Sabtu, 18 Juli 2026

Dewa Arak 73 Pembantai Dari Mongol

Dewa Arak 73 Pembantai Dari Mongol

Cersil Dewa Arak 73 Pembantai Dari Mongol

Baca Online Dewa Arak 73 Pembantai Dari Mongol

Resensi & Tempat Baca Online Cerita Silat Dewa Arak Serial Pembantai Dari Mongol

Selamat datang di platform digital khusus pencinta cersil Nusantara. Kali ini, kita membedah mahakarya legendaris Serial Dewa Arak dalam episode mendebarkan bertajuk Pembantai Dari Mongol karya Aji Saka. Mengapa ulasan di sini berbeda? Kami tidak hanya menyediakan sinopsis permukaan, melainkan menyandingkan analisis struktur karakter dengan cuplikan bab orisinal agar Anda bisa merasakan langsung ketegangan atmosfer dunia persilatan (Kangouw) secara mendalam.

Dalam episode ke-73 ini, konflik memuncak saat para datuk persilatan dari berbagai penjuru angin mulai kehilangan dominasinya akibat kemunculan tokoh misterius dari daratan seberang. Untuk melengkapi koleksi bacaan silat bermutu Anda, pastikan juga untuk menyimak kisah epik lainnya seperti legenda Pendekar Gunung Lawu Kho Ping Hoo yang memiliki jalinan kisah tak kalah dahsyat.

Pratinjau Eksklusif Bab: Pertarungan di Rumah Makan

Kereta itu kecil namun indah, bahkan terkesan mewah. Dua ekor kuda yang menarik kereta berjalan dengan lambatnya. Rupanya, tali kendali dilepaskan oleh kusir kereta yang sekaligus penumpangnya. Sang kusir kereta itu seorang pemuda berpenampilan rapi. Ia mengenakan pakaian yang mewah dan indah. Wajahnya tampan dengan kulit putih kemerahan. Pemuda itu tampak seperti seorang wanita!

Pemuda berpakaian mewah itu duduk seenaknya di atas kereta sambil meniup suling yang tergenggam dengan kedua tangan. Terdengar alunan nada-nada indah yang enak didengar. Paduan bunyi langkah kaki kuda, derit roda kereta, dan bunyi suling mengiringi perjalanan kereta kuda memasuki sebuah desa. Beberapa orang yang kebetulan berpapasan meluangkan waktu untuk melihat kusir kereta itu.

Pemuda berpakaian mewah itu baru menghentikan permainan sulingnya ketika telah berada di depan sebuah rumah makan. Suling segera diselipkan di pinggang yang dilingkari sehelai sabuk lebar yang terbuat dari benang keemasan. Ditariknya tali kekang kuda untuk menghentikan laju kereta.

Setelah menambatkan kudanya pada sebatang pohon yang berada di dekat tempat itu dan membiarkan kudanya merumput, pemuda berpakaian mewah itu mengayunkan kaki memasuki rumah makan. Dengan dada membusung, pemuda itu menghampiri sebuah meja bundar yang terlihat masih kosong. Terlebih dulu ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai yang cukup ramai dipenuhi pengunjung. Seorang lelaki berkulit hitam dengan tergopoh-gopoh menghampiri pemuda berpakaian mewah itu.

"Mau pesan apa, Tuan?" tanya lelaki berkulit hitam yang adalah pelayan rumah makan.

"Bawa kemari semua masakan yang paling enak dan paling mahal!" tandas pemuda berpakaian mewah angkuh.

Lalu, tanpa mempedulikan pelayan yang mengangguk mengiyakan, pemuda itu mengambil sebatang cangklong dari selipan pinggangnya. Pemuda berpakaian mewah tidak menoleh ketika pelayan kedai membalikkan tubuh untuk menyiapkan pesanannya. Dia sibuk dengan cangklong yang telah diselipkan di celah-celah bibirnya. Ujung cangklong yang berbentuk seperti mangkok kecil dimasukkan racikan-racikan tembakau. Dengan sepasang batu api, dinyalakannya cangklong itu. Sesaat kemudian tercium bau semerbak yang aneh dan keras. Bau itu memenuhi rumah makan.

"Aku yakin kau yang akan menjadi pemenang dalam pertandingan nanti, Ketua. Bukankah demikian, Baroksa?" terdengar percakapan dari meja di sebelah kiri pemuda berpakaian mewah.

Terlihat riak pada wajah pemuda itu. Rupanya, percakapan yang didengarnya cukup menarik perhatiannya. Bahkan, meski wajahnya tertuju ke depan, ekor matanya melirik ke arah meja tempat percakapan itu berasal.

"Benar, Ketua." Orang yang dipanggil Baroksa mengangguk. Di sebelah Baroksa duduk seorang laki-laki bertubuh kurus jangkung. Sedangkan di depannya, duduk seorang lelaki kekar berkumis melintang. Ketiga orang ini mengelilingi sebuah meja bundar yang dipenuhi makanan dan minuman.

"Kalian terlalu menganggap remeh orang lain," lelaki berkumis melintang yang dipanggil ketua, menanggapi dengan suara berat dan berwibawa. "Orang-orang pandai di dunia ini terlampau banyak. Seperti Raja Racun Sakti di utara dan Raja Sihir Penyebar Maut di selatan. Dua tokoh tingkat tinggi itu tak akan mungkin bisa ku tandingi."

"Apa yang Ketua katakan memang tidak salah. Di samping utara, Raja Racun Sakti pun menguasai barat. Sedangkan wilayah timur juga dikuasai Raja Sihir Penyebar Maut, di samping daerah selatan yang memang menjadi tempat tinggalnya. Tapi, bukankah kedua datuk itu telah mengundurkan diri karena telah berusia lanjut? Mereka sudah bukan merupakan lawan lagi?" Baroksa mengajukan bantahan. Tapi, terasa betul sikap hati-hatinya.

Lelaki tinggi kurus yang menjadi kawan Baroksa mengangguk, mendukung ucapan rekannya. Malah, dengan sikap bangga dia menambahkan, "Siapa sih yang tidak mengenal kita, Ketua? Perkumpulan kita, Perkumpulan Iblis Merah, amat terkenal di dunia persilatan. Disegani kawan dan ditakuti lawan. Jangankan Ketua, kami berdua atau bahkan salah seorang di antara kami jika maju, tokoh-tokoh persilatan akan mundur teratur. Mereka akan berpikir beberapa kali sebelum maju menandingi kami!"

Lelaki tinggi kurus mengucapkannya dengan suara lantang sambil berdiri dan membusungkan dada. Tapi karena dadanya memang tidak berdaging, tingkahnya jadi kelihatan menggelikan. Meski demikian, tidak mengurangi kadar kesombongan yang terkandung dalam ucapan dan sikapnya.

Ketua Perkumpulan Iblis Merah tersenyum lebar. Kesombongannya bangkit melihat sikap yang ditunjukkan anak buahnya. Sepasang matanya diedarkan ke sekeliling ruangan kedai. Diperhatikannya orang-orang yang berada di ruangan itu. Sinar matanya seperti mengajukan tantangan.

"Pelayan...!" Pemuda berpakaian mewah melambaikan tangan. Di saat pelayan kedai tergopoh-gopoh menghampiri, pemuda itu mengeluarkan sapu tangan indah penuh sulaman dari bagian dalam bajunya. Dipergunakannya sapu tangan itu untuk menyeka mulutnya yang agak berminyak. Rupanya, ia telah selesai dengan makannya. Memang, di saat pemuda itu mendengarkan pembicaraan orang-orang Perguruan Iblis Merah makanan telah siap dihidangkan di meja. Pemuda berpakaian mewah itu menyantap hidangannya sambil mendengarkan. Makanan yang dipesannya banyak, tapi tidak dihabiskan. Sebagian besar hanya dicicipinya.

"Ada apa, Tuan?" tanya pelayan kedai seraya membungkuk hormat.

Tingkah pemuda berpakaian mewah dan pelayan kedai sempat dilihat oleh para pengunjung yang menikmati hidangan di meja masing-masing. Teriakan pemuda berpakaian mewah yang cukup lantang tadi membuat mereka mengalihkan perhatian. Tidak terkecuali orang-orang Perkumpulan Iblis Merah. Bahkan, alis Ketua Perkumpulan Iblis Merah berkerut. Ia merasa seruan lantang pemuda berpakaian mewah itu dikeluarkan untuk menimpali seruan anak buahnya tadi.

Pemuda berpakaian mewah tidak segera memberikan jawaban. Dengan sikap tenang dan penuh keangkuhan, diselipkannya cangklong yang tadi diletakkan di meja ke dalam mulutnya. Kemudian, dinyalakan dan menyedotkannya dalam-dalam. Ia mengepulkan asapnya pada sisa makanan yang berada di atas meja.

"Berikan sisa makanan ini pada orang-orang kurang makan di depan sana!" ujar pemuda berpakaian mewah dengan angkuh.

"Baik, Tuan!" Pelayan kedai mengangguk dan segera merapikan makanan di atas meja. Dibawanya makanan itu keluar untuk diberikan pada para pengemis yang berkerumun di luar kedai.

***

"Besar lagak...!" Lelaki tinggi kurus yang menjadi kawan Baroksa mendengus gemas. Rupanya, dia merasa jengkel melihat tingkah pemuda berpakaian mewah yang angkuh. "Ingin rasanya kuhajar dia agar berkurang sombongnya!"

"Kau jangan bersikap sembarangan, Tangkaran. Pemuda itu bukan orang sembarangan. Dia pasti mempunyai kepandaian yang cukup hingga berani bertindak seperti itu," ujar lelaki berkumis melintang.

Ucapan itu bagaikan minyak menyambar api. Lelaki tinggi kurus yang bernama Tangkaran semakin merasa tidak senang. Ucapan ketuanya tidak hanya membuatnya kesal karena seakan-akan memberikan pembelaan terhadap pemuda berpakaian mewah, tapi juga seperti memukulnya! Tangkaran merasakan ketuanya meragukan kepandaiannya. Tangkaran bangkit dari kursinya dengan wajah merah padam.

"Biar aku yang akan menghentikan sikap sombongnya, Ketua! Pemuda tidak tahu aturan itu kalau tidak diberi pelajaran akan besar kepala dan menganggap di dunia ini hanya dia yang memiliki kepandaian!"

Lelaki berkumis melintang tidak memberikan tanggapan sama sekali. Bahkan, seperti tidak mendengar ucapan Tangkaran. Dengan tenang dia menikmati makanannya. Sikap lelaki berkumis melintang itu dianggap oleh Tangkaran sebagai tanda perkenan atas tindakan yang akan dilakukannya. Maka, dengan langkah lebar, kakinya diayunkan menuju meja pemuda berpakaian mewah.

"Sungguh tidak kusangka kalau di rumah makan seperti ini ada seekor anjing merah kurus kering yang suka menyalak!" Ucapan yang cukup keras dan lantang itu keluar dari mulut pemuda berpakaian mewah. Dia mengucapkannya setelah menghembuskan asap dari mulutnya. Kelihatannya, ucapan itu tak tertuju jelas pada siapa. Tapi Tangkaran merasakan dadanya seperti hendak meledak. Dia tahu ucapan pemuda itu ditujukan padanya.

"Pemuda sombong! Berani kau menghinaku? Rupanya, kau ingin merasakan kehebatan orang-orang Perkumpulan Iblis Merah!" teriak Tangkaran dengan suara menggelegar ketika telah berada di depan pemuda berpakaian mewah, yang masih enak-enakan duduk di kursinya bermain dengan asap tembakau. Bahkan, seperti tidak mempedulikan Tangkaran yang telah berdiri di depannya dan hanya terpisah oleh meja bundar.

"Menyingkirlah dari depanku dan berhentilah menyalak, Anjing Kurus!" sentak pemuda berpakaian mewah. Ditudingnya Tangkaran dengan cangklongnya. "Kalau tidak, aku akan memukulmu hingga kau terkaing-kaing pergi dari sini sambil menggulung ekormu!"

"Keparat!" Perkataan pemuda berpakaian mewah yang terakhir membuat Tangkaran tidak bisa menahan sabar lagi. Dengan sepasang mata membelalak lebar seperti hendak melompat keluar dari rongganya, dia membuka serangan dengan sebuah pukulan keras ke arah wajah pemuda berpakaian mewah. Dalam kemarahannya, Tangkaran mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya. Terdengar bunyi berdesing ketika tangannya yang kurus meluncur datang.

Sudah terbayang dalam benak Tangkaran kepala pemuda yang sombong dan besar mulut ini akan hancur berantakan. Karena, jangankan kepala manusia, batu karang yang paling keras pun akan hancur terhantam tangannya.

Wukkk! Dugaan Tangkaran ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Pukulannya mengenai tempat kosong. Pemuda berpakaian mewah itu sudah tidak berada di tempatnya. Padahal, dia tidak kelihatan bergerak atau melakukan tindakan apa pun. Tapi, tubuhnya berikut kursi yang didudukinya bergeser jauh ke belakang seperti memiliki roda. Bunyi berkerit tajam mengiringi bergesernya kursi.

Amarah Tangkaran semakin berkobar. Dengan tangan kirinya, didorongnya meja bundar yang berada di depannya. Meja itu pun meluncur ke arah pemuda berpakaian mewah yang enak-enakan duduk di kursinya sambil mengisap cangklong. Semua pasang mata pengunjung kedai, tak terkecuali lelaki berkumis melintang dan Baroksa, mulai tertarik untuk menyaksikan keributan kecil ini. Mereka ingin tahu bagaimana caranya pemuda berpakaian mewah itu meloloskan diri dari luncuran meja.

Sedikit lagi meja bundar itu menghantam pemuda berpakaian mewah, tiba-tiba pemuda itu bersama dengan kursinya terangkat tinggi ke atas! Meja itu pun meluncur di bawah keempat kaki kursi yang diduduki pemuda berpakaian mewah! Padahal, pemuda itu hanya menjejakkan kaki kanannya pelan ke lantai. Tapi, tindakan itu mampu mengangkat tubuh dan kursinya melayang ke atas setinggi hampir tiga tombak! Yang lebih mengherankan Tangkaran dan hampir semua pengunjung kedai adalah ketika kursi yang diduduki pemuda berpakaian mewah itu mampu hinggap di atas meja tanpa menimbulkan bunyi berarti. Bagaikan sehelai daun kering mendarat di tanah! Pemuda itu sendiri dengan sikap tidak peduli enak-enakan bermain dengan asap cangklongnya.

Disqus Comments