Kamis, 16 Juli 2026

Dewa Arak 62 Perempuan Pembawa Maut

Dewa Arak 62 Perempuan Pembawa Maut

Cersil Dewa Arak 62 Perempuan Pembawa Maut

Baca Online Dewa Arak 62 Perempuan Pembawa Maut

Sinopsis & Baca Online Episode 1: Perempuan Pembawa Maut

Suara senandung gembira keluar dari mulut seorang kakek bertubuh tinggi kurus, dan berpakaian longgar berwarna putih. Kakek ini tengah duduk di pinggir sungai. Sebatang joran tergenggam di tangan kanannya. Mendadak kakek tinggi kurus itu menarik jorannya. Tampak seekor ikan berkelojotan. Sebetulnya, joran milik kakek ini tidak layak disebut joran karena tanpa tali, pelampung bahkan mata kail. Hanya sebatang kayu yang dibuat mirip joran.

Sambil bersiul-siul, kakek tinggi kurus itu meraih ikan yang menggeliat di ujung joran, Lalu dimasukkannya ke dalam keranjang kecil yang telah berisi ikan hasil tangkapannya. Ketika dia bermaksud memasukkan jorannya ke dalam air, mendadak gerakan tangannya dihentikan, lalu ditolehkan kepalanya ke belakang.

"Sumini...," desah kakek tinggi kurus itu dengan tarikan wajah menyiratkan kecemasan. Belum juga gema ucapannya lenyap, kakek itu sudah bangkit secara cepat. Joran dan keranjang berisi ikan tangkapannya tidak dipedulikan lagi. Kemudian dengan sekali lesatan, dia telah berada dalam jarak belasan tombak dari tepi sungai.

Dengan kecepatan yang tidak mengendur, kakek tinggi kurus itu melesat. Tubuhnya yang terbalut pakaian putih sekejap saja telah lenyap. Kini yang tampak hanya kelebatan bayangan putih melesat menuju sebuah bangunan yang berada tak jauh dari sungai tempatnya memancing. "Sumini...," Untuk yang kedua kalinya si Kakek tinggi kurus menyebutkan nama itu. Namun kali ini dengan sorot mata menyiratkan keterkejutan.

Beberapa tombak di hadapan kakek tinggi kurus itu tampak empat sosok yang tengah menuju ke arahnya. "Kakek...!" Salah seorang dari keempat sosok, berseru memanggil si Kakek tinggi kurus. Dia seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun. Wajahnya cantik. Tubuhnya yang ramping terbalut pakaian kuning. "Sumini...!" Kakek tinggi kurus berseru penuh kecemasan seraya melangkah maju.

Namun langkahnya langsung terhenti karena salah satu dari tiga orang yang berada bersama Sumini segera menariknya ke belakang, dan dua sosok lagi melangkah ke depan. Ketiganya menunjukkan sikap bermusuhan, bahkan siap bertarung. "Selangkah lagi kau maju, gadis ini akan kehilangan nyawanya, Jaya Katwang!" ancam lelaki berkepala botak dan beralis tebal. Dadanya yang terbuka memperlihatkan bulu tebal dan hitam.

"Siapa kalian? Dan apa maksud kalian dengan semua ini?" Kakek tinggi kurus yang bernama Jaya Katwang tidak berani bergeming dari tempatnya karena menyadari kesungguhan ancaman itu. Matanya dengan tajam merayapi tiga lelaki berwajah kasar itu satu persatu, terutama sekali kepada lelaki berkepala botak dan rekannya yang bertubuh pendek kekar. Karena kedua orang inilah yang berdiri paling depan.

"He he he...!" Lelaki pendek kekar yang mengenakan rompi merah tertawa terkekeh. "Tindakanmu memang bijaksana, Jaya Katwang. Kau langsung berbicara pada pokok persoalan. Maka kami pun tidak mau berpanjang kata lagi. Cepat, serahkan pusaka peninggalan Raja Pedang Langit Bumi, kalau ingin gadis ini selamat!" Wajah Jaya Katwang langsung berubah hebat. Apakah aku tidak salah dengar? Mengapa kalian meminta padaku? Apa hubungannya aku dengan Raja Pedang Langit Bumi?

Brettt! "Awww...!" Sumini memekik ketakutan ketika lelaki bermuka hitam yang menyanderanya, merenggut pakaiannya sehingga sobek! Dua buah bukit kembar pun mencuat menantang. Indah dan menggiurkan. "Kau lihat, Jaya Katwang?!" Tanya lelaki berkepala botak, tenang tapi penuh ancaman. "Kami tidak hanya bergurau! Apabila tak kau serahkan pusaka-pusaka itu, gadis ini akan ditelanjangi oleh kawanku dan diperkosanya sampai mati di depanmu!"

Jaya Katwang tidak langsung memberikan tanggapan. Ditatapnya Sumini dan tiga lelaki kasar itu sesaat dengan sorot mata menyiratkan kebingungan yang tidak dapat disembunyikan. "Hhh.... Baiklah," Ujar Jaya Katwang setelah menghembuskan napas berat. Disadari tidak ada lagi pilihan lain baginya. "Aku akan memberikan pusaka itu pada kalian. Tapi, harap bebaskan gadis itu dulu."

"Kau bersumpah tak akan mengingkari janjimu, Jaya Katwang?" Ujar lelaki pendek kekar, tidak percaya. "Aku bersumpah demi arwah leluhurku, dan majikanku yang mulia, Raja Pedang Langit Bumi!" Tandas Jaya Katwang mantap. Wajah ketiga lelaki kasar langsung berseri. Mereka tahu Jaya Katwang tidak akan berani mengingkari janjinya. Maka tanpa ragu-ragu, lelaki berwajah hitam segera membebaskan totokannya pada Sumini dan mendorong tubuh gadis itu.

Jaya Katwang bergegas melangkah maju dan menangkap tubuh Sumini Namun, gadis berpakaian kuning itu langsung melepaskan diri. Dan setelah merapikan pakaiannya sebentar, dipukulkan tinju kanannya ke perut lelaki berkepala botak yang kebetulan berada paling dekat dengannya. Blegkh! "Heh...?!" Tangan Sumini mengenai perut yang lunak seolah-olah tenaganya amblas ke dalam air. Dan sekali, lelaki berkepala botak itu mengibaskan tangan secara sembarangan, tubuh Sumini terhuyung-huyung ke belakang seperti dihempaskan angin badai!

Untung Jaya Katwang bertindak cepat menangkap tubuh Sumini yang meluncur ke arahnya. "Ha ha ha...!" Lelaki berkepala botak tertawa bergelak bernada meremehkan. "Itulah akibatnya bagi orang yang berani menyerang Kerbau Bertenaga Raksasa! Ha ha ha...! " Seketika wajah Jaya Katwang berubah. Pernah didengarnya julukan Kerbau Bertenaga Raksasa. Seorang tokoh penting golongan hitam yang dulu pernah dikalahkan Raja Pedang Langit Bumi!

Sumini tidak pernah mendengar julukan Kerbau Bertenaga Raksasa, maka dia tidak merasa kaget sama sekali. Meskipun demikian, dari serangan yang dilakukan tadi telah menyadarkannya kalau lelaki berkepala botak itu memiliki kepandaian yang tak bisa diremehkan. Dirinya jelas bukan apa-apanya jika dibandingkan tokoh ini. Maka, begitu berhasil ditangkap Jaya Katwang, dia langsung menyerang lelaki berompi merah.

"Sumini! Lihat baik-baik siapa aku! Engkau takut dan lemas, berlututlah!" Seru lelaki berompi merah ketika gedoran kedua tangan Sumini hampir mengenai dadanya. Akibatnya benar-benar seperti yang dikatakan. Sumini merasakan sekujur tubuhnya lemas. Tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya ambruk, dan berlutut di depan lelaki berompi merah.

Sebagai seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi, Jaya Katwang tahu kalau lelaki berompi merah itu pasti seorang yang ahli dalam ilmu sihir. Dia sadar kalau dalam ucapan itu terkandung kekuatan aneh yang mampu mempengaruhi orang yang dituju. Maka sebelum kejadian lebih buruk menimpa Sumini, dia langsung berkelebat dan berdiri di depan gadis itu, bersiap untuk memberikan perlindungan. "Aku telah berjanji untuk memberikan pusaka-pusaka yang kalian minta. Untuk apa kalian masih mencelakainya. Jangan kalian lakukan kalau tak ingin aku terpaksa menjilat ludahku sendiri!" Tandas Jaya Katwang, tegas.

"Ha ha ha...!" Kerbau Bertenaga Raksasa tertawa terbahak-bahak. "Jangan salah duga, Jaya Katwang! Kami tidak bermaksud mencelakai gadis ini. Dan kurasa kau pun mengetahuinya pula. Gadis itu sendiri yang telah menyerang kami. Kami tidak melakukan apa pun yang membahayakan nyawanya. Dan tentu saja akan dapat kami cabut dengan mudah kalau dikehendaki...." Jaya Katwang tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia pun tahu kalau Sumini yang melakukan penyerangan terlebih dahulu.

Sedangkan lelaki berkepala botak dan lelaki berompi merah yang diduganya sebagai Raja Sihir Berbaju Merah, hanya membela diri. Karena itu, tanpa banyak cakap ditariknya Sumini agar bangun. "Tidak ada gunanya melawan mereka, Sumini," Ujar Jaya Katwang dengan suara perlahan, memberi tahu Sumini. Sumini tidak memberikan jawaban sama sekali. Namun dari sikapnya yang hanya diam, jelas kalau gadis itu pun menyadari kebenaran ucapan Jaya Katwang. Hanya tarikan wajah dan sorot matanya yang menyiratkan kebencian. Rasa penasaran dan sakit hati masih bersarang di hatinya.

"Cepat berikan pusaka-pusaka itu, Jaya Katwang! Kami sudah tak sabar lagi menunggu. Jangan tunggu sampai kami kehilangan kesabaran!" Tandas lelaki berwajah hitam yang berjuluk Setan Ular Karang. Jaya Katwang menghela napas berat seraya menatap wajah Setan Ular Karang sesaat. "Kalau begitu, mari ikut aku!" Dengan sikap waspada dan agak bergegas tiga pentolan golongan hitam itu mengikuti Jaya Katwang dan Sumini yang melangkah lebih dulu.

Sesampainya di depan pintu sebuah bangunan sederhana tempat kediamannya, Jaya Katwang menghentikan langkah. "Kalian tunggu sebentar di sini! Karena tempat tinggal pusaka majikanku tidak boleh dimasuki orang lain kecuali keturunannya. Dan kalau kalian memaksa, biarlah aku bertindak bodoh dengan melawan kalian, setelah terlebih dulu kubunuh dia!" Ucap kakek tinggi kurus itu seraya meletakkan tangan kanannya di ubun-ubun Sumini.

Kerbau Bertenaga Raksasa, Setan Ular Karang, dan Raja Sihir Berbaju Merah saling pandang sejenak. Lalu, perlahan Kerbau Bertenaga Raksasa menganggukkan kepala, menyetujui. Rupanya, lelaki berkepala botak ini secara tidak langsung telah didaulat rekan-rekannya untuk menjadi juru bicara. "Kami tidak keberatan dengan usulmu itu, Jaya Katwang. Tapi, Sumini tidak boleh kau ajak serta! Ingat, kalau kau berani bertindak macam-macam gadis ini menerima akibatnya!" Tandas Kerbau Bertenaga Raksasa mengancam.

Tanpa memberikan tanggapan sedikit pun, Jaya Katwang melangkah masuk. "Kau tunggu di sini, Sumini!" Ujar Jaya Katwang sambil menoleh ke arah Sumini. Sebelum Sumini memberikan jawaban, Setan Ular Karang telah berdiri di sebelahnya, bersiap untuk mencegah gadis berpakaian kuning itu melarikan diri. Sumini tidak berani berkutik. Dia menyadari tiga tokoh golongan hitam itu tidak segan-segan melakukan tindakan mengerikan apabila berani melakukan sesuatu yang mencurigakan mereka.

Di halaman luar bangunan, suasana mendadak mencengkam. "Lepaskan gadis itu dulu, baru pusaka ini akan kuserahkan," seru Jaya Katwang begitu muncul di ambang pintu dengan sebuah buntalan kain lusuh berwarna kuning. Tanpa memberikan bantahan sedikit pun, Setan Ular Karang langsung mendorong tubuh Sumini. Gadis berpakaian kuning itu pun menghambur ke arah Jaya Katwang. "Terima ini...!" Sambil berkata demikian, Jaya Katwang melemparkan buntalan kuning yang dijinjingnya. Lalu tangannya digunakan untuk memeluk Sumini.

Mereka saling berlomba, Setan Ular Karang, Kerbau Bertenaga Raksasa, dan Raja Sihir Berbaju Merah mengulurkan tangan untuk menyambuti. Namun, karena Setan Ular Karang yang berada paling dekat dengan Jaya Katwang, dialah yang berhasil menangkapnya. Tapi.... "Setan Ular Karang berikan padaku!" Pada saat yang bersamaan dengan itu, Kerbau Bertenaga Raksasa mengirimkan serangan berupa sapuan kaki kanan ke arah sepasang kaki Setan Ular Karang. Namun rupanya tokoh sesat bermuka hitam itu telah menduga. Dia segera melompat ke atas, kemudian ujung kakinya menendang ke arah tenggorokan Kerbau Bertenaga Raksasa.

"Ukh...!" Lelaki botak bertelanjang dada itu terpekik kaget. Kemudian melompat ke belakang untuk menghindarkan serangan itu. Setan Ular Karang memang berhasil memaksa Kerbau Bertenaga Raksasa untuk mundur. Namun saat itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Raja Sihir Berbaju Merah untuk merampas buntalan kain kuning. Brettt! "Keparat!" Setan Ular Karang memaki penuh perasaan geram melihat buntalan yang berisi pusaka peninggalan Raja Pedang Langit Bumi berpindah tangan.

Namun, di saat tubuh Raja Sihir Berbaju Merah masih berada di udara, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan putih memapaki. Lelaki berompi merah ini langsung mengetahui adanya ancaman terhadap buntalan di tangannya. Dan karena dua rekannya masih belum mungkin melakukan hal itu, pelakunya pasti Jaya Katwang. Maka dipercepat cekalannya terhadap buntalan kain itu. Brettt! Kain yang telah rapuh itu langsung robek-robek tak mampu menahan tarikan dua tangan bertenaga dalam tinggi yang memperebutkannya. Isi yang ada di dalam buntalan itu pun berjatuhan ke tanah.

Untuk yang kedua kalinya perlombaan memperebutkan isi buntalan kain kuning itu terjadi. Setan Ular Karang dan Kerbau Bertenaga Raksasa yang berada dalam kedudukan lebih menguntungkan, langsung meluruk ke arah jatuhnya isi buntalan kain kuning. Kerbau Bertenaga Raksasa langsung melompat ke depan dan menggulingkan tubuhnya untuk mendekati pusaka yang diincarnya. Sedangkan Setan Ular Karang melesat ke atas laksana seekor burung garuda, dan dari sana menukik ke bawah! "Ikhhh...!" Kerbau Bertenaga Raksasa yang hampir saja berhasil mencekal kitab, langsung menarik kembali tangannya sambil mengeluarkan pekik kengerian. Karena Setan Ular Karang tahu kalau dirinya akan kalah, langsung melemparkan senjata andalannya. Seekor ular belang yang besarnya selengan manusia! Sehingga tidak ada satu pun yang berhasil mengambil kitab dan pedang yang tergolek di tanah.

Beberapa saat keempat tokoh itu saling mengawasi satu sama lain sambil sesekali memperhatikan pusaka yang tergeletak di tanah. "Mengapa kau hendak mengambil kembali pusaka yang telah kau berikan, Jaya Katwang! Apa kau hendak mengingkari janji yang telah kau ucapkan?!" Lantang suara Kerbau Bertenaga Raksasa tanpa mengalihkan perhatian dari pusaka dan dua orang rekannya. Dirinya khawatir mereka akan mendahului mengambil pusaka itu, kalau sampai lengah sekejap saja. "Aku telah memenuhi janjiku, menyerahkan pusaka itu pada kalian. Tapi, karena kulihat kalian memperebutkannya, kurasa tidak ada salahnya kalau aku ikut serta dalam perebutan ini!" Jawab Jaya Katwang, kalem.

Pertempuran memperebutkan pusaka pun pecah menjadi sebuah intrik yang luar biasa dahsyat. Kerbau Bertenaga Raksasa langsung terdiam karena menyadari kebenaran ucapan kakek tinggi kurus itu. Sekilas diliriknya tempat Sumini tadi berada. Ternyata tempat itu telah kosong. Rupanya ketika dia dan rekannya memperebutkan pusaka ini, Jaya Katwang yang cerdik telah menyuruhnya kabur. Setan Ular Karang dan Raja Sihir Berbaju Merah pun tampaknya mengetahui siasat Jaya Katwang. Setelah ketiganya saling pandang sejenak, masing-masing menganggukkan kepala seperti telah mengambil sebuah persetujuan.

"Kau cerdik, Jaya Katwang! Rupanya kau bermaksud mencari kesempatan di dalam kesempitan! Mencoba memanfaatkan keadaan untuk mengambil keuntungan di saat kami tengah saling terpecah. Sayang, kami tidak sebodoh yang kau duga, Jaya Katwang! Hhh.... Ternyata kami harus menyingkirkanmu lebih dulu, Tua Bangka! Bukankah demikian, Setan Ular Karang, Raja Sihir Berbaju Merah?!" "Tidak salah!" Sahut Setan Ular Karang dan Raja Sihir Berbaju Merah hampir berbarengan seraya menganggukkan kepala. "Aku sudah siap untuk kemungkinan itu! Majulah kalian semua!" Tantang Jaya Katwang, mantap.

"Ha ha ha...!" Kerbau Bertenaga Raksasa tertawa terbahak-bahak. "Kami bukan pengecut-pengecut yang hanya berani melakukan pengeroyokan, Jaya Katwang! Bukankah demikian, Setan Ular Karang?!" Setan Ular Karang yang tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu, buru-buru menganggukkan kepala. "Nah! Kau lihat sendiri kan, Jaya Katwang? Setan Ular Karang berani menghadapimu sendirian! Kalau begitu biar aku dan Raja Sihir Berbaju Merah yang menjadi saksi pertarungan kalian!" Ujar Kerbau Bertenaga Raksasa lagi. Setan Ular Karang menggertakkan gigi karena geram, merasa telah tertipu oleh Kerbau Bertenaga Raksasa. Dia diadu domba dengan Jaya Katwang! Tapi, apa boleh buat? Tidak mungkin dia mundur sekarang kalau tak ingin dicap pengecut!

Begitu melihat kesediaan Setan Ular Karang, Jaya Katwang segera mencabut pedangnya. Pelayan kepercayaan tokoh yang terkenal sebagai rajanya ilmu pedang itu merasa lebih berbesar hati bertarung mempergunakan senjata. Setelah menarik napas, perlahan-lahan kedua tangannya yang terbuka disilangkan di depan wajah, lalu ditarik ke sisi pinggang. Bunyi berdesis dan menggetarkan, seperti suara belasan ekor ular yang tengah murka terdengar. Sesaat kemudian, kedua tangan lelaki berwajah hitam legam ini mulai dari ujung jari sampai pergelangan tangan berubah menghitam! Inilah ilmu 'Ular Karang' yang menjadi andalannya.

Jaya Katwang tahu kalau lawan telah menggunakan ilmu andalan. Namun tak tampak perasaan gentar di wajahnya. Kakek tinggi kurus ini lalu menggerakkan pedangnya. Suara deru angin dari kibasannya terdengar seiring dengan berubahnya pedang itu menjadi sinar. Meluncur deras ke depan. "Heaaa...!" Tak! Tak! Tak! "Heh...!" Bunyi berdetak seperti benturan logam keras terdengar ketika Setan Ular Karang memapak serangan mata pedang lawan dengan tangan telanjang. Karuan saja hal ini membuat Jaya Katwang kaget bukan kepalang. Hatinya hampir tak percaya, melihat kedua tangan lawan tak mempan bacokan senjata tajam. Walaupun demikian, Jaya Katwang tetap melanjutkan serangan.

Sebagai seorang yang telah banyak makan asam garam, dia tahu kalau bagian lainnya belum tentu akan kebal juga. Maka segera dialihkan serangannya agar tidak berbenturan dengan kedua tangan lawan. Pertarungan sengit pun berlangsung. Karena kedua belah pihak sama-sama memiliki gerakan cepat, maka pertarungan itu berlangsung cepat. Tubuh kedua tokoh berkelebatan ke sana kemari. Hanya bayangan putih dan coklat yang tampak saling belit, dengan sesekali terpisah. Namun kemudian telah saling gempur dengan kecepatan tinggi. Tak terasa pertarungan telah berlangsung empat puluh jurus. Dan selama itu belum nampak adanya tanda-tanda pihak yang akan keluar sebagai pemenang. Keduanya masih seimbang.

Kerbau Bertenaga Raksasa dan Raja Sihir Berbaju Merah menyaksikan jalannya pertarungan dengan penuh minat. Kedua tokoh ini merasa kagum akan kepandaian Jaya Katwang dan Setan Ular Karang. Keduanya tidak yakin kalau kepandaian yang dimiliki berada di atas tokoh-tokoh yang tengah bertarung itu. "Heaaa...!" "Hih!" Pada jurus keenam puluh, Setan Ular Karang tiba-tiba mengibaskan tangannya. Seleret sinar kehitaman pun meluncur ke arah lawan, Jaya Katwang tampak tersentak kaget, tahu kalau sinar-sinar kehitaman itu ternyata ular-ular hitam yang mempunyai racun ganas. Dengan cepat pedangnya diputar untuk memapak! "Heaaa...!" Cra, crat, crat! Ular-ular hitam kelam itu terbelah hingga menjadi beberapa potong ketika pedang Jaya Katwang menebasnya. Namun, Setan Ular Karang tidak mempedulikannya.

Pada saat yang bersamaan dengan meluncurnya ular-ular itu kedua telapak tangannya dipukulkan bertubi-tubi ke dada Jaya Katwang! Jaya Katwang kembali terkejut bukan kepalang. Namun sebisa-bisanya laki-laki itu berusaha mengandaskan serangan lawan dengan pedangnya. "Hih...!" Tak, tak, tak! Bugkh! "Akh!" Jaya Katwang menjerit tertahan ketika tangan kiri Setan Ular Karang menghantam telak dadanya, setelah beberapa pukulan sebelumnya berhasil ditangkis. Tubuh kakek tinggi kurus ini pun terjengkang ke belakang kemudian ambruk di tanah untuk selama-lamanya.

"Kakek...!" Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan ketakutan dari dalam pondok. Sesosok ramping berpakaian kuning menghambur lalu bersimpuh di dekat tubuh Jaya Katwang yang tergolek. Setan Ular Karang, Kerbau Bertenaga Raksasa, dan Raja Sihir Berbaju Merah tersenyum gembira melihat kehadiran Sumini. Semula mereka menyangka gadis itu telah kabur. Sebenarnya Sumini telah disuruh pergi oleh Jaya Katwang. Namun dirinya tak sampai hati meninggalkan kakek yang sangat disayanginya itu, menantang maut sendirian. Sumini tidak pergi justru mengintip semua kejadian itu dari dalam! Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sumini ketika melihat Jaya Katwang tewas. Sehingga dia tidak bisa menahan diri dan berlari keluar.

"Anak itu akan menjadi ancaman kelak, biar kuhabisi dia sekalian! Toh, kurasa janji kita telah tidak berlaku lagi karena Jaya Katwang sendiri telah membatalkannya!" Ucap Setan Ular Karang seraya mengayunkan kaki menghampiri Sumini yang masih duduk bersimpuh. "Tunggu, Setan Ular Karang!" Cegah Raja Sihir Berbaju Merah sambil melompat menghadang. "Daripada kau bunuh percuma, lebih baik aku yang melakukannya!" "Sesukamulah!" Setan Ular Karang mengangkat bahu. Lalu kembali ke tempat semula. Dia tahu, mengapa lelaki berompi merah itu mau mengambil alih tugas. Apalagi kalau bukan karena tertarik pada tubuh montok menggiurkan Sumini? Raja Sihir Berbaju Merah mempunyai sifat mata keranjang. Jadi, sudah dapat diperkirakan kejadian yang akan menimpa Sumini sebelum dibunuh.

Sambil tertawa terkekeh, Raja Sihir Berbaju Merah terus menghampiri Sumini. Sementara, gadis berpakaian kuning itu telah berhasil menguasai perasaan sedihnya. Perlahan-lahan tubuhnya berbalik dengan wajah beringas menatap Raja Sihir Berbaju Merah yang tengah mendekatinya. "Lihat siapa aku, Sumini? Aku Jaya Katwang!" Ucap Raja Sihir Berbaju Merah seraya menatap kedua bola mata Sumini dengan sorot mata mengandung suatu kekuatan aneh. Wajah Sumini yang semula bengis dan penuh kebencian mendadak berubah redup dan memperlihatkan kesedihan. "Kakek...!" Seru Sumini. Gadis itu langsung menghambur ke arah Raja Sihir Berbaju Merah yang telah menjelma menjadi Jaya Katwang. Kedua tangan terkembang menyambut Sumini.

Raja Sihir Berbaju Merah tersenyum gembira menyambut tubuh Sumini dengan pelukan erat. Dengan napas memburu Jaya Katwang penjelmaan itu menciumi dengan buas pipi, leher, dan bibir mungil Sumini. Karuan saja Sumini kelabakan. Dia meronta tapi sia-sia. Pelukan kedua tangan Raja Sihir Berbaju Merah terlalu erat. Sumini semakin keras meronta ketika melihat orang yang memeluk dan menciuminya secara rakus ini bukan Jaya Katwang melainkan Raja Sihir Berbaju Merah. Sumini tiba-tiba tersadar, karena Raja Sihir Berbaju Merah tidak terus menekankan ilmu sihirnya. Lelaki berompi merah itu larut dalam amukan nafsu birahinya. Brettt! "Aaakh...!" Pakaian Sumini mulai dari bagian dada sampai pusar langsung koyak ketika tangan Raja Sihir Berbaju Merah merenggutnya. Sumini menjerit penuh perasaan ngeri. Tubuhnya pun semakin kuat meronta-ronta.

Namun tindakan Sumini tidak berarti sama sekali. Tanpa menemui kesulitan, Raja Sihir Berbaju Merah terus menjarah tubuh Sumini. Sekarang ciuman-ciumannya mulai turun ke leher. Ciuman campur gigitan gemas. Satu tangan Raja Sihir Berbaju Merah memeluk tubuh Sumini. Sedangkan yang lain digunakan untuk melucuti pakaian calon korbannya diselingi dengan remasan-remasan terhadap dua bukit kembar di dada Sumini yang telah menyembul keluar. Sumini memekik tertahan. Tubuhnya terjengkang ke belakang dan jatuh telentang di tanah ketika Raja Sihir Berbaju Merah mendorongnya. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh lelaki berompi merah untuk membuka pakaian lalu menubruk Sumini.

"Binatang...!" Tiba-tiba saja terdengar suara bentakan keras diiringi angin kencang menderu dan menghantam tubuh Raja Sihir Berbaju Merah yang tengah menindih Sumini. Tubuh lelaki berompi merah itu terpental ke samping dan terguling-guling di tanah. Namun dengan manis Raja Sihir Berbaju Merah mampu mematahkan kekuatan yang membuat tubuhnya terlempar. Dengan cepat dia bangkit berdiri. "Keparat! Orang gila dari mana yang berani mengganggu kesenanganku?!" Seru Raja Sihir Berbaju Merah penuh perasaan geram.

"Menyingkirlah, Dik," Terdengar suara memerintah Sumini agar menyingkir. Dengan raut wajah merah padam dan sorot mata penuh kebencian terhadap Raja Sihir Berbaju Merah, Sumini bangkit dan bergegas lari ke dalam rumah. Sekilas matanya melihat orang yang telah memberikan pertolongan atas dirinya. Penolong Sumini ternyata seorang pemuda tampan berambut putih keperakan hingga ke pinggang. Tubuhnya yang kekar terbungkus pakaian warna ungu. "Siapa kau, Anjing Kecil? Cepat katakan! Pantang bagiku membunuh orang yang tidak kukenal!" Seru Raja Sihir Berbaju Merah dengan nada tinggi. "Aku Arya, dan kesenanganku membunuh orang yang gemar bertindak biadab sepertimu! Memperkosa wanita tak berdaya!"

"Sombong! Kaulah yang akan mampus di tanganku, Pemuda Gila! Heaaa...!" Raja Sihir Berbaju Merah langsung mengirimkan tusukan dengan tangan kiri ke arah mata pemuda berambut keperakan itu. Pemuda berpakaian ungu yang tak lain Dewa Arak itu masih bersikap tenang. Padahal dia tahu lawannya memiliki kepandaian tinggi. Dari serangannya yang menimbulkan angin menderu keras menandakan terkandung tenaga dalam kuat Tanpa menggeser kaki, didoyongkan tubuhnya ke kiri sehingga serangan itu lewat di sebelah kanan wajahnya. Tangan kanannya bergerak cepat menangkap pergelangan tangan lawan.

Gerakan Dewa Arak yang sangat cepat membuat Raja Sihir Berbaju Merah tersentak kaget. Matanya membelalak dengan kening mengkerut, seakan tak percaya. Kemudian dengan gerak cepat, tapi terlambat, pergelangan tangannya telah lebih dulu tercekal oleh Dewa Arak. Meskipun demikian, lelaki berompi merah tetap tegar. Tak tampak sedikit pun perasaan gugup. "Hih...!" Tangan kanannya dipukulkan ke dada Dewa Arak yang terbuka. Deb! "Heh...?!" Kali ini Raja Sihir Berbaju Merah tidak kuasa untuk menahan keluarnya jeritan. Tangannya menempel di dada lawan dan tak dapat ditarik kembali.

Namun Raja Sihir Berbaju Merah tidak kehilangan akal. "Arya, lihat siapa aku? Berani kau melakukan hal seperti ini pada gurumu?" Ucap lelaki berompi merah ini seraya mengerahkan seluruh kekuatan ilmu sihir yang dimilikinya. Dia menyadari kalau lawan kali ini tidak akan dapat dipengaruhi segampang Sumini. "Hah...?!" Dewa Arak tersentak kaget ketika melihat yang dicekal ternyata lengan gurunya. Bagai disengat ular berbisa, pemuda berambut putih keperakan itu segera melepaskan cekalan dan kekuatan menyedotnya, lalu melompat ke belakang. Kesempatan itu pun segera dipergunakan Raja Sihir Berbaju Merah untuk melompat ke belakang pula.

Sekarang Arya baru melihat kalau yang berdiri di belakangnya bukan Ki Gering Langit, gurunya, melainkan Raja Sihir Berbaju Merah. Sebagai seorang pendekar yang telah kenyang pengalaman, dia segera sadar kalau lawannya menggunakan ilmu sihir. Maka dia berusaha untuk tidak menatap mata lawannya. Sementara itu, Kerbau Bertenaga Raksasa dan Setan Ular Karang yang telah memperhatikan jalannya pertarungan segera tahu kalau pemuda berambut putih keperakan itu merupakan lawan yang amat tangguh. Mendadak Setan Ular Karang melesat ke arah kitab milik Raja Pedang Langit Bumi yang masih tergeletak di tanah, dan menyambarnya. Kemudian membawanya kabur.

Kerbau Bertenaga Raksasa tentu saja tidak mau membiarkan hal itu. "Setan licik! Jangan harap niatmu yang busuk itu akan berhasil!" Seru lelaki berkepala botak itu seraya melesat mengejar. Tindakan yang sama dilakukan Raja Sihir Berbaju Merah. Namun, hanya dengan sekali menggerakkan tubuh, Dewa Arak telah berdiri menghadangnya. "Jangan harap aku akan membiarkan orang sepertimu hidup lebih lama di dunia!" Ujar Dewa Arak penuh tekanan. Raja Sihir Berbaju Merah menggeram karena tahu tak akan dapat meloloskan diri dari Dewa Arak. Dia memutuskan untuk melakukan perlawanan mati-matian.

Namun, mendadak mulutnya menyeringai seperti merasa kesakitan. Lalu, kedua tangannya saling menggaruk. Yang kanan menggaruk telapak tangan kiri dan sebaliknya. Karuan saja Dewa Arak merasa heran melihat tindakan Raja Sihir Berbaju Merah. Dia merasa curiga kalau hal ini hanya merupakan siasat lawan, maka kewaspadaannya tetap tak ditinggalkan. Namun, kecurigaannya semakin memupus ketika melihat garukan Raja Sihir Berbaju Merah tidak hanya pada bagian itu, tapi juga mengarah pada mulutnya. "Ah...!" Tanpa sadar Arya mengeluarkan jeritan bernada kaget ketika melihat kedua telapak tangan dan mulut Raja Sihir Berbaju Merah mulai menghitam. Gosong! Seakan-akan terbakar sesuatu. Dan sekarang, lelaki berompi merah itu mulai mengerang-erang sambil terus menggaruk tubuhnya yang lain.

Tindakan Raja Sihir Berbaju Merah tak berlangsung lama. Sesaat kemudian tubuhnya ambruk ke tanah. Nyawanya melayang seketika. Setelah menunggu beberapa saat tubuh Raja Sihir Berbaju Merah tidak bergerak lagi, Dewa Arak menghampirinya. Memeriksanya dari jarak dua tombak. Hanya sekilas hal itu dilakukannya. Dewa Arak segera bisa mengetahui kalau Raja Sihir Berbaju Merah tewas karena racun yang amat ganas. Tapi, siapa yang telah melakukan hal keji ini? "Hhh...!" Dewa Arak menghembuskan napas berat. Lalu diarahkan pandangannya ke pondok di belakangnya, tempat Sumini tadi masuk. Ditunggunya beberapa saat agar gadis berpakaian kuning itu keluar. Namun tidak nampak adanya tanda-tanda kalau Sumini akan keluar.

Kisah di atas merupakan bagian awal dari pertempuran epik memperebutkan pusaka Raja Pedang Langit Bumi. Kehadiran Dewa Arak (Arya) menyelamatkan Sumini dari bahaya besar, namun misteri kematian tokoh sesat yang mendadak akibat racun ganas meninggalkan tanda tanya besar. Ikuti kelanjutan cerita silat orisinal nusantara ini hanya di blog kami.

Disqus Comments