Dewa Arak 37 Rahasia Syair Leluhur
Cersil Dewa Arak 37 Rahasia Syair Leluhur
Baca Online Dewa Arak 37 Rahasia Syair Leluhur
Sinopsis & Cuplikan Kisah
Bulan bersinar penuh tampak indah di langit. Bentuknya bagai sebuah piring tembaga, yang bersinar keperakan. Bintang-bintang pun bertaburan menghias angkasa. Nyanyian binatang-binatang malam semakin menambah semaraknya suasana malam. Persada tampak terang dan meriah, layak untuk dinikmati.
Namun itu tidak berlangsung lama. Suara lecutan cambuk, derap kaki kuda, dan gemeretak roda kereta telah mengganggu malam yang begitu indah ini. Sesaat kemudian, muncullah sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda. Beberapa ekor kuda yang masing-masing ditunggangi laki-laki bersikap gagah, tampak mengiringinya. Jumlah laki-laki berwajah gagah itu ada dua belas orang. Enam di depan, empat di belakang, dan masing-masing satu orang di kanan kiri kereta. Semuanya menunggangi kuda-kuda pilihan.
"Kau yakin kita telah jauh meninggalkan bahaya, Kakang Subali?" Tanya salah seorang dari enam penunggang kuda terdepan. Orang itu adalah seorang laki-laki tinggi kurus bermata sipit. Gagang pedangnya tampak menyembul dari balik punggung. Menilik dari pakaiannya yang terlihat mewah, bisa diketahui kalau laki-laki tinggi kurus itu orang kecukupan.
Penunggang kuda yang dipanggil Subali menoleh. Sepasang matanya menatap wajah laki-laki tinggi kurus yang mengenakan pakaian kuning. Subali ternyata seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Tubuhnya terlihat gagah bukan kepalang. Apalagi dengan adanya cambang bauk lebat yang menghias wajahnya. Seperti laki-laki bermata sipit, pakaian yang dikenakannya juga tampak indah. Hanya saja warnanya kuning keemasan. Jadi terlihat lebih indah daripada pakaian yang dikenakan laki-laki tinggi kurus.
"Hhh....!" Subali menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaan laki-laki tinggi kurus itu. Langkah kudanya juga tidak dihentikan, namun tidak tergesa-gesa seperti sebelumnya. "Kurasa untuk sementara kita aman, Adi Sagala. Kita telah cukup jauh dari kadipaten. Keparat-keparat itu tidak mungkin bisa cepat mengejar kita. Aku yakin, mereka tengah berpesta pora menikmati kemenangan!" Ada nada kegeraman pada kalimat-kalimat terakhir yang diucapkan Subali. Jelas, laki-laki tinggi besar ini tengah murka.
Laki-laki berpakaian kuning yang ternyata bernama Sagala itu mengangguk-anggukkan kepala, pertanda menyetujui ucapan yang dikeluarkan Subali. "Tak pernah terbayangkan di benakku kalau jabatan adipati akan lepas darimu, Kang," keluh Sagala.
Subali yang ternyata seorang adipati ini menghela napas berat. "Bukan hanya kau saja yang merasa tak percaya, Sagala. Aku pun masih merasa kalau kejadian yang menimpaku ini seperti sebuah mimpi buruk! Aku masih belum percaya kalau Kadipaten Blambang telah lepas dari tanganku!"
Untuk mengikuti koleksi kisah persilatan seru lainnya, Anda juga dapat membaca seri terdahulu yang tidak kalah menegangkan di sini: Baca Cerita Silat Dewa Arak 30 Dalam Cengkeraman Biang secara online.
Tautan Resmi dan Episode Lengkap
Bergabunglah dengan komunitas pembaca dan dapatkan pembaruan interaktif melalui Facebook Group Komunitas Dewa Arak.
Berikut adalah daftar tautan resmi per episode untuk membaca kisah lengkap Rahasia Syair Leluhur langsung melalui platform media sosial: