Dewa Arak 45 Misteri Raja Racun
Cersil Dewa Arak 45 Misteri Raja Racun
Baca Online Dewa Arak 45 Misteri Raja Racun
Bergabung dengan komunitas penggemar cersil: Grup Facebook Dewa Arak
Daftar Direktori Episode Singkat:
Resensi & Baca Online Cerita Silat: Misteri Raja Racun
MISTERI RAJA RACUN
Oleh: Aji Saka
Cetakan pertama. Penerbit Cintamedia, Jakarta.
Penyunting: A. Suyudi (Hak cipta pada Penerbit).
"Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. Aji Saka Serial Dewa Arak dalam episode: Misteri Raja Racun. Kumpulan lembar kisah klasik setebal 128 halaman dengan dimensi petualangan 12 x 18 cm."
"Ck, ck, ck...!"
Ctar, ctar, ctar...!
Suara decakan pelan, lecutan cambuk, langkah kaki kuda, dan gemeretak roda kereta kuda menggilas jalan, memecah keheningan pagi. Saat itu suasana pagi masih menyelimuti mayapada. Sang Surya belum begitu jauh bergeser dari tempat terbitnya. Sinarnya masih terasa lembut menghangatkan kulit. Desir angin pun masih membawa hawa kesegaran. Dan lelaki yang duduk di bangku kusir kereta itu pun nampaknya tahu benar manfaat udara pagi seperti itu.
Beberapa kali ditariknya napas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengisi rongga dadanya dengan udara bersih yang terus menerpa wajahnya. Kusir kereta itu seorang lelaki bertubuh tegap dan kekar. Wajahnya yang nampak segar kemerahan pertanda kalau lelaki itu memiliki tubuh yang sehat. Meskipun sebagian rambut di kepala telah memutih, karena usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Ck, ck, ck...!"
Untuk kesekian kali, mulut lelaki kekar yang mengenakan pakaian coklat itu berdecak. Kemudian dengan pelan sekali cambuknya dilecutkan ke punggung kuda. Lecutan itu tidak sekeras lazimnya kusir yang menghendaki kudanya agar bergerak lebih cepat. Kereta sederhana yang ditarik seekor kuda itu terus bergerak meninggalkan jalan berbatu-batu yang sulit untuk dilalui. Tak jauh di depan kereta yang berjalan terseok-seok itu tampak membentang sebuah hutan lebat.
"Kalau kita telah melewati hutan itu, kau bisa beristirahat, Putih," kata lelaki berpakaian coklat itu sambil menatap kudanya. Ternyata, kuda putih penarik kereta itulah yang barusan dipanggil Putih.
Aneh juga tingkah laku lelaki itu. Kalau saja ada orang melihat tingkah lakunya itu, mungkin akan merasa heran. Betapa tidak? Seorang manusia tampak akrab berbicara dengan seekor kuda. Namun, rupanya kuda putih itu berbeda dengan kuda umumnya. Kuda putih penarik kereta itu meskipun tak dapat berbicara seperti manusia, seakan-akan mengerti benar ucapan lelaki itu. Buktinya, kuda itu langsung meringkik pelan, dan segera mempercepat langkahnya. Padahal, lelaki berpakaian coklat itu sama sekali tidak mencambuknya.
Tak lama kemudian, kereta kuda itu mulai memasuki mulut hutan yang cukup besar dan menyeramkan. Pepohonan di dalam hutan itu besar-besar dan menjulang tinggi. Kelebatan pepohonan menghalangi sinar matahari menembus ke dalam hutan itu. Sehingga suasana pagi hari di dalam hutan terlihat begitu remang-remang.
Meskipun keadaan hutan yang bernama Hutan Gendar itu cukup menyeramkan, lelaki berpakaian coklat itu tidak cemas sedikit pun. Nampaknya dia tahu pasti tentang hutan itu. Itulah sebabnya, meski sendirian, lelaki itu dengan tenang memasuki hutan lebat itu. Gemeretak bunyi roda, langkah kaki kuda, dan sesekali decakan mulut lelaki itu seolah-olah memecah kesunyian hutan.
Namun, betapa kagetnya hati lelaki tua yang duduk di kereta kuda itu ketika melihat kemunculan beberapa sosok berpakaian hitam. Wajah mereka tak dapat dikenali karena tertutup selubung kain hitam. Mereka langsung bergerak menyebar untuk mengepung dan menghadang kereta yang memasuki hutan itu. Seketika lelaki berpakaian coklat itu menghentikan keretanya.
"Hhh...!" Lelaki berpakaian coklat itu mendesah dalam hati.
Sebenarnya tadi telinganya mendengar suara berkerosakan dalam hutan itu. Tapi dia tidak menaruh curiga sama sekali. Diduganya, suara berkerosakan itu hanya disebabkan binatang-binatang di dalam hutan. Sama sekali hatinya tak menduga kalau ternyata yang muncul di hadapannya sosok-sosok berpakaian serba hitam.
"Hm... siapa kalian? Mengapa merintangi jalanku? Kalau kalian perampok, sia-sia saja kalian! Aku tidak punya barang-barang berharga sama sekali!" tandas lelaki berpakaian coklat itu, seolah ingin memberi tahu.
"Perampok? Jaga mulutmu, Ki Gadung! Atau kuhancurkan mulutmu!" bentak salah satu dari tiga orang yang berdiri di depan kereta.
"Hehhh...? Jadi, kalian mengenalku? Hebat! Tidak kusangka kalau namaku demikian terkenal! Sekarang, kuminta buka tutup muka kalian! Dan..."
"Diam...!" bentak seseorang yang bertubuh tinggi kurus. "Turun dari keretamu! Cepat! Atau aku harus menyeretmu turun!"
Kusir kereta yang ternyata bernama Ki Gadung itu tercenung sejenak. Kemudian bangkit dari duduknya dan melompat turun dari kereta. "Hap!" Jiiggg! Tanpa menimbulkan suara keras, kedua kaki Ki Gadung mendarat di tanah. Dari lompatannya yang indah dan cepat ini bisa diketahui kalau Ki Gadung pun mempunyai kepandaian silat yang perlu diperhitungkan. Setidak-tidaknya dia menguasai ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.
"Hm...!" Sosok berseragam hitam yang bertubuh tinggi kurus mendengus. Sepasang mata yang terlihat melalui dua lubang pada selubung itu, menatap sekujur tubuh Ki Gadung dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Bunuh dia!" perintah sosok tinggi kurus itu.
Perintah itu terdengar begitu datar, seperti perintah untuk membunuh nyamuk atau tikus. Ki Gadung tentu saja terkejut mendengar ucapan sosok tinggi kurus yang dilihat dari tindak-tanduknya dialah pemimpin gerombolan itu. Dan keterkejutan Ki Gadung semakin menjadi-jadi ketika melihat sosok-sosok serba hitam itu mulai bergerak mendekatinya. Sehingga keadaannya semakin terjepit.
"Tahan! Tunggu sebentar!" cegah Ki Gadung, buru-buru. "Mungkin kalian salah orang. Kurasa kita tidak pernah bertemu dan tak ada urusan antara kita!"
Ucapan Ki Gadung membuat mereka yang tengah bergerak mendekat, menghentikan langkah. Mereka tidak berani melancarkan serangan terhadap Ki Gadung, karena lelaki berpakaian coklat itu kemudian terlibat percakapan dengan pimpinan mereka.
"Ha ha ha...!" Sosok serba hitam yang bertubuh tinggi kurus tertawa bergelak begitu mendengar ucapan Ki Gadung. "Kau kira kami keliru? Ha ha ha...! Bukankah namamu Gadung? Siapa yang tidak mengenalmu? Kau terkenal sebagai orang yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Asalmu Desa Gedong, kan?"
Tanpa sadar, Ki Gadung menganggukkan kepala membenarkan. "Nah, sekarang sudah jelas. Bunuh dia!" perintah pemimpin gerombolan itu. Orang-orang berseragam hitam itu tidak ragu-ragu lagi bergerak ke arah Ki Gadung.
Srat, srat, srattt! Cahaya berkilau pun segera nampak ketika sosok berseragam serba hitam mencabut senjata masing-masing. Golok-golok besar terhunus sudah diayun-ayunkan tangan mereka terarah ke tubuh Ki Gadung. Sing, sing, sing! Bunyi desing nyaring terdengar dari golok-golok besar yang terayun-ayun membelah udara. Nampaknya ayunan golok itu dibarengi pengerahan tenaga dalam yang cukup kuat.
Ki Gadung segera sadar kalau saat ini bukan waktunya lagi untuk berdebat kalau dirinya masih ingin selamat. Yang harus dilakukannya sekarang mempersiapkan perlawanan. Ki Gadung segera mencabut sepasang pedang yang tergantung bersilangan di punggung. Srat, srat! Sinar-sinar yang tidak kalah terang pun keluar dari kedua batang pedang Ki Gadung. Pedang itu mulai terayun-ayun mencoba mengatasi serangan serangan gencar golok lawan.
Trang, trang, trang! Suara riuh rendah teriakan dan dentang senjata memecah keheningan hutan. Percikan bunga-bunga api dari benturan senjata senjata tajam pun menambah semarak pertarungan. Untuk sementara Ki Gadung berhasil menangkis dan mengelakkan setiap serangan golok-golok besar itu. Tentu saja Ki Gadung terus mempercepat gerakannya. Kini Ki Gadung bersikap lebih waspada. Dengan tajam kedua matanya memperhatikan tiap gerak-gerik lawan yang berada di sekelilingnya. Lelaki berpakaian coklat ini telah bersiap-siap untuk menghadapi munculnya serangan mendadak yang sewaktu-waktu berkelebat ke tubuhnya.
Sementara itu, sosok-sosok berseragam hitam yang masih mengepung Ki Gadung pun tidak kalah waspada dalam bertindak. Dengan langkah hati-hati, mereka mendekati Ki Gadung. Selangkah demi selangkah kepungan itu pun semakin menyempit.
Di tengah dentingan senjata tajam yang mencekam ini, suasana pertempuran mengingatkan kita pada kisah epik perebutan pusaka tanah Jawa yang tak kalah seru. Bagi Anda pembaca setia narasi bela diri klasik, Anda dapat baca online cerita silat Keris Maut karya Kho Ping Hoo untuk menikmati ketegangan tingkat tinggi yang serupa.
"Haaat...!" Diawali sebuah teriakan keras, tiga dari sembilan sosok berpakaian hitam yang mengurung, langsung melancarkan serangan. Namun Ki Gadung nampak tidak begitu terkejut, karena sejak tadi sudah bersiap menghadapi setiap serangan. Maka begitu serangan tiba, Ki Gadung langsung menyambutnya. Lelaki berpakaian coklat ini secepat kilat memutar sepasang pedangnya di atas kepala seperti baling-baling. Tak lama kemudian kedua pedang itu diayunkan memapak serangan lawan-lawannya.
"Hiaaat...!" Trang! Trang! Trang! Tiga serangan golok besar lawan berhasil dipatahkan Ki Gadung. Bahkan akibat benturan itu, tiga penyerangnya terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Sedangkan Ki Gadung sendiri hanya tergetar saja. Namun, lelaki berpakaian coklat itu belum sempat berbuat sesuatu, serangan sosok-sosok berpakaian hitam lainnya datang meluncur. Akibatnya, Ki Gadung kewalahan menghadapi serangan itu. Betapa tidak? Serangan datang silih berganti. Namun, dalam keadaan terjepit, lelaki berpakaian coklat ini terus mengadakan perlawanan sengit.
Pada jurus-jurus awal, pertarungan berlangsung seimbang. Kedua belah pihak belum berani membuka diri. Serangan-serangan dan elakan-elakan yang dilakukan sebagian besar hanya bersifat penjajakan kemampuan terhadap lawan. Tapi ketika pertarungan mulai menginjak jurus ketiga puluh, Ki Gadung mulai kewalahan. Perlahan-lahan serangannya menurun dan tidak segencar pada awal-awal pertarungan. Bahkan akhirnya Ki Gadung lebih banyak melakukan gerakan menghindar. Sekarang keadaan Ki Gadung tak ubahnya seekor tikus kecil yang tengah dipermainkan sekelompok kucing.
Ki Gadung rerpontang-panting ke sana kemari berusaha menyelamatkan diri dari setiap serangan lawan. Bahkan terkadang tubuhnya bergulingan di tanah, sementara senjata lawan terus memburunya. Dan pada jurus keempat puluh tiga, salah seorang lawan yang bertubuh sedang melancarkan serangan berupa sabetan mendatar ke arah leher. Buru-buru Ki Gadung merendahkan tubuhnya. Wuttt! Babatan golok itu lewat beberapa jari di atas kepala Ki Gadung. Tapi belum sempat berbuat sesuatu, dari belakang sebatang golok meluncur ke punggung. Dan... Jrottt! "Aaakh...!" Ki Gadung terpekik keras. Darah segar muncrat dari bagian punggungnya yang tertikam ketika golok yang menembus punggung dicabut. Seketika itu pula tubuhnya tersungkur ke tanah, tidak berdaya lagi.