Dewa Arak 46 Pendekar Sadis
Cersil Dewa Arak 46 Pendekar Sadis
Baca Online Dewa Arak 46 Pendekar Sadis
Bergabunglah dengan komunitas pembaca cersil Indonesia di Grup Facebook Resmi Dewa Arak untuk berdiskusi langsung dengan penggemar lainnya.
Daftar Episode Cersil Pendekar Sadis:
Ulasan dan Tempat Baca Online Cerita Silat Dewa Arak: Serial Pendekar Sadis
Kisah Pembuka: Langkah Misterius Sang Pemuda Berbaju Biru
Karya: Aji Saka | Penerbit: Cintamedia, Jakarta | Penyunting: A. Suyudi
"Hooop...!"
"Hieeeh...!"
Diiringi ringkikan melengking seekor kuda coklat menghentikan larinya, ketika lelaki yang duduk di atas punggungnya menarik tali kekang. Kedua kaki depan kuda itu terangkat tinggi-tinggi ke udara. Debu pun mengepul menyelimuti kuda itu.
"Hup!"
Dengan begitu ringan, sosok tubuh penunggang kuda itu melompat dari punggung kuda ke tanah. Sosok itu ternyata seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh tahun. Tubuhnya yang kekar dan gagah terbalut pakaian biru. Setelah berdiri mantap di tanah, pemuda berpakaian biru itu segera menuntun kudanya dan menambatkan pada sebatang pohon yang tidak jauh dari tempat itu. Kemudian, dengan langkah lebar diayunkan kakinya menuju sebuah kedai yang juga tak berapa jauh dari tempatnya menghentikan kuda.
Pemuda berpakaian biru itu berhenti sejenak di ambang pintu kedai. Sepasang matanya yang tajam memperhatikan ke dalam kedai yang ramai pengunjungnya. Hampir semua meja dan kursi telah terisi. Hanya tinggal sebuah meja yang masih kosong. Tak lama kemudian, pemuda berpakaian biru itu melangkah masuk dan langsung menuju ke meja kosong yang terletak di sudut ruangan, dekat jendela.
Begitu duduk, seorang pelayan kedai bertubuh kurus bergegas menghampirinya dengan ramah. "Mau pesan apa, Tuan Muda?" tanya pelayan itu sambil membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda hormat.
"Bawakan aku secangkir teh hangat dan sepiring nasi beserta lauknya yang paling enak di sini," jawab pemuda berpakaian biru itu dengan suara bariton yang mantap.
"Baik, Tuan Muda. Tunggu sebentar," kata pelayan itu lalu bergegas pergi ke dapur.
Sambil menunggu pesanannya datang, pemuda berpakaian biru itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Orang-orang di dalam kedai itu tampaknya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang makan sambil berbincang-bincang seru, ada pula yang hanya minum-minum santai. Namun, perhatian pemuda berpakaian biru itu mendadak tertuju pada tiga orang lelaki yang duduk tidak jauh dari mejanya. Ketiga orang itu bertubuh kekar dan berwajah sangar. Senjata golok besar tergeletak di atas meja mereka, menandakan bahwa mereka adalah orang-orang dunia persilatan.
Mereka tampak sedang berbincang dengan suara berbisik, namun karena pemuda berpakaian biru itu memiliki ilmu linuwih dan pendengaran yang sangat tajam, dia dapat menangkap setiap kata yang mereka ucapkan dengan jelas.
"Kau yakin berita itu benar, Kang?" tanya salah seorang dari mereka yang memiliki tahi lalat besar di pipinya.
"Tentu saja benar! Aku mendengarnya langsung dari orang-orang perkumpulan naga hitam. Katanya, bocah yang dijuluki Pendekar Sadis itu sedang menuju ke arah wilayah ini," jawab lelaki yang dipanggil Kang, yang tampaknya merupakan pemimpin dari ketiganya.
Mendengar julukan "Pendekar Sadis" disebut, kilatan aneh tampak berkelebat di sepasang mata pemuda berpakaian biru itu. Namun, wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi sedikit pun, seolah-olah dia tidak mendengarkan percakapan tersebut. Dia terus mendengarkan kelanjutan obrolan ketiga orang sangar itu.
"Heh, seberapa hebatkah sebenarnya bocah itu sampai-sampai seluruh tokoh hitam di wilayah barat gempar?" tanya lelaki ketiga yang bertubuh agak pendek namun kekar.
"Jangan meremehkannya, Sadewa! Kudengar dari desas-desus yang beredar, dia tidak pernah memberi ampun pada musuh-musuhnya. Setiap kali dia bertarung melawan penjahat atau perampok, tidak ada satu pun yang dibiarkan hidup. Semuanya tewas dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Itulah mengapa dia dijuluki Pendekar Sadis. Gerakannya secepat kilat dan tebasan pedangnya tidak pernah meleset," jelas si pemimpin dengan nada suara yang sedikit bergetar, menunjukkan ada rasa ngeri yang tersembunyi.
Pelayan kedai datang membawa nampan berisi pesanan makanan dan secangkir teh hangat. "Silakan dinikmati, Tuan Muda," kata pelayan itu dengan sopan. Pemuda berpakaian biru itu mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih. Dia mulai menyantap makanannya dengan tenang, sementara telinganya tetap dipasang tajam ke arah meja sebelah.
"Lalu, apa urusannya dia datang ke wilayah kita ini, Kang?" tanya si tahi lalat kembali.
"Kabar yang kuperoleh mengatakan bahwa dia sedang memburu sisa-sisa anggota dari kelompok Raja Monyet Tangan Delapan. Kau tahu sendiri kan, beberapa tahun lalu kelompok itu melakukan pembantaian besar-besaran di sebuah desa terpencil. Tampaknya pemuda itu memiliki dendam kesumat yang mendalam terhadap mereka," jawab si pemimpin sambil meneguk araknya.
Pertarungan batin tampaknya tidak terjadi pada pemuda berpakaian biru itu. Setelah menyelesaikan makannya, dia meletakkan beberapa keping uang perak di atas meja. Dia bangkit berdiri, mengambil bungkusan kainnya, lalu melangkah keluar dari kedai dengan tenang tanpa menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Namun, bagi ketiga orang sangar tadi, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa sosok yang baru saja mereka bicarakan sebenarnya berada sangat dekat dengan mereka.
Pemuda berpakaian biru itu berjalan kembali menuju pohon tempat kudanya ditambatkan. Dia melepas tali kekang kudanya, melompat ke punggung kuda dengan gerakan yang sangat ringan laksana kapas, lalu memacu kudanya meninggalkan area kedai menuju hutan lebat yang membentang di depan wilayah tersebut. Hutan itu dikenal dengan nama Hutan Larangan, tempat yang konon menjadi markas persembunyian rahasia orang-orang yang tengah diburunya.
Angin berhembus kencang memainkan ujung pakaian birunya. Di dalam benaknya, bayangan masa lalu yang kelam kembali berputar. Bayangan tentang api yang berkobar menghancurkan tempat tinggalnya, jeritan keluarganya, serta tawa kejam dari para pelaku pembantaian. Sepasang tangannya mencengkeram tali kekang dengan erat, dan matanya memancarkan kedalaman dendam yang membara. Perjalanan menuju keadilan—atau mungkin pembalasan yang kejam—baru saja dimulai.