Dewa Arak 74 Panggilan Ke Alam Roh
Cersil Dewa Arak 74 Panggilan Ke Alam Roh
Baca Online Dewa Arak 74 Panggilan Ke Alam Roh
Resensi, Sinopsis, dan Tempat Baca Online Cerita Silat Dewa Arak: Panggilan Ke Alam Roh
Selamat datang di ruang baca digital khusus penggemar cerita silat (cersil) klasik Nusantara. Kali ini, kita akan mengulas salah satu episode paling mendebarkan dan sarat muatan mistis dalam jagat persilatan karya Aji Saka, yaitu Serial Dewa Arak episode ke-74 yang berjudul Panggilan Ke Alam Roh. Berbeda dengan ulasan di tempat lain, di sini kita tidak hanya melihat sepak terjang pertarungan fisik, melainkan takdir kelam yang mempertemukan dendam masa lalu, kutukan ilmu hitam, dan titisan roh yang mencari keadilan.
Kisah ini berfokus pada tragedi yang menimpa Arum Sari, putri Pendekar Macan Hitam, yang raganya menjadi medan pertempuran gaib bagi roh leluhurnya demi membalas kekejian Serigala Belang dan dedengkot sesat Raga Pitu. Sembari menikmati ketegangan plot dari cuplikan bab orisinal di bawah, Anda juga sangat direkomendasikan untuk menelusuri kisah epik berdarah lainnya dari sang maestro tanah air dalam artikel Rondo Kuning Membalas Dendam Kho Ping Hoo yang memiliki kedalaman konflik dan aksi bela diri yang tidak kalah memikat.
Pratinjau Eksklusif Seri Balas Dendam: Tragedi Arum Sari dan Bangkitnya Masa Lalu
Angin bertiup kencang. Hujan turun dengan deras laksana dicurahkan dari langit. Kilat yang sesekali muncul di langit menyilaukan mata. Bunyinya yang keras menggelegar mengiringi langkah kaki mungil itu. Pemilik sepasang kaki mungil berlari tanpa mempedulikan keadaan alam yang seperti tengah mengamuk. Tubuh sosok terbungkus pakaian hijau yang telah basah kuyup itu sesekali menggigil, karena dinginnya cuaca yang ditimbulkan oleh deru angin kencang.
"Ukh...!" Pemilik kaki mungil itu ternyata seorang wanita muda. Usianya kira-kira dua puluh tahun. Ia mengeluh tertahan ketika jatuh tertelungkup di tanah karena kakinya tersandung batu. Lari gadis berpakaian hijau ini memang tidak tetap, terhuyung-huyung ke sana kemari. Pandangannya tidak tertuju ke jalan melainkan menatap ke depan dengan sinar mata kosong. Matanya itu tampak sembab seperti habis menangis. Wajahnya pun muram. Pendeknya, tidak terlihat keceriaan pada wajahnya.
"Ibu...!" Bukannya bergegas bangkit dari jatuhnya, gadis berpakaian hijau ini malah berseru tertahan. Terasa benar nada kepiluan dalam suaranya. Sarat dengan kedukaan yang mendalam. "Aku tidak tahan menanggung aib ini.... Lebih baik aku pergi menyusulmu, Ibu...!" seru gadis berpakaian hijau meremas-remas tanah berlumpur di depannya. Aku tak sanggup terus hidup.... Wahai, dewa petir sambarlah aku...! Pertemukan aku dengan ibuku...!
Seperti menyambuti ucapan gadis berpakaian hijau, petir menyambar keras bagai hendak menghancurkan bumi. Tapi, tidak menyambar gadis berpakaian hijau, melainkan menghantam sebatang pohon yang berada cukup jauh dari tempat gadis itu berada. Gadis berpakaian hijau terkejut dan menatap ke arah pohon yang terbakar hangus menjadi arang. Tiba-tiba dia menggertakkan gigi. Wajahnya tampak beringas! Sinar matanya menyiratkan pembunuhan! Andaikata saat itu ada orang yang dibencinya di situ, mungkin telah diserangnya habis-habisan.
"Apabila aku mati, terlalu enak bagi bangsat itu! Aku harus hidup dan membalas semua kekejian yang ditimpakannya padaku. Akan ku cabik-cabik seluruh tubuhnya. Akan kubunuh dia! Akan ku jadikan dia menyesal telah bermusuhan denganku!" desis gadis berpakaian hijau geram.
Entah karena sambaran petir, atau kesadaran yang timbul dari hatinya, gadis berpakaian hijau yang semula tidak memperlihatkan kemauan untuk hidup kini terlihat penuh semangat. Pada sinar mata dan tarikan wajahnya terlihat perasaan kejam. Ada sesuatu yang mengerikan di dalamnya. Gadis berpakaian hijau bergegas bangkit berdiri. Sesaat ia tegak di tempatnya. Matanya menatap tajam ke depan dengan sinar mata penuh dendam. Kedua tangannya terkepal dan mengejang kaku. Baru sekarang terlihat kalau pakaian gadis berwajah cantik dengan tahi lalat di pipi kanannya itu compang-camping di beberapa bagian. Bagian anggota tubuhnya yang tidak tertutup tampak terlihat mulus.
"Demi langit dan bumi aku bersumpah akan membalas dendam perbuatan keji itu. Akan ku cabik-cabik tubuhnya. Akan kubuat dia menyesal dilahirkan ke dunia ini. Ha ha ha...!" Bagai orang kurang ingatan, gadis berpakaian hijau tertawa terbahak-bahak. Sepasang matanya bergerak liar, terlihat mengerikan. Beberapa saat kemudian, ia berlari cepat meninggalkan tempat itu menuju puncak gunung!
Gadis berpakaian hijau tidak mempedulikan hujan lebat yang mengguyur sekujur tubuhnya, angin dingin yang menusuk tulang serta kilatan petir yang diselingi bunyi menggelegar. Langkah kakinya terus diayunkan. Kali ini ia tidak terhuyung-huyung seperti sebelumnya. Air kecoklatan bercampur tanah memercik ke sana kemari ketika kaki-kaki gadis berpakaian hijau menjejak tanah.
***
"Nenek...!" Dengan mengeluarkan seruan yang cukup lantang, gadis berpakaian hijau itu menubruk sebuah gundukan tanah tidak terurus. Tidak dipedulikannya pakaian dan sekujur tubuhnya yang semakin kotor dan berlepotan tanah lumpur. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di sebuah gundukan tanah kuburan. Saat itu hujan telah reda. Hanya tinggal gerimis saja. Angin pun tidak terlalu keras berhembus. Petir sudah tidak menyalak, hanya kilatan-kilatan menyilaukan di langit. Gadis berpakaian hijau tiba di tempat yang dituju. Ia berlari tanpa henti hampir seperempat hari. Padahal, gadis berpakaian hijau telah menggunakan ilmu lari cepat Pelan tapi meyakinkan, gelap mulai menyelimuti alam. Sang surya perlahan tenggelam di peraduannya. Hari telah petang. Gadis berpakaian hijau telah berlari sejak siang hari. Sejak matahari seharusnya berada tepat di atas kepala.
"Nenek..." Dengan terbata-bata karena menahan isak tangis, gadis berpakaian hijau mengeluh tertahan. "Cucumu sungguh bernasib amat malang, Nek. Sekelompok penjahat datang menyatroni tempat tinggal kami. Ayah mereka bunuh. Sedangkan aku mengalami nasib yang mengerikan. Mereka memperkosa aku secara brutal dan kasar...! Mereka menodaiku bergantian, Nek. Tiga hari tiga malam mereka melakukannya. Baru kemudian mereka meninggalkan aku pergi dan memberi kesempatan padaku untuk membunuh diri."
Seperti mengadu pada seseorang yang masih hidup dan tengah mendengar ucapannya, gadis berpakaian hijau bercerita tersendat-standat. Air matanya mengalir laksana air sungai. "Aku tidak mau bunuh diri, Nek.... Aku bukan seorang pengecut. Meski sebelumnya aku merasa lebih baik mati saja daripada hidup. Aku merasa diriku begitu kotor sehingga aku jijik dengan diriku sendiri. Aku jijik, Nek! Jijik...! Tapi, sekarang aku sadar. Aku tidak boleh tenggelam dalam kedukaan ini. Aku harus membalas perlakuan binatang-binatang itu. Untuk itu aku harus memiliki kepandaian tinggi. Binatang-binatang bermuka manusia itu memiliki kepandaian tinggi, Nek. Karena itu, aku datang kepadamu. Aku ingin meminta bantuanmu agar dapat membalaskan sakit hati ini. Bukankah kau dulu sering datang menjumpai ku dan mengatakan agar aku meminta pertolongan padamu bila mendapat kesulitan? Malah, dulu kau sering datang dan mengajarkan ku ilmu silat. Sekarang mengapa kau tidak mengajarkan silat lagi padaku, Nek?! Apakah kau takut terhadap Ayah, karena aku mempelajari ilmu darimu? Jawablah, Nek, Tolonglah aku!"
Kedua tangan gadis itu memeluk gundukan batu nisan. Tubuh dan wajahnya menelungkupi gundukan tanah. Gadis berpakaian hijau terus mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada dalam dadanya. Semakin lama seruan-seruan yang keluar dari mulutnya semakin mengecil. Mungkin kelelahan karena terlalu lama berlari dan menanggung beban yang menghimpit batinnya. Gadis berpakaian hijau tertidur sambil memeluk gundukan tanah. Dia tidak tahu kegelapan telah turun. Langit tidak terhias bintang dan bulan. Langit mendung. Waktu terus merayap, Tengah malam pun tiba. Tepat pada saat itu hembusan angin mendadak keras. Bunyi anjing hutan melolong panjang. Gadis berpakaian hijau yang sejak tadi tertidur dengan tenang kini menggeliat gelisah. Sesuatu dari alam lain masuk ke dalam mimpi gadis itu.
Gadis berpakaian hijau bermimpi bertemu dengan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Tubuhnya padat menggiurkan. Wajahnya pun cantik. Terlalu cantik malah. Penuh daya pikat dan penarik yang amat kuat! Wanita yang diketahui gadis berpakaian hijau sebagai neneknya dan memiliki usia hampir tujuh puluh tahun! Gadis berpakaian hijau tidak pernah tahu mengapa neneknya mampu membuat dirinya terlihat awet muda.
"Nenek...!" Dalam mimpinya gadis berpakaian hijau memanggil wanita cantik itu. Teriakannya tidak hanya sarat dengan kegembiraan tapi juga keterkejutan. Neneknya dijumpai tidak dalam keadaan seperti biasanya. Tidak seperti dalam mimpi-mimpi sebelumnya. Nenek yang dulu di dalam mimpi sering mengajarinya ilmu silat kini tampak sangat mengenaskan keadaannya. Neneknya di kelilingi bambu-bambu setinggi manusia. Bambu-bambu itu berduri. Bagian atasnya tertutup oleh bambu yang sama. Neneknya terlihat ketakutan. Ia berputaran ke sana kemari mencari jalan keluar.
"Arum...! Arum Sari...! Cucuku, tolong bebaskan aku dari kurungan terkutuk ini. Aku ingin menolongmu. Tapi, aku tidak bisa keluar dari penjara keparat ini. Tolonglah aku, Arum. Tolong...! Bukakan kurungan ini...!"
"Nenek...!" Gadis berpakaian hijau yang bernama Arum Sari menjerit di dalam tidurnya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Arum Sari yang merasa gelisah dalam tidurnya menggeliat ke sana kemari. Terdengar keluhan tak jelas dari mulutnya. "Uh...!" Arum Sari baru terbangun dari tidurnya ketika tubuhnya terguling dari gundukan tanah. Arum Sari tercenung begitu sadar sepenuhnya. Mimpi menyeramkan itu melekat kuat di benaknya. Mungkinkah mimpi itu hanya merupakan bunga tidur, ataukah memang kenyataan yang sebenarnya? Arum Sari bingung memikirkan hal itu. Karena memikirkan mimpi yang menyeramkan itu, Arum Sari jadi tidak terlalu memikirkan keadaan sekelilingnya. Kalau saja pikirannya tidak dipenuhi mimpi buruk tentu Arum Sari akan ketakutan sekali berada di pekuburan sendiri. Betapapun beraninya Arum Sari adalah seorang wanita. Masih muda lagi. Tapi, tak lama Arum Sari memikirkan mimpi itu. Kelelahan amat sangat yang mendera lahir dan batinnya membuat gadis berpakaian hijau itu merebahkan tubuhnya kembali di atas kuburan.
Lagi-lagi Arum Sari dihantui mimpi mengerikan itu. Mimpi buruk yang tadi mengganggunya datang kembali. Tidur Arum Sari tidak tenang. "Tolong, Arum...! Aku tidak betah dipenjara seperti ini. Aku ingin menolongmu, Arum. Aku ingin berjumpa denganmu seperti dulu. Bebaskan aku dari penjara ini, Arum...!" Kembali neneknya Arum Sari yang awet muda meminta tolong dengan suara meratap-ratap pilu.
"Bagaimana aku bisa membebaskan mu, Nek?" Alam bawah sadar Arum Sari mengajukan pertanyaan. "Aku ingin mengeluarkan mu, Nek. Tapi, bagaimana caranya. Tubuhku lemah sekali. Urat-urat ku kaku semua. Bahkan tenagaku seperti lenyap entah ke mana. Aku tidak bisa menolongmu, Nek."
"Amat mudah kalau kau benar-benar ingin menolongku, Arum!" Nenek gadis berpakaian hijau itu memberi petunjuk. "Jika kau bangun dari tidurmu nanti, galilah, kuburan ku. Ambillah bambu runcing kuning yang ditancapkan di atas peti mati ku. Maka, aku akan bebas."
Seperti disentakkan oleh sesuatu yang kasat mata, Arum Sari tiba-tiba membuka sepasang matanya. Gadis berpakaian hijau ini merasakan kantuknya mendadak lenyap. Dia segera bertindak sigap. Arum Sari tidak mempunyai pilihan lain. Dia yakin mimpi yang dialaminya bukan sembarang mimpi, tapi sebuah petunjuk. Keyakinannya itu semakin besar ketika teringat neneknya bukanlah orang sembarangan. Neneknya seorang tokoh yang lihai dalam ilmu-ilmu gaib.
Arum Sari jadi berpikir. Beberapa puluh hari yang lalu neneknya selalu hadir dalam mimpinya. Ia mengajarkan ilmu-ilmu melalui mimpi. Tapi, hal itu hanya berlangsung beberapa minggu, tepatnya delapan belas hari. Ayahnya keburu mengetahui. Ayahnya merasa curiga ketika melihat gadis berpakaian hijau itu melatih ilmu silat yang diketahuinya tidak pernah diajarkannya. Setelah didesak bertubi-tubi, Arum Sari akhirnya membuka rahasia siapa yang telah memberi pelajaran itu padanya. Dua hari kemudian neneknya Arum Sari tidak pernah datang lagi di dalam mimpinya. Baru pada malam hari ini, malam keempat puluh satu dari kematiannya, Arum Sari bertemu kembali dengan neneknya dalam mimpi. Itu pun setelah Arum Sari memanggil-manggil neneknya dan tidur di kuburannya.
Arum Sari yang cukup cerdik mulai merasa yakin ada hubungan antara ketidakhadiran neneknya di dalam mimpi dengan terbukanya rahasia itu. Arum Sari malah percaya neneknya terpenjara karena perbuatan ayahnya. Gadis berpakaian hijau ini tahu ayahnya tidak menyukai neneknya! Ayahnya Arum Sari memang seorang pendekar, sedangkan neneknya Arum Sari seorang tokoh hitam. Tanpa mempedulikan keadaan malam gelap gulita, Arum Sari mulai menggali gundukan tanah kuburan neneknya. Ia mempergunakan sebatang ranting yang ditemukannya berada di dekat tempat itu. Arum Sari ternyata bukan seorang gadis lemah. Meski hanya dengan sebatang ranting, dia mampu menggali tanah kuburan itu dengan cepat. Tidak kalah cepat dengan lelaki bertenaga kuat yang menggali dengan mempergunakan cangkul.
Dalam gelora semangat yang menggebu, Arum Sari seperti mendapat tambahan tenaga baru. Tangannya bergerak cepat bukan main. Tanah bergumpal-gumpal berpindah ke sisi gundukan tanah kuburan. Seperti telah bersepakat dengan Arum Sari, langit yang semula tertutup awan hingga bintang-bintang dan sang dewi malam tidak dapat menerangi persada perlahan terusir pergi. Ketika gundukan tanah sudah tergali cukup dalam, langit di atas tempat Arum Sari berada telah bersih. Sungguh suatu kejadian yang aneh. Bulan bulat penuh pun muncul di langit. Bulan purnama. Sinarnya kuning berkilauan. Suasana di pekuburan menjadi cukup terang. Dengan mudah Arum Sari segera dapat melihat sebatang bambu kuning yang menancap di tutup peti mati. Tidak panjang. Hanya sepanjang jari telunjuk! Hati Arum Sari tercekat. Bambu kuning ini semakin mempertebal keyakinannya kalau mimpi itu bukan sembarang mimpi. Tanpa ragu-ragu lagi, Arum Sari segera mencabutnya!