Kamis, 16 Juli 2026

Keris Pusaka Nogopasung Kho Ping Hoo

Keris Pusaka Nogopasung Kho Ping Hoo

Cerita Silat Keris Pusaka Nogopasung Kho Ping Hoo

Baca Online Keris Pusaka Nogopasung Kho Ping Hoo


Kisah Klasik Keris Pusaka Nogopasung Karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Ilustrasi Lembaran Emas Cerita Silat Legendaris Tanah Jawa

Jilid 01: Pertemuan di Tepi Sungai

Dusun Pangkur di kaki Gunung Kawi merupakan sebuah dusun yang cukup besar dengan penghuninya yang hidup tenteram. Sawah ladang menghasilkan panen yang baik, hujan turun tepat pada waktunya dan sudah bertahun-tahun tidak ada gangguan hama. Penghuni dusun itu merasa makmur hidup mereka, walaupun tentu saja kalau diukur dari pandang mata orang kadipaten atau kerajaan, kehidupan para petani di Dusun Pangkur itu terlalu sederhana dan miskin.

Gajahporo, seorang pemuda yang berasal dari Dusun Pangkur, merasa bahagia sekali karena dia berhasil mempersunting Ken Endok, gadis yang dikenal sebagai kembangnya Dusun Pangkur. Seperti lazimnya perjodohan jaman itu, sebelum bersanding menjadi pengantin, Ken Endok belum pernah bertemu muka dengan suaminya. Tentu saja Gajahporo sudah seringkali mencuri pandang dengan sembunyi-sembunyi dan dialah yang tergila-gila pada Ken Endok.

Berkat keadaan bapaknya yang merupakan petani yang memiliki sawah luas dan belasan ekor kerbau, maka pinangan diterima dan menikahlah Gajahporo dengan Ken Endok yang cantik jelita. Ketika Ken Endok menitikkan air mata dan menahan isak pada saat kedua pengantin dipertemukan, semua orang termasuk Gajahporo hanya menduga bahwa gadis menangis karena malu, karena terharu atau mungkin juga karena bahagia.

"Akan tetapi hanya Ken Endok sendirilah yang tahu bahwa tangisnya bukan karena semua itu, melainkan karena kecewa dan berduka..."

Beberapa pekan yang lalu, ketika mencuci pakaian di anak sungai luar dusun bersama kawan-kannya, muncul seorang pemuda yang menunggang kuda. Melihat pemuda itu menghentikan kudanya di tepi sungai, para dara dusun itu berlarian sambil menahan tawa. Akan tetapi Ken Endok tiada dapat melarikan diri karena cuciannya terlampau banyak.

Seorang pemuda yang luar biasa tampannya! Seperti Sang Arjuna dalam pandangan Ken Endok yang biasanya hanya melihat laki-laki dusun dengan pakaian serba kumal. Pemuda ini mengenakan pakaian priyayi, wajahnya demikian elok seolah-olah mengeluarkan cahaya gemilang, seperti Dewa Kamajaya baru turun dari khayangan!

Pemuda itu pun terpesona melihat kecantikan Ken Endok yang alami tanpa riasan. Ia turun dari kudanya dan menyapa dengan lembut:

"Apakah aku sedang mimpi? Ataukah benar-benar aku sedang melihat seorang bidadari turun dari khayangan dan mandi di anak sungai?"

Pertemuan singkat itu membekas sangat dalam di lubuk hati Ken Endok. Meskipun akhirnya ia resmi dinikahkan dengan Gajahporo, bayangan pemuda tampan itu tak pernah hilang dari ingatannya. Hal inilah yang membuatnya selalu segan dan menolak melayani suaminya di atas pelaminan.

Hingga pada suatu pagi yang cerah, saat Ken Endok hendak mengirimkan makanan berupa sayur jagung dan ikan lele bakar untuk suaminya yang sedang membajak sawah di luar dusun, takdir mempertemukannya kembali dengan pemuda impiannya itu di tengah jalan sepi.

Pertemuan kedua ini menepis seluruh keraguan mereka. Di bawah rindangnya pepohonan dan kepungan kabut pagi, pemuda yang mengaku sebagai titisan Sang Hyang Brahma itu merengkuh Ken Endok. Keduanya hanyut dalam jalinan asmara yang berujung pada kehamilan Ken Endok tanpa pernah disentuh oleh Gajahporo sekalipun.

Ketika kabar kehamilan itu merebak, Gajahporo murka. Keyakinannya runtuh bahwa istrinya telah berselingkuh dengan pria lain, meskipun sang ibu mertua memercayai dongeng bahwa anak yang dikandung Ken Endok adalah benih suci dari Sang Hyang Brahma yang kelak harus diberi nama Ken Arok.

Jilid 02: Tragedi Sabuk Tembaga & Lahirnya Sang Legenda

Prahara asmara tersebut rupanya menyeret maut. Pemuda tampan yang mengaku dewa itu sejatinya bernama Ginantoko, keponakan senopati Tumapel sekaligus murid kesayangan pembuat keris legendaris, Empu Gandring. Sifatnya yang mata keranjang membawanya pada akhir hidup yang tragis di ujung keris pusaka ciptaan gurunya sendiri, Kyai Nogopasung, setelah ia berselingkuh dengan Galuhsari, istri dari ketua perkumpulan persilatan Sabuk Tembaga, Ki Bragolo.

Kematian Ginantoko menyisakan duka mendalam. Bayi yang dikandung Ken Endok akhirnya lahir di tengah penderitaan batin yang luar biasa. Sang bayi ditinggalkan di pemakaman sunyi sebelum akhirnya diselamatkan oleh seorang gembong pencuri bernama Ki Lembong. Bayi itulah yang tumbuh menjadi Ken Arok—seorang pemuda yang cerdas, lincah, namun terjebak dalam dunia hitam perjudian dan pencurian sejak usia belia.

"Seorang manusia ketika masih bayi bagaikan buku tulis yang masih bersih. Lingkungan sekitarnyalah yang akan mengukir jalannya sejarah..."

Perjalanan takdir membawa Ken Arok bertualang dari satu dusun ke dusun lain setelah ia menghabiskan ternak titipan lurah di meja judi. Dalam pelariannya, ia bertemu dengan tokoh-tokoh penting seperti Bango Samparan yang mengangkatnya sebagai anak, hingga ia menjalin kasih dengan perawan manis bernama Cucupuranti. Rasa petualangan membawanya berteman akrab dengan Panji Tito, anak buyut Sagenggeng, setelah menyelamatkannya dari pengeroyokan karena mencuri paha kambing.

Keduanya tertawa cekikikan dan segera membuat api unggun di tengah tegalan sunyi untuk memanggang daging curian tersebut, tanpa menyadari bahwa takdir besar sedang menanti mereka di bawah bimbingan Begawan Jumantoko.


Rekomendasi Cerita Silat Terbaik:

Bagi Anda pencinta kisah pertarungan dunia persilatan yang penuh intrik dan kesaktian tingkat tinggi, jangan lewatkan untuk baca kisah silat legendaris Dewa Arak 61 Raja Iblis Tanpa Tanding yang menyajikan pertempuran epik tiada tanding.


Daftar Link Baca Resmi di Sosial Media

Dukung komunitas pembaca cersil dengan bergabung di Grup Facebook Cerita Silat untuk mendapatkan update rilis terbaru.

Akses Cepat Episode Keris Pusaka Nogopasung:

Disqus Comments