Pendekar Kelana Sakti 15 Pedang Ular Emas
Cersil Pendekar Kelana Sakti 15 Pedang Ular Emas
Baca Online Pendekar Kelana Sakti 15 Pedang Ular Emas
Bab I: Kemurkaan Nilasari Grewek
"Terkutuk! Orang-orang aliran lurus hendaknya mampus disambar geledek! Biar semua jadi arang gelondang!" Sumpah serapah Nenek berbaju serba merah yang larinya cepat bagai angin. Rambut putihnya tergerai sebatas pinggang tergerak-gerak setiap kakinya melangkah.
Ia yang tidak lain Nenek keriput Nilasari Grewek terus berlari menerobos hutan belukar nan lebat. Sebilah pedang berkilau keemasan tergenggam erat di tangan kanannya. Pedang itu dibabatkan ke depan berkali-kali, menebas ranting-ranting pohon yang menghalangi langkahnya. Pandangannya lurus nyalang mengandung murka.
Selama ia berlari gerutunya tidak pernah putus. "Srikaton Munggel juga sialan! Berani-beraninya ia dihadapanku berpihak pada orang-orang aliran lurus. Mudah-mudahan ia mampus ditelan bumi!"
Saat itu Nilasari Grewek sudah menembus hutan belukar. Dihadapannya membentang sebuah perkampungan terpencil yang sunyi. Namun begitu para penduduknya banyak berkeliaran mengisi kesibukan sehari-hari. Tidak segan pula Nilasari Grewek menginjakkan kaki ke desa terpencil tersebut. Kehadirannya sangat mengejutkan penduduk kampung.
Mereka betul-betul keheranan menatap seorang nenek keriput yang terus menggerutu dan langsung duduk pada sebuah balai di depan sebuah gubuk. "Aku yang telah banyak malang melintang dalam dunia persilatan, sama sekali tidak diberi muka. Tidak ingat selama tiga puluh tahun hidup aku yang mengurusi. Dasar murid tidak tahu diri. Sebaiknya cepat-cepat mampus saja kalian semua!"
Mendengar sumpah serapah itu beberapa penduduk yang kebetulan mendengar jadi ingin tertawa. Mereka menganggap telah kehadiran seorang nenek pikun. Tak urung juga penduduk yang lain berdatangan ikut menertawai. Nilasari Grewek tidak peduli dikerubungi oleh para penduduk yang berbagai usia maupun jenis.
Tahu-tahu saja tempat itu telah penuh dengan orang-orang yang mengerubunginya. "Adisena, siapa nenek ini sebenarnya?" bisik salah seorang penduduk. Adisena yang juga berada di situ mengangkat bahu. "Mana aku tahu. Coba saja kau tanyakan, siapa tahu dia nenek moyangmu," jawab Adisena bergurau.
"Monyong. Nenek moyangku tidak ada yang sejelek ini!" gerutu sahabatnya. Ia menepuk punggung Adisena lalu tertawa nyengir. Tapi lama kelamaan Nilasari Grewek menyadari juga kalau dirinya menjadi tontonan orang banyak. Maka ia menghardik kuat-kuat.
"Kalian semua mau apa, hah! Ayo pergi!" bentaknya, seraya bangkit menggertak. Tapi mana mau mereka menyingkir, meskipun nenek keriput itu menghunuskan pedang.
"Nenek sinting, sebaiknya kau yang mesti pergi dari sini. Desa ini bukan tempatmu!" jawab mereka. Nilasari menggeram demi mendengar kata-kata itu. Maka murka sekali ia melemparkan pedangnya ke hadapan orang yang berbicara tadi.
Cepat pula orang itu beringsut mundur sehingga luput dari lemparan pedang. Namun pedang itu tepat menancap tegak di atas permukaan tanah. Melihat kemarahan itu para penduduk mundur beberapa langkah. Mata mereka semua menatap ke arah pedang yang menancap tegak, sedangkan Nilasari Grewek tetap duduk kembali mengangkat sebelah kakinya di atas balai.
"Wuaaah... Tidak salahkah penglihatanku? Coba kau lihat pedang itu, Adisena. Bukankah itu pedang emas?" kata mereka. Nilasari Grewek mencibir.
"Astaga.... Itu emas murni!" mata Adisena terbelalak. Yang lain juga menatap kagum ke arah pedang tersebut. "Tidak terpikirkan olehmu, seandainya pedang emas itu menjadi milik kita?" kata mereka. "Kita bisa menjualnya dan dapat membangun desa ini," jawab Adisena mantap.
"Kalau begitu kenapa tidak kita ambil saja. Toh, nenek pikun itu tidak ada artinya bagi kita." Salah seorang diantara mereka melangkah maju ke arah pedang yang tertancap di tanah. Meski acuh, Nilasari Grewek dapat melirik. Maka saat orang itu hendak menarik Pedang emas, Nenek Keriput yang duduk tenang ini tidak segan-segan melepaskan sebuah hantaman.
"Buuug...! Arrrrrght...!" Celaka bagi orang itu. Tubuhnya langsung ambruk di tanah. Mulutnya menyembur darah dengan tulang iga yang remuk hingga tewas seketika.
Kejadian tersebut membuat orang-orang yang berada di situ jadi berbalik ngeri. Tapi tidak membuat gentar beberapa orang lelaki yang masih berdiri menghadapi Nilasari Grewek. "Nenek Keriput! Kau telah membunuh seorang sahabat kami. Sungguh berani bertindak sembarangan." Mereka mengepung, di antaranya ada yang mencabut golok.
"Jangan ada yang coba-coba menyentuh Pedang Ular Emasku! Kalian akan celaka semua!" bentak Nilasari Grewek.
"Percuma kau bicara begitu. Kau telah menewaskan satu penduduk desa ini. Kamilah yang akan menghukummu nenek busuk!" Mereka menerjang serempak. Menghadapi serangan-serangan itu Nilasari Grewek tidak perlu bangkit. Kedua tangannya cepat memutar menyambut mereka. Setiap telapak tangannya memapaki serangan mereka.
"Splaaak....! Splaaak...! Splaaak...!" Mereka bergelimpangan terhuyung. Sambutan itu cukup membuat para penduduk semakin murka. Mereka bangkit lagi dan kali ini serangan mereka lebih gencar.
Menghadapi serangan dari enam orang, nenek berbaju merah itu tidak bisa terus menerus sambil duduk. Sekali ia hentakkan kedua kakinya, Nilasari Grewek melesat menjauh. Hantaman golok serta pukulan mereka luput, hanya balai yang berderak hancur. Cepat mereka berbalik menatap ke arah Nilasari Grewek yang sudah berdiri di hadapan Pedang Ular Emas.
Keenam orang lawannya garang menerjang. Cepat pula Nilasari Grewek mencabut pedang yang tertancap itu, lalu ia membabat ke depan. Membersitlah sinar keemasan bagai setengah lingkaran dibarengi pula dengan jeritan yang menyayat. Tiga orang ambruk dengan perut menghamburkan darah.
Adisena membelalakkan mata. Ia segan untuk maju menyerang lagi. Dua orang temannya bergidik menatap tiga orang tewas mengerikan. Sedangkan Nilasari Grewek telah siap menghadapi mereka. Jurus pedangnya ngawur nampak begitu menakutkan.
Seluruh orang-orang kampung menyingkir mundur. Mereka tidak berani mendekat, apalagi kaum perempuannya. Hampir rata-rata tidak berani menatap ke arah pertempuran.
"Penduduk sialan! Kedatanganku ke sini sama sekali tidak menyulitkan kalian, tapi justru kalian yang mencari kesulitan sendiri. Nah, majulah bila ingin mengambil pedang dari tanganku! Hayo...!" tantang Nilasari Grewek. Mata tuanya menatap jalang.
Adisena yang memimpin gerakan itu jadi gelapan. Dua orang temannya sudah tidak sabaran melihat sikap nenek berbaju merah. "Tunggu apa lagi, Adisena. Pedang di tangannya jauh lebih mahal daripada jiwa keriput ini!" bentaknya.
Nilasari Grewek hanya menyeringai. Sigap ia menyambut serangan dari ketiga lawannya. Pedangnya membersit kembali memutuskan senjata-senjata mereka. Namun demi mendapatkan pedang yang terbuat dari emas murni, mereka tidak gentar sedikitpun. Tidak berpikir kalau nenek keriput yang tengah mereka hadapi adalah seorang renta yang sangat berilmu tinggi.
Tidak menyangka pula kalau kepala kedua penyerangnya tiba-tiba putus menggelinding. Melihat itupun Adisena berjingkat mundur, ia tidak berani lagi menyerang. Orang-orang kampung terpencil itu serempak menjerit ngeri. Mereka berlarian bersembunyi.
Bab II: Teror dan Penguasaan Perkampungan
Tapi mendadak pula Nilasari Grewek bergetar. Adisena menatap keheranan, ia tidak berani melangkah. Di luar dugaan Nilasari Grewek memuntahkan darah. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya, mulutnya menghambur darah kehitaman.
"Anak muda.... Aku tidak segan-segan menghabiskan seluruh penduduk desa ini. Kelima orang temanmu itu sebagai peringatan. Dan sekarang kalian semua harus patuh!" Suara Nilasari Grewek parau. Kedua matanya mengembang air karena menahan rasa sakit yang meluap dari dalam dadanya.
"Aku sekarang yang menguasai desa ini. Kalian harus melayani aku seperti seorang raja. Mengerti...!" Adisena mengangguk perlahan, takut kalau-kalau Pedang Ular Emas itu membersit ke arah tenggorokannya. Dia hanya berani berdiri jauh, menatap Nilasari Grewek menyeka lumuran darah di sekitar mulut.
"Sekarang suruh penduduk desa ini keluar semua, mereka tidak perlu takut lagi. Cepat!" perintah nenek berambut putih. Ia kembali duduk bersila di atas balai. Sedangkan Adisena yang masih ketakutan langsung menyuruh para penduduk desa agar keluar.
Maka dalam sekejap saja mereka keluar dari gubuknya masing-masing. Dengan langkah ngeri, mereka semua berjalan mendekat ke arah Nilasari Grewek. Para perempuan mendekapi anak-anak mereka. Memandang itu Nilasari Grewek menyeringai seram. Sepertinya ia tengah menghitung jumlah penduduk yang sangat sedikit, tapi ia cukup puas dengan adanya orang-orang itu.
Serta merta ia bangkit berdiri. "Mulai sekarang akulah pemimpin kalian. Aku yang akan memerintahkan kalian. Bila ada yang coba-coba membangkang, Pedang Ular Emas akan bicara. Mengerti!" Tidak ada yang berani menjawab. Mereka diam dengan kepala tertunduk.
"Bagus. Itu tandanya kalian penduduk yang patuh." Nilasari Grewek terbatuk-batuk. Mulutnya menghamburkan lendir-lendir darah kehitaman. Lalu...
"Aku perlu satu gubuk yang cukup bagus. Aku minta kalian membuatnya sekarang. Juga mayat-mayat ini perlu kalian urusi, kalau perlu buang saja ke hutan biar dimakan binatang buas," perintah Nilasari Grewek.
"Dan kau anak muda..." kata Nilasari Grewek dengan mata yang tertuju pada Adisena. "Tolong carikan aku seorang tabib. Atau apa saja yang dapat menyembuhkan luka-lukaku ini. Ingat, jangan coba-coba membantah bila tidak segera mampus!"
Nilasari Grewek memang tengah terluka. Mungin para pembaca sekalian masih ingat sewaktu ia bertempur menghadapi para pendekar aliran lurus, seorang pendekar maha sakti bernama Pendekar Kelana Sakti ikut menggempur tokoh hebat penguasa Gunung Tunggul ini. Sehingga ia harus terkena hantaman Tinju Bayu Delapan Penjuru dari si Pendekar Kelana Sakti. Sekarang ia sengaja meninggalkan Gunung Tunggul demi menghindari serbuan-serbuan para pendekar tersebut.
"Kenapa masih diam saja! Cepat lakukan apa yang aku perintahkan tadi!" bentak nenek keriput beringas.
Bab III: Pencarian Tabib Dukun Kumbayana
Dengan langkah yang terburu-buru, Adisena menelusuri tepian hutan. Ia sudah meninggalkan jauh desanya. Langkahnya cepat tanpa pernah berhenti, tapi sesekali ia menoleh ke belakang. Ia tidak mengira sama sekali kalau nenek keriput yang diduganya pikun ternyata jauh sangat hebat.
Belum pernah ia menemukan orang setangguh dalam usia Nilasari Grewek, dan sungguh terpaksa pula sekarang ia menjadi budaknya. Bukan hanya dirinya yang tunduk terhadap nenek penguasa Gunung Tunggul, tetapi juga seluruh penduduk desa terpencil itu.
Sebenarnya satu kesempatan bagi Adisena untuk melarikan diri, namun ia bukanlah seorang pengecut meskipun dalam keadaan ketakutan. Tujuannya benar-benar ingin menemui seorang dukun ahli pengobatan, dimana sang dukun sakti itu tinggal diantara lebatnya hutan. Adisena tahu benar letaknya, maka ia pantang ragu-ragu melangkahkan kakinya.
Sebentar saja ia sudah dapat melihat sebuah gubuk. Tidak besar namun cukup bersih dan terawat. Di situlah tinggal seorang dukun bernama Kumbayana. Sudah sering Adisena datang ke sana untuk meminta pertolongan, dan kehadirannya sekarang sudah dapat diketahui.
Kumbayana yang berada di depan gubuknya menanti kedatangan Adisena. Kumbayana seorang laki-laki setengah tua berwajah buruk. Kedua matanya yang besar serta hidungnya yang pesek, tidak lebih bagaikan wajah seorang Buto Ijo. Kalau saja baru pertama kali melihat pasti akan merasa ketakutan.
"Ada apa, Adisena? Kehadiranmu hari ini lain sekali," sambut Kumbayana ketika Adisena datang terengah-engah.
"Sebenarnya tidak ada satupun penduduk yang butuh pengobatan, Paman. Tapi hari ini kami benar-benar butuh pertolongan. Seorang tua berilmu tinggi tahu-tahu datang mengamuk," jelas Adisena.
Kumbayana mengernyit tak mengerti. "Astaga... Sampai sejauh itukah tindakannya?"
"Paman pasti tidak akan mengira kalau dari penduduk desa sudah lima orang yang tewas. Untuk itulah aku datang ke sini memohon pertolongan," ujar Adisena.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Nenek berilmu tinggi itu rupanya tengah terluka. Ia memaksa kami mencari pengobatan, kalau sampai gagal habislah semua penduduk kampung," kata Adisena.
Dukun berwajah menyeramkan itu diam sejenak. Bagaimana ia bisa membunuh lima orang sekaligus kalau dalam keadaan terluka, Kumbayana tak habis pikir. "Luka apa yang dideritanya itu, Adisena?" tanya Kumbayana.
"Entahlah. Kelihatannya ia mengeluarkan darah hitam dari mulutnya, sebaiknya paman segera ke sana sekarang demi keselamatan penduduk desa," ujar Adisena tidak sabaran.
"Tunggu dulu, bagaimana mungkin orang yang telah berbuat jahat itu harus ditolong? Sebaiknya kita balas saja atas kejahatannya itu," jawab Kumbayana.
"Tidak bisa, Paman. Nenek tua itu sangat sakti. Salah-salah kita yang bakal celaka."
"Kalau begitu pergilah kau dulu. Sebentar aku menyusul," jawab Kumbayana. Ia sendiri tidak peduli dengan Adisena.
Bab IV: Pergerakan Rombongan Perguruan Pedang Ular
Sementara itu, kembalinya Srikaton Munggel dalam keluarga Pedang Ular, ada kalanya membuat Umbayani gembira bercampur sedih. Srikaton Munggel ternyata benar kakaknya, dia tidak lain Umbamayu. Kakak perempuan yang telah hilang selama dua puluh tahun.
Sudah pasti pertunangan Umbayani gagal total dengan Arso Lumbing. Apalagi Arso Lumbing telah membeberkan apa yang telah dialami bersama Umbamayu. Keterusterangan Arso Lumbing itu memupuskan harapan Umbayani. Tapi untunglah Umbayani cukup mengalah dan mengerti. Yang ia pikirkan sekarang adalah keselamatan kakaknya dan Pedang Ular Emas yang kini berada di tangan Nilasari Grewek.
Sampai saat ini Umbamayu belum juga sadar dari pingsannya. Kian lama tubuhnya kian pucat membiru, terlentang di atas tempat tidur empuk. Di sampingnya Arso Lumbing setia menunggu. Umbayani dan Resi Wesakih menatap seakan menunggu kesadaran Umbamayu.
"Lukanya teramat parah. Mirip seperti apa yang pernah dialami ayahmu dua puluh tahun yang lalu. Pastilah Umbamayu terkena hantaman Tombak Gunung yang sangat dahsyat itu," ujar Resi Wesakih. Ia seperti putus asa melihat keadaan Umbamayu.
"Kita harus dapat menolongnya, Paman. Kalau tidak, aku akan kehilangan Umbamayu lagi," kata Umbayani sedih. Ia menyelimuti tubuh Umbamayu dengan kain tebal. Tubuh Umbamayu tidak bergeming sedikitpun.
"Kita harus berusaha demi keselamatan kakakmu ini, Umbayani. Aku pernah tahu ada seorang dukun sakti bernama Kumbayana. Dan kau Arso Lumbing, tiada gunanya hanya duduk menunggu tanpa upaya," ujar Resi Wesakih. Lalu ia keluar dari ruangan itu dan Umbayani mengikutinya.
"Kemana harus kita cari dukun sakti itu, Paman?"
"Beberapa mil dari perguruan ini." Jawab Resi Wesakih. Mereka memasuki ruangan lain tempat Wintara berada.
"Keadaan Umbamayu amat parah, Wintara. Kalau kita tidak segera mengobatinya, Umbamayu akan celaka," kata Resi Wesakih. Wintara menyarankan agar rombongan segera menuju ke Belantara Sawungan demi keselamatan Umbamayu dan merebut kembali Pusaka Pedang Ular Emas.
Dengan kereta kuda yang dikendalikan oleh Resi Wesakih serta dikawal ketat oleh Wintara dan belasan murid Perguruan Pedang Ular, iring-iringan itu pun meluncur cepat menuju Belantara Sawungan demi menyelamatkan nyawa Umbamayu dari bahaya maut...