Kemelut Di Majapahit -- Kho Ping Hoo
Baca Online Kemelut Di Majapahit -- Kho Ping Hoo
Cersil Kemelut Di Majapahit -- Kho Ping Hoo
Sinopsis & Cuplikan Kisah Klasik Kemelut Di Majapahit
Berikut ini adalah cuplikan kisah legendaris yang penuh intrik, pengorbanan, dan dendam membara dari karya maestro Asmaraman S. Kho Ping Hoo yang menceritakan duka mendalam keluarga mendiang perwira Lembu Tirta:
"Ibunda, haruskah kita meninggalkan semua ini dan pergi melarikan diri? Apakah tidak ada jalan lain, ibu...?"
Dara yang sedang remaja itu dengan suara nelangsa berkali-kali bertanya kepada ibunda.
"Ibu, kenapa kita tiba-tiba menjadi penakut-penakut seperti ini? Kalau ada bahaya mengancam, apakah kita tidak mendapat perlindungan dari Gusti Adipati Ronggo Lawe yang terkenal bijaksana itu?"
Adik dara itu, seorang anak laki-laki yang usianya kurang lebih sepuluh tahun, bertanya dengan dada dibusungkan. "Dan tidakkah kita seharusnya membela diri dengan gagah perkasa seperti mendiang ayah?"
Ibu mereka yang sedang mengajak kedua orang anaknya itu berkemas, menarik napas panjang, lalu memberi isyarat kepada dua orang anaknya untuk mengikutinya masuk ke dalam bilik, di mana dia lalu duduk di atas pembaringan dan dua orang anaknya itu berlutut di atas lantai depan ibu mereka yang kelihatan gelisah dan bersungguh-sungguh sehingga mereka berdua ikut menjadi khawatir.
Ibu itu berusia kurang dari empat puluh tahun, masih cantik sekali biar pun pakaiannya sederhana saja. Kulitnya kuning langsat dan wajahnya masih kelihatan segar dan belum ada keriput merusak kulit mukanya. Dia kelihatan gelisah dan pandang matanya seperti mata seekor kelinci ketakutan, sering kali memandang ke arah pintu kamar itu seolah-olah setiap saat akan muncul mara bahaya dari pintu itu.
Janda Galuhsari merasa dadanya seperti ditusuk. Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, akan tetapi dia khawatir sekali kalau-kalau malapetaka menimpa kedua orang anaknya. Lestari, dara remaja itu, memandang kepada ibunya dengan wajah agak pucat. Pekerjaan berkemas tadi, yang dilakukan dengan pengerahan sedikit tenaga, membuat rambutnya yang ikal mayang agak kusut dan beberapa ikal rambut di dahi berjuntai dan melingkar ke bawah, juga di depan kedua pelipisnya.
Sepasang matanya jeli bersinar-sinar seperti bintang senja, dihias bulu mata yang panjang lentik dan lebat sehingga membentuk garis menghitam di sekeliling matanya, dilindungi oleh sepasang alis yang kecil panjang hitam melengkung seperti dilukis. Hidungnya kecil mancung, cuping hidungnya tipis dan mudah tergetar, serasi sekali dengan sebuah mulut yang memiliki daya tarik paling kuat. Mulut yang manis dan indah, dengan bibir yang penuh dan tipis, merah basah seperti buah tomat matang yang membuat orang ingin sekali menggigitnya.
Sutejo, adiknya yang baru berusia sepuluh tahun, telah membayangkan sikap gagah seorang kesatria. Tarikan dagunya yang meruncing, mulut yang tidak cengeng, sepasang mata yang bersinar-sinar penuh keberanian, serupa benar dengan mendiang ayahnya, seorang perwira yang digdaya dan perkasa, Lembu Tirta yang terkenal sebagai seorang di antara benteng-benteng Mojopait, yang membantu perjuangan Raden Wijaya yang kini telah menjadi Raja Mojopait pertama bergelar Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana.
Anak laki-laki ini baru berusia tiga tahun ketika ayahnya gugur di medan perang, akan tetapi karena seringnya dia mendengar penuturan ibunya tentang kegagahan ayahnya itu sehingga kini melihat ibunya ketakutan dan hendak melarikan diri, dia merasa penasaran sekali.
Sambil membelai rambut puterinya dan merangkul leher puteranya, janda Galuhsari berkata lirih. "Tari, tidak perlu engkau menyayangkan semua harta milik kita yang tidak berapa banyak ini. Apakah artinya harta kalau jiwa raga kita terancam bahaya? Yang terpenting adalah menyelamatkan jiwa raga yang sekali hilang tak dapat kita cari lagi, sebaliknya, harta benda dapat dicari setiap saat, anakku. Dan kau, Tejo, jangan salah mengerti. Kita bukanlah penakut, ibumu tidak sudi mencemarkan nama besar ayahmu dengan menjadi penakut. Juga kita boleh percaya akan kebijaksanaan dan keadilan Sang Adipati Tronggo Lawe. Akan tetapi... bahaya yang mengancam kita kiranya tidak akan dapat ditolong oleh sang adipati."
Janda yang masih nampak muda dan cantik itu kembali memandang ke pintu dengan gelisah. "Kita harus melarikan diri malam nanti, tidak boleh ditunda-tunda lagi..."
Untuk melengkapi petualangan Anda membaca kisah silat legendaris lainnya, Anda juga dapat membaca seri menarik lainnya melalui tautan Dewa Arak 37 Rahasia Syair Leluhur yang menyajikan kisah penuh misteri persilatan yang sangat seru.
Daftar Episode Lengkap Kemelut Di Majapahit
Silakan klik tautan di bawah ini untuk membaca setiap episode secara berurutan langsung dari grup resmi kami:
- Grup Komunitas Baca Online Kemelut Di Majapahit
- Kemelut Di Majapahit - Episode 1
- Kemelut Di Majapahit - Episode 2
- Kemelut Di Majapahit - Episode 3
- Kemelut Di Majapahit - Episode 4
- Kemelut Di Majapahit - Episode 5
- Kemelut Di Majapahit - Episode 6
- Kemelut Di Majapahit - Episode 7
- Kemelut Di Majapahit - Episode 8
- Kemelut Di Majapahit - Episode 9
- Kemelut Di Majapahit - Episode 10
- Kemelut Di Majapahit - Episode 11
- Kemelut Di Majapahit - Episode 12
- Kemelut Di Majapahit - Episode 13
- Kemelut Di Majapahit - Episode 14
- Kemelut Di Majapahit - Episode 15
- Kemelut Di Majapahit - Episode 16
- Kemelut Di Majapahit - Episode 17
- Kemelut Di Majapahit - Episode 18
- Kemelut Di Majapahit - Episode 19
- Kemelut Di Majapahit - Episode 20
- Kemelut Di Majapahit - Episode 21
- Kemelut Di Majapahit - Episode 22
- Kemelut Di Majapahit - Episode 23
- Kemelut Di Majapahit - Episode 24
- Kemelut Di Majapahit - Episode 25
- Kemelut Di Majapahit - Episode 26
- Kemelut Di Majapahit - Episode 27
- Kemelut Di Majapahit - Episode 28
- Kemelut Di Majapahit - Episode 29
- Kemelut Di Majapahit - Episode 30
- Kemelut Di Majapahit - Episode 31
- Kemelut Di Majapahit - Episode 32
- Kemelut Di Majapahit - Episode 33
- Kemelut Di Majapahit - Episode 34
- Kemelut Di Majapahit - Episode 35