Dewa Arak 59 Titipan Berdarah
Cersil Dewa Arak 59 Titipan Berdarah
Baca Online Dewa Arak 59 Titipan Berdarah
Sinopsis & Cuplikan Kisah: Titipan Berdarah
Sebelum membaca kisah ke-59 ini, Anda juga dapat mengikuti petualangan seru sebelumnya dalam serial Dewa Arak 52 Manusia Kelelawar yang tidak kalah menegangkan.
Ctarrr! Ctarrr! Bunyi lecutan cambuk mengiringi gemeretaknya roda kereta yang menggilas jalan tanah berdebu, semakin menambah tidak nyamannya suasana di persada. Siang itu matahari memancarkan sinarnya dengan garang. Sementara, di angkasa tidak tampak awan sedikit pun. Ketidaknyamanan itu semakin lengkap dengan hembusan angin panas yang membawa debu. Tapi, semua itu seperti tidak dirasakan oleh orang-orang yang berada di sebuah kereta sederhana. Seekor kuda berbulu coklat keputih-putihan terseok-seok menariknya.
"Cepatlah sedikit, Ki...! Aku khawatir mereka telah mengetahui kepergianku, dan sekarang tengah menyusul...!" Seruan itu berasal dari dalam kereta. Nada suaranya yang lembut menunjukkan kalau pemiliknya seorang wanita. Kusir kereta berkulit kemerahan menyahut mantap, "Jangan khawatir, Ni! Aku yakin dengan si Botak, kudaku, mereka tidak akan berhasil menyusul kita…!"
Perjalanan menjadi lambat saat melalui jalan kecil berkelok-kelok dengan dinding tebing batu di kanan dan jurang tanpa dasar di kiri. Mendadak, batu-batu berguguran dari atas tebing. Sepuluh orang kasar menghadang jalan. Mereka adalah kelompok pimpinan Talipaksa, lelaki berotot laksana banteng dengan cambang lebat yang menakutkan. Dari dalam kereta, melesat wanita cantik jelita berpakaian hijau bernama Nini Andiningsih. Bersama kusir kereta, mereka mencoba bertahan.
"Aku tidak takut, Ki! Aku lebih suka mati, daripada melarikan diri seperti anjing hendak dipukul!" tandas Andiningsih tegas.
Pertarungan berdarah pun pecah. Kusir kereta yang tua bertarung gagah berani namun akhirnya tewas mengenaskan; kepalanya terbasas lepas oleh tebasan pedang anak buah Talipaksa yang berwajah codet. Kehilangan fokus membuat Andiningsih terkena totokan mati dari Talipaksa hingga tubuhnya kaku tak berdaya di tanah. Saat gerombolan penyamun itu berniat melakukan tindakan keji dan memperkosanya secara bergilir, terdengar tangisan bayi yang kencang dari dalam kereta!
Tepat ketika Talipaksa hendak mengayunkan pedang untuk membantai bayi suci itu, sesosok pemuda tampan berpakaian ungu dengan rambut putih keperakan melesat bagai kilat. Dialah Arya Buana, pendekar legendaris yang dikenal dengan julukan Dewa Arak! Hanya menggunakan sebilah sabuk ungu, Arya mematahkan perlawanan Talipaksa dan menghancurkan komplotannya dengan jurus sakti "Delapan Cara Menaklukkan Harimau" dan "Sepasang Tangan Penakluk Naga".
Malang tak dapat ditolak, Andiningsih yang merasa kesuciannya telah ternoda memilih menghujamkan pedang ke perutnya sendiri. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia menitipkan bayi tersebut kepada Dewa Arak untuk diserahkan kepada sang ayah, Saudagar Jayeng Kertacundraka di Desa Bonggol. Bayi malang tersebut ternyata merupakan putra dari mendiang kakaknya, Setyaning.
Perjalanan membawa bayi bukanlah hal mudah bagi seorang pendekar muda yang terbiasa hidup bebas. Beruntung, ia sempat dibantu oleh seorang wanita setengah baya yang memberinya air susu kambing dan meminjamkan seekor kuda. Di tengah jalan, ia dihadang oleh utusan Perguruan Macan Kumbang pimpinan Sukrasana yang menuduh Andiningsih menculik bayi tersebut demi uang imbalan. Sukrasana memperingatkan bahwa Jayeng Kertacundraka adalah penganut ilmu hitam yang mengincar darah bayi lahir di malam bulan purnama.
Kebimbangan melanda hati Arya Buana, namun ia tetap bersikeras mengantarkan bayi tersebut langsung ke Desa Bonggol demi menepati janjinya kepada mendiang Andiningsih. Pertarungan kembali tak terhindarkan. Arya terpaksa merobohkan Limbong dan rekan-rekannya dengan menyedot energi dalam mereka sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan melompati jembatan jurang terjal.
Sesampainya di kediaman megah berpagar batu tinggi di Desa Bonggol, Arya dihadapi oleh sosok buncit berpakaian mewah yang mengaku sebagai Jayeng Kertacundraka. Namun, kejelian naluri sang pendekar mendeteksi kejanggalan ketika pria tersebut langsung menyerangnya tanpa memedulikan keselamatan si bayi. Berkat peringatan dari seorang kakek pendek kekar misterius, terungkaplah bahwa pria mewah tersebut adalah sosok gadungan!
Pertarungan sengit babak baru meletus antara Dewa Arak melawan Jayeng Kertacundraka palsu yang ternyata menguasai ilmu hitam mengerikan "Tangan Besi". Dengan meletakkan bayi di tempat yang aman, Arya mengerahkan seluruh keahlian ilmu langkah kaki "Belalang Sakti" sembari sesekali meneguk guci araknya guna memanggil kekuatan murni tubuhnya untuk menumpas kejahatan tersebut...
Link Alternatif Baca Dewa Arak 59: Titipan Berdarah
Bagi rekan-rekan pembaca yang ingin menikmati kelanjutan per-episode secara langsung melalui platform sosial media, silakan kunjungi dokumentasi tautan resmi grup berikut:
- Grup Diskusi Utama: Gabung Komunitas Facebook Dewa Arak
- Episode 1: Baca Episode 1 di Facebook
- Episode 2: Baca Episode 2 di Facebook
- Episode 3: Baca Episode 3 di Facebook
- Episode 4: Baca Episode 4 di Facebook