Kidung Senja Di Mataram -- Kho Ping Hoo
Baca Online Kidung Senja Di Mataram -- Kho Ping Hoo
Cersil Kidung Senja Di Mataram -- Kho Ping Hoo
Rekomendasi Cerita Silat Pilihan
Sembari membaca kisah senja di bumi Mataram, bagi Anda pecinta kisah persilatan klasik yang legendaris, jangan lewatkan untuk baca online Dewa Arak 62: Perempuan Pembawa Maut secara lengkap dan gratis. Nikmati pertarungan penuh intrik dan kesaktian yang mendebarkan!
Karya: Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01
Sang Bagaskara mengundurkan diri ke balik puncak bukit sebelah barat, mengakhiri tugasnya sehari penuh di bagian bumi sebelah sini dan mulai menunaikan tugasnya di bagian bumi sebalah sana. Surutnya sang raja siang masih meninggalkan bekas kebesarannya. Langit di barat dibakarnya, menjadi hamparan merah dihias awan putih di sana-sini, di seling warna biru di antara sinar redup keemasan.
Senja di Pegunungan Lawu amatlah indahnya, indah dan agung, bukti kekuasaan, kebesaran dan keagungan Sang Maha Pencipta. Tiga ekor kerbau melangkah santai melintas padang rumput, ayem dan senang karena perut mereka kenyang, menuju pulang kandang. Perasaan mereka seolah hanyut oleh lengking suling yang ditiup anak laki-laki yang duduk di punggung kerbau terbesar yang berjalan di depan.
Lengking yang lembut dengan lagu Dandanggula yang sederhana, namun suara itu menjadi suci karena menyatu dengan keadaan, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari alam di senja itu. Lengking suling dalam lagu Dandanggulo tanpa kata itu, membangkitkan perasaan trenyuh dan nglangut dalam hati para pendengarnya. Hati mengikuti irama tembang dan bersenandunglah mereka itu dalam tembang masing-masing, mengikuti irama suling, lagunya Dandanggula.
Suara suling terbawa angin, sayup-sayup terdengar oleh seorang dara yang sedang sibuk di dapur sebuah rumah terpencil di luar dusun Sintren. Mendengar lengking suling itu, ia tersenyum dan sambil mencuci beras yang hendak di tanaknya, ia pun bersenandung dalam tembang Dandanggula, mengikuti irama suling.
"Sipat iman, mantu bilahi, tegesipun pracaya mring Allah,
Mring Pangeran sejatine ya pangeran kang agung kang akarnya bumi dan langit
angganjar lawan niksa mring manungsa sagung langgeng tur murba misesa
Maha Suci angganjar paring rejeki, aniksa angapura."
"Weladalah! Sekarang sudah lewat maghrib, kok ngliwet sambil rengeng-rengeng. Apa engkau sudah sholat, cahayu?"
Dara yang menanak nasi, menembang dan melamun itu tadi terkejut ketika tiba-tiba ditegur ayahnya. Ia menoleh sambil tetap berjongkok menghadapi api kayu bakar yang berasap, memandang pria setengah tua itu dan berkata, lembut akan tetapi kenes. "Aduh, bapa membikin kaget saja. Aku sudah sembahyang tadi, bapa." Ia melanjutkan pekerjaannya.
Sejenak pria berusia lima puluhan tahun itu mengamatinya, mengangguk-angguk dan tersenyum. Dapur itu sudah remang-remang, akan tetapi cahaya api menyinari muka si dara, membuat wajah itu nampak kemerahan seperti disepuh emas, dan rambut yang hitam panjang digelung sederhana, dengan sinom awut-awutan dan melingkar-lingkar di dahi, menjadi cantik jelia.
Kakek itu menghela napas panjang penuh kebahagiaan dan batinnya mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberkahinya dengan seorang gadis seperti Mawarsih. "Mawar, bagaimana engkau masih dapat kaget? Engkau memiliki aji kanuragan, digdaya dan pandai membela dan melindungi diri sendiri, engkau beriman, percaya kepada kekuasaan Allah, berarti engkau sudah kuat lahir batin. Kenapa mudah terkejut?"
"Aih, siapa yang tidak kaget? Aku sedang melamun, tiba-tiba saja bapa muncul dan menegur." Gadis itu membela diri.
"Ha-ha-ha, kiranya tadi engkau sedang asyik. Tangan bekerja menanak nasi, mulut berdendang menembang Dandanggula, dan pikiran melamun entah melayang ke mana! Jangan membiasakan diri melamun, anakku yang manis, melamun itu membuka pintu masuknya setan. Hemm, agaknya engkau melamun karena peristiwa tiga hari yang lalu itu, bukan?"
Tangan itu berhenti menggerakkan irus mengaduk beras. Setelah menutupi kuali tempat menanak nasi, gadis itu menghadapi ayahnya yang sudah duduk di atas bangku bambu. Ia sendiri masih duduk berjongkok di atas dingklik (bangku pendek). Sepasang alis yang panjang hitam dan kecil melengkung itu berkerut. Mawarsih mengenang kembali peristiwa tiga hari yang lalu.
Ketika itu, datang dua orang tamu yang sudah amat dikenalnya, karena mereka adalah paman gurunya, yang tinggal di kaki Gunung Lawu sebelah timur. Ki Danusengoro adalah adik seperguruan Ki Sinduwening ayahnya, dan Ki Danusengoro mempunyai seorang murid pria bernama Brantoko.
Kunjungan kedua orang yang sudah dikenalnya itu tentu saja diterima dengan gembira oleh Mawarsih dan ayahnya, disuguhi minuman dan jadah ketan yang kebetulan masih ada. Ki Danusengoro berusia lima puluhan tahun, sebaya dengan Ki Sinduwening, bertubuh pendek gemuk, kumis dan jenggotnya jarang dan tubuhnya kacau, membuat wajahnya nampak aneh dan menyeramkan.
Muridnya, Brantoko adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang berwajah tampan, bertubuh tinggi besar dan dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang tangguh dari gurunya sehingga di daerah Lawu dia terkenal sebagai pemuda yang digdaya. Akan tetapi, ada beberapa hal yang mendatangkan perasaan tidak suka dalam hati gadis itu terhadap saudara seperguruannya, yaitu pandang matanya yang penuh gairah kepadanya dan sikapnya yang tinggi hati dan mengagulkan kepandaian sendiri.
Namun, perasaan ini dipendamnya dalam hati saja, dan ia memperlihatkan sikap gembira dan ramah ketika menyambut Ki Danusengoro dan Brantoko. Akan tetapi setelah dua orang tamu itu makan dan minum sekedarnya dan saling tegur sapa menanyakan keselamatan masing-masing, Ki Danusengoro memberitahukan maksud kunjungannya yang amat mengejutkan hati Mawarsih, yaitu mereka datang untuk melamar! Ki Danusengoro meminang Mawarsih untuk dijodohkan dengan Brantoko!
Ki Sinduwening menyambut pinangan itu dengan sikap tenang, kemudian menjawab bahwa dia dan puterinya telah mengambil keputusan dan kesepakatan bahwa Mawarsih hanya mau diperisteri seorang perjaka dengan persyaratan bahwa perjaka itu mampu mengalahkannya, dan ayah atau walinya dapat mengalahkan Ki Sinduwening. Jawaban ini membuat Ki Danusengoro menjadi marah.
"Kakang Sinduwening!" kata Ki Danusengoro dengan kumis bergetar. "Kakang anggap siapakah kami ini, maka kakang mengajukan syarat seperti itu? Aku adalah saudaramu tunggal guru, dan engkau sudah mengenal benar siapa aku. Brantoko ini adalah muridku yang telah mewarisi semua ilmu kepandaianku..."
Pertengkaran argumen itu berlanjut sengit hingga memicu kemarahan Ki Danusengoro. Ia pun pergi dengan dendam yang membara di dada, berjanji akan kembali dalam sepekan untuk menuntut jawaban pasti.
Malam itu bulan sedang purnama. Langit bersih dan bintang-bintang hanya nampak di sana-sini dengan sinar yang suram karena terang sinar bulan purnama yang keemasan. Cahaya bulan menyepuh segala sesuatu di permukaan bumi dengan warna redup keemasan. Dingin dan lengang.
Ilmu Hitam Dan Guna-Guna Ki Danusengoro:
"Hong wilahing sing manggon ing iket wulung, kowe dak kongkon, jupuken ati lan sukmane Mawarsih, Lebokna iket wulungku, dak bundelne, ora pati-pati ucul yen ora dak udari."
"Hong wilahing niat ingsun matak ajiku Wiruta Wiruna, gantewang ratuning sambang ngabai Wiruta, pathing sambang dewi Wiruna, siro dan kongkon lebanana Ki Sinduwening, pedhoten ontonge, irisen rempelone, obrak-abriken jorang-jaringane jabang bayine si Sinduwening..."
Namun kejahatan ilmu hitam itu tidak mampu menembus perlindungan suci. Ki Sinduwening yang sedang bersila memuja ke hadirat Tuhan, melantunkan Kidung Dandanggula Penolak Bala:
"Ana kidung rumekso ing wengi, teguh ayu luputa ing lara,
luputa bilahi kabeh, jim setan datan purun,
paneluhan tenung tan wani, miwah panggawe ala, gunaning wong luput,
geni atemahan tirto, maling adoh ton ana ngarah mring kami,
guna duduk pan sirna."
Berkat keteguhan iman dan kepasrahan total kepada Yang Maha Kuasa, seluruh pengaruh teluh dan santet sirna tak berbekas. Keesokan harinya, pertarungan fisik tak terhindarkan ketika Ki Danusengoro datang membawa jagoan-jagoan warok Ponorogo bersenjata sabuk kolor lawe. Di saat kritis itulah, Raden Nurseta, seorang senopati muda dari Mataram, muncul memberikan pertolongan dan mencerai-beraikan para pengeroyok.
Jilid 02
Setelah pertempuran reda, Raden Nurseta membujuk Ki Sinduwening dan Mawarsih untuk mengungsi ke kota kerajaan Mataram demi keselamatan mereka dari ancaman warok Ponorogo yang mendendam. Sebelum mengungsi, Mawarsih berjalan menuju ke anak sungai yang jernih di sore yang sunyi. Ia dikejutkan oleh alunan melodi suling yang tak biasa, memainkan Kidung Asmaradana yang menggetarkan sukma.
Di sana, ia menemukan seorang pemuda tampan berkulit legam baja laksana tokoh Wisanggeni dalam pewayangan sedang melatih bocah penggembala bernama Bayu. Pemuda itu adalah Banuaji, yang juga menembangkan Kidung Waringin Sungsang yang megah:
"Waringin sungsang wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suci kembar, pipita jujur maripit, asri yen siang, angker kalane wengi... Rambut kawat sinomku pamor angrayap, batuk sela cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gongsa, irungku wesi duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning. Guluningsun paron wesi galigiran, dada wesi sadacin, pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi walungin, bauku denda, sikutku pukul wesi."
Pertemuan tak sengaja itu menumbuhkan getaran aneh di dalam dada Mawarsih, sebuah debaran tulus yang tak pernah ia rasakan ketika bersama Raden Nurseta yang pesolek dan penuh kepalsuan tata krama istana. Namun takdir memisahkan mereka dengan cepat karena Mawarsih harus segera mengungsi ke Mataram.
Di Mataram, Ki Sinduwening dianugerahi pangkat Senopati Penyelidik oleh Sang Prabu Hanyokrowati (Mas Jolang). Tatkala ayahnya pergi ke timur menjalankan tugas negara, Raden Nurseta gencar melakukan pendekatan dan merayu Mawarsih. Merasa risih dengan kepalsuan sikap sang senopati muda, Mawarsih akhirnya memutuskan pergi menyusul ayahnya ke Ponorogo dengan menyamar sebagai seorang pemuda dusun bernama Joko Lawu.
Jilid 03
Pada suatu senja di lereng timur Gunung Lawu, Joko Lawu (Mawarsih dalam penyamaran) tiba di dusun Muncang yang tengah menggelar pesta pernikahan meriah dengan pertunjukan tayuban. Bintang malam itu adalah Saminten, yang berjuluk ledek muda Maduraras, seorang penari jelita bertubuh sintal nan menggoda.
Di tengah kerumunan penonton, pandangan Joko Lawu mendadak terpaku pada deretan tamu kehormatan. Jantungnya berdegup kencang tatkala melihat sosok yang tak asing lagi: Banuaji! Pemuda pemetik suling itu duduk tenang di sana, ternyata ia merupakan keponakan dari istri kepala dusun setempat.
Tayuban berlangsung semakin liar seiring mengalirnya tuak dan arak. Joko Lawu yang muak bersiap untuk pergi, namun kakek pemilik pondokan menahannya seraya berbisik setengah memperingatkan: "Jangan dulu pulang, Raden. Di mana ada Maduraras tampil, di situlah maut mengintai... perebutan kehormatan berujung pertumpahan darah sering kali tak terelakkan!"
-- Bersambung ke Jilid Selanjutnya --
Arsip Komunitas & Baca Online Alternatif
Ikuti update episode terbaru, diskusi seru antarpembaca, dan jalin silaturahmi bersama sesama penggemar cerita silat klasik melalui tautan resmi grup diskusi kami di bawah ini:
Daftar Navigasi Episode Lengkap:
| Episode | Link Baca Resmi (Facebook) |
|---|---|
| Episode 1 | Baca Eps 1 di FB |
| Episode 2 | Baca Eps 2 di FB |
| Episode 3 | Baca Eps 3 di FB |
| Episode 4 | Baca Eps 4 di FB |
| Episode 5 | Baca Eps 5 di FB |
| Episode 6 | Baca Eps 6 di FB |
| Episode 7 | Baca Eps 7 di FB |
| Episode 8 | Baca Eps 8 di FB |
| Episode 9 | Baca Eps 9 di FB |
| Episode 10 | Baca Eps 10 di FB |
| Episode 11 | Baca Eps 11 di FB |
| Episode 12 | Baca Eps 12 di FB |
| Episode 13 | Baca Eps 13 di FB |
| Episode 14 | Baca Eps 14 di FB |
| Episode 15 | Baca Eps 15 di FB |