Dewa Arak 65 Si Linglung Sakti
Cersil Dewa Arak 65 Si Linglung Sakti
Baca Online Dewa Arak 65 Si Linglung Sakti
Alur takdir dunia persilatan nusantara selalu dipenuhi kabut misteri yang sulit ditebak. Setelah para pembaca setia disuguhkan ketegangan luar biasa pada kisah sebelumnya dalam Dewa Arak 58 Mayat Hidup, kini petualangan baru yang tidak kalah mendebarkan hadir menemani Anda. Bersiaplah menelusuri lembah sunyi penuh intrik bersama sang pendekar dalam lembaran kisah klasik berikut ini.
Malam itu langit kelihatan cerah. Tidak ada awan yang menggantung di cakrawala malam. Bulan yang bersinar penuh di angkasa menambah terang suasana persada, menyinari hamparan hutan belantara dengan cahayanya yang perak keemasan. Suasana tampak begitu terang dan hening, seolah menjanjikan kedamaian bagi siapa saja yang melintasinya.
Namun, keheningan alam liar itu ternyata tidak berlangsung lama. Bunyi lecutan cambuk yang membelah angin malam, derap kaki kuda yang dipacu kencang, serta gemeretak roda kereta kayu yang beradu dengan jalanan berbatu segera mengganggu keindahan malam yang syahdu tersebut.
Sesaat kemudian, dari balik keremangan jalan setapak, muncullah sebuah kereta megah yang ditarik oleh dua ekor kuda jantan berotot kuat. Beberapa lelaki gagah dengan pakaian seragam dan menunggangi kuda pilihan tampak mengiringi pergerakan kereta tersebut. Mereka berjumlah dua belas orang; sebuah formasi pengawalan yang sangat ketat dan mencurigakan. Enam orang pengawal berkuda di depan, empat orang berjaga di sisi belakang, dan masing-masing satu orang berada tepat di sisi kanan serta kiri kereta pelindung.
"Hooop...!"
Penunggang kuda terdepan yang memiliki kumis melintang tebal tiba-tiba mengangkat tangan kanannya ke atas secara mendadak. Sedangkan tangan kirinya dengan sigap menarik tali kekang kuda kuat-kuat hingga binatang tunggangannya itu mendengus kencang dan menghentikan langkah kakinya. Iring-iringan kereta dan pengawal lainnya yang berada di belakangnya pun secara otomatis ikut menghentikan pergerakan mereka.
"Kita beristirahat di tempat ini dulu," ujar lelaki berkumis melintang yang bertindak sebagai kepala rombongan tersebut dengan nada tegas.
Sesuai perintahnya, binatang tunggangan mereka segera ditambatkan secara rapi pada dahan-dahan pohon rindang yang tumbuh subur di kanan kiri jalan. Adapun kereta utama yang ditarik oleh dua ekor kuda dibiarkan tetap diam di tengah jalan setapak demi memudahkan pergerakan taktis jika sewaktu-waktu terjadi bahaya mendadak.
"Hati-hati, waspadai setiap sudut keadaan di sekeliling kita!" perintah kepala rombongan itu kembali dengan suara rendah namun sarat akan ketegasan tenaga dalam.
Dua belas orang pengawal terlatih itu pun segera berpencar dengan langkah-langkah kaki yang ringan tanpa suara. Masing-masing pengawal mengambil posisi strategis yang sangat menguntungkan untuk melakukan penjagaan berlapis. Tampak jelas bahwa rombongan rahasia ini tengah membawa barang atau sosok orang penting di dalam perut kereta kayu tersebut. Sikap waspada yang tinggi terpancar jelas dari raut wajah para pengawal yang menegang. Tangan kanan mereka tidak pernah lepas sedikit pun dari gagang senjata tajam yang tergantung di pinggang masing-masing.
"Hhh... sungguh sebuah perjalanan malam yang sangat melelahkan dan menguras tenaga," desah kusir kereta tua seraya melompat turun dengan lincah dari tempat duduk tingginya.
Lelaki tua berambut abu-abu kelabu itu berjalan mendekati sang kepala rombongan yang saat itu tengah berdiri bersandar pada sebatang pohon beringin besar di pinggir jalan setapak.
"Apakah jarak kita masih sangat jauh dari tempat tujuan utama kita, Tuan Suro Gento?" tanya sang kusir kereta tua seraya memijat perlahan bagian pinggangnya yang terasa sangat kaku setelah berjam-jam mengendalikan laju kereta.
Lelaki berkumis melintang tebal yang dipanggil dengan nama Suro Gento itu memalingkan kepalanya perlahan, menatap tajam ke arah kusir tua itu.
"Sebelum tanda fajar menyingsing di ufuk timur, kita dipastikan sudah harus memasuki perbatasan Kadipaten Singasari, Paman," jawab Suro Gento dengan nada suara parau yang khas namun tetap terdengar sangat tenang berwibawa.
"Ah, syukurlah kalau memang begitu kenyataannya. Aku sangat khawatir jika kita terlalu lama berada di jalan terbuka seperti ini, kesehatan Gusti Ayu Suhita akan terganggu akibat terpaan angin malam yang sangat dingin," kata sang kusir kereta tua seraya mengarahkan lirikan matanya yang penuh rasa hormat ke arah tirai jendela kereta yang tertutup rapat.
"Kuharap semua rencana kita berjalan lancar tanpa kendala, Paman. Kita semua hanya bisa berdoa dan waspada agar bisa selamat sampai ke tempat tujuan akhir." Suro Gento mengembuskan napas panjang yang terasa berat.
Tanggung jawab yang diletakkan di atas pundaknya kali ini memang tergolong luar biasa berat. Dia berkewajiban penuh untuk mengawal keselamatan Gusti Ayu Suhita, putri cantik dari seorang bangsawan agung yang terpaksa melarikan diri demi menghindari kejaran kejam dari musuh-musuh politik keluarganya yang haus akan kekuasaan.
Secara tiba-tiba, hawa dingin malam yang semula biasa saja mendadak berubah drastis menjadi sangat mencekam dan membekukan sumsum tulang. Desau angin gunung yang bertiup perlahan di sela-sela dedaunan seolah mengirimkan getaran firasat buruk langsung ke dalam relung dada Suro Gento yang peka.
"Paman, segera kembalilah ke posisi dekat pintu kereta!" bisik Suro Gento dengan nada suara yang bergetar penuh kewaspadaan tingkat tinggi.
Kusir tua yang berpengalaman itu langsung mengangguk cepat tanpa banyak bertanya, lalu melangkah lebar kembali ke posisinya semula di dekat roda depan kereta. Suro Gento kemudian melayangkan pandangan matanya ke arah rimbunnya semak-semak belukar yang berada sekitar beberapa puluh langkah di depan rombongan mereka berhenti.
Sebagai seorang jawara tangguh yang telah kenyang menghadapi pahit manisnya pertarungan di dunia persilatan, ia mampu merasakan adanya sisa-sisa getaran hawa murni yang sangat kuat sengaja ditekan dan disembunyikan di balik kegelapan hutan malam yang lebat.
"Siapa sebenarnya yang bersembunyi di balik semak-semak itu? Jangan bertindak seperti pengecut, tunjukkan diri kalian sekarang juga!" teriak Suro Gento lantang membelah keheningan hutan malam.
Suaranya yang dilepaskan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi itu menggema dahsyat hingga membuat kawanan burung malam terkejut dan terbang berhamburan dari atas sarang pepohonan. Sunyi pun kembali menguasai tempat tersebut selama beberapa detik yang menegangkan.
Hingga akhirnya, terdengar suara tawa terkekeh-kekeh bernada dingin, melengking tinggi menembus telinga siapa saja yang mendengarnya.
"Ha ha ha! Suro Gento, ternyata reputasi ketajaman indramu memang bukan sekadar isapan jempol belaka. Pantas saja sang adipati mempercayakan keselamatan barang berharga ini ke dalam tanganmu," sahut sebuah suara misterius.
Seketika itu juga, sesosok tubuh tinggi kurus yang mengenakan pakaian serba hitam mendadak melesat keluar dari pekatnya kegelapan malam. Sosok itu mendarat dengan sangat ringan, nyaris tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, di atas sebongkah batu hitam besar di tepi jalan setapak. Menyusul dengan cepat di belakang pergerakannya, lima orang lelaki berwajah bengis dengan mata liar memegang senjata tajam yang berkilau tertimpa cahaya bulan ikut menunjukkan batang hidung mereka.
"Iblis Bermata Satu!" desis Suro Gento pelan, namun nadanya sarat akan kekhawatiran setelah mengenali ciri khas tokoh tinggi kurus di hadapannya itu.
Tokoh hitam tersebut sangatlah ditakuti di seantero rimba persilatan karena memiliki tabiat yang sangat kejam dan tidak pernah menyisakan musuhnya hidup-hidup.
"Serahkan Gusti Ayu Suhita secara baik-baik kepada kami sekarang juga, maka kami akan berbaik hati membiarkan kalian semua pergi dari tempat ini dengan kepala yang masih melekat erat di leher!" seru sang Iblis Bermata Satu diiringi tawa congkak yang memuakkan.
"Langkahi dulu tumpukan mayat kami semua sebelum jemari kotormu bisa menyentuh badan kereta pengawal ini!" balas Suro Gento dengan suara mantap seraya mencabut pedang besarnya yang langsung mengeluarkan dengungan tajam pertanda siap bertarung hingga tetes darah terakhir.
"Bagus! Jika kematian yang kalian pilih sebagai jalan keluar, bersiaplah untuk segera menemui ajal kalian di tempat sunyi ini!"
Pertempuran hidup mati yang sangat sengit pun akhirnya pecah di bawah siraman cahaya rembulan yang keperakan. Dua belas orang pengawal berani mati langsung merangsek maju menahan laju serangan anak buah Iblis Bermata Satu yang ternyata dibekali ilmu silat tingkat tinggi yang merepotkan. Suara dentingan nyaring senjata yang saling berbenturan menghasilkan letupan percikan api kecil di tengah remangnya hutan belantara.
Suro Gento sendiri langsung berhadapan satu lawan satu dengan sang Iblis Bermata Satu. Pertukaran jurus maut dan pengerahan tenaga murni pun terjadi dengan sangat cepat hingga membentuk bayangan yang sulit diikuti mata telanjang. Pedang besar di tangan Suro Gento berputar hebat layaknya badai angin topan, menebarkan hawa dingin yang mengincar langsung titik-titik mematikan di tubuh lawannya.
Namun, Iblis Bermata Satu bukanlah lawan kelas teri yang mudah ditaklukkan begitu saja. Dengan mengandalkan kelincahan tubuhnya serta sepasang belati beracun berwarna kebiruan, ia terus berkelit menghindari tebasan pedang Suro Gento, bahkan sesekali mampu mengirimkan totokan balik yang sangat mengancam keselamatan sang pemimpin pengawal.
Di tengah-tengah pertarungan yang tengah memuncak dan membara itu, dari kejauhan tampaklah sesosok tubuh pemuda berjalan mendekat dengan langkah kaki yang sangat limbung dan terhuyung-huyung di antara pepohonan hutan yang lebat. Pemuda asing itu mengenakan jubah yang sangat kumal, compang-camping, serta memiliki rambut acak-acakan yang tidak terurus. Wajahnya tampak sangat linglung dengan pandangan mata yang kosong melongpong layaknya seseorang yang kehilangan seluruh ingatannya akibat guncangan jiwa.
Akan tetapi, ada satu hal yang sangat aneh sekaligus mustahil sedang terjadi. Meskipun pemuda linglung itu berjalan tepat di tengah-tengah lingkaran pertempuran sengit yang sedang berkecamuk, tidak ada satu pun sabetan pedang nyasar maupun lesatan batu tajam akibat pecahan tenaga dalam yang mampu menyentuh ujung pakaian lusuhnya. Setiap kali sebuah mara bahaya maut hendak mengenai tubuhnya, secara ajaib posisi badannya bergeser sendiri dengan gerakan konyol yang sangat tepat untuk meloloskan diri dari bahaya tersebut.
"Hehe... bulan di atas sana... bulannya bundar dan putih sekali, persis seperti kue mantau hangat kesukaanku," gumam sang pemuda linglung dengan nada suara kekanak-kanakan sembari mengangkat telunjuknya menatap langit malam tanpa memedulikan sekelilingnya yang sedang berdarah-darah.
Dia seakan buta dan tuli terhadap suara rintihan kesakitan para pengawal maupun teriakan kemarahan dari gerombolan penyerang bayaran tersebut.
"Siapa keparat gila yang berani menghalangi jalan kita ini?!" teriak salah satu anak buah Iblis Bermata Satu yang merasa geram melihat jalannya dihalangi oleh si pemuda linglung.
Tanpa pikir panjang lagi, lelaki bermuka bopeng itu mengayunkan golok besarnya yang berkilauan tajam, berniat memenggal leher si pemuda kumal dalam satu gerakan tebasan cepat. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain dan membuat bulu kuduk berdiri.
Tepat saat mata golok yang tajam itu hanya berjarak satu jengkal dari kulit lehernya, pemuda linglung tersebut tiba-tiba saja bersin dengan sangat keras akibat debu malam. "Atsyuuu!" Bersamaan dengan suara bersinnya yang meledak itu, tubuhnya secara refleks membungkuk ke arah depan secara drastis.
Gerakan menghindar tak terduga yang tampak sangat menggelikan itu tidak hanya membuat sabetan golok tajam musuh meleset kosong membelah angin kosong di atas kepalanya, namun bagian punggung pemuda itu tanpa sengaja menyenggol dada sang penyerang dengan kekuatan yang sangat dahsyat.
Brakkk!
Terdengar suara derakan mengerikan dari tulang rusuk yang patah berantakan. Tubuh kekar sang penyerang langsung terpental jauh ke belakang sejauh belasan depa, menghantam batang pohon jati besar hingga tumbang, sebelum akhirnya ambruk ke tanah dan tewas seketika dengan muntahan darah segar yang kental dari mulutnya.
Melihat kejadian luar biasa yang mengerikan sekaligus membingungkan tersebut, jalannya pertempuran sengit di area itu mendadak terhenti seketika. Seluruh mata pengawal yang tersisa serta gerombolan penyerang kini terbelalak lebar menatap penuh ke arah pemuda linglung yang saat itu masih tampak sibuk mengucek-ucek ujung hidungnya yang gatal akibat bersin.
"Siapa sebenarnya pemuda gila ini? Apakah dia adalah seorang tokoh sakti mandraguna yang sengaja menyamar demi merusak seluruh rencana rahasia kita malam ini?" bisik Iblis Bermata Satu dengan dahi berkerut tegang, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Di saat yang sama, dari dalam keheningan kereta kayu, tirai jendela perlahan-lahan tersibak sedikit. Gusti Ayu Suhita mengintip keluar dengan raut wajah cemas yang bercampur heran, menatap lekat-lekat ke arah sosok penolong misterius yang tampak sangat aneh dan tak biasa tersebut.