Kamis, 16 Juli 2026

Dewa Arak 64 Satria Sinting

Dewa Arak 64 Satria Sinting

Cersil Dewa Arak 64 Satria Sinting

Baca Online Dewa Arak 64 Satria Sinting

Modernisasi visual sampul kisah klasik petualangan pendekar Arya.

Petualangan Arya dalam lembaran dunia persilatan nusantara selalu menghadirkan ketegangan yang mendalam. Bagi para penggemar cerita silat tanah air yang mengikuti kisah sebelumnya di Dewa Arak 57 Perguruan Kera Emas, kini konflik baru yang lebih menegangkan kembali membentang di kaki Gunung Arjuno melalui sebuah mahakarya klasik bertajuk SATRIA SINTING karya Aji Saka.

Bagian 1: Jejak Misterius di Kaki Gunung Arjuno

Seorang pemuda tampan mengayunkan langkah seenaknya menyusuri sebuah hutan di kaki Gunung Arjuno. Sambil melangkahkan kaki, sesekali ditarik napas dalam-dalam dengan mengembangkan dadanya untuk menghirup udara pagi yang segar nan dingin. Sunyinya alam liar pegunungan seakan menyembunyikan riak badai yang siap bergolak sewaktu-waktu.

Mendadak pemuda itu menghentikan langkah. Pendengarannya yang luar biasa tajam menangkap adanya bunyi langkah kaki yang tergesa-gesa sedang menuju ke arahnya. "Hih!" Hanya dengan sekali jejak, tubuh pemuda itu telah melayang ringan ke atas dan hinggap di atas cabang pohon yang melintang di atas jalan berumput. Di kanan kiri jalan setapak itu memang ditumbuhi berbagai pepohonan rimbun yang mampu menyembunyikan hawa keberadaan manusia secara sempurna.

Dari tempat tersembunyi ini, pemuda yang tak lain adalah Arya—atau lebih terkenal di kolong langit dengan julukan Dewa Arak—mengintai dengan seksama. Beberapa saat kemudian, pandangan matanya yang awas menangkap sosok tubuh ramping berpakaian kuning terang berjalan setengah berlari. Sosok itu adalah seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun dengan paras wajah yang cantik jelita.

"Hhh.. hhh..!" Desah napas yang memburu terdengar jelas oleh Arya ketika gadis berpakaian kuning itu melintas tepat di bawah cabang pohon tempatnya bertengger. Langkah kaki gadis itu tampak agak terhuyung-huyung, menjadi pertanda jelas kalau dia telah sangat kelelahan akibat melakukan perjalanan jauh tanpa jeda istirahat.

Semua fenomena ini menarik perhatian Arya sepenuhnya. Dia yakin gadis berpakaian kuning itu tengah melarikan diri dari kejaran musuh atau bahaya besar yang mengancam jiwanya. Itulah sebabnya, sang Dewa Arak memutuskan untuk menunggu di tempatnya dengan sabar dan membiarkan gadis itu lewat terlebih dahulu.

Benar saja dugaan sang pendekar. Baru saja gadis berpakaian kuning itu melintas, di kejauhan dari arah yang sama tampak tiga sosok bayangan bergerak menuju ke tempatnya dengan kecepatan yang sangat mengagumkan. Hanya dalam sekejapan mata, tiga sosok misterius itu telah menghentikan langkah di dekat pohon tempat Arya bersumbunyi. Arya pun memusatkan konsentrasi dan memperhatikan mereka tanpa berani bergerak sedikit pun demi menjaga kesunyian.

Seketika Arya menyadari bahwa orang-orang yang berada di bawahnya bukanlah kalangan persilatan sembarangan. Mereka memiliki tingkat kepandaian tinggi dan gerakan tubuh yang luar biasa gesit. Jika dirinya tidak ekstra hati-hati dalam mengendalikan napasnya, keberadaannya di atas cabang pohon pasti akan langsung terdeteksi oleh radar kepekaan musuh.

"Bagaimana, Setan Hitam? Mana arah yang harus kita tempuh? Kanan, kiri, ataukah depan?" tanya salah seorang dari mereka, lelaki bertubuh pendek gemuk dengan kepala botak licin dan perut gendut menggelambir.

Sosok yang dipanggil dengan nama Setan Hitam, atau julukan lengkapnya Setan Hitam Muka Kuda, tidak langsung menyahuti pertanyaan kawannya. Lelaki berbadan tinggi besar dan berbahu lebar mirip raksasa itu memperhatikan keadaan di sekitarnya sejenak dengan mata yang menyipit tajam. Wajahnya yang memang agak memanjang menyerupai muka kuda menoleh ke sana kemari mencari jejak kaki di atas rerumputan basah.

"Kukira dia menempuh jalan yang mengarah ke kiri," jawab Setan Hitam Muka Kuda dengan suara parau yang terdengar berat dan tidak mengenakkan di telinga. "Bagaimana menurut pertimbanganmu, Iblis Pemburu Nyawa?"

"Aku sependapat denganmu, Setan Hitam! Bukankah jalan itu adalah satu-satunya rute tercepat menuju kediaman sahabat Eyang Dipayana, kakeknya yang keparat itu?!" sahut Iblis Pemburu Nyawa berapi-api. Tokoh ketiga ini merupakan seorang lelaki bertubuh kecil kurus, namun pinggangnya terlilit rantai baja kokoh dengan ujung bola berduri tajam sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Yakin dengan perkiraan mereka sendiri, ketiga lelaki berwajah kasar dengan sorot mata kejam itu melesat cepat ke arah kiri. Hanya dalam beberapa kali kayuhan kaki, tubuh mereka telah meluncur jauh ke depan hingga hanya menyisakan bayangan hitam yang semakin lama semakin mengecil sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya di balik lebatnya pepohonan hutan.

Seluruh percakapan singkat namun penting itu terdengar jelas oleh Dewa Arak. Meskipun belum memahami duduk perkara yang sebenarnya, pemuda berambut putih keperakan itu secara naluriah condong berpihak pada keselamatan gadis berpakaian kuning. Tanpa membuang waktu lebih lama, Arya segera melantingkan tubuhnya dari atas dahan pohon dan melesat cepat mengejar arah kepergian mereka.

Bagian 2: Pertarungan Hidup Mati di Tengah Hutan

"Mau lari ke mana lagi kau, Bangsat Kecil?!"

Gadis berpakaian kuning terkejut bukan kepalang mendengar bentakan menggelegar yang sarat akan getaran tenaga dalam itu. Sebelum dirinya sempat memutar tubuh untuk menoleh ke belakang, dia sudah merasakan embusan angin tajam yang menerpa kulit wajahnya. Tahu-tahu, di hadapannya telah berdiri kokoh sesosok tubuh pendek gemuk berwajah kejam.

Seketika gadis berpakaian kuning itu menghentikan laju larinya. Dia berniat membalikkan tubuh demi mencari celah pelarian lain, namun langkah kakinya kembali tertahan kaku. Di belakangnya kini telah berdiri tegak Iblis Pemburu Nyawa bersama Setan Hitam Muka Kuda yang tersenyum menyeringai licik.

Sadar bahwa seluruh jalan untuk melarikan diri telah tertutup rapat, gadis itu memantapkan tekadnya untuk bertarung demi harga diri dan keselamatan jiwanya. Srattt! Dengan gerakan cepat, gadis berpakaian kuning menarik pedang pusakanya dari sarung yang tergantung di pinggang!

"Ha ha ha..! Bagus sekali! Rupanya tikus kecil ini ingin mencoba melawan?!" Lelaki pendek gemuk yang memiliki julukan mengerikan Gajah Kecil Bertangan Maut tertawa tergelak meremehkan. "Majulah! Biar kuuji sampai sejauh mana kehebatan ilmu bela diri yang kau warisi dari Dipayana keparat itu!"

"Tutup mulut kotor kelompokmu, Kerbau Gundul!" teriak gadis berpakaian kuning menahan amarah. Usai melontarkan kecaman tersebut, dia langsung melancarkan serangan dahsyat pembuka ke arah Gajah Kecil Bertangan Maut. Sepasang pedang di tangannya menebas cepat secara simultan; pedang kanan mengincar leher lawan sedangkan pedang di tangan kirinya menyapu bagian kaki dari arah yang berlawanan.

Sing, sing! Bunyi berdesing tajam yang membelah udara membuktikan bahwa aliran tenaga dalam gadis berpakaian kuning sesungguhnya sudah cukup kuat dan matang. Namun, lawannya kali ini adalah tokoh-tokoh kawakan dari aliran hitam.

"Sebuah jurus serangan yang lumayan indah," puji Gajah Kecil Bertangan Maut sembari melompat ringan ke atas demi menghindari tebasan pedang yang mengincar kakinya. Sedangkan serangan yang mengarah ke leher, ia tangkis secara langsung dengan hantaman tangan kanannya yang dibekali sarung tangan pusaka khusus berwarna hitam legam—sebuah senjata pelindung legendaris yang kebal terhadap goresan maupun bacokan senjata tajam tertajam sekalipun.

Takkk! Benturan keras tak terhindarkan. Akibat benturan tersebut, tubuh gadis berpakaian kuning langsung terdorong dan terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Sebaliknya, Gajah Kecil Bertangan Maut tetap berdiri kokoh tanpa bergeming sedikit pun di tempatnya berpijak. Dari benturan pertama ini saja, sang gadis langsung memahami bahwa tingkat kedalaman tenaga dalam sang musuh berada jauh di atas kapasitas yang ia miliki saat ini.

Meskipun demikian, tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Setelah berhasil mengendalikan keseimbangan tubuhnya kembali, gadis berpakaian kuning itu merangsek maju mengirimkan serangan susulan dengan kecepatan penuh.

Dewa Arak yang mengawasi pertarungan ini dari balik rimbunnya dedaunan tampak mengernyitkan alisnya yang tebal. Hanya dengan menganalisis jalannya pertempuran selama beberapa detik, ia tahu persis bahwa gadis berpakaian kuning akan segera celaka jika tidak segera dibantu. Setiap variasi serangan yang dikirimkan sang gadis dengan mudah dimentahkan oleh Gajah Kecil Bertangan Maut. Sebaliknya, serangan balasan dari lelaki botak itu selalu memaksa sang gadis terpontang-panting menyelamatkan diri.

"Hih!" Memasuki jurus yang ketiga belas, Gajah Kecil Bertangan Maut menggertakkan giginya rapat-rapat dan meningkatkan intensitas serangannya. Tangannya memutar laksana kitiran angin raksasa, melancarkan pukulan beruntun yang memaksa gadis berpakaian kuning terus mundur sembari memutar pedang di dada demi membendung gelombang bahaya.

Prattt! "Ih..!" Gadis berpakaian kuning memekik kesakitan saat kepalan tangan Gajah Kecil Bertangan Maut menghantam pergelangan tangannya dengan telak. Sentuhan fisik itu terasa seperti hantaman batang baja murni yang luar biasa keras hingga membuat pergelangan tangannya mati rasa seketika. Pedang di tangannya pun terlepas dan terlempar ke udara, sementara tubuhnya terhuyung tanpa pertahanan yang berarti.

Melihat momentum emas tersebut, Gajah Kecil Bertangan Maut segera merendahkan tubuhnya hingga setengah jongkok, mengambil posisi mirip seekor katak yang siap melompat. Dengan pengerahan tenaga penuh, ia menghentakkan kedua belah telapak tangannya ke depan.

"Kok kok kok..!"

Suara aneh menyerupai lengkingan ayam terdengar keluar dari kerongkongan Gajah Kecil Bertangan Maut. Bersamaan dengan hentakan tangannya, melesatlah gulungan angin puyuh bermuatan tenaga dalam pemecah batu yang mengarah lurus ke dada sang gadis. Wajah gadis berpakaian kuning seketika memucat pasrah karena ia sadar maut tengah menjemputnya tanpa ada ruang untuk menghindar.

Namun tepat di saat kritis yang krusial tersebut, sesosok bayangan ungu melesat bagai kilat menyambar dan memeluk erat tubuh sang gadis, lalu membawanya meluncur di udara menghindari jalur serangan musuh.

Brakkk!

Sebatang pohon jati raksasa di belakang posisi sang gadis sebelumnya langsung tumbang dan hancur berkeping-keping akibat hantaman pukulan jarak jauh dari Gajah Kecil Bertangan Maut. Serpihan kayu kasar berhamburan ke segala arah bagaikan badai yang mengamuk. Kejutan ini tak hanya membuat sang penyerang melotot kaget, tetapi juga memicu kewaspadaan tingkat tinggi bagi Setan Hitam Muka Kuda dan Iblis Pemburu Nyawa yang langsung mengepung tempat pendaratan Dewa Arak secara serempak.

"Menyingkirlah ke area yang aman. Mereka bukanlah lawan yang bisa kau hadapi seorang diri saat ini," bisik Arya lembut seraya menurunkan gadis berpakaian kuning tersebut dari papahannya. Gadis cantik itu hanya bisa mengangguk patuh dengan jantung yang berdegup kencang, menaruh harapan penuh pada pemuda misterius berambut putih keperakan yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari ambang kematian.

Disqus Comments