Sabtu, 25 Juli 2026

Pendekar Kelana Sakti 06 Bidadari Kuil Neraka

Pendekar Kelana Sakti 06 Bidadari Kuil Neraka

Cersil Pendekar Kelana Sakti 06 Bidadari Kuil Neraka

Baca Online Pendekar Kelana Sakti 06 Bidadari Kuil Neraka


Tonton & Ikuti Cerita Serial Pendekar Kelana Sakti di Facebook

Saksikan dan ikuti terus perkembangan cerita, diskusi para pecinta cersil, serta pembaruan bab terbaru melalui saluran resmi Facebook berikut:

Bidadari Kuil Neraka — Serial Pendekar Kelana Sakti Episode 06

Ilustrasi Sampul Restorasi Digital: Bidadari Kuil Neraka Karya Buce L. Hadi

Kredit Karya & Metadata Penerbitan

Judul Karya: BIDADARI KUIL NERAKA (Pendekar Kelana Sakti Ep. 06)

Karya / Penulis: Buce L. Hadi

Hak Cipta & Setting: © Penerbit Mutiara, Jakarta | Setting oleh: Trias Typesetting (Cetakan Pertama)

Catatan Redaksi: Cerita ini adalah fiktif. Persamaan nama, tempat, dan ide hanya kebetulan belaka.


Ulasan Eksekutif & Pengantar Konteks Cerita

Dunia persilatan (Mu-lap) tanah Jawa kembali bergolak. Bagi para pecinta novel silat klasik Indonesia, kisah kelana Raden Mas Kinanjar Swantaka bersama sekutunya selalu menghadirkan kombinasi intrik politik istana, pertarungan ilmunama berdarah, dan dinamika asmara yang membakar jiwa. Jika Anda menyukai karya klasik legendaris seperti Pedang Wucisan karangan Chin Yung, maka petualangan dalam Bidadari Kuil Neraka ini menyajikan kadar ketegangan, drama batin, serta koreografi jurus yang tak kalah memukau.


Cuplikan Eksklusif Cerita: Dendam Ki Rondo Mayit & Kemunculan Paras Bidadari

Ki Rondo Mayit mengamuk kalap ketika ia mendengar berita kematian putranya. Tidak ada seorang pun yang dapat meredakan amarahnya. Karena dalam ruangan itu memang hanya dia sendiri. Seluruh ruangan itu berderak-derak. Apa yang ada di hadapannya dihancurkan. Meja yang penuh dengan peralatan terbalik hancur belah hanya dengan sekali tendang. Termasuk juga dua buah peti yang bersandar di dinding batu.

Kedua peti yang tingginya hampir sama dengan tubuh Ki Rondo Mayit tidak luput dari kemurkaannya. Peti-peti hancur, ia menghentikan amukannya. Nafasnya masih memburu menahan amarah. Lalu ia melangkah ke luar. Rambutnya yang putih kusut sebatas bahu bergerak-gerak saat ia melangkah. Udara dingin menghembus tubuhnya saat ia berdiri di tengah pintu bangunan yang hampir ambruk itu.

Matanya memerah menatap jauh cakrawala. Kedua telapak tangannya mengepal erat. Terdengar bunyi gemeretak tulang-tulang jarinya. "Manusia mana yang mampu membunuh anakku...! Siapa dia gerangan...! Aku tidak yakin kalau Raden Mas Kinanjar Swantaka yang melakukannya. Kematian Wadak Keling maupun dua mayat hidup itu, aku tak perduli!" katanya geram setelah berada di luar bangunan.

"Tapi untuk kematian anakku, orang itu harus menerima balasannya!"

Tiba-tiba saja kakinya menendang hancur batu yang menonjol di permukaan tanah. Lalu tubuhnya melesat berlari kencang. Sebentar saja manusia berambut putih itu sudah jauh menghilang dari pandangan mata. Namun teriakannya masih saja menggelegar terdengar: "Raden keparat! Orang-orang pilihan keparat! Kalian tunggu pembalasanku!"

* * *

Pagar bambu yang setinggi tiga tombak itu rapi berderet membatasi tanah lapang yang cukup luas. Padahal beberapa hari yang lalu tempat itu sempat porak poranda. Kerusakan-kerusakan yang terjadi pada waktu itu sudah tidak nampak lagi. Orang-orang Raden Mas Kinanjar Swantaka cepat memperbaiki pagar bambu itu meskipun keadaan mereka banyak yang luka-luka. Dan Raden Mas Kinanjar Swantaka sendiri cukup prihatin terhadap keadaan mereka.

Sebelumnya jumlah mereka lebih banyak dari yang sekarang. Hampir separuh dari mereka tewas akibat serangan mendadak yang terjadi di tempat itu. Meski mereka kehilangan hampir separuh dari jumlah mereka, orang-orang itu tetap gigih membangun benteng pertahanan di daerah itu. Mereka setuju sekali kalau setiap sudut tanah Rogojembangan didirikan benteng-benteng pertahanan. Dengan adanya benteng pertahanan, Rogojembangan akan tetap aman dan tentram.

Tenda-tenda besar masih berdiri di tengah-tengah lapangan itu. Di sana sini terdapat bangunan yang hampir jadi. Meskipun bangunan itu terbuat dari kayu dan setengah batu, bangunan itu nampak kokoh dan kuat. Tapi yang jelas pondokan-pondokan yang hampir jadi itu sudah bisa ditempati. Malah lebih nyaman daripada di dalam tenda. Di antara sekian banyak berderetnya pondokan-pondokan, ada sebuah pondokan yang sudah betul-betul rampung. Raden Mas Kinanjar Swantaka bersama orang-orangnya berada di situ. Mereka dalam keadaan aman. Beberapa prajurit menjaganya di luar. Lalu sisanya meneruskan pekerjaan mereka membangun benteng. Nampak sekali kesibukan-kesibukan mereka.

Raden Mas Kinanjar Swantaka duduk berderet melihat dari dalam ruangan pondokan itu. Juga termasuk beberapa orang yang duduk berderet melingkar ke arahnya. Mereka tidak lain adalah Wintara, Umbara Komang dan Pendekar Wanita Kembar Cambuk Seriti. Beberapa prajurit berdiri juga di dalam ruangan itu. Dari kancing bajunya yang terbuka nampak jelas balutan-balutan yang melilit di tubuh Raden Mas Kinanjar Swantaka. Sedari tadi pula Wintara memperhatikan luka-lukanya. Nampaknya luka-luka itu sudah berangsur membaik.

Umbara Komang duduk bersila bersandar pada dinding, kedua matanya terpejam sambil mendengkur. Tapi orang-orang yang ada di ruangan itu tidak memperdulikannya. Apalagi wanita kembar yang bersila di sebelahnya, mereka bersikap masa bodoh terhadap Umbara Komang.

"Semestinya kita sudah harus ada di kerajaan untuk membawa upeti-upeti ke sana. Tapi mengingat saudara Tangan Besi dan temannya belum sampai ke sini, kita terpaksa menunggu mereka..." kata Raden Mas Kinanjar Swantaka mengawali pembicaraan.

"Tapi mereka sudah melewati batas perjanjian, Raden. Kami khawatir saudara Tangan Besi dan Langkung Daro tewas dalam melakukan tugasnya..." Cambuk Kembar Seriti Kuni memberikan pendapat.

"Jangan berperasaan khawatir seperti itu, Seriti Kuni... Mereka berdua bukan termasuk orang-orang yang mudah diperdaya," jawab Raden Mas Kinanjar Swantaka.

"Memang betul, Raden... Menurut perintah dalam tiga hari mereka harus kembali ke sini. Tapi sekarang sudah telat lima hari... Halangan apa yang membuat mereka begitu telat... Kalau Raden Mas sengaja menunggu mereka, apa kata orang-orang kerajaan nanti? Paling tidak mereka akan khawatir juga terhadap kita. Tidak pantas kalau orang-orang kerajaan datang ke mari yang mengambil upeti..." ujar Seriti Kuni yang tidak berbeda dengan Seriti Wuni. Keduanya menatap Raden Mas Kinanjar Swantaka.

"Jadi bagaimana menurutmu jalan yang terbaik...?"

"Secepatnya kita berangkat ke kerajaan, kalaupun saudara Tangan Besi dan saudara Langkung Daro masih hidup mereka pasti datang ke sini lagi. Lagipula tanpa mereka apa halangannya...? Raden Mas Kinanjar Swantaka orang kepercayaan kerajaan, jangan sampai Raden kehilangan muka," jawab Seriti Kuni.

"Apa yang dikatakan Seriti Kuni adalah benar. Upeti harus secepatnya sampai ke kerajaan..." Wintara ikut angkat bicara. Umbara Komang masih tetap mendengkur. "Raden Mas Kinanjar Swantaka tak usah cemas! Tentunya Pendekar Kembar Seriti akan bersedia mengawal, bukankah begitu...?" kata Wintara lagi, matanya berkedip ke arah wanita kembar itu.

"Kau pun harus ikut serta, Pendekar Muda!" sahut Seriti Wuni. "Jangan lupa ajak temanmu itu." Seriti Kuni menunjuk Umbara Komang.

Pandangan Raden Mas Kinanjar Swantaka mengarah ke situ pula, maka ia tersenyum. Umbara Komang tetap mendengkur pulas. Sudah tentu ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Raden Mas Kinanjar Swantaka mengancingkan bajunya. Balutan-balutan yang melilit di tubuhnya tertutup. Luka-luka itu masih terasa sakit. Tapi tidak apa-apa. Hanya luka luar.

"Bukan aku tak percaya dengan kalian..." kata Raden Mas Kinanjar Swantaka, ia bangkit berdiri. Yang lain tetap bersila pada tempatnya. Lalu... "Kalau saja Pendekar Tangan Besi dan Langkung Daro ada di sini, kekuatan kita akan lebih terjamin lagi. Sebab daerah yang akan kita lewati amatlah berbahaya. Tidak ada jalan lain selain melintasi perbukitan tandus yang memanjang sampai ke Ungaran. Bukit tersebut telah dikuasai oleh perampok-perampok yang tidak kenal ampun. Apalagi mereka tahu kita membawa upeti yang tidak sedikit jumlahnya."

"Raden, kita-kita ini bertugas demi kerajaan... Demi tanah air!. Apapun halangannya kita harus berusaha menghadapi. Lebih baik kita mati dalam tugas daripada diam berpangku tangan di sini," kata Seriti Kuni. Adiknya, Seriti Wuni diam berpikir.

"Aku mengerti... Kalian memang bermaksud baik," kata Raden Mas Kinanjar Swantaka, sambil kedua matanya memandang orang-orang yang bekerja di luar sana. Kemudian ia berkata lagi, "Kalau kita-kita semua berangkat, siapa yang akan mengawasi orang-orang bekerja di sini, siapa pula yang akan menjamin bila terjadi sesuatu...?"

"Haaaaaaah," Raden Mas Kinanjar Swantaka menarik nafas. Pembicaraan mereka putus. Ucapan Raden Mas Kinanjar Swantaka memang betul. Kedua-duanya sama penting. Orang-orang yang ada di situ dan upeti yang akan diantar sama-sama memerlukan pengawal.

"Siapa di antara kalian yang mau mengawal upeti dan mengawal di sini...?"

"Aku...!" jawab mereka serempak. Hanya Umbara Komang yang tetap mendengkur.

"Ah! Itu sama bodohnya...! Dalam hal ini kalian akan kubagi menjadi dua bagian. Hanya itu jalan terbaik. Kalian tinggal mencari keputusan," kata Raden Mas Kinanjar Swantaka tersenyum ramah. Semuanya diam.

Raden Mas Kinanjar Swantaka melangkah menuju ke sudut ruangan. Di situ terdapat sebuah meja. Di atasnya terdapat empat buah peti ukuran kecil. Orang itu mengusap-usap salah satu peti. "Kalau kalian tetap diam biarlah aku yang akan memberi keputusan... Menurut pemikiranku, Pendekar Cambuk Seriti Kembar tetaplah di sini. Sebenarnya bukan aku merendahkan kalian. Bukan sama sekali... Dalam hal ini aku sengaja memilih Wintara dan sahabat silumannya..."

"Apa? Aku bukan siluman! Aku Umbara Komang!" Tiba-tiba saja Umbara Komang bangkit. Setelah ia berkata begitu, ia meneruskan tidurnya.

* * *

Panas terik matahari menggarang ketiga orang yang menunggangi kuda menyusuri lembah sunyi. Ketiga ekor kuda itu berjalan tenang membawa tuannya. Paling tengah duduk tegak sosok Raden Mas Kinanjar Swantaka. Tubuhnya bergoyang-goyang saat kuda-kudanya melangkah tenang menyusuri jalan itu. Wintara dan Umbara Komang mengiringi di samping kiri dan kanan. Masing-masing kuda mereka membawa dua buah peti. Peti-peti diikat erat menyatu dengan pelana. Tebing-tebing curam di kedua sisi jalan. Umbara Komang tidak bisa diam di atas pelananya.

"Dewa... Sebenarnya mau ke mana kita ini? Rasanya kita menyusuri lorong maut yang sangat panjang," kata Umbara Komang kesal. Tingkah lakunya sangat aneh.

"Tenanglah, Umbara... Akan kubawa kau ke sarang siluman jahat. Pasti kau akan senang..." kata Wintara menghibur.

"Apa? Mendengar adanya siluman jahat tanganku jadi gatal...! Di mana mereka?"

"Masih jauh... Tenang saja jangan ribut! Pelan-pelan saja kita berjalan... Awas jangan sampai mereka terbangun, kita akan celaka..." Raden Mas Kinanjar Swantaka menakut-nakuti. Tapi Umbara Komang malah kegirangan.

"Siluman-siluman jahat mesti dimusnahkan! Biar saja mereka bangun semua! Kenapa harus takut...!" Lalu Umbara Komang memacu kudanya berjalan paling depan. Sebentar saja kuda itu berada jauh. Nampak kuda itu berputar-putar ke sekeliling lembah. "Keluar siluman...! Keluar! Ayo keluar kalian semua! Aku siluman, Eh bukan! Aku bukan siluman! Tapi Umbara Komang raja dari para siluman akan menggorok leher kalian!" Umbara Komang berteriak-teriak.

Tidak ada jawaban. Hanya suaranya yang bergema di sekeliling lembah. Umbara Komang berhenti berteriak. Lalu ia memberi aba-aba pada Wintara dan Raden Mas Kinanjar Swantaka yang mulai mendekatinya. "Sssst... Siluman-siluman itu benar ada. Mereka bersembunyi di sekeliling sini! Kalian dengar tadi mereka mengikuti suaraku!" katanya sambil menutup bibirnya dengan jari telunjuk.

Kedua orang yang menghampiri hanya tersenyum. Mereka mengerti apa yang dimaksudkan Umbara Komang. Laki-laki berpenyakit saraf itu mengira gema suaranya adalah suara para siluman. Mereka berjalan beriringan lagi.

"Biar saja mereka bersembunyi... Itu karena mereka takut!" ujar Wintara.

"Siluman yang suka sembunyi adalah siluman yang baik!" Raden Mas Kinanjar Swantaka menimpali. Umbara Komang manggut-manggut sok mengerti. Kini ia duduk dengan gagah di atas kudanya. Memandang ke atas penuh keangkuhan.

"Siluman jahat tidak ada yang berkeliaran di sini... Nanti tak lama kita akan menjumpai siluman-siluman jahat... Tapi aku rasa mereka takut melihat kita. Karena raja dari para siluman ada di sini...!" kata Raden Mas Kinanjar Swantaka lagi. Umbara Komang makin kembang kempis hidungnya. Bibirnya mencibir sombong.

Mereka kembali berjalan dengan menunggangi kuda-kudanya. Lembah-lembah di situ tidak begitu curam lagi. Udara masih dapat berhembus meski matahari bersinar terik. Mereka baru merasakan kalau hari itu begitu cerah. Namun begitu mereka tetap waspada akan bahaya yang bakal dari kedua sisi jeram. Para perampok biasanya di sana. Dan mereka memang telah memastikan wilayah rawan.

Mereka bertiga mendadak berhenti ketika mendengar banyak derap kaki kuda dari arah belakang. Ketiganya serempak menoleh ke arah kuda-kuda yang berlarian di belakangnya. Kuda-kuda itu makin lama makin dekat. Nampak dua ekor kuda menarik sebuah kereta yang amat bagus. Kuda-kuda lainnya mengiringi berderet di depan dan belakang. Melihat kuda-kuda yang begitu banyak, Wintara segera menepi ke pinggir jalan. Umbara Komang maupun Raden Mas Kinanjar Swantaka mengikuti. Kuda-kuda mereka berjajar di pinggiran jalan. Mereka memberi jalan kepada belasan kuda yang berlari terburu-buru.

Kereta kuda yang berada paling tengah pada barisan itu nampak tenang melaju. Di dalam kereta itu nampak jelas sekali seorang perempuan muda duduk sendirian. Mereka melaju terus tidak memperdulikan ketiga orang yang menunggangi kudanya di pinggiran jalan. Ketiga orang itu pun dapat melihat wajah perempuan muda di dalam kereta itu. Wajah yang ayu nan anggun. Sinar matanya penuh kelembutan yang jarang dimiliki oleh perempuan manapun. Siapa saja yang melihatnya pasti tergetar. Begitu juga dengan Raden Mas Kinanjar Swantaka saat itu. Kedua matanya tidak berkedip ketika mereka beradu pandang.

Umbara Komang hampir melompat menyerang mereka, tapi cepat Wintara dapat menahannya. "Mereka bukan siluman jahat, Umbara... Mereka siluman baik-baik!" sergah Wintara. Umbara Komang tenang kembali.

Rombongan kuda itu telah menjauh. Yang mereka lihat hanyalah segumpalan asap mengepul di antara kaki-kaki kuda mereka. Raden Mas Kinanjar Swantaka masih memandangi kepergian kereta yang kian lama kian jauh menghilang. Sedari tadi ia tidak berkedip. Wintara dapat memperhatikannya, betapa Raden Mas Kinanjar Swantaka terpesona pada perempuan muda itu. Wintara pun mengakui akan keanggunannya, kecantikannya bahkan kelembutan yang memancar dari kedua sinar mata yang indah. Tapi bagi Wintara hanya cukup untuk mengagumi saja. Lain tidak!

"Dia memang sangat cantik, Raden... Dan pantas untuk dijadikan selir," Wintara menggoda.

Raden Mas Kinanjar Swantaka tersentak dari lamunannya. Ia sudah merasa dengan sindiran itu. Maka ia cepat-cepat mengendalikan kudanya meneruskan perjalanan. Namun dalam hatinya masih membayang seraut wajah yang sangat menawan.

"Begitu banyak para pengawalnya, pastilah gadis itu bukan orang sembarangan. Apalagi berani melintasi lembah ini. Bagaimana kalau sampai di bukit sana?" kata Wintara yang menyusul di belakang bersama Umbara Komang.

"Mudah-mudahan saja mereka selamat dalam perjalanan... Kuharap sekali..." Raden Mas Kinanjar Swantaka berkata pelan.

Analisis & Poin Penting Episode Bidadari Kuil Neraka:

  • Kemunculan Dewi Rakuntili: Sosok wanita bertopeng misterius di Kuil Neraka yang ternyata merupakan gadis jelita pengendara kereta kuda.
  • Pertarungan Tanpa Senjata: Adu keahlian jurus silat tingkat tinggi antara Raden Mas Kinanjar Swantaka dan Dewi Rakuntili.
  • Pertolongan Tak Terduga di Padang Pasir: Momen kemanusiaan di balik perseteruan sengit saat pasir menimbun para tokoh utama.

Simak kelanjutan pertarungan sengit antara Wintara, Umbara Komang, Ki Rondo Mayit, dan Kama Lodra di bab selanjutnya! Jangan lupa untuk terus memantau rekomendasi cersil online terlengkap hanya di blog ini.

Disqus Comments