Sabtu, 18 Juli 2026

Dewa Arak 72 Batu Kematian

Dewa Arak 72 Batu Kematian

Cersil Dewa Arak 72 Batu Kematian

Baca Online Dewa Arak 72 Batu Kematian

Resensi & Sinopsis Cersil Dewa Arak Episode 072: Batu Kematian

Katalog Data Buku & Ebook

Judul Cerita Silat: BATU KEMATIAN

Karya / Oleh: Aji Saka

Cetakan pertama | Penerbit Cintamedia, Jakarta | Penyunting: Puji S.

"Hak cipta pada Penerbit. Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit."

Kredit Pembuat Ebook:

  • Scan buku ke djvu: Abu Keisel
  • Convert: Abu Keisel
  • Editor: Molan_150
  • Ebook oleh: Dewi KZ

Sumber Arsip Digital: kangzusi.com | dewi-kz.info | kangzusi.info | ebook-dewikz.com

Karakter Utama: Pendekar tampan sakti Arya Buana alias Dewa Arak dalam episode ke-072 dengan ketebalan fisik cetak 128 halaman (Dimensi Buku: 12 x 18 cm).

Cuplikan Eksklusif Bab: Pergolakan di Dalam Kedai

Seorang pemuda tampan berwajah jantan, dengan rambut panjang yang dibiarkan meriap, menghentikan langkahnya di depan pintu sebuah kedai. Sesaat pemuda itu termenung di situ. Sepasang matanya yang berkilat tajam, menyapu sekitarnya. Tak ada seorang pun yang memperhatikan tingkah pemuda ini. Memang, di luar kedai tidak terlihat seorang pun. Rumah-rumah yang ada pun letaknya cukup jauh. Suasana siang yang panas membakar bumi, membuat orang-orang tidak betah berada di luar rumah.

Lain halnya dalam kedai, justru di dalam kedai yang cukup besar ini, keadaan sangat ramai oleh bunyi gaduh suara manusia. Suara yang tidak jelas terdengar, karena banyaknya orang yang bersuara. Entah, siapa yang menjadi pendengar. Semua kegaduhan di dalam kedai membuat tingkah pemuda berambut panjang itu tidak menarik perhatian sama sekali. Dan seorang pun tidak ada yang tahu kalau dalam benak pemuda tampan itu tengah bergolak perang.

Benarkah kedai ini yang dimaksudkan oleh orang yang malang itu?! Kalau benar, mengapa demikian ramai?! Bukankah orang itu mengatakan, kalau kedai ini seharusnya sepi?! Kalau bukan, mengapa yang ada hanya kedai ini? Tapi, bagaimana kalau bukan?! Ah, pasti ini!

Pergolakan batin itu akhirnya dimenangkan oleh keinginan pemuda berambut putih keperakan ini untuk memasuki kedai. Maka segera diikatkannya seutas kain merah yang sejak tadi digenggamnya, pada pangkal lengan kiri. Pemuda itu terus melangkah, dan tiba di ambang pintu kedai. Sementara, bunyi gaduh terus berlangsung. Namun semua itu tidak dipedulikannya. Mulanya hanya melirik sekilas, kemudian kakinya terayun menuju sebuah meja yang masih kosong.

Seorang lelaki setengah baya bertubuh kurus kering seperti cecak kelaparan, tergopoh-gopoh menyambut, begitu pantat pemuda berambut panjang ini bertemu dengan kursi. "Nasi, ayam panggang, dan arak," sebut pemuda tampan itu ketika lelaki kurus kering yang ternyata pemilik kedai menanyakan pesanannya. Cukup keras ucapan pemuda itu. Padahal diucapkan seperti tanpa menggerakkan bibir!

Karuan saja pelayan itu bergegas kembali, untuk mengambil pesanan. Lelaki kurus kering ini sadar, pemuda yang baru datang itu mempunyai kepandaian luar biasa! Belum pernah dilihatnya orang yang mampu bicara, tanpa menggerakkan bibir. Bahkan akibat ucapannya demikian menakjubkan. Tentu saja, karena kalau melihat ciri-cirinya tak lain dan tak bukan kalau pemuda berambut putih keperakan itu adalah Arya Buana alias Dewa Arak.

Dan hanya pemilik kedai itu saja yang terpengaruh. Sementara para pengunjung lain, sama sekali tidak mempedulikan. Mereka tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Mau tidak mau, Dewa Arak terpaksa mengalihkan perhatian pada pemandangan yang memang menarik. Sehingga, tidak aneh kalau perhatian semua pengunjung kedai tercurah ke sebuah meja, di mana terdapat dua orang yang tengah duduk berhadapan.

Di atas meja yang membatasi dua orang itu, tampak sebuah cangkir bambu berisi arak. Hanya itu, tapi justru sangat menarik perhatian para pengunjung kedai. Cangkir bambu itu tidak diam di tempatnya, tapi bergerak-gerak bergeser. Terkadang bergeser ke kanan, tapi tak jarang ke kiri. Sebuah pemandangan yang aneh sebenarnya, tapi bagi para pengunjung kedai dan Dewa Arak, sepertinya hanya hal biasa.

Mereka semua tahu, kalau hal itu tidak terjadi sendiri. Tapi ulah dua orang yang duduk berhadapan sambil memegang pinggiran meja dengan kedua tangan. Dari tangan yang memegang pinggiran meja itulah, cangkir bambu itu dikendalikan. Setelah beberapa saat, cangkir bambu yang berisi arak setengah lebih itu bergeser ke sana kemari. Akhirnya secara perlahan-lahan terus bergeser ke meja sebelah kiri, di mana duduk lelaki bertubuh kekar.

Sedangkan wajah lelaki ini tampak telah dipenuhi cucuran peluh yang menetes-netes. Kedua tangannya yang mencekal pinggiran meja tampak menegang, pertanda telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Di lain pihak, lelaki tinggi kurus berwajah kekuningan seperti orang penyakitan yang menjadi lawannya, tampak biasa saja. Tidak tampak adanya peluh, kecuali pada bagian dahinya yang sedikit basah. Cara memegang pinggiran meja pun tidak dengan mencekal. Memang, dia belum mengerahkan seluruh tenaganya.

Dan, ketika cangkir bambu itu semakin mendekati lawannya, baru kekuatannya ditambah secara tiba-tiba. Maka kini sekujur tubuh lelaki kekar jadi menggigil. Dan..."Huak...!" Darah segar langsung muncrat dari mulutnya ketika laki-laki kekar itu terus memaksakan diri bertahan. Bahkan cangkir bambu itu secara telak dan cukup keras, menghantam dadanya. Tubuh lelaki kekar ini langsung terjerembab ke depan. Dan kepalanya kontan terkulai di meja. Kekerasan hati untuk terus bertahan, mengakibatkannya tewas dengan isi dadanya hancur.

Seketika bunyi tepuk tangan langsung membahana, menyemaraki sekitar tempat itu, untuk menyambut kemenangan lelaki tinggi kurus ini. Agaknya lelaki ini bangga bukan main. Kedua tangannya segera diangkat sambil mengedarkan pandangan berkeliling, memperhatikan wajah-wajah orang yang memuji kemenangannya.

"Ayo! Siapa lagi yang ingin mencoba bertanding denganku. Bertanding seperti ini tidak menakutkan. Bahkan menunjukkan, kalau kemampuan silat tidak hanya dipergunakan secara kasar, berkelahi seperti tukang pukul. Pertarungan seperti ini membutuhkan seni dan kesabaran. Jadi, lebih tinggi daripada pertarungan yang biasa dilakukan oleh jagoan kampungan," lelaki itu mulai sesumbar.

Kata-kata itu dikeluarkan penuh nada tantangan. Sementara mata laki-laki ini menatap wajah-wajah yang berada di sekelilingnya satu persatu. Tiap yang ditatap langsung menunduk. Dan itu membuatnya mengalihkan pandangan pada yang lainnya. Tidak berani membalas tatapannya, menjadi jawaban kalau orang itu tidak berani menyambuti tantangannya.

"Kalau demikian, mengapa kalian tidak kembali saja?! Meneruskan mencari benda-benda keramat itu, sama saja artinya kalian siap bertarung denganku!" tandas lelaki berwajah kekuningan ini dengan senyum penuh kemenangan.

Tidak ada jawaban sama sekali. Semua kepala tertunduk dalam, seperti tengah menekuri tanah, tapi, sepasang mata masing-masing orang melirik ke sana kemari, mengintai dari balik bulu-bulu mata. Senyum yang menghias wajah lelaki berkulit kuning ini memudar, ketika melihat ada seorang pemuda yang sepertinya tidak mempedulikan semua kata-katanya.

Pemuda berambut putih keperakan itu tetap asyik makan dan minum, seakan-akan tidak peduli sekitarnya. Dan hal ini membuat lelaki berwajah kuning jadi naik darah, karena merasa diremehkan. Seketika dengan langkah lebar sambil menggertakkan gigi, lelaki berwajah kuning ini melangkah lebar menuju tempat pemuda yang tak lain Dewa Arak.

Kedua tangannya sudah terkepal, hingga menimbulkan bunyi berkerotokan seperti tulang-tulang patah. Semua kepala yang tadi tertunduk kontan mengikuti arah yang dituju lelaki bermuka kuning tadi. Dan ketika itu juga mereka tahu, kalau antara lelaki berkulit kuning dengan Dewa Arak yang tengah asyik menyantap makanan, akan terjadi pertarungan. Setidak-tidaknya ribut mulut.

"Sungguh tidak enak makan minum sendirian. Biar kutemani kau, Anak Muda," tegur lelaki berwajah kuning itu sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Arya. Dan mereka hanya dipisahkan oleh meja berbentuk empat persegi panjang.

Tindakan lelaki berwajah kuning ini langsung mendapat perhatian dari orang-orang di dalam kedai, yang tadi tertunduk ketakutan. Mereka tahu, akan ada pertunjukan yang mungkin menarik. Apalagi, ketika melihat lelaki berwajah kuning itu mulai menempelkan kedua tangan pada pinggir meja.

Dewa Arak yang baru saja mengunyah makanannya hingga halus, mengangkat wajah langsung ditatapnya lelaki berwajah kuning itu. Senyum lebar seketika terhias di bibirnya. Dewa Arak seperti tidak tahu akan adanya ancaman bahaya dari orang yang duduk di depannya.

"Terima kasih, Kisanak. Kalau begitu, jangan malu-malu. Sikat saja yang ada. Lagi pula, aku pun tidak mampu menghabiskannya sendirian," tawar pemuda berambut putih keperakan ini. Lelaki tinggi kurus itu menyeringai. "Biar bagaimanapun, aku hanya tamumu, Anak Muda. Kalau kau benar-benar hendak menjamuku, tentu tidak keberatan untuk menuangkan cangkir arak padaku."

"Tentu saja tidak, Kisanak," sambut Dewa Arak, masih tetap ramah suaranya. "Kebetulan cangkir ini belum dipergunakan. Jadi, tidak ada salahnya kalau kau yang menggunakan."

Sambil berkata demikian, Dewa Arak mengulurkan tangan, menggenggam leher guci untuk menuangkan arak ke dalam cangkir bambu yang belum dipergunakan. Senyum mengejek terbesit di bibir lelaki berkulit kuning ketika melihat jari-jari tangan Arya telah mencekal leher guci kecil, dan bermaksud mengangkatnya. Sudah terbayang di benaknya, betapa pemuda berambut panjang ini akan terkejut karena guci itu tidak akan terangkat. Walaupun seluruh tenaganya dikerahkan, jelas hasilnya bakal sia-sia. Memang kedua tangan lelaki tinggi kurus yang menempel di pinggir meja telah disaluri tenaga dalam. Sehingga membuat guci itu menempel dengan daun meja.

Tapi nyatanya pemuda berambut panjang itu tidak terkejut sama sekali. Dewa Arak tahu guci itu seharusnya dapat diangkat dengan mudah. Dan kini tidak bergeming sama sekali! Semua pasang mata yang ada di dalam kedai seperti tidak berkedip menatap ke arah guci yang telah dicekal Arya. Memang, mereka tidak tahu pasti akan apa yang terjadi. Tapi dari percakapan terdengar dan kenyataan yang terjadi mereka bisa memperkirakan kalau guci itu telah dipantek dengan aliran tenaga dalam lelaki tinggi kurus.

Buktinya jari-jari tangan pemuda berambut panjang itu mencekal erat leher guci, tapi tidak segera mengangkat dan menuangkannya ke dalam cangkir bambu. Semua pengunjung kedai yakin, pemuda tampan berambut panjang ini tidak akan mampu mengangkat guci! Kekuatan tenaga dalam lelaki berwajah kuning itu telah mereka saksikan sendiri, ketika mengalahkan lelaki kekar yang menjadi lawannya tadi.

Tapi kini mereka merasa kaget ketika melihat wajah lelaki tinggi kurus itu tampak menegang. Jelas, dia telah mengerahkan tenaga besar dalam pertarungan aneh itu. Sementara, wajah pemuda berambut panjang itu terlihat biasa-biasa saja. Sedikit pun tidak terlihat adanya tanda-tanda kalau tengah mengerahkan tenaga dalam.

Tidak salahkah penglihatan ini? Bukankah tadi, sewaktu melawan lelaki kekar, lelaki berwajah kuning ini tidak memperlihatkan tanda-tanda telah mengerahkan tenaga dalam besar? Mungkinkah pemuda berambut panjang itu memiliki tenaga dalam tinggi? Rasanya tidak mungkin!

Mata para penonton adu tenaga dalam ini baru terbelalak ketika melihat guci itu terangkat dari daun meja. Kemudian, dengan tenangnya pemuda berambut panjang itu menuangkan arak yang berada dalam guci ke dalam gelas bambu. Sementara wajah lelaki tinggi kurus yang dibasahi peluh pada bagian dahi, tampak berubah-ubah. Sebentar merah, sebentar pucat. Hatinya merasa penasaran bukan kepalang dengan kekalahannya. Dan sepasang matanya yang sipit, seperti terbelalak lebar ketika menatap tingkah pemuda berambut panjang yang menuangkan arak dengan sikap tenang. Dan ini diartikan sebagai penghinaan! Bahkan tidak menganggapnya sebagai lawan berat.

"Jangan besar kepala, Pemuda Sombong!" desis lelaki tinggi kurus itu, kaku dan ketus. "Aku belum kalah! Dan pertandingan itu belum selesai! Perlu kau tahu, Ular Emas tidak pernah dikalahkan orang!"

Dengan sikap kasar, lelaki berwajah kuning yang ternyata berjuluk Ular Emas ini mengambil cangkir yang telah diisi Dewa Arak sampai penuh. Cangkir itu dicekal dengan jari-jari tangan, kemudian dituangkan ke mulutnya. Berpasang-pasang mata langsung terbelalak ketika melihat pemandangan aneh itu. Cangkir telah miring di depan mulut Ular Emas, tidak membuat arak yang berada di dalamnya mengucur ke dalam mulutnya. Padahal, arak itu sudah keluar dari bibir cangkir. Sepertinya ada kekuatan kasatmata yang menahannya.

"Sayang sekali... Rupanya arak ini tidak ingin kuminum, Anak Muda. Biarlah aku tidak usah meminumnya. Tapi kau jangan kecil hati. Biar aku yang akan memberi penghormatan kepadamu sebagai balasan atas kebaikanmu, Anak Muda," kata Ular Emas.

Nada kata-katanya mengeluh, seperti orang yang sangat menyesal setelah beberapa saat membiarkan gumpalan arak itu tidak terjatuh ke dalam mulutnya. Benda cair itu seperti telah berubah menjadi gumpalan benda lunak yang menempel erat dengan cangkir bambu! Sekarang, lelaki tinggi kurus itu memegang cangkir bambunya dengan tangan kiri. Tangan kanannya digunakan untuk mengambil guci arak dan menuangkannya ke dalam gelas! Padahal, arak yang berada di dalam gelas bambu telah penuh!

Currr! Arak dari dalam guci mengucur keluar dan memasuki cangkir yang telah penuh. Tapi hebatnya, arak itu tidak meluap keluar, meski telah melewati bibir cangkir. Malah arak itu membentuk setengah lingkaran. Ujung permukaannya melengkung, membentuk setengah lingkaran yang melewati bibir cangkir. Permukaan arak itu bergoyang-goyang, tapi tidak tumpah. Ada kekuatan tidak nampak yang membuat arak itu seperti bersatu! Pemandangan menakjubkan ini membuat berpasang-pasang mata yang sudah terbelalak semakin lebar. Mereka semua tahu pengerahan tenaga dalam Ular Emaslah yang membuat arak itu tidak tumpah!

Disqus Comments