Dewa Arak 63 Angkara Si Anak Naga
Cersil Dewa Arak 63 Angkara Si Anak Naga
Baca Online Dewa Arak 63 Angkara Si Anak Naga
Eps 1: Menguak Tabir Angkara Si Anak Naga
"Taksaka..! Anakku, di mana kau?!" Seruan keras bernada cemas itu terdengar berkali-kali dari mulut seorang wanita muda berpakaian coklat bernama Nawangsuri. Dengan mata berlinang, ia mengawasi keadaan di sekelilingnya, berusaha mencari putranya yang tiba-tiba menghilang secara misterius tanpa jejak. Namun, hingga ia melangkahkan kaki sampai di tanah lapang berumput tempat anaknya tadi bermain, bocah itu tetap tidak ditemukan. Langkah kakinya terus menyusuri semak-semak belukar yang rimbun, berharap sang putra kesayangan masih bersembunyi di sekitar sana memainkan permainan masa kecilnya.
Tiba-tiba, ia menghentikan langkah dan mengernyitkan kening saat melihat dua sosok berpakaian serba hitam dengan ikat kepala senada keluar dari balik rimbunnya pepohonan rimba kaki gunung. Kedua orang itu masing-masing hanya memiliki satu mata—sebuah ciri khas mengerikan yang langsung membuat jantung Nawangsuri berdegup kencang karena mengenali musuh bebuyutannya.
"Keparat! Kalian lagi rupanya! Tak bosan-bosannya kalian mengejar dan terus-menerus mengusik kedamaian hidup kami!" dengus Nawangsuri dengan nada penuh amarah dan kegeraman yang memuncak.
Kedua sosok itu tertawa bergelak secara bersamaan. Suara tawa mereka terdengar parau, kasar, dan penuh kelicikan. Mereka adalah Sepasang Harimau Hitam, dua tokoh golongan sesat yang sangat ditakuti karena kekejamannya di rimba persilatan. Salah satu dari mereka yang mengalami kebutaan pada mata kirinya melangkah maju seraya menyeringai lebar memperlihatkan barisan giginya yang kuning kotor.
"Selama kau belum memenuhi permintaan penting kami untuk menyerahkan bocah ajaib itu, jangan harap kalian berdua bisa menikmati hidup dengan tenang di dunia fana ini!" ancamnya dengan nada suara yang bergetar tajam penuh aura permusuhan.
"Benar sekali!" sahut saudaranya yang buta mata kanannya dengan nada yang tak kalah sinis. "Penuhilah permintaan kami dengan sukarela! Percayalah, setelah urusan penting yang kami maksudkan selesai, anakmu pasti akan kami kembalikan ke pangkuanmu dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun!"
"Tutup mulut kalian yang busuk itu, Kucing-kucing Picak!" sahut Nawangsuri dengan keberanian luar biasa. "Kalian hanya boleh membawa putraku pergi dari sini jika kalian berdua sanggup melangkahi mayatku terlebih dahulu!"
Mendengar sebutan "Kucing-kucing Picak" yang merendahkan harga diri mereka sebagai pendekar hitam papan atas, Sepasang Harimau Hitam langsung naik pitam. Dengan raungan kemarahan laksana macan kelaparan, pertarungan sengit pun tidak dapat dihindarkan lagi. Nawangsuri langsung menerjang maju dengan mengerahkan seluruh energi dan jurus terbaik yang dikuasainya. Jari-jari tangannya merapat tegang, disodokkan bertubi-tubi ke arah dada, leher, dan ulu hati lawan dengan kecepatan yang luar biasa. Angin pukulan yang berdesing nyaring bagaikan siulan maut mengiringi setiap gerakan serangannya.
Namun, Sepasang Harimau Hitam bukanlah lawan sembarangan yang bisa ditaklukkan hanya dengan beberapa jurus kilat. Dengan kelincahan yang telah terlatih selama puluhan tahun, mereka saling berbagi peran untuk mengepung dan mendesak posisi Nawangsuri dari dua arah yang berbeda. Pertarungan berlangsung sangat sengit di tengah hamparan padang rumput yang sunyi di kaki Gunung Pangrango tersebut. Benturan tenaga dalam murni berulang kali terjadi, menimbulkan suara berdentum lembut yang sanggup menggetarkan dedaunan hijau di sekitarnya. Nawangsuri berjuang dengan gigih mempertahankan diri, tetapi menghadapi pengeroyokan dua tokoh tangguh sekaligus jelas membuatnya mulai kewalahan dan kehabisan napas.
Pada satu kesempatan gawat yang sangat menentukan, sebuah pukulan cakar keras dari salah satu Harimau Hitam bersandar telak di perut bagian samping Nawangsuri. Ia memekik tertahan, tubuhnya langsung terbungkuk dan terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah dengan wajah yang seketika berubah merah padam menahan rasa sakit yang teramat luar biasa. Musuhnya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini; ia langsung melompat tinggi ke udara dengan cakar tangan kanan terulur lurus mengincar ubun-ubun kepala Nawangsuri untuk mengakhiri jalannya napas wanita itu.
Ketika maut seolah tinggal sejengkal lagi merenggut nyawanya, tiba-tiba terdengar suara benturan keras di udara disertai pekikan kesakitan dari sang penyerang yang terpental mundur. Sesosok pemuda berpakaian ungu telah berdiri menghalangi jalan dengan sikap yang sangat tenang dan agung. Rambutnya yang berwarna putih keperakan panjang terurai hingga ke batas punggung, bergerak lembut dipermainkan angin gunung yang bertiup sepoi-sepoi. Di pundak kokohnya, ia memanggul tubuh seorang kakek tua berpakaian putih yang tak lain adalah Prajurit Kerajaan Dewa. Pemuda gagah ini adalah Arya Buana, sosok legendaris yang di seantero rimba persilatan dikenal luas dengan julukan Dewa Arak!
Harimau Hitam yang serangannya berhasil digagalkan secara mentah-mentah menggeram murka. Tanpa banyak bicara, ia langsung menghunus golok bermata belah dua andalannya dan membabatkannya secara mendatar ke arah leher Dewa Arak. Sinar berkilauan dingin memancar mematikan dari mata golok yang tajam tersebut. Namun, Dewa Arak tetap bergeming di tempatnya berdiri dengan senyum tipis yang ramah tersungging di bibirnya.
Terdengar bunyi berdetak nyaring saat mata golok yang tajam membentur kulit leher Dewa Arak secara telak. Bukannya terluka atau berdarah, golok pusaka tersebut justru memantul balik seolah-olah baru saja menghantam dinding baja yang tebal dan kenyal! Telapak tangan Harimau Hitam bergetar hebat dan terasa sangat panas akibat pantulan balik tenaga dalamnya sendiri. Dengan mata terbelalak tidak percaya, ia menyadari bahwa pemuda misterius di hadapannya memiliki ilmu kebal tingkat tinggi yang mustahil ditembus oleh senjata tajam biasa di dunia ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi karena menyadari perbedaan tingkat kepandaian yang teramat jauh laksana bumi dan langit, kedua Harimau Hitam itu segera melompat mundur dan melarikan diri ke dalam kegelapan hutan dengan langkah seribu.
Dewa Arak tidak berniat mengejar musuh yang melarikan diri tersebut. Ia segera menurunkan kakek tua yang dipanggulnya dengan sangat hati-hati. Tangis haru pun seketika pecah ketika Nawangsuri menyadari bahwa kakek tua yang diselamatkan oleh Dewa Arak tersebut adalah ayah kandungnya sendiri yang sudah bertahun-tahun lamanya terpisah jarak dan waktu. Pertemuan keluarga yang sangat mengharukan itu berlangsung di bawah pengawasan teduh sang Pendekar Dewa Arak, yang dengan setia mengawal perjalanan mereka demi mencegah terjadinya bencana besar yang mengancam dunia persilatan jika sang Anak Naga jatuh ke tangan orang-orang berwatak culas.
Sementara itu, di tempat yang terpisah, dunia persilatan memang sedang dilanda kegemparan luar biasa akibat kabar mengenai lahirnya seorang anak ajaib bernama Taksaka. Bocah yang dikenal sebagai Anak Naga ini lahir dengan kondisi tubuh yang sangat unik dan langka—sekujur kulit tubuhnya dipenuhi oleh sisik tebal berwarna hijau berkilauan layaknya sisik seekor ular naga raksasa yang hidup di dasar danau purba. Hal ini dikarenakan ibunya dahulu dikabarkan mengidam dan memakan daging ular besar saat mengandungnya.
Meskipun usianya baru menginjak sebelas tahun, Taksaka telah memiliki pertumbuhan fisik yang sangat cepat layaknya seorang pemuda dewasa yang perkasa. Di bawah asuhan tokoh sakti beraliran hitam, Siluman Goa Langit, Taksaka dilatih dengan berbagai latihan fisik dan tenaga dalam yang sangat keras serta kejam. Potensi luar biasa yang tersimpan di dalam tubuhnya membuat bocah bersisik ular ini mampu menguasai ilmu-ilmu persilatan tingkat tinggi hanya dalam waktu beberapa hari saja—sebuah pencapaian yang bahkan tidak sanggup diraih oleh pendekar biasa yang harus menghabiskan waktu hingga puluhan tahun lamanya!
Siluman Goa Langit memanfaatkan kepolosan jiwa Taksaka untuk melampiaskan dendam pribadinya kepada musuh bebuyutannya yang bernama Ragola. Dengan hasutan-hasutan licik yang ditiupkannya, ia berhasil meyakinkan Taksaka bahwa Ragola adalah sosok iblis jahat yang harus dibinasakan dari muka bumi demi kedamaian bersama. Pertarungan hebat pun akhirnya pecah di lereng gunung yang sunyi antara bocah ajaib Taksaka dan Ragola, seorang tokoh persilatan paruh baya yang bertubuh kekar dan sangat tangguh.
Ragola awalnya meremehkan Taksaka karena menganggapnya hanyalah seorang anak kecil biasa yang kebetulan memiliki kelainan fisik pada kulit tubuhnya. Namun, begitu cakar tangan Taksaka menyambar dengan menimbulkan bunyi desiran angin yang tajam dan bertekanan tinggi, Ragola langsung tersentak sadar bahwa ia sedang menghadapi ancaman maut yang sangat nyata dan mematikan. Pertarungan berlangsung dengan sangat timpang dan mengerikan. Kekebalan tubuh Taksaka yang luar biasa membuat setiap pukulan bertenaga besar dan tendangan keras yang dilancarkan oleh Ragola memantul sia-sia tanpa memberikan dampak luka sedikit pun pada tubuh sang Anak Naga.
Sebaliknya, cengkeraman tangan Taksaka yang dialiri tenaga dalam murni Anak Naga terasa bagaikan jepitan besi panas yang membara, yang sanggup meremukkan tulang belulang dengan sekali sentuhan saja. Dalam waktu singkat, Ragola dibuat tidak berdaya sama sekali; tulang bahu dan kakinya patah berderak di bawah kekuatan dahsyat sang bocah ajaib. Siluman Goa Langit tertawa melengking menyaksikan kemenangan mutlak tersebut, merasa bahwa ambisinya untuk menguasai rimba persilatan melalui kekuatan Taksaka kini sudah berada di depan mata. Namun, di tengah kegelapan angkara murka yang mulai menyelimuti sang Anak Naga, takdir tampaknya sedang menuntun langkah Dewa Arak untuk segera turun tangan guna meredam badai kehancuran yang mengancam kedamaian dunia persilatan tersebut.