itu. Pertarungan itu terjadi antara dua kelompok yang memiliki perbedaan yang menyolok. Kelompok yang satu adalah sepasukan tentara kerajaan, yang bisa diidentifikasi langsung dari pakaian seragam mereka yang khas. Sedangkan lawan mereka sekelompok orang yang memiliki tindak-tanduk kasar, dengan pakaian yang beraneka ragam corak dan bentuknya.
Rupanya, pertarungan itu sudah berlangsung cukup lama. Wajah-wajah orang yang terlibat pertarungan telah dibasahi cucuran peluh deras. Napas yang keluar dari hidung dan mulut mereka pun terdengar memburu hebat.
Mendadak... Crattt! "Akh!"
Salah seorang anggota pasukan kerajaan menjerit kesakitan ketika senjata lawan membeset pinggangnya. Prajurit sial itu pun mendekapkan tangannya ke bagian tubuh yang terluka parah.
"Permana...!" Hampir serempak rekan-rekan prajurit itu menjerit kaget menyaksikan kawan mereka terluka. Tapi hanya sampai di situ saja. Tidak ada tindakan pertolongan nyata. Keadaan mereka sendiri pun tidak berbeda jauh dengan Permana. Pasukan prajurit kerajaan rupanya tengah terdesak hebat. Itu tidak aneh, karena jumlah lawan terlalu banyak untuk mereka. Satu orang prajurit harus menghadapi tiga orang lawan, sedangkan tingkat kepandaian mereka hanya sedikit di atas lawan-lawannya.
Akibatnya, pasukan prajurit itu kewalahan hingga mereka tak bisa membantu Permana yang malang. Permana, prajurit bertubuh pendek kekar, harus berjuang keras untuk menyelamatkan selembar nyawanya. Tubuhnya bergerak ke sana kemari menghindari bahaya maut yang datang dari sambaran senjata lawan yang begitu rapat.
Catatan Pendekar: Sebelum jauh melangkah ke dalam prahara di pulau bersalju ini, ketahui juga awal mula perseteruan para dedengkot laut timur dalam kisah epik Dewa Arak 42 Empat Dedengkot Pulau yang menjadi jembatan penting dari takdir besar Arya Buana.
Di saat yang amat gawat itu, tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan yang langsung memasuki kancah pertarungan. Cepat bukan main gerakannya! Dua sosok bayangan ungu dan putih itu mampu menyelinap di antara kelebatan senjata orang-orang yang tengah bertarung dengan sangat lincah.
Jika saja tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, tindakan dua sosok bayangan itu hanya akan mengakibatkan bahaya fatal bagi diri mereka sendiri! Tubuh mereka akan terkena sabetan senjata-senjata tajam yang tengah berkelebatan cepat. Namun, kenyataannya berbeda jauh. Keduanya berhasil mendarat dengan manis di tengah-tengah kancah pertarungan yang kacau itu.
Sosok bayangan putih melesat ke arah Permana yang berada dalam bahaya kritis. Laki-laki pendek kekar itu tengah terpojok oleh keroyokan senjata tiga orang lawannya.
Plak, plak, plakkk!
Bunyi berdetak keras terdengar ketika senjata-senjata tajam itu berbenturan dengan sepasang tangan sosok bayangan putih! Sosok bayangan putih itu menangkis semua serangan ganas dengan tangan telanjang. Dapat diperkirakan, betapa dahsyat kekuatan tenaga dalam yang tersalur pada kedua tangannya.
Akibat benturan keras itu, tubuh ketiga orang kasar itu terhuyung-huyung ke belakang dengan tangan terasa sakit dan kesemutan hebat. Hal yang sama pun menimpa teman-teman mereka yang harus berhadapan dengan sosok bayangan ungu. Melihat kenyataan itu, orang-orang kasar lainnya segera meninggalkan lawan-lawannya dan berkumpul menjadi satu demi keselamatan bersama.
"Siapa kalian? Mengapa mencampuri urusan kami?!" Bentak salah seorang dari gerombolan orang kasar yang berjumlah enam belas orang itu.
Orang itu bertubuh tinggi kurus dan berkepala botak plontos. Menilik sikapnya yang angkuh, dia adalah sang Pemimpin gerombolan tersebut. Golok besar yang tergenggam di tangannya diacung-acungkan ke udara dengan wajah menggambarkan rasa penasaran yang luar biasa.