Rabu, 15 Juli 2026

Dewa Arak 58 Mayat Hidup

Dewa Arak 58 Mayat Hidup

Cersil Dewa Arak 58 Mayat Hidup

Baca Online Dewa Arak 58 Mayat Hidup

MAYAT HIDUP

Karya: Aji Saka

Cetakan pertama. Penerbit Cintamedia, Jakarta.

Penyunting: Tuti S. | Hak cipta pada Penerbit.

Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Serial Dewa Arak dalam episode: Mayat Hidup (128 hal. ; 12 x 18 cm).

"Jangan...! Hentikan...!"

Teriakan keras penuh kekhawatiran menguak keheningan malam yang menyelimuti persada ini. Suara itu berasal dari dalam sebuah hutan. Lebih tepatnya, dari salah satu pohon yang ada di seberang sana.

Keributan itu membuat beberapa ekor burung hantu yang hinggap di pohon berterbangan. Tampak seorang pemuda berpakaian ungu dan berambut putih keperakan terbaring di atas salah satu cabang pohon. Sikap dan sepasang matanya yang terpejam menunjukkan pemuda itu tengah tertidur. Jelas, teriakan-teriakan itu keluar tanpa disadari. Pemuda berambut putih keperakan itu tengah bermimpi!

Dari tidurnya yang gelisah, agaknya mimpi pemuda itu kurang baik. Semakin lama keadaan pemuda berambut putih keperakan semakin mengkhawatirkan. Seruan-seruan kekhawatiran senantiasa keluar dari mulutnya. Sampai akhirnya, ketika mimpi itu mencapai puncaknya, pemuda berambut putih keperakan terbangun.

"Ahhh...! Kiranya aku bermimpi..."

Pemuda itu mendesah penuh rasa syukur. Kemudian, duduk di cabang pohon dengan kedua kaki terjulur ke bawah. Kedua tangannya mengusap wajah yang dibanjiri peluh-peluh sebesar jagung. Tampaknya mimpi yang dialaminya cukup mencekam jiwa. Kalau tidak, mustahil pemuda itu mengeluarkan peluh seperti itu. Sebab udara malam sangat dingin hingga menusuk tulang.

Tapi, benarkah semua ini hanya bunga tidur saja?! Apakah ini bukan sebuah pertanda?! Kalau hanya mimpi biasa, mengapa terjadi berturut-turut dan dengan kejadian yang sama?! Tanpa merubah sikap duduknya, pemuda berambut putih keperakan itu menggumam pelan. Terbayang kembali di matanya mimpi yang selalu berulang menghias tidurnya.

Seorang gadis cantik berpakaian putih tengah berjuang menghadapi maut. Gadis itu berusaha mempertahankan selembar nyawanya dari belitan seekor ular besar, yang melilit sekujur tubuhnya. Mulut ular itu hendak memangsa kepalanya!

Di saat gadis berpakaian putih tengah berjuang tampak puluhan batang pedang meluncur ke berbagai bagian tubuhnya. Pedang-pedang yang membuat pemuda berambut putih keperakan bergidik ngeri. Senjata-senjata tajam itu berwarna kemerahan seperti besi dibakar. Sementara itu, tepat di atas gadis berpakaian putih tampak seekor naga berwarna merah menyala. Naga merah itu berusaha menghambat luncuran pedang-pedang aneh itu. Beberapa kali, binatang raksasa itu berusaha memapaki serbuan pedang. Tapi, tubuhnya selalu terpental ke atas seperti membentur sesuatu yang tidak nampak!

Mimpi itulah yang dialami pemuda berambut putih keperakan! Dalam mimpi dilihatnya kepala gadis berpakaian putih masuk ke dalam mulut ular. Tidak hanya itu. Pedang-pedang merah menyala itu pun menembus sekujur tubuhnya. Anehnya, pada saat senjata tajam itu mengenai sasaran, naga merah yang besar itu sudah tidak ada lagi!

"Melati...," ujar pemuda berambut putih keperakan tanpa menyembunyikan rasa khawatir. "Apakah yang terjadi dengan dirimu?!"

Memang, gadis berpakaian putih yang ada di dalam mimpi itu bernama Melati. Sekarang, sudah dapat diterka siapa pemuda berambut putih keperakan. Ya! Dia adalah Arya Buana atau yang lebih dikenal dengan julukan Dewa Arak. Usai berkata, Arya segera melompat turun. Laksana daun kering, Arya mendaratkan kedua kakinya di tanah. Tidak ada sedikit pun bunyi yang terdengar ketika pemuda itu hinggap.

"Rasanya ada kejadian yang membahayakan nyawamu, Melati. Aku yakin mimpi-mimpi yang kualami sebuah isyarat. Kalau tidak guruku, Ki Gering Langit, yang memberitahukannya. Tentu belalang raksasa di alam gaib. Mungkin kesimpulan yang kuambil tidak berlebihan," gumam Arya kembali.

Seketika Arya teringat akan kejadian yang dialaminya sebelum mimpi-mimpi buruk itu muncul. Hal-hal yang semula tidak terlalu dipedulikannya. Tapi sekarang, semua itu teringat kembali! Sebelum mimpi-mimpi buruk itu muncul, rasa gelisah selalu datang mendera batin Arya. Rasa gelisah yang tidak diketahui sebabnya. Perasaan itu muncul begitu saja. Dan ketika Arya memutar benaknya untuk mencari sebab, keterkejutanlah yang diterima. Saat pemikirannya sampai pada Melati, rasa takut yang sangat langsung menyeruak!

Sayangnya, Dewa Arak tidak mempedulikannya. Sikap tidak pedulinya terus berlanjut meski mimpi buruk mulai muncul. Pemuda berambut putih keperakan itu baru memperhatikan ketika mimpi itu berulang terus-menerus. Keyakinan Dewa Arak semakin menebal ketika teringat dirinya memiliki indra keenam, naluri! Dia dapat merasakan adanya bahaya yang tengah mengancam. Hal itu didapatkan Dewa Arak secara tidak sengaja.

Yakin akan kesimpulan yang didapat, pemuda itu melesat meninggalkan hutan itu. Tanpa ragu-ragu seluruh ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan. Seketika itu pula bentuk tubuhnya lenyap. Yang terlihat hanya sekelebatan bayangan ungu, melesat cepat menuju ke arah timur. Kalau saja ada penduduk desa yang melihatnya, tentu akan menyangka sosok bayangan itu hantu yang tengah berkeliaran mencari mangsa!

Siang itu cuaca benar-benar tidak menyenangkan. Matahari yang berada tepat di atas kepala memancarkan sinarnya dengan garang. Seakan-akan dengan sinarnya itu sang Surya hendak melelehkan apa saja yang ada di permukaan mayapada. Dalam cuaca sepanas itulah serombongan pasukan berkuda berpacu cepat meninggalkan Hutan Rajang.

Disqus Comments