Malam ini begitu cerah. Langit tampak bersih, tanpa sepotong awan pun menggantung di sana. Bintang-bintang seperti leluasa memancarkan sinar lembutnya ke persada. Bulan purnama berwarna kuning keemasan semakin menambah indahnya suasana malam. Rasanya, suasana di persada begitu aman dan tenteram.
"Auuung...!"
Mendadak, terdengar lolongan anjing hutan. Suaranya melengking panjang dan menyelusup sampai ke lubuk hati. Nadanya menimbulkan perasaan ngeri bagi setiap orang yang mendengarnya. Dan menurut kepercayaan sebagian orang, lolongan anjing hutan tadi menjadi pertanda akan adanya sebuah peristiwa berdarah!
Sementara itu, di bawah siraman sinar sang Dewi Malam, tampak sosok-sosok tubuh tengah bergerak cepat dan ringan, mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Jumlahnya tak kurang dari seratus orang! Dan tampaknya mereka rata-rata memiliki kepandaian silat. Namun anehnya, rombongan itu selalu mengambil jalan di tempat yang terlindung. Kalau tidak pepohonan, tentu semak belukar. Bahkan sepasang mata masing-masing selalu beredar mengawasi sekitarnya. Tampaknya, mereka tidak ingin kehadirannya diketahui orang.
Apakah yang hendak mereka perbuat? Mendadak, sosok yang berjalan paling depan mengangkat tangannya ke atas. Dia, seorang kakek bertubuh tinggi besar. Pakaiannya berwarna hitam mengkilat. Wajahnya dipenuhi cambang bauk yang cukup lebat. Penampilannya semakin menyeramkan oleh potongan rambutnya yang dikepang satu. Dan pada bagian ujung kepangan, dipasangi sebuah benda logam berbentuk bintang segi lima. Tampaknya, dari sini bisa dinilai kalau kakek berambut dikepang itu mempunyai pengaruh besar dalam rombongan ini.
"Setan Kecil!" panggil kakek itu sambil menatap salah satu dari empat orang kakek yang tadi berjalan di belakangnya.
"Hamba, Yang Mulia Mata Malaikat," sahut seorang kakek bertubuh kecil kurus dan berwajah hitam.
"Setan Botak! Setan Muka Tengkorak! Setan Tenaga Raksasa!" sebut kakek berambut dikepang, yang ternyata berjuluk Mata Malaikat.
"Hamba, Yang Mulia Mata Malaikat," sahut tiga orang kakek yang memiliki ciri-ciri berlainan satu sama lain.
"Kalian telah siap dengan rencana ini?" tanya Mata Malaikat seraya menatap satu persatu wajah-wajah di depannya.
"Siap, Yang Mulia Mata Malaikat," sahut empat orang kakek yang ternyata datuk-datuk sesat dari empat penjuru mata angin.
Bagus! Ingat, jangan sampai gagal! Besok Istana Kerajaan Gambang harus kita ambil alih, tandas Mata Malaikat. Suaranya terdengar bergetar, karena menahan gejolak nafsu angkara murka. Sudah terbayang di benak, betapa dirinyalah yang seharusnya duduk di singgasana istana. Dengan kekuatan penuh dari perserikatan hitam ini, tiada satu pun kekuatan kerajaan yang mampu menandingi kesaktian gabungan para datuk hitam.
Percayalah, Yang Mulia Mata Malaikat. Sebelum matahari tenggelam, singgasana Istana Kerajaan Gambang berhasil direbut! Tegas Setan Botak yang memang gemar bicara dengan penuh rasa percaya diri yang meluap-luap.
Kau benar, Setan Botak! Akulah yang akan menduduki takhta Kerajaan Gambang. Lalu, barulah Kerajaan Mandau kutundukkan. Dan, saat keberhasilan itu sebentar lagi akan tiba, kata Mata Malaikat, gembira menyambut kepatuhan mutlak para pengikutnya.
Tunggu apa lagi? Mari kita serbu kerajaan keparat itu! Usai berkata demikian, Mata Malaikat melangkah meninggalkan tempat itu. Langkah kakinya tampak lebar-lebar, saking semangatnya untuk buru-buru mewujudkan impiannya selama ini. Menjadi raja diraja! Bagai kerbau dicucuk hidungnya, rombongan besar yang ternyata anak buah Mata Malaikat bergerak mengikuti. Malam ini, mereka harus mencari tempat beristirahat. Paling tidak untuk menyimpan tenaga, guna dipakai menghadapi pertarungan esok pagi.
Sesuai kodratnya, pagi ini sang Surya kembali muncul di ufuk timur. Roda kehidupan kembali berputar. Dan orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Sama sekali tidak ada yang peduli kalau saat ini akan terjadi penjagalan manusia oleh orang yang tengah dimabuk nafsu. Dan memang, Mata Malaikat sudah tidak sabar lagi untuk dapat segera menduduki Istana Kerajaan Gambang. Anak buahnya seketika diberi aba-aba untuk bersiap melakukan penyerbuan berdarah.