Kamis, 16 Juli 2026

Rondo Kuning Membalas Dendam Kho Ping Hoo

Rondo Kuning Membalas Dendam -- Kho Ping Hoo
Baca Online Rondo Kuning Membalas Dendam -- Kho Ping Hoo
Cersil Rondo Kuning Membalas Dendam -- Kho Ping Hoo

Rondo Kuning Membalas Dendam (Cerita Lepas) Karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Ilustrasi klasik kisah persilatan tanah Jawa.

Jilid 01: Di bawah pemerintahan Sultan Agung yang arif dan bijaksana, Mataram mengalami masa jaya dan makmur. Sesuai dengan namanya, Sri Sultan memang memiliki sifat-sifat dan kepribadian yang luhur dan agung. Tidak saja beliau sakti mandraguna dan terkenal digdaya, juga dalam ilmu-ilmu filsafat, kesusastraan, dan kesenian, Sultan Agung adalah seorang ahli yang mengagumkan.

Kitab filsafat "Sastra Gending" yang hingga kini dikagumi orang adalah hasil karya beliau. Kalau pimpinan pusat berada dalam tangan seorang yang adil bijaksana, tak dapat tidak para petugas lain tentu akan tunduk, terpengaruh oleh sifat-sifat baik dan menjalankan pekerjaan serta tugasnya dengan baik pula. Tiada bedanya dengan ranting-ranting dan cabang serta daun-daun sebatang pohon yang subur, tentu merupakan bagian yang subur pula sehingga keseluruhan Mataram merupakan sebatang pohon Waringin yang besar, megah, dan subur, dapat mengayomi dan menjadi pelindung serta tempat berteduh para rakyat kecil.

Betapapun juga, tepat sebagaimana yang telah menjadi sebutan orang bahwa tak ada gading yang tak retak, atau tak ada kebaikan yang sempurna melainkan sifat Tuhan Yang Maha Sempurna. Di antara para petugas yang menjalankan tugas pemerintah di bawah pimpinan Sultan Agung, banyak pula terdapat orang-orang yang kurang baik wataknya. Namun, oleh karena pengaruh kebajikan yang bercahaya keluar dari dalam Istana Sultan Agung, watak dan sifat dari mereka ini terkekang. Apabila Sri Sultan berada di kota raja, mereka tidak berani memperlihatkan sifat-sifat mereka yang kurang jujur.

Sultan Agung takkan terkenal sebagai seorang raja besar apabila beliau hanya pandai memerintah saja dan tidak mau peduli akan keadaan rakyatnya. Akan tetapi, beliau mempunyai hati penuh sifat welas asih. Terhadap rakyat kecil, beliau sangat menaruh perhatian dan cinta kasih seperti terhadap keluarga sendiri. Tidak jarang Sri Sultan Agung melakukan perjalanan ke dusun-dusun dan gunung-gunung dengan menyamar seperti seorang rakyat biasa untuk melakukan peninjauan dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri keadaan dan kehidupan rakyat.

Oleh karena daerah Mataram amat luasnya, sering kali terjadi bahwa Sultan Agung yang menjalankan peninjauan dan hanya diikuti oleh beberapa orang abdi pelayan ini sampai berpekan-pekan meninggalkan Istana. Pada saat-saat Sri Sultan tidak berada di kota raja inilah para pembesar dan petugas yang jahat berani muncul mengumbar nafsu sesatnya. Memang, tikus-tikus baru berani keluar berlagak apabila sang kucing tidak berada di situ.

Cerita ini pun dimulai dengan peristiwa yang timbul dari pengumbaran nafsu jahat dari seorang pembesar yang menyeleweng, yang terjadi pada waktu Sri Sultan pergi meninjau ke daerah luar hingga beliau tidak tahu akan peristiwa itu.

Di dusun Waru yang terletak di sebelah timur Ibukota Mataram, yang menjadi kepala adalah seorang bernama Galiga Jaya yang berpangkat Penewu, yaitu seorang pembesar yang pada waktu perang mengepalai seribu orang prajurit, oleh karena itu disebut Penewu (sewu = seribu). Penewu Galiga Jaya ini adalah seorang sakti, mempunyai pengaruh besar dan ditakuti, terutama di sekitar daerah yang dikuasai. Selain kuat dan sakti, ia mempunyai watak yang keras dan mudah sekali marah. Ia juga terkenal sebagai seorang perusak pagar ayu, pengganggu anak bini orang kampung, hingga diam-diam banyak orang membencinya.

Usianya belum empat puluh, bercambang bauk dengan kumis yang dipelintir ke atas seperti kumis Sang Gatutkaca, sepasang matanya besar dan hitam berpengaruh, kulit mukanya hitam dan tubuhnya tinggi besar. Biarpun Penewu Galiga Jaya belum berusia empat puluh tahun dan kedudukannya hanya seorang Penewu, akan tetapi dalam soal beristri, ia tak mau kalah oleh Sri Sultan sendiri! Istrinya banyak sekali, memenuhi gedungnya yang besar, dan agaknya ia masih belum puas. Banyak wanita yang menjadi selirnya di luar gedung.

Di antara selir-selir yang tidak tinggal di dalam gedungnya, terdapat seorang wanita yang tinggal di dusun Pakem. Wanita ini tidak muda lagi, usianya telah tiga puluh tahun lebih, akan tetapi kecantikannya tidak kalah oleh remaja putri yang manapun juga. Dia ini adalah Rondo Kuning, seorang janda yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun yang lalu. Sebagaimana dapat diduga dari nama sebutannya, ia memang berkulit kuning dan halus bersih yang membuatnya nampak jauh lebih muda daripada usia sebenarnya.

Rondo Kuning ini mempunyai tiga orang anak perempuan dari suaminya yang dulu, dan ketiga orang anak perempuan ini kini telah menjadi remaja putri. Yang pertama bernama Kencanawati, berusia tujuh belas tahun, cantik jelita menarik hati. Yang kedua bernama Sariwati, berusia enam belas tahun, ayu kuning dan lemah lembut seperti Ibunya. Yang ketiga bernama Bandini, berusia empat belas tahun, agak kehitam-hitaman akan tetapi hitam-hitam manis, mempunyai sifat jenaka, kenes, dan kewat yang menggemaskan hati serta menggoncangkan iman pria!

Selain ketiga putrinya ini, dalam pernikahannya dengan Penewu Galiga Jaya yang menjadi suaminya karena paksaan (untuk melindungi keselamatan ketiga orang putrinya, Rondo Kuning terpaksa menurut), janda cantik ini memperoleh seorang putra lagi yang baru berusia satu tahun bernama Bondan. Betapapun hatinya tidak mempunyai rasa kasih sedikit pun kepada suami paksaan ini, namun melihat putranya yang sehat dan mungil, Rondo Kuning merasa sangat sayang.

Akan tetapi, semenjak lahirnya putra yang diberi nama Bondan itu, sikap Penewu Galiga Jaya yang tadinya amat mencintai Rondo Kuning, mulai berubah. Mulai saat itu, apabila Penewu Galiga Jaya datang berkunjung ke rumah Rondo Kuning, perhatiannya beralih kepada ketiga putri tirinya! Terutama sekali kepada Kencanawati yang laksana kembang sedang mekar-mekarnya, menyiarkan keharuman yang membuat nafsu di dalam hati Galiga Jaya terbangun. Ayah tiri ini sering kali memperlihatkan sikap yang mengandung gejala kurang bersih. Hal ini diketahui baik oleh Rondo Kuning hingga Ibu ini merasa sangat khawatir.

Sering kali Penewu Galiga Jaya menyindirkan kepada Rondo Kuning bahwa Kencanawati yang cantik jelita itu patut menjadi istri atau selir orang berpangkat. Karena sungguhpun hanya seorang perawan desa, namun kecantikannya tidak kalah oleh putri-putri kota raja. Oleh karena ini, maka Rondo Kuning dalam kekhawatirannya, lalu mencarikan jodoh untuk Kencanawati yang sudah cukup dewasa untuk menjadi istri orang. Akhirnya pilihannya terjatuh pada diri seorang pemuda dusun Pakem yang bernama Sutadi, seorang pemuda tani yang baik budi, sopan santun, dan rajin bekerja.

Ketika Penewu Galiga Jaya mendengar usul Rondo Kuning yang hendak menjodohkan Kencanawati dengan pemuda itu, ia menjadi marah sekali dan melarang keras. Pertikaian hebat pun terjadi di antara mereka, memicu kemarahan sang Penewu yang mengancam akan mengambil Kencanawati sebagai selirnya sendiri jika dipaksa menikah dengan petani miskin.

Mendengar ancaman sesat itu, Rondo Kuning menyuruh Kencanawati melarikan diri bersama Sutadi demi keselamatan mereka. Namun, rencana pelarian itu tercium oleh kaki tangan Galiga Jaya yang cerdik. Pengejaran pun dilakukan dengan pasukan berkuda. Di tengah jalan, sepasang kekasih yang malang itu berhasil disusul. Dengan kejam, Penewu Galiga Jaya menusuk dada Sutadi hingga tewas seketika di hadapan Kencanawati yang menjerit histeris. Kencanawati kemudian dipondong paksa kembali ke dusun Pakem.

Tragedi kian memuncak saat Rondo Kuning mencoba melawan demi merebut kembali putrinya. Dalam kemarahan yang membabi buta, Galiga Jaya mengayunkan pukulan keras yang tanpa sengaja mendarat tepat di kepala bayi mungil mereka, Bondan. Bayi malang itu tewas seketika di pelukan ibunya. Menyaksikan putra bungsunya mati dan anak gadisnya diculik, Rondo Kuning kehilangan kewarasannya. Ia berlari kencang membawa mayat bayinya menuju ke arah pantai Laut Selatan, menyisakan kepedihan mendalam bagi Sariwati dan Bandini yang juga ditawan oleh anak buah Penewu.


Rekomendasi Cerita Silat Online Terbaik untuk Anda:

Jangan lewatkan petualangan pendekar tangguh lainnya dalam kisah legendaris yang sangat seru. Anda dapat membaca kelanjutan serinya di sini: Dewa Arak 64 Satria Sinting Lengkap .

Disqus Comments