Dewa Arak 43 Garuda Mata Satu
Cersil Dewa Arak 43 Garuda Mata Satu
Baca Online Dewa Arak 43 Garuda Mata Satu
Daftar Isi & Tautan Navigasi:
- Episode 1: Garuda Mata Satu
- Episode 2: Garuda Mata Satu
- Episode 3: Garuda Mata Satu
- Episode 4: Garuda Mata Satu
Kredit E-book & Atribusi:
- Pembuat E-book (Scan ke DJVU): Abu Keisel
- Konversi & Penyuntingan: Paulustjing
- Digitalisasi Ebook oleh: Dewi KZ
- Sumber Konten & Koleksi: Tiraikasih Co / Dewi-KZ Archive
Cuplikan Novel: Episode Garuda Mata Satu
Senja mulai turun ke bumi.
Semburat kemerahan tampak di kaki langit sebelah barat.
Indah!
Itulah kesan yang timbul di benak orang yang menikmatinya.
Tapi keindahan senja hari itu sama sekali tidak menarik perhatian empat orang laki-laki di atas punggung kuda.
Tanpa mempedulikan sekitarnya, mereka terus saja menggebah kudanya.
Derap kaki kuda yang bertubi-tubi menghantam tanah, serta debu yang mengepul tinggi, menjadi pertanda kalau kuda itu begitu cepat berlari.
"Hiya...! Hiyaaa...!"
Empat penunggang kuda yang semuanya berpakaian coklat dan bertubuh kekar itu berteriak-teriak keras, agar binatang tunggangannya lebih cepat berlari.
Bahkan pecut di tangan kanan mereka pun ikut berperan dalam mempercepat lari kuda.
Ctarrr!
Suara lecutan terdengar cukup nyaring ketika pecut-pecut itu menjilat bagian belakang tubuh kuda masing-masing.
Maka, mau tak mau binatang-binatang tunggangan itu semakin cepat berlari.
"Kau yakin dia berada di sana, Kang Wasila?"
Sambil tetap menggeprakkan tali kekang agar kudanya berlari lebih cepat, laki-laki yang bertubuh pendek kekar membuka percakapan.
Penunggang kuda terdepan yang satu-satunya mengenakan ikat kepala berwarna merah, menoleh ke belakang.
Dialah yang bernama Wasila.
"Aku yakin dia berada di sana, Dulang,"
Jawab Wasila.
Usai berkata demikian, Wasila yang merupakan pemimpin dari ketiga orang yang berada di belakangnya, kembali mengalihkan pandang ke arah semula.
Sementara laki-laki yang bernama Dulang mengernyitkan alis sebentar.
Kemudian diliriknya dua rekan yang berkuda di sebelahnya.
Pada saat yang sama, dua orang itu juga tengah melirik ke arahnya.
Nama masing-masing kedua orang itu adalah Paksi dan Gora.
"Mengapa kau demikian yakin, Kang?"
Tanya penunggang kuda yang memiliki sebuah tahi lalat besar di pipi sebelah kiri.
Dialah yang bernama Paksi.
Tentu saja seperti juga Dulang and Wasila, dia pun harus mengeraskan suara.
Derap suara kaki kuda yang riuh dan bergemuruh, menyebabkan suaranya tertelan begitu saja.
Tidak usah ditanyakan sekarang nanti pun kalian akan tahu. Sekarang, yang penting kita harus segera tiba di sana! Aku tidak ingin Garuda Mata Satu lebih dulu kabur!
Sentak Wasila.
Seketika Dulang dan dua rekannya menghentikan ucapan, begitu sadar kalau Wasila tidak menginginkan percakapan dilanjutkan.
Maka, kini keempat orang itu pun melanjutkan perjalanan tanpa bercakap-cakap lagi.
Yang terdengar sekarang, hanyalah suara kaki-kaki kuda membentur tanah.
Rupanya, kata-kata Wasila dibuktikan by tindakannya.
Kudanya segera dipacu bagaikan orang kesetanan.
Hentakan tali kekang dan hantaman pecutnya semakin sering dilakukan, untuk segera tiba di tempat tujuan.
Hal yang sama pun dilakukan Dulang, Paksi, dan Gora.
Yang lebih gila lagi, empat orang berpakaian coklat itu sama sekali tidak memperlambat lari kudanya ketika memasuki mulut Desa Wetan.
Kuda-kuda itu terus saja dipacu cepat melintasi jalan utama desa.
Tentu saja tindakan mereka membuat para penduduk Desa Wetan yang sebagian besar tengah beristirahat di dalam rumah, menjadi heran.
Tak sedikit di antara mereka yang bergegas keluar rumah dengan senjata tersandang di tangan.
Tapi, mereka segera kembali masuk ke dalam rumah sambil menggerutu, karena empat orang penunggang kuda itu sudah amat jauh.
Yang tertinggal dan terlihat hanyalah kepulan debu di udara.
Sementara itu, Wasila dan tiga orang anak buahnya terus saja memacu cepat kudanya tanpa mempedulikan suasana sekelilingnya.
Diacuhkan saja rumah-rumah penduduk yang dilewati.
Tak dihiraukan lagi kalau pemukiman-pemukiman penduduk yang semakin lama semakin jarang.
Bahkan sampai akhirnya tidak ada sama sekali.
"Itu tempat yang kita cari,"
Tunjuk Wasila with tangan kiri sambil terus memacu kudanya.
Dulang, Paksi, and Gora mengikuti arah tangan Wasila.
Dan mereka juga melihat sebuah pondok sederhana yang bertengger di sebuah tanah lapang luas.
Jarak pondok itu dengan mereka, tak kurang dari dua puluh tombak.
"Percepat lari kuda kalian!"
Perintah Wasila.
Rupanya, melihat sasaran yang dicari-cari telah berada di depan mata, semangat Wasila kembali berkobar.
Dengan segala daya, Wasila dan ketiga anak buahnya berusaha keras mempercepat lari kuda.
Mereka berusaha secepat mungkin untuk tiba di pondok yang dituju.
Dalam waktu sebentar saja, Wasila dan tiga anak buahnya telah berada di depan pondok.
Segera saja mereka menarik tali kekang, sehingga kuda-kuda itu berhenti berlari cepat mendadak disertai ringkikan nyaring sambil mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi.
Kelihatannya, Wasila dan tiga anak buahnya sudah tak sabar lagi untuk segera bertemu Garuda Mata Satu.
Buktinya, sebelum kuda-kuda itu menurunkan kaki depannya kembali, mereka sudah berlompatan turun.
Jliggg!
Berturut-turut Wasila dan tiga anak buahnya mendarat di tanah dengan gerakan yang rata-rata gesit.
Dari sini bisa dilihat kalau mereka memiliki ilmu silat lumayan.
Srat, srat, srattt!
Sinar-sinar terang tampak mencuat, begitu Wasila dan anak buahnya menghunus golok yang terselip di pinggang.
"Garda! Keluar kau...!"
Teriak Wasila sambil menatap penuh waspada pada daun pintu pondok yang tertutup rapat.
Sementara, Dulang, Paksi, dan Gora berdiri di kanan dan kirinya.
Mata mereka tampak beredar berkeliling, dengan sikap waspada.
Kuperingatkan sekali lagi, Garda! Keluar kau! Atau..., aku akan masuk dengan kekerasan! Kuberikan kesempatan sampai tiga hitungan, Garda!
Wasila mengeluarkan ancaman setelah menunggu beberapa saat lamanya tidak ada tanggapan atas seruannya tadi.
"Satu...!"
Wasila memulai dengan hitungan pertama.
Sepasang matanya menatap tajam ke pintu pondok.
Sedangkan Dulang, Paksi, dan Gora semakin memperhatikan suasana sekelilingnya.
"Dua...!"
Teriak Wasila sambil menambah keras nada suaranya.
Kriiit...!
Sebelum laki-laki berikat kepala coklat itu mengucapkan hitungan terakhir, daun pintu itu tampak terkuak.
Seketika itu pula, Wasila dan tiga orang kawannya mundur beberapa tindak.
Tangan mereka yang memegang senjata tampak bergetar, pertanda telah dialiri tenaga dalam!
Sedangkan sepasang mata mereka menatap penuh selidik ke arah pintu.
"Siapa kau?! Mana Garuda Mata Satu?! Cepat suruh keluar! Atau..., rumah ini kuhancurkan!"
Geram Wasila penuh ancaman.
Raut wajah Wasila and anak buahnya yang semula menegang, kini mengendur.
Ternyata setelah daun pintu terbuka, yang muncul bukan Garuda Mata Satu, orang yang tengah dicari-cari.
Maaf. Kurasa Kisanak semua keliru. Di sini tidak ada orang yang bernama Garuda Mata Satu. Yang ada hanya aku, Kartugi,
Kata orang yang baru saja membuka pintu.
Dia mengaku bernama Kartugi, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun.
Tubuhnya tegap terbungkus pakaian berwarna abu-abu.
Keparat! Kau berani membohongi kami, Kartugi?! Apakah kau sudah bosan hidup, heh?! Dulang, Paksi, Gora! Paksa tua bangka ini bicara!
Perintah Wasila pada anak buahnya.
Tanpa diberi perintah dua kali Dulang, Paksi, dan Gora menghampiri Kartugi dengan sikap mengancam dan sangat memandang rendah.
Ini bisa dilihat dari senyum mengejek yang tersungging di bibir dan golok di tangan yang diamang-amangkan.
*** "Ini peringatan terakhir, Tua Bangka!
Katakan, di mana Garuda Mata Satu!"
Desak Dulang, penuh ancaman.
Apa lagi yang harus kukatakan padamu, Kisanak? Bukankah tadi aku sudah mengatakannya? Disini tidak ada orang yang bernama Garuda Mata Satu. Hanya aku, Kartugi yang berada di sini,
Jawab Kartugi kalem.
"Keparat! Rupanya kau tidak mau diajak bicara baik-baik, Tua Bangka! Mampuslah! Hih...!"
Seiring keluarnya ucapan itu, Dulang melompat menerjang Kartugi.
Dan selagi tubuhnya tengah berada di udara, goloknya cepat ditusukkan ke arah perut Kartugi.
Wuttt!
Serangan Dulang mengenai tempat kosong, begitu Kartugi menarik kaki kanannya ke belakang sambil mendoyongkan tubuh.
Tindakan Kartugi tidak hanya sampai di situ saja.
Begitu serangan Dulang berhasil dielakkan, tangan kirinya langsung dikibaskan.
Prattt!
"Akh...!"
Dulang kontan memekik ketika tangan Kartugi menghantam telak tangan kanannya, sehingga menimbulkan rasa sakit yang bukan kepalang.
Seakan-akan tulang-belulangnya menjadi luluh lantak.
Hantaman laki-laki berpakaian abu-abu itu memang keras bukan kepalang.
Bahkan golok Dulang pun sampai terlempar dibuatnya.
Tapi sebelum Kartugi melancarkan serangan susulan kembali, Gora dan Paksi telah lebih dulu menyerangnya.
Gora melancarkan bacokan ke arah leher, sedangkan Paksi mengirimkan babatan ke arah pinggang kiri.
Dua buah serangan yang sama-sama membawa hawa maut!
Wut, wuttt!
Kembali serangan anak buah Wasila berhasil dimentahkan Kartugi.
Laki-laki berpakaian abu-abu ini cepat melompat mundur, sehingga semua serangan meluncur lewat di hadapannya.