Dewa Arak 47 Bencana Patung Keramat
Cersil Dewa Arak 47 Bencana Patung Keramat
Eps 1 Bencana Patung Keramat
BENCANA PATUNG KERAMAT
Oleh: Aji Saka
Cetakan pertama | Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting: A. Suyudi | Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Digitalisasi & Editor Koleksi: Abu Keisel (Scan/Convert) & Fujidenkikagawa (Editor) | Ebook PDF oleh: Dewi KZ
Koleksi Pustaka Klasik Terbuka Arsip Kang Zusi & Pustaka Dewi KZ Info.
Aji Saka Serial Dewa Arak dalam episode: Bencana Patung Keramat. (128 hal. ; 12 x 18 cm)
Hari sudah agak siang. Sang Surya pun sudah mulai meninggi. Angin yang berhembus sudah tidak nikmat lagi dihirup ke dada, tapi cukup membuat semak-semak dan daun pepohonan di Hutan Jati bergoyang-goyang.
"Nah, kurasa tempat ini cocok, Kang. Sepi! Kecil sekali kemungkinan kita akan mendapatkan gangguan,"
Sebuah suara kecil dan melengking nyaring menyeruak mengatasi hembusan angin di Hutan Jati itu. Suara itu ternyata berasal dari mulut gadis cantik berpakaian serba putih. Rambutnya hitam panjang dan dibiarkan melambai-lambai tertiup angin.
Gadis itu tidak sendirian. Di sebelahnya tampak seorang pemuda berpakaian ungu. Seperti si gadis, pemuda itu pun memiliki rambut panjang. Hanya saja tidak hitam, melainkan putih keperakan. Indah sekali kelihatannya.
Pemuda yang berambut putih keperakan tak langsung menanggapi ucapan gadis berpakaian putih itu. Dihentikan langkahnya, kemudian diedarkan pandangannya ke sekeliling. Tapi yang nampak hanya pepohonan besar dan rimbun daunnya.
"Kau benar, Melati. Tempat ini memang cocok. Jauh dari keramaian dan terlindung. Seperti katamu tadi, kecil sekali kemungkinan akan adanya gangguan," sambut pemuda berambut putih keperakan, menyetujui usul yang diajukan Melati, gadis berpakaian putih itu.
Sekarang sudah bisa diketahui, pemuda berambut putih keperakan itu tak lain Arya, yang lebih dikenal dengan julukan Dewa Arak. Tokoh pemuda tangguh yang namanya kerap menggetarkan seisi rimba persilatan tanah Jawa.
Melati tersenyum manis mendengar ucapan persetujuan kekasihnya. "Kalau begitu tunggu apa lagi, Kang?! Mari kita mulai," ajak Melati penuh semangat.
"Ayolah!" sahut Arya mengalah.
Melati telah berjalan mendahului, lalu keduanya nampak mengayunkan kaki menuju sebatang pohon besar yang berada di dekat situ. Lagi-lagi Melati mendahului duduk di akar pohon yang menyembul ke atas tanah. Terlihat jelas kalau gadis berpakaian putih itu sudah merasa tidak sabar.
"Hhh...!" Arya menghela napas lebih dulu sebelum memulai ucapannya. "Sebenarnya..., mengapa kau berkeinginan memanggil naga merah di alam gaib itu, Melati?"
"Yang pertama, aku ingin menambah ilmuku. Kusadari betapa banyak orang sakti di dunia persilatan. Sudah tidak terhitung banyaknya aku bertemu dengan tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian di atasku. Oleh karena itu timbul keinginanku untuk menambah ilmu," jawab Melati setelah tercenung beberapa saat lamanya.
"Hm..., mengapa tak menempuh dengan cara latihan saja, Melati? Dengan sering berlatih dan bersemadi, kemampuanmu akan meningkat. Dan itu sudah pasti! Akan semakin kuat tenaga dalammu dan semakin lincah gerakanmu. Dengan sendirinya tingkat kepandaianmu akan bertambah!" jelas Arya panjang lebar mencoba meredam ambisi besar sang kekasih.
"Buru-buru amat Kakang memberi nasihat?" selak Melati, berpura-pura merengut kesal. "Aku kan belum mengutarakan semuanya."
"O ya, aku lupa mungkin ada alasan lain hingga kau berkeinginan memanggil naga merah di alam gaib! Coba utarakan, Melati!"
"Aku tahu, Kang. Bahkan tahu pasti, kalau dengan sering berlatih dan bersemadi, kemampuanku akan meningkat. Tapi, untuk melakukannya sulit sekali. Selalu saja ada masalah yang kuhadapi. Sehingga membuatku tidak sempat untuk berlatih. Ini alasan kedua, Kang." Melati menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas.
"Alasan ketiga, karena rasa ingin tahuku. Bagaimana rasanya kalau tubuh kita termasuki makhluk gaib itu? Bagaimana rupa naga itu?" lanjut Melati. "Kuakui, di antara ketiga alasan, yang lebih membuatku bersikeras untuk memasukkan naga di alam gaib ke dalam diriku adalah alasan yang ketiga."
Keadaan langsung hening ketika Melati menghentikan ucapannya, dan Arya belum memberikan tanggapan kembali. Yang terdengar hanya suara binatang-binatang penghuni hutan, dan gemerisik dedaunan serta semak-semak yang terus dihembus angin siang.
"Aku tak menyalahkan kalau kau punya keinginan demikian, Melati. Aku sendiri kalau dalam keadaan seperti dirimu kemungkinan akan melakukan tindakan yang sama," ujar Arya dengan nada bijaksana, mencoba memahami gejolak batin pasangannya itu.
"Lalu..., bagaimana, Kang? Apa keinginanku bisa kau kabulkan?!" tanya Melati, matanya tampak berbinar penuh harap ingin mengetahui tanggapan pemuda berambut putih keperakan itu secara pasti.
"Tentu saja! Jangankan hanya permintaan seperti itu, yang lebih besar lagi pun akan kuusahakan asal kau yang meminta!"
Mantap dan tegas jawaban yang keluar dari mulut Dewa Arak. Janji setia seorang pendekar pilih tanding.
"Kapan kau ingin melakukannya?!" tanya Arya kembali.
"Sekarang, Kang!" tegas jawaban Melati tanpa keraguan sedikit pun.
"Baik, kalau itu yang kau mau! Nah, sekarang dengarkan baik-baik ucapanku ini, Melati!" Sampai di sini Arya sengaja menghentikan ucapannya. Maksudnya memberi kesempatan pada Melati agar mempersiapkan diri mendengar kelanjutan ucapannya dengan konsentrasi penuh.
"Sebelum membawa masuk naga merah di alam gaib itu ke dalam tubuhmu, perlu kau ketahui secara pasti keberadaannya dan hal-hal lain yang bersangkut-paut dengan naga merah itu."
Untuk yang kesekian kalinya Dewa Arak menghentikan ucapannya. Dan itu dilakukannya dengan sengaja, agar Melati bisa memahami setiap bait kata-katanya tanpa terlewat satu pun.
"Naga merah itu bukan sejenis makhluk ataupun roh, Melati. Dia merupakan sebuah ilmu. Mungkin perlu kujelaskan sedikit. Di alam gaib, setiap ilmu itu mempunyai bentuk. Hanya saja tidak bisa kita lihat. Dan karena berupa energi ilmu, naga merah itu bisa kita bawa masuk ke dalam tubuh kita. Kau bisa mengerti uraianku ini, Melati?!"
Melati menganggukkan kepala. Memang, bisa ditangkapnya penjelasan kekasihnya itu, meskipun pada beberapa bagian terasa abstrak di awang-awang. Tapi secara garis besar kasar Melati mengerti ke mana arah pembicaraan mendalam Arya.
"Berbeda dengan ilmu-ilmu yang dimiliki orang lain, ilmu yang kita miliki ini utuh bentuknya di alam metafisika. Ilmuku, 'Belalang Sakti', di alam gaib berbentuk seekor belalang raksasa. Demikian pula dengan ilmu 'Cakar Naga Merah' milikmu, di alam gaib bentuknya berupa seekor naga perkasa berwarna merah darah. Sedangkan ilmu-ilmu yang dimiliki orang lain rata-rata tidak mempunyai bentuk padat di alam gaib," sambung Dewa Arak menjelaskan rahasia ilmu kanuragan tingkat tinggi mereka.
"Mengapa demikian, Kang?! Mengapa hanya ilmu kita yang mempunyai bentuk nyata di alam gaib?" tanya Melati heran, setelah terlebih dulu mengernyitkan keningnya yang mulus.
"Karena cara pengambilan ilmu itu berbeda dari metode lazimnya pendekar purba. Guruku..., yang berarti gurumu juga, mengambil inti ilmu secara utuh dari esensi belalang dan naga merah yang bertakhta di alam gaib. Hal ini tidak rumit baginya, karena beliau telah lebih dahulu menguasai seluruh seluk-beluk misteri alam gaib. Bahkan, ilmu-ilmu yang dimilikinya sebagian besar merupakan visualisasi ilmu gaib tingkat puncak!" jawab Arya panjang lebar agar Melati paham.
"Mengerti, Melati?" tanya Arya menegaskan kembali.
"Mengerti, Kang," jawab Melati patuh.
Arya tersenyum lebar melihat kecerdasan kekasihnya. "Kalau begitu, sekarang kita masuk pada pokok persoalan utama. Yaitu, bagaimana caranya memasukkan naga merah di alam gaib itu ke dalam dirimu secara selaras," lanjut Dewa Arak.
"Mudahkah menarik naga merah ke dalam diri kita, Kang?!" tanya Melati penuh rasa ingin tahu yang mendalam. Namun pada sepasang mata yang berbentuk indah milik gadis berpakaian putih itu, terlihat ada kilatan tipis rasa gentar. Hal ini wajar saja, karena dirinya memang belum tahu pasti kejadian tak terduga apa yang akan menimpa raganya nanti.
"Dibilang mudah, tidak. Dikatakan sulit.., sebenarnya juga tidak seluruhnya benar. Jadi, kira-kira setengah sulitlah. Sedangkan modal terpenting agar usaha yang dilakukan dapat berhasil yaitu dengan kemauan keras! Lalu yang kedua, penekanan magis terhadap alam bawah sadar kita secara penuh!" jelas Dewa Arak membeberkan kunci ilmu mistik tersebut.
Sampai di sini, pemuda berpakaian ungu itu teringat kembali akan pengalamannya masa lalu ketika bersusah payah memasukkan belalang raksasa ke dalam dirinya. Membutuhkan ketenangan jiwa dan kesabaran yang luar biasa tinggi untuk bisa menjinakkan belalang raksasa itu ke dalam rongga dadanya.
"Jadi. ., apa yang harus kulakukan sekarang, Kang?" selak Melati. Nampaknya gadis itu merasa belum puas dengan keterangan teoritis kekasihnya. Dia masih belum tahu praktik nyata bagaimana caranya mengundang naga merah itu masuk ke raga.
Dewa Arak tercenung sebentar untuk mencari analogi kata-kata yang tepat guna memulai tuntunan semadinya.
"Pertama-tama, buang semua pikiran duniawi lain yang ada di benakmu. Kemudian, pusatkan seluruh perhatian pada wujud naga merah yang akan kau bawa masuk ke dalam dirimu. Panggillah ia dalam keheningan hati, agar menyatu dengan aliran darahmu. Mengerti, Melati?!"
Gadis berpakaian putih hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum manis. Sama sekali tak disangka kalau cara untuk mendapatkan kekuatan naga merah luar biasa itu secara metodologis demikian ringkas. Memusatkan pikiran, bagi orang yang memiliki landasan kepandaian tinggi seperti Melati tentu bukan hal yang memberatkan.
Betapa tidak? Ritual semadi yang dilakukan sejak awal mempelajari ilmu silat dasar telah mengajarkan cara-cara pemusatan pemikiran tingkat tinggi. Bagaimana setiap kali dalam menarik napas, dibayangkan kalau udara yang dihirup mengandung kekuatan dahsyat tiada tara. Yang ada sebenarnya berasal dari tiada, itulah prinsip dasar kanuragan sejati yang mereka anut!