Senin, 27 Juli 2026

Pendekar Pulau Neraka 01 Geger Rimba Persilatan

Pendekar Pulau Neraka 01 Geger Rimba Persilatan

Cersil Pendekar Pulau Neraka 01 Geger Rimba Persilatan

Baca Online Pendekar Pulau Neraka 01 Geger Rimba Persilatan

Eps 1 Geger Rimba Persilatan

GEGER RIMBA PERSILATAN Oleh Teguh S.

Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta. Gambar sampul oleh Tony G. Hak cipta pada Penerbit. Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Teguh S. Serial Pendekar Pulau Neraka dalam episode Geger Rimba Persilatan 128 hal. 12 x 18 cm.

"Oaaa...!"
Lengking tangis bayi memecahkan keheningan malam sepi.
Suara tangisan itu datang dari sebuah rumah besar berpagar tembok batu yang kokoh menyerupai benteng.

Saat itu juga lampu-lampu dan obor dinyalakan oleh beberapa orang untuk menerangi seluruh sudut benteng itu. Malam yang semula sepi, kini berubah sama sekali bagai terjadi pesta mendadak.

Di salah satu ruangan besar rumah itu, tampak beberapa orang berdiri mengelilingi sebuah ranjang besar yang beralaskan kain sutra halus berwarna merah muda. Seorang wanita muda dan cantik tergolek di atasnya bersama seorang bayi yang masih merah terbungkus kain sutra.

Di samping wanita itu duduk seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun. Raut wajahnya tampan namun memancarkan kekerasan. Laki-laki itu menjentikkan jarinya. Semua orang yang mengelilingi ranjang bergerak ke luar.

Sebentar kemudian, laki-laki yang seperti bapak dari bayi itu mengecup lembut kening wanita muda yang tersenyum bahagia.

"Anak kita laki-laki,"
Bisiknya pelan.

"Ya, tampan sepertimu, Kakang,"
Sahut wanita itu lembut.

Keceriaan dan kegembiraan tampak menyelimuti wajah mereka. Sedangkan bayi di sampingnya tampak pulas terselimut kain hangat. Tampan sekali, kulitnya juga putih bersih. Mereka sepertinya tak puas-puasnya memandangi bayi itu.

"Sudah kau siapkan nama untuk anak kita, Kakang?"
Tanya wanita itu lembut seraya menatap wajah laki-laki di dekatnya.

"Bagaimana denganmu?"
Laki-laki itu balik bertanya.

"Belum. Tapi kalau perempuan sudah kusiapkan sejak dulu."
Sahutnya manis.

"Akan kupikirkan dulu. Mungkin besok baru kuberi nama."

"Lebih cepat, lebih baik, Kakang."

"Pasti! Besok anak kita tentu sudah mempunyai nama yang bagus."

Kembali mereka tersenyum dan memandangi wajah mungil di sampingnya. Sesaat lamanya mereka terdiam dengan mata tidak puas-puasnya memandang wajah bayi tampan itu. Kemudian laki-laki berbaju kuning gading dengan pedang menggantung di pinggang itu bangkit dari pembaringan. Langkahnya tegap menuju pintu kamar.

"Akan ke mana?"

"Menemui dukun bayi,"
Jawabnya, lantas membuka pintu dan melangkah ke luar.

Dua orang yang berdiri di samping pintu langsung membungkukkan badan memberi hormat. Laki-laki itu hanya mengangguk sedikit. Langkahnya terus terayun menyusuri gang yang berhubungan langsung dengan sebuah ruangan besar. Sebuah lampu kristal besar tergantung di langit-langit bagian tengah. Di ruangan itu sudah berkumpul orang-orang. Mereka serempak membungkukkan badan memberi hormat.

"Terima kasih,"
Kata laki-laki itu seraya duduk di kursi kayu jati yang berukir indah. Sebelah tangannya terangkat ke depan, dan dengan serentak semua orang yang ada di ruangan itu segera duduk bersila di lantai. Mata laki-laki itu merayapi wajah-wajah mereka yang kelihatan cerah, tertunduk penuh rasa hormat.

Bertahun-tahun aku selalu berharap akan kehadiran seorang putra dalam hidupku, yang akan jadi ahli waris seluruh Padepokan Teratai Putih ini. Nyatanya malam ini doa dan harapanku terkabul. Untuk itu aku ingin menyelenggarakan pesta besar atas rasa syukurku akan kehadiran pewaris Padepokan Teratai Putih, kata laki-laki itu yang sepertinya adalah pemimpin Padepokan Teratai Putih. Suaranya dalam dan berwibawa. Semua orang yang ada di ruangan itu menyambut dengan gembira.

Salah seorang yang duduk paling depan, berdiri. Dia segera menjura hormat, tangannya terkepal merapat di depan dada.

"Ampun, Guru Dewa Pedang."

"Ada apa, Badar?"
Tanya laki-laki itu yang ternyata bernama Dewa Pedang.

"Aku, muridmu yang bodoh ini memohon usul, Guru,"
Kata Badar hormat.

"Apa usulmu?"

"Bagaimana kalau kita undang para ketua padepokan sahabat? Satu lagi, sebaiknya kita juga menyelenggarakan lomba ketangkasan,"
Usul Badar.

"Bagaimana yang lain?"
Dewa Pedang belum bisa memutuskan. Dia seperti ingin membagi rasa bahagianya dulu kepada murid-murid utamanya.

"Setujuuu...!"
Seru semua orang di ruangan itu serempak.

Baiklah! Mulai sekarang kalian kupercaya untuk mempersiapkan segalanya. Aku ingin semuanya dilaksanakan dalam waktu satu pekan. Saat itu pula akan kuumumkan nama putra pertamaku itu! Kata Dewa Pedang dengan wajah cerah dan senyum terkembang lebar.

Semua orang yang ada di situ segera berdiri dan menjura hormat. Tanpa diperintah lagi mereka segera berlalu meninggalkan ruangan itu. Meskipun tidak diperintah secara lisan, mereka sudah mengerti tugas masing-masing.

Dewa Pedang segera bangkit berdiri, tapi tidak jadi melangkah.

"Badar...!"
Panggil Dewa Pedang. Badar tergopoh-gopoh menghampiri. Dia langsung menjura setelah tiba di depan gurunya.

"Tolong panggil dukun bayi yang membantu istriku melahirkan. Aku ingin memberinya hadiah khusus,"
Kata Dewa Pedang.

"Guru, Nyai Palet sudah meninggalkan padepokan. Dia diantar enam orang murid tingkat tiga,"
Lapor Badar.

"Cepat susul, dan ajak kembali ke sini. Katakan padanya, aku belum sempat mengucapkan terima kasih,"
Perintah Dewa Pedang.

"Baik, Guru."
Badar segera menjura hormat dan langsung berlari meninggalkan ruangan itu.

Dewa Pedang bergegas melangkah kembali menuju kamar peraduannya. Rasanya, dalam masa-masa seperti ini dia ingin selalu dekat dengan putra pertamanya. Bertahun-tahun ia mengidam-idamkan mempunyai keturunan untuk menjadi ahli warisnya, dan baru malam inilah keinginannya terkabul.


Pada salah satu ruangan lain di rumah besar Padepokan Teratai Putih, tampak duduk gelisah seorang wanita muda dan cantik. Di depannya duduk tiga orang laki-laki yang juga masih muda. Ketiga laki-laki itu menyandang senjata yang berlainan bentuknya.

"Apa kalian tadi tidak salah dengar?"
Tanya wanita muda itu sambil memandang tajam pada wajah ketiga laki-laki di depannya.

"Tidak, Nyai. Dewa Pedang bermaksud mengadakan pesta besar selama satu pekan untuk menyambut kelahiran putra pertamanya,"
Jawab laki-laki yang duduk paling kanan.

Wanita muda yang sinar matanya memancarkan segudang misteri itu berdiri. Kakinya terayun pelan-pelan memutari tiga laki-laki yang tetap duduk di kursinya. Keheningan menyelimuti ruangan yang berada paling belakang dari rumah besar Padepokan Teratai Putih itu.

"Ganis,"
Kata wanita itu seraya menghentikan langkahnya tepat di depan laki-laki yang duduk paling kanan. Di tangannya tergenggam sebuah kipas dari logam keras.

"Ya, Nyai,"
Sahut lelaki yang dipanggil Ganis itu.

"Kau tahu, seharusnya bayi itu tidak boleh lahir! Hmm... Tak kusangka kalau Nyai Palet tidak mengindahkan peringatanku."

"Nyai Rengganis ingin dukun bayi itu mati?"
Tanya Ganis menebak.

"Hhh!"
Wanita yang bernama Rengganis itu hanya tersenyum sinis.

"Akan kukerjakan malam ini juga, Nyai,"
Kata Ganis seraya berdiri.

"Bagus!"
Sambut Rengganis.

"Tunggu dulu, Kakang Ganis!"
Selak laki-laki yang duduk paling kiri. Di punggungnya tersandang sebilah pedang.

"Ada apa lagi, Adik Garang?"
Tanya Ganis.

"Dukun bayi itu sudah pulang diantar oleh enam orang murid tingkat tiga. Kau tidak mungkin bisa membunuhnya dengan mudah! Apalagi Dewa Pedang menyuruh Badar untuk menjemput kembali dukun itu,"
Kata Ganang.

"Kalau begitu, sebaiknya aku ikut, Ganang,"
Kata Nyai Rengganis.

"Kami bertiga, Nyai!"
Selak orang yang duduk di tengah seraya berdiri. Senjatanya, sepasang kapak yang terselip di pinggang.

"Tidak, Gamar. Kau tetap di sini. Masih ada tugas yang lebih penting untukmu,"
Tolak Rengganis.

"Tugas apa?"
Tanya Gamar.

"Kau harus tetap menguping semua pembicaraan Dewa Pedang. Pada saat seperti ini, satu patah kata yang diucapkannya merupakan perintah yang tidak bisa ditawar lagi. Dan itu sangat penting bagi kita,"
Kata Rengganis.

Dari hari ke hari kesibukan di Padepokan Teratai Putih terus berlangsung. Seluruh sudut dihias dengan umbul-umbul yang beraneka ragam, serta hiasan lain yang berwarna-warni. Semuanya membuat suasana Padepokan Teratai Putih itu semakin semarak. Murid-murid padepokan itu tidak kenal lelah, kerja keras menyiapkan pesta berkenaan dengan kelahiran pewaris tunggal Padepokan Teratai Putih.

Namun dari semua keceriaan dan kesibukan persiapan pesta itu seperti tidak ternikmati oleh Rengganis dan tiga bersaudara yang menjadi pengawal pribadinya. Di depan Dewa Pedang maupun Larasati, Rengganis selalu menampakkan wajah penuh ceria, seakan-akan dia juga turut gembira dengan hadirnya seorang putra pewaris padepokan ini.

"Gamar, bagaimana persiapanmu?"
Tanya Rengganis saat mereka berada di kamar pribadi wanita itu.

"Semua tokoh-tokoh rimba persilatan yang memihak kita tinggal menunggu perintah saja, Nyai,"
Kata Gamar.

"Hm..., bagus! Dan kau, Ganis?"

"Tidak ada masalah, Nyai. Tepat pada hari yang telah ditentukan, seluruh anak buahku siap bergerak,"
Sahut Ganis.

"Nyai tidak perlu khawatir! Semuanya sudah kami siapkan dengan matang,"
Selak Ganang saat Nyai Rengganis memandang ke arahnya.

Bagus! Aku senang mendengarnya. Nah, sebaiknya kalian ikut membantu mempersiapkan pesta. Aku tidak ingin ada yang usil dan menaruh curiga pada gerakan kita, kata Rengganis.

"Kami permisi, Nyai,"
Pamit tiga bersaudara itu. Nyai Rengganis hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bergegas ditutup pintu kamarnya setelah ketiga bersaudara itu ke luar. Bibirnya masih menyunggingkan senyuman manis. Dari wajahnya memancar kecerahan dan keceriaan, tapi bukan karena kelahiran putra idaman seluruh orang di Padepokan Teratai Putih ini, melainkan sebuah rencana busuk yang siap dimuntahkan.

Disqus Comments