Rabu, 15 Juli 2026

Dewa Arak 51 Raja Iblis Berhati Hitam

Dewa Arak 51 Raja Iblis Berhati Hitam

Cersil Dewa Arak 51 Raja Iblis Berhati Hitam

Baca Online Dewa Arak 51 Raja Iblis Berhati Hitam

Bergabunglah dengan komunitas pencinta Cerita Silat Indonesia di Facebook: Grup Penggemar Novel Silat Klasik

Episode 1: Kebangkitan Raja Sihir Berhati Hitam

BACA SINOPSIS & CUPLIKAN EKSKLUSIF

"Haaattt...!"

"Hiyaaa...!"

Teriakan-teriakan keras menggelegar memecah kesunyian pagi di lereng Gunung Randu Alas. Beberapa burung yang bertengger di sebuah cabang pohon di dekat tempat itu terkejut dan bergegas terbang menjauh.

Memang hebat bukan main akibat yang ditimbulkan teriakan-teriakan itu. Sekitar tempat itu bergetar hebat. Pertanda pemilik suara teriakan itu memiliki tenaga dalam yang luar biasa tinggi! Bunyi riuh-rendah itu ternyata berasal dari dua sosok tubuh yang tengah terlibat pertarungan hidup dan mati.

Ciri-ciri mereka tidak tampak jelas karena keduanya bergerak laksana kilat yang menyambar. Yang terlihat di mata awam hanyalah bayangan coklat dan kuning yang berkelebat saling belit, sesekali terpisah sesaat lalu kembali berbenturan di udara.

Sungguh hebat pertarungan itu. Bunyi mendecit, mengaung, dan menderu, menyemaraki suasana pertempuran yang menegangkan. Suara-suara dahsyat itu terdengar setiap kali sosok bayangan coklat dan kuning melancarkan serangan-serangan maut. Tanah pun terbongkar di sana-sini, dan debu mengepul tinggi ke udara laksana badai pasir kecil.

Sementara itu, tak jauh dari kancah pertarungan sengit tampak dua sosok tubuh berdiri tegak dengan pandangan tajam tertuju ke arah pertempuran. Keduanya telah berusia lanjut namun memancarkan wibawa yang luar biasa kuat.

Sambil menikmati kelanjutan kisah menegangkan ini, Anda juga dapat mengikuti babak pertempuran pendekar golongan putih lainnya secara lengkap lewat tautan eksklusif ini: Dewa Arak 44 Tawanan Datuk Sesat.

Yang seorang adalah kakek berpakaian putih bersih dan berkepala botak licin. Tangan kanannya dengan santai menggenggam sebatang kipas. Sesekali kipas yang terlipat itu dikembangkan, kemudian digunakan untuk mengipasi wajahnya yang tampak tenang tanpa beban.

Sosok yang satunya lagi bertubuh kecil kurus dan mengenakan pakaian berwarna biru tua. Jenggot panjang berwarna kekuningan menghias dagunya yang keriput. Berkali-kali tangan keriputnya yang kurus mengusap-usap jenggot itu seraya menggeleng-gelengkan kepala perlahan.

Semua itu dilakukannya tanpa pernah melepaskan sedetik pun pandangan matanya dari kancah pertarungan yang kian memanas. Terlihat jelas kalau kakek berjenggot kuning itu sedang dilanda rasa kagum yang amat sangat. Hal itu terbukti beberapa saat kemudian ketika ia akhirnya membuka suara.

"Kau kini patut berbangga hati, Kidang Loka. Murid-muridmu ternyata tidak mengecewakanmu. Tampaknya mereka telah mewarisi seluruh kepandaian dan intisari ilmu silatmu yang dahsyat," ujar kakek berpakaian biru dengan nada penuh pujian.

"He he he...!"

Kakek berpakaian putih yang dipanggil Kidang Loka itu terkekeh pelan. Kipas di tangannya kembali dikembangkan, lalu dikebut-kebutkan ke arah wajahnya yang kemerahan akibat hawa hangat dari kancah pertarungan.

"Kau terlalu memuji, Kerta. Apa artinya kepandaian yang dimiliki murid-muridku ini, bila dibandingkan dengan kemampuan luar biasa dari murid-muridmu sendiri?!" sahut Kidang Loka merendah.

"He he he...!"

Kakek berjenggot kuning yang dipanggil Kerta—dengan nama sebenarnya Ganda Kerta—itu tertawa pelan namun bergetar hebat. Tawa itu jelas sekali bukan tawa biasa, melainkan tawa yang dialiri tenaga dalam yang sangat kuat dan matang.

"Kau tidak pernah berubah, Kidang Loka. Masih tetap rendah hati seperti dulu kala. Benarlah kata pepatah kuno, orang yang berilmu tinggi itu tak ubahnya seperti padi... semakin berisi, ia akan semakin merunduk dan tidak sombong."

"He he he...! Kau paling bisa saja menyenangkan hatiku, Kerta," sambut Kidang Loka di sela-sela tawa renyahnya.

Ganda Kerta tidak memberikan sambutan verbal lagi. Hanya tawa terkekeh yang terus dikeluarkannya secara teratur. Hingga di tengah-tengah riuh-rendahnya benturan senjata dan jurus dalam pertarungan itu, terdengar tawa-tawa lembut yang menyeruak di antara rimbunnya lereng gunung. Tawa pelan namun penuh getaran tenaga dalam yang sanggup meruntuhkan nyali lawan yang berjiwa lemah.

Tawa itu baru benar-benar terhenti ketika dari arah kancah pertempuran mendadak terdengar teriakan-teriakan panjang yang memecah konsentrasi. Itu terjadi tepat ketika dua sosok bayangan yang sejak tadi bertempur sama-sama melompat tinggi, menerjang maju dengan kedua telapak tangan dihentakkan penuh tenaga!

Akibat yang ditimbulkan sungguh mengerikan....

Blam!

Bunyi benturan keras laksana halilintar di siang bolong menyambar ketika dua pasang telapak tangan yang dialiri tenaga dalam murni tingkat tinggi saling berbenturan di udara. Sesaat kemudian, akibat daya tolak yang maha dahsyat, tubuh kedua sosok bayangan itu terpelanting dan terjengkang ke belakang dengan cepat!

"Hup!"

Berbeda halnya dengan sosok berpakaian kuning yang mampu melakukan putaran di udara dan mendarat dengan manis di atas tanah, sosok berpakaian coklat justru tampak terhuyung-huyung beberapa tindak dan hampir saja jatuh terjungkal. Untunglah, dengan mengandalkan sisa tenaganya ia segera dapat memperbaiki kedudukan kakinya.

Dari pertarungan singkat namun intensif ini, para sesepuh yang mengawasi langsung dapat mengetahui bahwa tingkat kekuatan tenaga dalam sosok berpakaian coklat masih berada selapis di bawah lawannya yang berpakaian kuning. Namun, pemuda berpakaian coklat itu rupanya tidak menjadi gentar sedikit pun oleh kekalahannya dalam benturan pertama.

Begitu berhasil menstabilkan posisinya kembali, secepat kilat ia memasang kuda-kuda kokoh dan bersiap melancarkan serangan balasan yang jauh lebih berbahaya. Sosok kuning pun tidak tinggal diam; dari sorot matanya yang tajam tampak jelas kalau ia juga telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi terjangan dahsyat dari sang lawan.

Namun, sebelum benturan kedua yang berpotensi mematikan itu terjadi...

"Cukup!"

Seketika itu juga, seluruh ketegangan otot dari sosok kuning dan coklat yang telah menegang kaku perlahan mengendur kembali. Mereka sama sekali tidak berani membangkang ataupun meneruskan gerakan menyerang karena tahu persis siapa pemilik suara berwibawa yang menghentikan mereka. Ya, dialah sang Guru, Kidang Loka!

Disqus Comments