Dewa Arak 70 Pulau Setan
Cersil Dewa Arak 70 Pulau Setan
Baca Online Dewa Arak 70 Pulau Setan
Selamat datang di platform baca online literatur klasik nusantara. Bagi Anda penggemar berat cerita silat (cersil) legendaris tanah air, episode Pulau Setan dari jagat Dewa Arak karya Aji Saka merupakan salah satu babak krusial yang menyajikan intrik tingkat tinggi di dunia persilatan. Berbeda dengan ulasan di web lain yang hanya memberikan sinopsis pendek, di sini kami menyajikan analisis karakter yang mendalam, navigasi bab yang rapi, sekaligus cuplikan teks langsung agar Anda bisa membaca online secara instan.
Dalam kisah ini, tokoh utama kita, Arya Buana alias Dewa Arak, harus mengarungi lautan luas bersama Tungga Dewi dan Nenek Lestari menuju tempat penuh misteri yang dikenal sebagai Pulau Setan. Babak ini dipenuhi ketegangan magis, pertarungan taktik, pertarungan racun tingkat tinggi, hingga perebutan sebuah peti misterius yang diyakini membawa kutukan sekaligus kesaktian tiada tanding. Sebelum masuk ke detail cerita lengkapnya, Anda juga dapat membaca kilas balik ketegangan sebelumnya melalui tautan referensi Dewa Arak 66 Pembunuh Gelap yang menyajikan pondasi konflik dunia hitam yang tak kalah sengit.
Cuplikan Eksklusif Kisah: Pertarungan di Tepi Danau
Sluppp! Sebuah kepala berwajah tirus mirip tikus dengan mata memanjang, langsung masuk ke dalam air sebuah danau yang permukaannya banyak ditumbuhi tumbuhan air. Baru saja kepala yang ternyata milik laki-laki berusia lanjut itu lenyap ke bawah permukaan air, terdengar bunyi derap langkah beberapa pasang kaki. Sebentar kemudian, tepat di pinggir danau berkumpul beberapa sosok tubuh yang kesemuanya berpakaian serba hitam.
"Heran.. !" desah salah satu orang berseragam yang berwajah bopeng sambil mengedarkan pandangan seperti tengah mencari-cari sesuatu. "Ke mana perginya tua bangka yang sudah hampir mampus itu?! Atau jangan-jangan memang dia sudah mampus, karena termakan racunnya sendiri."
Sementara, orang-orang berseragam serba hitam juga mengedarkan pandangan. "Mudah-mudahan sih, demikian," timpal lelaki bermata sipit. "Tapi. ., tidakkah kau ingat perintah Setan Hitam Tak Berjantung? Kalau memang, tua bangka tak berguna itu sudah mampus, kita harus menemukan mayatnya." Siapa tahu, tua bangka itu tidak melarikan diri kemari! Tapi. ., tunggu dulu. Mungkinkah tua bangka yang sudah hampir mati itu bersembunyi di danau itu?! Kata-kata lelaki bermuka bopeng itu membuat lima orang kawannya mengarahkan pandangan ke sekitar penjuru danau yang cukup luas.
"Kurasa tidak mungkin," bantah lelaki bermata sipit, yakin. Dalam keadaan terluka parah seperti itu, mana mungkin tua bangka yang sudah hampir mati itu mampu menahan napas sedemikian lama di dalam air? Mustahil, bukan?! "Mengapa mustahil...?!" timpal laki-laki berambut kecoklatan, membantu pendapat lelaki berwajah bopeng. Jangan terlalu memandang rendah tua bangka itu! Meski sudah hampir mati, tapi dia tetap bekas seorang datuk kaum sesat yang terkenal sakti! Kemampuannya sukar dijajagi, meski sekarang sudah tidak mempunyai gigi lagi. Dan lagi, di danau ini banyak terdapat tumbuhan air yang dapat digunakan untuk membantu bernapas, andai dia tidak mampu menahan napas lama. Jadi menurut hematku, tidak ada salahnya kalau kita mencarinya di danau ini! Kali ini lelaki bermata sipit kalah dukungan, karena rekan-rekan lainnya, juga mengangguk, menyatakan setuju.
"Lihat itu.. !" seruan lelaki bermata sipit, membuat rekan-rekannya yang sudah memusatkan perhatian pada danau menoleh kepala ke kiri. Tempat enam orang berpakaian hitam ini berada, memang sebuah jalan tanah berdebu yang kanannya diapit danau lebar dan luas. Sedangkan di sebelah kiri berupa lereng gunung yang menanjak ke atas. Begitu terjal dan berbatu-batu, hampir curam. Pada salah satu ujung jalan tanah berdebu, tampak debu mengepul tinggi ke udara. Memang bisa diperkirakan kalau di kejauhan sana seekor kuda tengah dipacu cepat menuju ke arah mereka.
Perhatian orang-orang berpakaian seragam serba hitam yang ternyata adalah Gerombolan Setan Hitam itu pun beralih ke arah kepulan debu dari kuda yang dipacu cepat. Sesaat kemudian, terlihat kalau kepulan debu itu berasal dari seekor kuda yang dipacu secara cepat. Semakin lama, semakin tampak kalau penunggangnya adalah seorang gadis cantik berpakaian coklat. Seketika, wajah enam orang berpakaian hitam ini pun berseri-seri. Rupanya, begitu melihat seorang gadis cantik melakukan perjalanan seorang diri, benak mereka yang kotor mulai berpikir tidak senonoh!
Gadis berpakaian coklat di atas punggung kuda coklat putih itu pun merasakan adanya bahaya mengancam, ketika enam orang berpakaian hitam yang berdiri di pinggir telaga mulai menyebar ke tengah jalan. Sehingga, jalan tanah yang tidak begitu lebar itu menjadi tertutup. Tapi rupanya tindakan enam orang kasar dari Gerombolan Setan Hitam tidak membuat gadis berpakaian coklat ini kebingungan. Justru, tali kekang kudanya digeprakkan untuk mempercepat lari binatang tunggangannya. Dia hendak memaksa lewat, dengan menubrukkan kudanya pada sosok-sosok yang berdiri menghalangi jalan. Karena dia yakin, keenam orang bertampang berangasan itu akan menyingkir dari sana!
"Seekor kuda betina yang masih liar! Rupanya, dia minta dijinakkan dulu.. !" ujar lelaki berwajah bopeng dengan sinar mata berkilat-kilat, menyatakan hasrat hatinya yang besar terhadap gadis penunggang kuda coklat putih itu. Usai berkata demikian, tahu-tahu pada kedua tangan lelaki berwajah bopeng ini tergenggam beberapa buah pisau yang batangnya bersemu kehijauan. Bisa ditebak kalau pisau itu mengandung racun jahat. Tidak terlihat lelaki berwajah bopeng ini menggerakkan tangan. Tapi, tahu-tahu pisau-pisau itu telah berada di tangannya. Lalu, Sing, sing, sing! Bunyi berdesing nyaring terdengar, ketika pisau-pisau beracun meluncur merobek udara. Arah yang ditujunya adalah kuda coklat putih yang tengah meluncur ke arahnya.
Cap, cap, cappp! "Ikh...!" Gadis berpakaian coklat itu terpaksa berjungkir balik di udara ketika kudanya terjengkang ke depan akibat terhujam pisau-pisau beracun di beberapa bagian tubuhnya. Cepatnya luncuran pisau, ditambah arah lari kuda coklat putih, membuat gadis berpakaian coklat ini tidak sempat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan nyawa binatang tunggangannya. Jliggg! Begitu kedua kaki gadis berpakaian coklat itu menjejak tanah, enam orang anggota Gerombolan Setan Hitam telah mengurungnya dari berbagai penjuru. Kelihatannya, gadis itu tidak mungkin bisa melarikan diri dari lagi, tanpa bertarung menyambung nyawa!
"Siapa kalian?! Dan, mengapa menghadang perjalananku?! Menyingkirlah! Aku tidak berurusan dengan kalian!" tegas gadis berpakaian coklat ini keras penuh wibawa seraya merayapi wajah-wajah di sekelilingnya. "Ha ha ha.. !" lelaki berwajah bopeng yang kelihatan paling bemafsu langsung tertawa sambil memperhatikan gadis berpakaian coklat yang berada di depannya penuh selidik. Dan mendadak tarikan wajahnya menyiratkan keterkejutan. "Ah. .! Kiranya kuda betina liar ini berasal dari Perguruan Pedang Halilintar, Kawan-kawan!" kata laki-laki berwajah bopeng, ketika melihat lencana di dada gadis itu yang bergambar sebuah pedang dan sebentuk kilatan petir.
"Pantas, sikapnya cukup galak. Rupanya dia belum kenal dengan Gerombolan Setan Hitam!" sambut lelaki bermata sipit. "Menyingkirlah. Biar aku yang mencicipi kepandaiannya! Aku ingin tahu, apakah kepandaiannya sesuai dengan sesumbarnya!" O, rupanya kalian orang-orang dari Gerombolan Setan Hitam?! Huh! Kalian memang bagai anjing minta dipukul majikannya! Gadis berpakaian coklat langsung mencabut pedangnya hingga mengeluarkan bunyi berdesing nyaring. Cring! "Heaaat. .!" Gadis yang ternyata berasal dari Perguruan Pedang Halilintar langsung mengirimkan serangan ke arah lelaki berwajah bopeng yang berada di depannya. "Uh...!" Lelaki berwajah bopeng itu langsung mengeluarkan seruan kaget, ketika melihat sinar terang menyambar yang di ikuti bunyi berkerosokan seperti halilintar menyambar!
Tanpa buang-buang waktu lagi, tubuhnya dilempar ke belakang. Dan dia langsung bergulingan di tanah untuk mencegah lawan mengirimkan serangan susulan. Ketika dia bangkit dengan dahi berkeringat dingin saking kagetnya, kawan-kawannya telah mengeroyok gadis berpakaian coklat. Lelaki berwajah bopeng mencabut senjatanya yang berupa sebatang golok berbatang hitam pekat, sama seperti golok yang dimiliki rekan-rekannya. "Shaa. .!" Didahului teriakan keras membahana, lelaki berwajah bopeng itu terjun dalam kancah pertarungan. Perasaan marah karena nyawanya hampir saja melayang dalam segebrakan, mengusir perasaan malunya dalam melakukan pengeroyokan!
Lima temannya pun, serentak langsung bertindak ketika melihat kehebatan gadis berpakaian coklat itu. Sesaat kemudian, suasana yang semula hening dan sepi, dipecahkan oleh bunyi nyaring senjata beradu. Bunga-bunga api pun memercik ke segala arah. Gadis berpakaian coklat dari Perguruan Pedang Halilintar itu memang memiliki kepandaian tinggi, terutama ilmu pedangnya yang luar biasa. Pedangnya mampu menyambar-nyambar laksana halilintar! Baik dalam kecepatan maupun bunyinya. Kalau saja lawan-lawan yang dihadapi tidak melakukan pengeroyokan, bisa diduga tanpa menemui kesulitan dia akan merobohkan seorang demi seorang! Menghadapi enam lawan sekaligus terasa berat untuk ukurannya. Apalagi, masing-masing lawannya memiliki kepandaian tidak berada terlalu jauh di bawahnya. Mungkin bila menghadapi tiga orang, dia akan sanggup menandinginya!
Lewat lima jurus, gadis berpakaian coklat ini mulai terdesak. Serangan-serangan berkurang jauh. Dan dia lebih banyak bertahan, menangkis atau mengelak. Pertarungan semacam ini membuatnya terus bermain mundur. Disadari betul kalau keadaan tidak berubah, dia akan roboh di tangan lawan-lawannya. Maka dia harus melakukan suatu perubahan. Tapi bagaimana? Dan saat di tengah kebingungan, terdengar suara berkumandang di telinganya. "Jangan kaget, dan jangan khawatir, Nini! Sebentar lagi akan muncul ular-ular yang akan menyerang para pengeroyokmu. Kau jangan melakukan tindakan yang membuat ular-ular jadi menyerangmu."
"Karena aku akan memberi perintah pada binatang itu, untuk menyerang orang-orang yang berpakaian hitam! Jelas?!" Gadis berpakaian coklat tidak tahu, dari mana asal suara itu. Dan, siapa pemiliknya. Hanya saja dia yakin kalau orang yang berkepandaian tinggi itu bermaksud menolongnya. Ini bisa dibuktikan dari kemampuannya mengirimkan ilmu suara dari jauh. Padahal, ilmu itu hanya dapat dimiliki tokoh bertenaga dalam amat tinggi. Di Perguruan Pedang Halilintar, hanya si Pedang Halilintar Sakti yang menjadi ketualah, yang memiliki ilmu seperti itu. Namun, itu pun tidak terlalu sempurna! Karena yakin kalau orang yang telah mengirimkan suara dari jauh bermaksud menolongnya, tanpa ragu-ragu gadis berpakaian coklat itu mengangguk. Hanya tindakan itu yang dapat dilakukannya untuk menyatakan persetujuannya, meskipun sebenarnya tidak yakin kalau anggukkannya terlihat. Dia tidak tahu, di mana adanya tokoh yang bermaksud menolongnya.
Begitu keadaan gadis berpakaian coklat ini semakin terjepit, mendadak terdengar bunyi melengking nyaring dan bernada aneh yang tampaknya dari suara suling! Dan gadis berpakaian coklat yang telah mendapat pemberitahuan ini, tanpa sadar merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia tahu, bunyi suling itu menjadi pertanda kalau ular-ular yang dimaksud penolongnya akan segera tiba. Padahal, dia paling takut dan jijik terhadap ular! Memang bukan hanya gadis ini yang mendengar bunyi suling itu. Enam anggota Gerombolan Setan Hitam pun mendengarnya. Dan begitu mengetahui arti bunyi suling itu, wajah-wajah mereka langsung berubah pucat. Bahkan tanpa sadar, mereka tidak mempedulikan gadis itu lagi. Enam orang anggota Gerombolan Setan Hitam ini langsung melompat mundur, kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu dengan sorot mata tegang bukan kepalang!
"Sss.. !" Sekejap kemudian, apa yang ditakutkan gadis berpakaian coklat dan acne orang Gerombolan Setan Hitam menjadi kenyataan. Kini terdengar bunyi berdesis yang ramai sekali, diiringi bunyi berdesis keras seperti benda licin yang digesek-gesekkan ke tanah. Bau amis yang memualkan perut pun memenuhi udara di sekitar tempat ini. "Ssss...!" Enam anggota Gerombolan Setan Hitam dan gadis berpakaian coklat merasakan bulu tengkuk mereka meremang, ketika melihat bermunculannya ular-ular dari seluruh tempat ini. Jumlah binatang-binatang melata itu tidak terhitung. Ribuan! Betapapun saktinya seseorang, menghadapi serbuan ribuan ekor ular yang terdiri dari berbagai jenis dan ukuran, tetap saja akan membuat ciut nyalinya. Apalagi orang-orang seperti enam orang anggota Gerombolan Setan Hitam dan gadis berpakaian coklat ini.
Untung gadis berpakaian coklat ini teringat akan pesan yang tidak diketahui pemiliknya. Dan lebih untungnya lagi, dia menuruti untuk diam di tempat dan tidak melakukan gerakan-gerakan sehingga dapat memancing ular-ular yang meluncur bagai air bah menyerangnya. Dan ucapan sosok yang tidak diketahui pemiliknya itu ternyata tidak hanya sesumbar belaka. Ular-ular yang meluncur bagai air bah itu sama sekali tidak mempedulikannya. Binatang-binatang melata itu terus melewatinya. Dengan hati ngeri, gadis berpakaian coklat ini melihat betapa acne orang berpakaian hitam itu harus berjuang keras untuk menghadapi pengeroyokan ular-ular yang menyerbu. Golok-golok hitam di tangan mereka berkelebatan ke sana kemari, membabati ular-ular yang mencoba mendekat! Darah pun muncrat ke sana kemari, di ikuti berpentalannya potongan-potongan tubuh ular-ular yang mencoba mematuk anggota Gerombolan Setan Hitam.
"Tunggu apa lagi, Nini?! Mumpung mereka tengah sibuk bersitegang dengan ular-ular itu, mari kita pergi dari sini!" Gadis berpakaian coklat itu segera mengedarkan pandangan untuk mencari asal suara. Dia agak bingung menentukan sumbernya, karena suara itu dikeluarkan berkat ilmu mengirimkan suara dari jauh, sehingga sulit diketahui asalnya. Di sebelah kanan, gadis berpakaian coklat itu melihat seorang kakek kurus kering berompi dari kulit ular. Wajahnya tirus mirip tikus, dengan sepasang mata panjang yang selalu berputaran liar menandakan kecerdikannya. Dengan cepat, kakinya melangkah hati-hati menuju ke tempat kakek kurus kering itu berada, yang jaraknya tak akan kurang dari delapan tombak. Anehnya, ke mana saja gadis berpakaian coklat itu mengayunkan kaki, kerumunan ular langsung menyibak, memberi jalan sebelum kakinya menginjak tanah. Hanya sebentar saja, gadis itu sudah berada di dekat kakek kurus kering yang masih sibuk meniup suling. Suara suling itulah yang menyebabkan ular-ular muncul dan menyerang Gerombolan Setan Hitam.
"Kuucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu, Kakek yang baik. Kalau kau tidak ada, mungkin aku sudah binasa di tangan mereka," ucap gadis berpakaian coklat ini penuh rasa syukur. "Lupakanlah soal itu, Nini. Yang penting sekarang, cepat kita pergi dari sini sebelum kawan-kawan mereka muncul. Apabila itu terjadi, aku tidak akan mampu berbuat apa-apa," jawab kakek kurus kering itu, tanpa mempedulikan ucapan terima kasih gadis berpakaian coklat. Sehingga, gadis berpakaian coklat menampakkan perasaan kecewa yang tergambar pada wajahnya. Tanpa berkata apa-apa, kakek kurus kering itu mengajak gadis berpakaian coklat ini mengayunkan kaki ke belakang. Dan kakek kurus kering itu pun melesat lebih dulu baru disusul gadis itu. Hanya dalam beberapa kali lesatan, tubuh mereka telah berada jauh di depan.