Dewa Arak 71 Petualang Petualang Dari Nepal
Cersil Dewa Arak 71 Petualang Petualang Dari Nepal
Baca Online Dewa Arak 71 Petualang Petualang Dari Nepal
Restorasi Sampul Klasik Serial Dewa Arak Episode 71
PETUALANG-PETUALANG DARI NEPAL
Karya: Aji Saka | Penerbit: Cintamedia, Jakarta | Penyunting: Puji S.
"Hak cipta pada Penerbit. Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit."
Serial Dewa Arak | Spesifikasi fisik: 128 hal. ; 12 x 18 cm.
Crakkk, crakkk, crakkk! Tanah bergumpal-gumpal berhamburan ke udara ketika tangan sosok tinggi kurus mencungkili sebuah gundukan tanah, mempergunakan sebatang ranting.
Sosok yang ternyata seorang laki-laki setengah baya berhidung ke bawah mirip burung betet ini bekerja cepat bukan main. Tangannya yang memegang ranting sebesar ibu jari kaki seakan lenyap bentuknya. Yang terlihat hanya sekelebatan bayangan tak jelas! Tapi dalam waktu yang tak lama saja telah terlihat sebuah lubang menganga.
Sebentar kemudian, tampak sebuah peti mati terbujur di dasar lubang, walaupun belum nampak seluruhnya. Gundukan tanah yang digali sosok berhidung melengkung ini ternyata sebuah kuburan! Laki-laki setengah baya berkulit hitam kecoklatan itu kemudian menghentikan pekerjaannya. Ranting yang tergenggam dilemparkan begitu saja. Lalu dengan perasaan tidak sabar, dia melompat ke dalam lubang. Dan kedua tangannya tampak gemetar ketika mencengkeram sisi-sisi bagian atas peti mati berukir indah berwarna hitam.
Brakkk! Tutup peti mati indah itu langsung copot, menimbulkan suara cukup gaduh yang memecah keheningan malam, begitu kedua tangan yang panjang dan kurus itu menyentakkannya. Begitu matanya tertumbuk pada isi peti, tampak sesosok tubuh yang telah rusak, terbaring di dalam peti. Bau yang tidak sedap pun menyebar ke segala arah, terbawa angin malam yang hanya diterangi bulan sepotong.
"Keparat!" maki laki-laki setengah baya berhidung melengkung itu penuh geram sambil meludah ke sana kemari, begitu bau busuk yang menyengap menyergap lubang hidungnya. Beberapa percikan cairan ludah yang menjijikkan, ada yang mengenai mayat di dalam peti. Tanpa menunggu lebih lama lagi, sosok berkulit hitam kecoklatan itu melompat ke atas. Tidak dipedulikannya peti maupun mayat dalam lubang kuburan.
Namun baru saja kakinya menjejak tanah... "Maling Hina! Sungguh berani kau mengusik tempat suci ini! Apakah nyawamu rangkap?!" Mendadak terdengar bentakan keras menggelegar, begitu sepasang kaki sosok berkulit hitam kecoklatan itu hendak melangkah. Bentakan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, membuatnya terjingkat kaget bagai disengat kelabang.
Rekomendasi Kisah Klasik Lainnya: Anda bisa menikmati kelanjutan petualangan dunia persilatan legendaris dalam Baca Online Cerita Silat Keris Pusaka Nogopasung Karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo secara gratis di sini.
Belum juga gema suara sentakan itu lenyap, mendadak sesosok tubuh melesat menuju ke arah sosok berkulit hitam kecoklatan. Gerakannya cepat sehingga dalam sekejapan saja, sosok itu telah berada dalam jarak tiga tombak di depan sosok berkulit hitam kecoklatan. Dengan wajah penuh kemarahan, laki-laki berkulit hitam kecoklatan itu memandang ke arah orang yang membentak tadi. Sikapnya yang semula menjadi gugup, langsung dibuat setenang mungkin.
"Rupanya maling hina ini adalah seorang asing!" desis sosok yang baru datang. Ternyata, dia adalah seorang kakek berbadan kekar. Tubuhnya yang bongkok, terbungkus pakaian longgar coklat. Sepasang matanya yang tajam langsung merayapi sekujur tubuh sosok berkulit hitam kecoklatan dengan sorot memancarkan kemarahan besar.
"Apa yang kau cari di sini, Orang Asing?!" lanjut kakek bongkok itu, masih mendesis.
"Pusaka leluhurku!" jawab sosok hitam kecoklatan dengan bahasa terpatah-patah. Singkat sekali jawabannya. "Cepat berikan padaku. Dan aku berjanji akan segera pergi dari sini, tanpa harus membunuhmu!"
Wajah kakek bongkok itu kontan berubah hebat mendengar ucapan laki-laki setengah baya berkulit hitam kecoklatan ini. Perkataan dan sikap orang itu terlihat jelas merendahkan dirinya, dan membuatnya tidak senang. "Di sini tidak ada pusaka yang kau maksudkan. Pergilah! Jangan sampai kesabaranku hilang dan terpaksa membunuhmu, Orang Asing!" tandas kakek bongkok ini tak mau kalah gertak.
"Bohong!" sergah sosok berkulit hitam kecoklatan itu dengan suara keras dan logat aneh. Gatal rasanya didengar telinga. "Aku tidak percaya! Aku yakin pusaka leluhurku berada di sini. Cepat berikan padaku! Dan, jangan tunggu sampai seluruh pekuburan kuobrak-abrik!"
"Keparat! Tulikah kau, Orang Asing?!" suara kakek bongkok kian meninggi karena amarah yang semakin menggelegak. "Sekali kukatakan tidak berarti tidak! Dan, cepatlah tinggalkan tempat suci ini! Ingat! Sekali lagi kau berkata seperti itu, aku tidak akan bisa tinggal diam! Atau... Kau sengaja menunggu kesabaranku habis?!"
"Kaulah yang membuat kesabaranku habis, Orang Tua! Rupanya kau memang sudah bosan hidup!" ancam sosok berkulit hitam kecoklatan itu. Karena logatnya yang aneh, tidak mampu memberi tekanan pada ucapannya. "Kalau begitu mampuslah!"
Sosok berkulit hitam kecoklatan itu segera mengirimkan serangan. Kedua tangannya yang terkepal melepaskan pukulan bertubi-tubi ke arah dada lawannya. Begitu cepat gerakannya, hingga bentuk kedua tangan sampai lenyap. Dan yang terlihat hanya dua bayangan tidak jelas, meluruk ke arah kakek bongkok disertai bunyi angin berkesiutan nyaring.
Serangan ini membuat kakek bongkok terperanjat. Saat itu juga, disadari kalau sosok berkulit hitam kecoklatan ini memiliki kepandaian tinggi. Duk, dukk, dukkk! Bunyi keras berulang-ulang seperti ada benturan benda keras terdengar ketika kakek bongkok itu memapak dengan sikap jari-jari terkepal. Tubuh kedua orang itu sama-sama terhuyung-huyung ke belakang. Hanya saja, kakek bongkok lebih jauh dua langkah.
Kakek bongkok itu menggertakkan gigi, merasa penasaran melihat keunggulan tenaga dalam lawannya. Tanpa menunggu lebih lama, senjata andalannya segera dikeluarkan berupa sebuah kipas. Kipas lebar dan besar yang gagangnya terbuat dari gading gajah itu kelihatannya tidak bisa dianggap sembarangan. Permukaan kipas itu terbuat dari kulit harimau loreng besar yang telah direndam dalam suatu ramuan sehingga menjadi kuat dan tidak bisa sobek.
Wuttt! Begitu kakek bongkok itu mengibaskan kipasnya, bertiup angin yang luar biasa keras sehingga membuat batu-batu sebesar kerbau yang terletak beberapa tombak dari tempat itu, terguling-guling jauh. Sekujur pakaian dan rambut sosok berkulit hitam kecoklatan berkibaran keras. Tapi, tubuhnya sama sekali tidak bergeming, karena telah lebih dulu mengerahkan tenaga dalam untuk membuat kedua kakinya seperti berakar dalam tanah.
Meski demikian, kenyataan ini menyadarkan sosok berkulit hitam kecoklatan, kalau kakek bongkok tidak bisa dianggap remeh. Maka buru-buru sebatang suling yang terbuat dari ular mati dan dikeringkan dikeluarkannya dari selipan pinggang. Dan dengan senjata itu di tangan, dihadapinya amukan kakek bongkok ini. Maka pertarungan dahsyat yang menggariskan takdir pun berlangsung.
Tak heran kalau suasana di sekitar tempat itu kontan porak-poranda. Batu-batu besar dan kecil beterbangan tak tentu arah. Pohon-pohon yang agak kecil tumbang, sedangkan pohon yang besar, daun-daun dan ranting-rantingnya berguguran. Kedua senjata tokoh yang bertarung bagaikan telah berubah. Deru angin yang keluar dari gerakan kipas, laksana badai. Sedangkan kelebatan suling sosok berkulit hitam kecoklatan bagaikan kilat yang melejit-lejit di antara gemuruh angin keras itu. Tapi, kakek bongkok itu harus mengakui keunggulan lawannya. Buktinya begitu pertarungan menginjak tiga puluh jurus, keadaannya mulai terdesak.
Dukkk! "Hukh!" Tubuh kakek bongkok itu terjengkang ke belakang ketika tendangan kaki kanan lawannya mendarat telak di perut. Tubuhnya kontan terbanting keras di tanah, setelah melayang sejauh beberapa tombak. Namun, rupanya hatinya sekeras baja, dan dia tetap berusaha bangkit. Padahal, darah segar telah memancur deras dari mulutnya ketika hendak bangkit. Bahkan tubuhnya kembali ambruk tanpa dapat berbuat apa-apa. Setelah mengejang beberapa saat, tubuh kakek bongkok itu pun terkulai. Nyawanya langsung melawat ke akhirat.
Sementara sosok berkulit hitam kecoklatan itu menatap lawannya sesaat. Kemudian suling berbentuk ular kembali diselipkan ke pinggang. Lalu, pekerjaannya yang tadi tertunda, kembali diteruskan.
***
Seorang pemuda tampan berwajah jantan, perlahan-lahan mengayuh perahu dengan dayungnya ke arah pinggir seberang sungai. Begitu telah sampai di tepi, dia melompat turun. Kemudian perahunya ditarik dan diikatkan pada sebuah tonggak yang dibuatnya sendiri. "Anak Muda!" Baru saja pemuda tampan itu mengayunkan kaki beberapa tindak, terdengar seruan dari belakang. Terpaksa langkahnya dihentikan, dan langsung berbalik.
Dan dia langsung melihat sebuah perahu yang ditumpangi seorang kakek, tengah meluncur laksana anak panah. Kelihatannya, perahu itu seperti membelah permukaan air sungai menuju ke arahnya. Pemuda tampan itu langsung bisa mengetahui kalau kakek berpakaian penuh tambalan dan berjenggot kasar tidak terawat yang menuju ke arahnya memiliki kepandaian tinggi. Meluncurnya perahu yang demikian cepat, padahal dikayuhnya tanpa mempergunakan dayung melainkan hanya sebelah tangannya, telah menunjukkan kalau tenaga dalam kakek itu amat tinggi.
Pemuda tampan yang memiliki rambut panjang itu hanya berdiri diam di tempatnya, seperti menunggu. Dia tidak tahu, apakah kakek berpakaian penuh tambalan ini bermaksud baik atau malah sebaliknya. Tapi yang jelas sikapnya tetap waspada. Begitu mencapai pinggir sungai, kakek berpakaian penuh tambalan itu langsung melompat ke darat, tanpa mempedulikan perahunya lagi. Dan seketika tubuhnya melesat cepat mendekati pemuda berwajah tampan itu. "Kau memanggilku, Kek?!" Tanya pemuda tampan itu. Sopan suaranya, begitu pula sikapnya.