Dewa Arak 57 Perguruan Kera Emas
Cersil Dewa Arak 57 Perguruan Kera Emas
Baca Online Dewa Arak 57 Perguruan Kera Emas
Di bawah teduhnya lereng bukit yang sunyi, aroma harum masakan ayam panggang menusuk hidung Melati. Gadis cantik laksana bidadari itu tak kuasa menahan seleranya saat melihat sang kekasih, Arya Buana alias Dewa Arak, membolak-balik tusukan daging di atas bara api. Rambut putih keperakannya yang berkilau di bawah sinar matahari seakan menjadi simbol kematangan seorang pendekar tangguh. Namun, kehangatan itu mendadak sirna kala sebuah jeritan menyayat hati memecah keheningan lembah.
"Ada sesuatu yang tengah terjadi di bawah sana, Melati. Kita harus bertindak!" ujar Arya dengan kening berkerut dalam.
Tanpa membuang waktu, sepasang pendekar muda itu melesat laksana bayangan melompati bebatuan licin lereng bukit. Di dasar lembah yang sunyi, pemandangan menggiriskan menyambut mereka. Sembilan mayat pengawal berseragam hitam bergelimpangan bersimbah darah di sekitar kereta kuda yang porak-poranda. Di dada kiri setiap korban, tersemat sulaman benang emas berbentuk kepala kera—lambang kebesaran Perguruan Kera Emas.
Kehadiran seorang pemuda berpakaian kuning bernama Handaka, putra dari Ketua Perguruan Kera Emas, Ki Tapaksi Mandragunta, sempat menyulut kesalahpahaman sengit. Handaka yang kalap langsung menerjang Arya dengan jurus-jurus cakar harimau dan sabetan golok yang menderu dahsyat. Namun, dengan ketenangan luar biasa, Dewa Arak meladeni amukan itu hanya bersenjatakan sebatang ranting pohon!
Menggunakan adaptasi dari Ilmu Pedang Pembunuh Naga yang legendaris, Arya menyalurkan tenaga dalam lembut untuk meredam kekerasan golok Handaka. Hanya dalam enam puluh jurus, sebuah sapuan kaki telak bersarang di perut Handaka, membuatnya terjengkang tak berdaya dengan ujung ranting kayu menempel di ubun-ubunnya. Setelah kesalahpahaman itu diredakan oleh penjelasan tajam Melati, persahabatan pun terjalin.
Penyelidikan bersama membawa mereka kembali ke markas Perguruan Kera Emas. Di sana, sebilah pisau terbang berukir kepala burung hitam yang ditemukan di tempat kejadian menjadi kunci misteri. Pisau tersebut merupakan lambang dari Perguruan Camar Sakti, sebuah perguruan beraliran putih yang dipimpin oleh Ki Liwung Perkasa—saudara seperguruan Ki Tapaksi Mandragunta yang terlibat perang dingin sejak puluhan tahun lalu akibat perebutan pedang pusaka peninggalan guru mereka.
Malam harinya, bahaya maut mengintai Arya di kamarnya sendiri. Sesosok bayangan hitam misterius menyusupkan asap beracun pelumpuh saraf melalui celah pintu. Arya yang memiliki kepekaan luar biasa segera menahan napas dan berpura-pura terbius. Ketika sang pembunuh melayangkan pukulan maut ke arah pelipisnya, Arya berguling lincah menghindari serangan yang menghancurkan balai-balai bambu tersebut.
Benturan tenaga dalam dahsyat pun terjadi di tengah kegelapan, menggetarkan seluruh dinding kamar. Sadar aksinya gagal dan kehadirannya mulai memancing perhatian murid perguruan, pembunuh misterius itu menjebol dinding lalu melesat kabur ke dalam kegelapan malam. Arya yang sempat tak sengaja menghirup sisa asap beracun akhirnya ambruk, namun berhasil diselamatkan oleh Melati yang dengan sigap menyalurkan hawa murni guna mendorong racun keluar dari tubuh kekasihnya.
Keesokan paginya, Arya dan Melati memutuskan berpisah dari Ki Tapaksi dan Handaka yang hendak menuju Perguruan Camar Sakti. Arya secara cerdas menduga bahwa sang pembunuh sebenarnya adalah orang dalam Perguruan Kera Emas sendiri yang berkomplot dengan pihak luar. Ketika menyadari bahwa Ki Tapaksi dan Handaka berada dalam bahaya besar, Arya dan Melati segera memutar balik kuda mereka untuk menyusul.
Benar saja, di tengah jalan setapak yang diapit hutan lebat, Ki Tapaksi dan Handaka dihadang oleh jaring raksasa dan hujan tombak. Dua puluh sosok berpakaian hitam dengan topeng penutup wajah dan bersenjatakan pedang berukir burung hitam mengepung mereka rapat-rapat. Pertempuran tidak seimbang pun pecah dengan sangat sengit!
Handaka yang kewalahan menghadapi serangan terkoordinasi sepuluh pengeroyok akhirnya terkena sabetan di paha dan lututnya. Tidak sampai di situ, sebuah ledakan bom asap beracun membuatnya jatuh pingsan. Dengan pedang terhunus di leher putranya, salah seorang penjahat memaksa Ki Tapaksi Mandragunta untuk menyerah dan melemparkan goloknya ke tanah. Di saat kritis itulah, sebuah siulan melengking tinggi yang mampu menggetarkan dada terdengar dari kejauhan, menandakan sang penolong telah tiba...