Rabu, 15 Juli 2026

Dewa Arak 53 Penjarah Perawan

Dewa Arak 53 Penjarah Perawan

Cersil Dewa Arak 53 Penjarah Perawan

"Benarkah... penjahat terkutuk itu memiliki ilmu menghilang, Kang?"

Sebuah suara lembut menguak keheningan malam yang sudah mendekati dini hari. Sosok berpakaian ungu yang diajukan pertanyaan tidak segera menjawab. Kakinya terus saja dilangkahkan. Saat itu dia dan temannya, seorang wanita muda berpakaian putih, tengah menyusuri jalan tanah di luar sebuah desa. Tampaknya mereka tidak sedang tergesa-gesa.

"Entahlah, Melati. Aku tidak bisa memastikan. Tapi kalau menurut pendapatku, tidak," jawab pemuda berpakaian ungu yang berambut putih keperakan seraya menoleh.

Gadis berpakaian putih yang ternyata Melati tidak memberi tanggapan. Pandangannya diarahkan ke tanah, seperti tengah menghitung langkahnya. Sekarang dapat diduga siapa sepasang muda-mudi itu. Ya! Mereka adalah Arya Buana yang berjuluk Dewa Arak, dan Melati. Di bahu kanan Melati terpanggul tubuh seorang wanita berpakaian biru. Wanita itu adalah Trijati.

"Kalau tidak menghilang, bagaimana mungkin dia bisa lenyap begitu saja, Kang?!" Tanya Melati setelah beberapa saat tercenung.

"Aku sendiri belum bisa menduganya, Melati," Arya mengangkat bahu.

"Hhh...! Kalau nanti bertemu lagi, tak akan kubiarkan dia lolos!"

"Benar, Kang! Makhluk keji seperti dia sudah sepantasnya dilenyapkan dari muka bumi!" Sambung Melati geram.

Arya diam. Pemuda itu tidak menanggapi ucapan kekasihnya. Dan karena Melati tidak melanjutkan ucapannya, suasana pun jadi hening. Yang terdengar hanya suara serangga malam. Sepasang muda-mudi itu mengayunkan langkah tanpa berkata-kata.

***

Mendadak... "Kakang...! Lihat...!" Seru Melati menudingkan jari telunjuknya ke depan.

Arya mengangguk-anggukkan kepala. Sebenarnya tanpa diberitahu pun dia telah melihatnya. Yang ditunjukkan kekasihnya adalah serombongan orang yang tengah bergerak menuju ke arah mereka berdua. Sekali lihat, Arya dan Melati dapat menduga jumlah rombongan itu tak kurang dari dua puluh orang. Beberapa di antara mereka membawa obor.

"Apakah mereka orang-orang yang melakukan pengejaran terhadap penjahat keji itu, Kang?!" Tanya Melati meminta kepastian.

"Kurasa demikian, Melati," Jawab Arya. "Bukankah berkat petunjuk mereka kita dapat menemukan penjahat keji itu?!"

"Aku agak ragu, Kang. Tadi jumlah mereka tidak sebanyak itu. Bahkan tidak ada yang membawa obor," Bantah Melati.

"Barangkali tadi kejadiannya belum diketahui banyak orang," Jelas Arya.

Melati mengangguk-angguk. Rupanya gadis itu menerima penjelasan kekasihnya. Tidak ada lagi pertanyaan yang diajukan. Maka dengan berdiam diri, Arya dan Melati melanjutkan perjalanan.

***

Pasangan pendekar muda itu menempuh arah yang tengah ditinggalkan rombongan di depan. Sedangkan rombongan itu menempuh arah sebaliknya. Tampaknya mereka saling mendekati. Kedua kelompok itu akhirnya bertemu di tengah perjalanan.

"Maaf, benarkah wanita ini yang dibawa kabur penjahat itu, Ki?" Dengan sopan Arya mengajukan pertanyaan pada salah seorang di antara dua kakek yang berada di baris terdepan dalam rombongan yang cukup besar itu.

Pandangan anggota rombongan itu serentak mengarah pada Arya. Untung Melati cepat tanggap. Gadis itu menurunkan tubuh Trijati dari panggulannya. Maka orang-orang itu pun mengarahkan pandangannya pada Trijati yang masih tak sadarkan diri.

"Benar," Jawab orang yang ditanya sambil menganggukkan kepala. Dia seorang kakek bertubuh tinggi besar dan terlihat angker karena kumis, jenggot, dan cambang bauknya yang lebat. Siapa lagi kalau bukan Jayeng Praja.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Anak Muda," Ujar kakek berkumis melintang yang berdiri di sebelah Jayeng Praja. Dia adalah Pendekar Tinju Maut.

"Lupakanlah, Ki," Jawab Dewa Arak bijaksana. "Merupakan kewajiban kita semua untuk tolong-menolong. Kebetulan aku lewat tempat ini dan mendengar penculikan mempelai wanita."

Jayeng Praja dan Pendekar Tinju Maut mengangguk-angguk membenarkan ucapan Arya. Kemudian keduanya saling bertukar pandang. Hanya sebentar saja. Tapi sudah cukup untuk mengetahui perasaan masing-masing. Ternyata perasaan yang bergayut di hati mereka sama. Keduanya heran melihat Arya dan Melati berhasil membawa pulang Trijati. Sebab Jayeng Praja maupun Pendekar Tinju Maut tahu Sangkala tidak akan mungkin merelakan Trijati dibawa begitu saja oleh pasangan muda-mudi itu. Arya dan Melati pasti membawa Trijati dengan kekerasan!

Mungkinkah itu? Pertanyaan itu bergayut di benak Jayeng Praja dan Pendekar Tinju Maut. Kalau benar, berarti Arya dan Melati telah berhasil mengalahkan Sangkala! Rasanya mustahil! Kedua kawan Ki Ageng Sora tidak percaya pasangan muda itu mampu mengalahkan Sangkala. Mereka saja, ditambah murid-murid Perguruan Banteng Putih, tidak mampu menghalangi kepergian Sangkala. Mungkinkah Arya dan Melati mampu?

***

"Maaf, Ki. Kurasa sudah saatnya kami mohon diri. Perjalanan yang akan kami tempuh masih jauh," Ucap Arya ketika telah menyerahkan Trijati pada Jayeng Praja.

"Ah! Mengapa terburu-buru, Anak Muda," Ujar Ki Rawung. "Kalian berdua baru saja tiba. Tentu masih lelah. Apakah tidak sebaiknya tinggal dulu di desa kami untuk beberapa hari?"

"Benar, Anak Muda," Sambung Jayeng Praja. "Rasanya tidak pantas menerima pertolongan tanpa memberikan balasan."

"Maaf, Ki. Kami memberikan pertolongan dengan ikhlas. Tidak terbersit sedikit pun keinginan untuk mendapat balasan," Jelas Arya sopan tapi tegas.

"Kami pun tidak menganggap kau memberikan pertolongan dengan pamrih, Anak Muda," Lanjut Jayeng Praja cepat karena menyadari kesalahan ucapnya. "Tapi..., maksud kami begini, Anak Muda. Hm.... Rasanya tidak pantas Jika kami tidak mengenalmu, orang yang telah memberikan pertolongan pada kami. Aku, Jayeng Praja."

"Aku Loka Arya," Sambung Pendekar Tinju Maut.

"Dan aku, Rawung, Kepala Desa Kawung," Sambut Ki Rawung.

"Namaku Arya dan kawanku ini, Melati," Balas Arya memperkenalkan diri.

"Arya...." Hampir bersamaan Jayeng Praja dan Pendekar Tinju Maut menggumamkan nama itu seraya berpandangan satu sama lain. Dahi keduanya berkerut dalam seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. Dan rupanya Pendekar Tinju Maut berhasil mengingatnya.

"Arya...?! Rasanya aku pernah mendengar nama itu.... Kalau tidak salah Arya Buana...," Pendekar Tinju Maut menggantung ucapannya.

"Memang itulah namaku selengkapnya, Ki," Terpaksa Arya mengakuinya.

"Ah...! Jadi..., sekarang kami berhadapan dengan seorang pendekar muda yang julukannya telah membuat persada ini gempar...!" Ujar Jayeng Praja dan Pendekar Tinju Maut bersamaan. "Bukankah kau Dewa Arak...?!"

Seketika itu pula wajah Arya merah padam karena malu dan tidak enak.

"Rasanya berita itu terlalu berlebihan, Ki. Dan...."

"Berlebihan atau tidak yang penting sekarang kau harus tinggal di desa ini dulu, Dewa Arak," Potong Pendekar Tinju Maut yang memang mempunyai watak sangat terbuka. "Banyak hal yang ingin kami perbincangkan denganmu. Kami yakin kau akan berminat mendengarkannya. Sebab ini ada hubungannya dengan tugasmu sebagai seorang pendekar! Bagaimana? Kau setuju?!"

Dewa Arak tidak segera memberi tanggapan. Pemuda itu tercenung sebentar mempertimbangkannya. Tapi sesaat kemudian kepalanya dianggukkan. Wajah Pendekar Tinju Maut, Jayeng Praja, dan Ki Rawung berseri-seri melihat persetujuan pemuda berambut putih keperakan itu.

"Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas kesediaanmu memenuhi ajakan kami, Dewa Arak," ujar Jayeng Praja gembira.

"Lupakanlah, Ki."

"Kalau demikian, mari ikut kami, Dewa Arak," Lanjut Jayeng Praja.

Sesaat kemudian rombongan dari Desa Kawung bergerak ke arah semula. Kali ini jumlah mereka lebih banyak dari sebelumnya. Rombongan itu bertambah dua orang, Arya dan Melati.

Disqus Comments