Jumat, 24 Juli 2026

Pedang Wucisan Chin Yung

Pedang Wucisan -- Chin Yung

Baca Online Pedang Wucisan -- Chin Yung

Cersil Pedang Wucisan -- Chin Yung

Resensi dan Sinopsis Cersil Pedang Wucisan Karya Chin Yung

Misteri di Kelenteng Tua: Awal Mula Petualangan Su-to Yan

Seekor kuda berlari dengan kencang, debu mengulak naik, di dalam keadaan malam gelap, pemandangan tidak terlihat jelas, hanya ketropakannya suara kaki kuda yang terdengar jelas.

Penunggang yang melakukan perjalanan malam adalah seorang anak muda, wajahnya putih dan cakap, ia mengenakan pakaian warna putih, pada pinggangnya tersoren pedang, dia adalah seorang akhli silat. Kini, penunggang kuda berbaju putih itu mendekati kelenteng, telah terlalu lama ia melakukan perjalanan, sudah waktunya istirahat, ia lompat turun, mengikat tali kuda tunggangannya, dan berjalan masuk kedalam kelenteng tersebut.

Empat orang telah menantikan ditempat sudut dari ruangan itu, begitu melihat masuknya pemuda berbaju putih, empat pedang mereka bergerak, penusuk pemuda tersebut, luar biasa cepat, tiada ada tanda tanda yang memberi tahu akan datangnya seranganserangan itu. itulah serangan gelap!

Wajah sipemuda berubah, desiran angin itu tidak lepas dari pendengarannya, tubuhnya melesat tinggi, menghindari serangan yang mengancam. Hampir terjadi benturan diantara empat pedang tadi, beruntung para pemiliknya berkepandaian tinggi, cepat-cepat mereka menarik pulang tenaga yang dikerahkan, dengan demikian, terhindarlah bentrokkan diantara sesama orang sendiri.

Pemuda baju putih melayang turun dilain tempat, memandang keempat orang yang membokong dirinya, itulah orang orang berbaju hitam, dari ilmu pedang yang mereka gunakan, sipemuda dapat menduga asal usulnya. "Tentunya anak murid golongan Thian-lam Lo-sat?" Ia bergumam.

Keempat orang berbaju hitam melihat jelas pemuda baja putih yang diserang mereka tertegun. "Kita telah salah mata," Berkata seorang. "Bukan dia," Berkata seorang lagi. "Kita tertipu," Berkata orang ketiga. "Aaaaa...."

"Kalian adalah anak murid golongan Thian lam Lo-sat?" Berkata lagi pemuda itu.

Lebih terkejut lagi bagi keempat orang ini, setelah gumaman kata-kata sipemuda, gerakkan mereka adalah sangat dirahasiakan tidak di sangka bahwa ilmu pedang yang diperlihatkan untuk menyerang orang membocorkan rahasia. Asal usulnya telah terbongkar. Terdengar lagi suara sipemuda.

"Aku tidak mempunyai permusuhan dengan golongan kalian, juga tidak kenal pada kalian. mengapa mengadakan serangan gelap?" Ia diserang hebat, tapi tidak menunjukan kemarahan, pada wajahnya masih tersungging senyuman. Satu dari keempat orang berbaju hitam itu berdengus.

"Kau telah mengetahui asal usul kami, hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kesalahan ini dikarenakan banyak usilnya mulutmu, jangan bersakit hati kepada kami." "Kita masih banyak urusan." Berkata seorang baju hitam lainnya. "Bunuh saja beres." Serentak, merekapun maju kembali.

Pemuda baju putih tidak takut, ia sudah siap, ketika pedang lawan datang, dengan seenaknya saja, ia berhasil menghindari diri dan serangan-serangan itu. Melihat serangannya tidak berhasil, keempat orang itu mengulang lagi serangan-serangan lain, mereka mengepung dengan rapat, menyerang dengan gesit, mereka bersenjata pedang sedangkan lawan bertangan kosong, mungkinkah tidak berhasil melukai atau membunuhnya? Mereka adalah golongan anak murid Thian-lam Lo-Sat yang terkenal!


Meskipun mereka ngotot menyerang, kenyataan tetap menjadi kenyataan, ilmu kepandaian sipemuda jauh berada diatas mereka, suatu saat, pemuda itu menjulurkan tangannya, mencengkeram bahu seorang berbaju hitam. Untuk menghindari diri dari serangan ini memang tidak mungkin, sibaju hitam mengadakan tenaga perlawanan Pemuda itu menjatuhkan lawan tiba-tiba dirasakan bahu orang yang dipegang menjadi dingin, ia sangat terkejut, teringat akan peringatan gurunya, bahwa murid-murid Thian-lam Lo-sat pandai menggunakan racun, mungkinkah hal ini dapat terjadi? Cepat-cepat ia melepaskan tangan yang menyentuh bahu orang itu.

Orang berbaju hitam yang dicengkeram tidak berkutik, seharusnya, dengan mudah dirinya dapat di lempar jauh-jauh, begitu merasakan lenyapnya tekanan yang ada, segera ia berjumpalitan pergi. Sipemuda telah menghindari dari tiga tusukan pedang, kini pertempuran telah terpisah, memandang keempat lawannya, ia tersenyum.

Keempat orang berbaju hitam itu telah berkumpul, bila pada saat sebelumnya, mereka galak dan bengis, kini kegalakan dan kebengisan itu telah lenyap sama sekali. Sebaliknya, nyali mereka telah diciutkan. ilmu kepandaian lawan telah disaksikan, dan itu bukan tandingan mereka, dia lihay, tidak mungkin dapat memenangkan pertandingan.

Pemuda berbaju putih memandang kepada empat orang berbaju hitam itu, ia sedang melakukan tugas penting, tidak mau terlibat dengan anak murid golongan Thian-lam Lo-sat, Bila dirinya tidak diganggu, iapun tidak akan mengganggu orang. Mengetahui bahwa bukan tandingan pemuda baju putih yang kosen, tanpa malu-malu lagi, satu-persatu, empat orang berbaju hitam itu ngeloyor pergi, mereka meninggalkan kelenteng.

Inilah yang diharapkan oleh pemuda itu, ia harus beristirahat, dibiarkan saja musuh-musuh tersebut meninggalkan dirinya, ia masih memikirkan kejadian-kejadian yang telah dialami, belum lama ia muncul didalam rimba persilatan, gangguan-gangguan dan halangan yang datang saling susul menimpa dirinya, ia sedang menunaikan misi tugas sang guru untuk membawa pedang In-liongkiam, menemui seorang gadis yang bernama Ie Han Eng, tujuannya adalah lembah Hui-in.

Manakala ia berdiri diam, telinganya dapat menangkap lain suara berkesiuran angin, Cepat-cepat ia membalikkan badan, menghadapi orang yang baru datang. Seorang berbaju putih sedang mendatangi kearah dirinya, pemuda itupun mempunyai potongan badan yang agak mirip dengan dirinya, dilihat sepintas lalu, mereka adalah saudara kembar, perbedaannya ialah wajah pemuda yang baru datang agak lebih manis, kulitnya pun lebih halus. Pemuda yang baru datang itu membuka suara.

"Maafkan, siauwtee yang terlambat datang sehingga merepotkanmu mengusir keempat orang tadi, perkenalkan siauwtee bernama Cin Bwee." "Ooo, hanya perkara kecil." Dan ia membalas hormat pemuda yang bernama Cin Bwee itu.

"Memang perkara kecil, dengan mudah keempat orang telah berhasil kau usir pergi!" Berkata Cin Bwee sambil tersenyum. "Sebenarnya, tujuan mereka adalah diri siauwtee" Mata mereka agak sedikit lamur maka mengganggu saudara dengan kesudahan seperti ular mencari penggebuk, mereka lari kucar-kacir, ha, ha, ha betul-betul lucu!"

Si pemuda tertegun ucapan Cin Bwee banyak berkesan, Matanya melirik kearah pakaian dan potongan badan pemuda itu, pada punggungnya pun terselip sebatang pedang, itulah cara dandanan dirinya, tidak dapat menyalahkan kepada empat orang berbaju hitam, didalam waktu yang terburu-buru, mereka dapat salah mata, dirinya dianggap sebagai pemuda Cin Bwee. Melihat gerak-gerik dan lagu suaranya, Cin Bwee sangat mirip dan lebih mirip dari seorang wanita, daripada seorang pria.

Menyaksikan keadaan pemuda itu, Cin Bwee mengalami getaran, ia berpikir di dalam hati. "Celaka! Mengapa aku tertarik kepadanya? Sudah kurencanakan baik-baik untuk menggunakan nama palsu, mengapa kuberitahu nama asli? Dilihat dari sinar matanya, seolah-olah, ia telah mengetahui penyamaranku? Mungkinkah..."

Segera ia memanggil. "Hei, mengapa kau diam saja? Siauwtee bernama Cin Bwee, dan bagaimana nama sebutanmu? Mengapa tidak memberi tahu?" Pemuda itu tersadar dari lamunannya, ia sadar bahwa tidak seharusnya memandang orang seperti apa yang telah dilakukannya tadi, beruntung orang tersebut sebagai seorang pemuda, bila berhadapan dengan seorang pemudi, bukankah sangat kurang ajar sekali?

"Oh Maafkan... Namaku Su-to Yan." Demikian ia berkata gugup. "Eh, namamu itu seperti nama perempuan," Pemuda yang bernama Su-to Yan tertegun, ia berpikir. "Mungkinkah namamu itu mirip dengan nama laki-laki? Aku tidak mencela kepada kedua orang tuamu yang memberi nama bersifat perempuan, mengapa kau mencela nama orang?"

"Nama saudarapun tidak mirip dengan nama laki-laki," Berkata Su-to Yan. Wajah Cin Bwee berubah menjadi merah, beruntung keadaan gelap, hal ini tidak terlihat oleh Su-to Yan. Cepat-cepat Cin Bwee menundukkan kepala, kemudian ia berkata.

"Telah kusaksikan, bagaimana kau menyerang keempat orang tadi dengan gerakkan-gerakkan yang luar biasa, sangat indah, itulah tipu silat Siauw-lim-pay. Sayang Siauw-lim-pay melarang anak buahnya menampilkan diri, turut campur keduniawian kesempatanmu mendapat nama akan terkekang olehnya, bila tidak, dengan ilmu kepandaian yang kau dapati, kukira sukar mendapat tandingan."

"Saudara Cin, kau terlalu memuji ilmu kepandaianku, tapi kau keliru, aku bukan anak-murid Siauw lim pay." Cin Bwee melengak, hal itu sungguh berada diluar dugaan. "Benarkah, kau anak murid Siauw lim-pay?" "Mana berani aku menghianati nama partai sendiri?" "Dari partai manakah asal-usulmu?" "Aku tidak berpartai." "Hei, jangan kau berdusta." "Selamanya, belum pernah aku berdusta kepada orang."

Cin Bwee memperlihatkan wajah cemberut, persis seperti gadis jelita yang kolokan, perubahan mana yang menimbulkan kecurigaan Su-to Yan, makin kuat dugaannya bahwa Cin Bwee ini adalah wanita yang menyamar pria. Ketika Cin Bwee ingat akan keadaan dirinya, cepat-cepat membuang wajah cemberut itu, kini parasnya ramah lagi, seperti sediakala ia-berkata.

"Saudara Su-to, kemanakah kau hendak pergi?" Su-to Yan tidak dapat berdusta, ia menjawab pertanyaan itu secara terus terang. "Aku sedang berada didalam perjalanan menuju kelembah Hui in." "Lembah Hui in digunung Bu-san?" "Betul" "Hendak menemui nona Ie Han Eng, bukan?" "Eh, bagaimana kau tahu?"

Su-to Yan sangat heran, bagaimana orang tahu bahwa dirinya ingin menemui nona dilembah Hui-in tersebut? Matanya mengawasi Cin Bwee, ia hendak meminta keterangan yang lebih jelas. Cin Bwee mengerti akan keheranan sipemuda, segera ia berkata. "Ketahuilah, setiap orang yang menuju ke arah lembah Hui-in, pasti mencari Ie Han Eng, maka tidak mungkin aku salah duga."

Su-to Yan belum membuka mulut Cin Bwee telah meneruskan pembicaraannya. "Setiap orang yang hendak menemui nona Ie Han Eng akan ditolak oleh si Pedang Selatan dan Pedang Utara, sepasang jago tanpa tandingan. Mungkinkah kau bersedia ditempur oleh kedua orang tersebut? tidak mudah untuk menjatuhkan salah satu dari kedua orang itu, tahu?"

Su-to Yan tertawa, dan ia berkata gagah. "Aku sedang menjalankan perintah suhu, segala sesuatu yang akan kuhadapi pasti dapat kuatasi, aku harus berusaha membersihkan rintangan-rintangan itu."

Cin Bwee tercengang. "Hei." Katanya. "perintah suhu? Kau tahu bahwa Pedang Selatan dan pedang Utara itu melarang orang memasuki lembah Hui-in, mereka melarang orang melihat kitab Maya Nada, ilmu pedang tersebut tidak boleh lepas dari tangan Ie Han Eng," "Mengapa?" Bertanya Su-to Yan tidak mengerti "Mudah dimengerti. ilmu pedang tersebut sangat luar biasa, Siapa yang memilikinya pasti menjadi seorang jago yang tak terkalahkan dan ini tidak boleh." "Aku masih belum mengerti."

Cin Bwee melengak, mengapa demikian? Segera ia berkata. pemuda itu mengatakan "Kau mendapat tugas kelembah Hui-in, tujuanmu menemukan Ie Han Eng, seharusnya kau tahu akan rahasia ilmu pedang Maya Nada, Nah, ceritakanlah sedikit tentang ilmu pedang itu." "Maaf, sama sekali, aku tidak tahu akan adanya ilmu pedang itu." "Jangan kau berbohong dihadapanku." "Siapa yang bohong kepadamu?"

Cin Bwee menunjukkan wajahnya yang tidak puas, ia berkata. "Ternyata kau tidak jujur Aku tidak suka kepadamu, Maka sampai disini sajalah perkenalan kita. Selamat tinggal." Tanpa menoleh lagi, Cin Bwee meninggal kan Su-to Yan. Su-to Yan tidak mencegah kepergian pemuda yang seperti gadis itu, ia menaruh curiga kepada musuh, tentunya Cin Bwee mengandung permusuhan dengan Ie Han Eng, dan ingin mengorek rahasia dari dirinya, sebenarnya ia tidak tahu sama sekali.

Setelah berdiri beberapa saat, Su-to Yan duduk bersila, ia harus istirahat dan melakukan perjalanan diesok hari. Bagi seorang yang melatih ilmu silat, mengatur peredaran jalannya beberapa saatpun cukup, dengan harapan pada hari berikutnya ia dapat meneruskan perjalanan dengan badan sehat. Su-to Yan ada maksud untuk istirahat lebih lama, sengaja ia memejamkan mata, dengan demikian, ia lebih cepat memulihkan tenaga.

Apa mau telinganya dapat merangkap satu suara derap kaki kuda, arah tujuannya adalah kelenteng dimana ia sedang menetap, tidak lama kemudian suara kuda itu sudah berada didepan kelenteng disini ia terhenti. Ia berpikir. "Tentu ada orang yang akan masuk ke-dalam kelenteng." Ia membuka kedua matanya dan secepat itu pula, ia dapat melihat seorang berbaju kuning memasuki ruangan.

"Ada orangkah didalam?" Demikian orang berbaju kuning itu bertanya, Segera matanya bertumbuk dengan mata Su-to Yan. Su-to Yan memperhatikan orang itu, pada pinggangnya tergantung sebuah pedang, tentunya bukan pedang biasa. Orang itu mendekati Su-to Yan dan berkata. "0ooo....Saudara sudah berada ditempat ini? Sudah lamakah? Agak mengganggu."

Su-to Yan belum menjawab pertanyaan tersebut, dan orang itu sudah meneruskan pembicaraannya. "Kebetulan aku lewat didepan kelenteng, berhubung hari sudah malam, maka aku hendak turut istirahat. Harap saudara tidak keberatan, perkenalkan, aku adalah Kong-Sun Giok."

Su-to Yan telah bangun berdiri, mendengar disebutnya nama Kong-sun Giok, hatinya tergetar, ternyata orang yang berada dihadapan dirinya adalah Pemimpin pada rimba persilatan untuk daerah Selatan si pedang selatan Kong-Sun Giok. Salah satu dari tiga jago pedang di masa itu.

Mungkinkah Kong-sun Giok ingin menghalang-halangi perjalanannya menuju kelembah Hui-in? Demikian ia bertanya kepada diri sendiri jika hal itu benar, agaknya tidak mudah untuk menghindari diri dari rongrongan jago pedang nomor satu ini, besar kemungkinanya tugas yang didapat dari sang guru akan terlantar.

Su-to Yan adalah seorang pemuda yang tidak mudah ditundukan begitu saja, sikapnya yang kalem dan tenang menunjukkan kepribadian dirinya, dari sinar matanya yang penuh kewibawaan bagaimanapun sulit rintangan yang di hadapi, tetap akan diterjang olehnya.

Demikian, mendengar Kong-sun Giok memperkenalkan diri, dengan sikap yang hormat, Su-to Yan memberi tanggapan. "Sungguh beruntung, aku Su to Yan dapat berkenalan dengan saudara Kong-sun Giok yang termashur." Kong-sun Giok sangat puas atas pujian yang diberikan kepada dirinya, dengan tertawa panjang ia-berkata. "Saudara Su-to, pedangmu itu sangat bagus, bolehkah aku melihat sebentar. Harap Saudara tidak menolak permintaanku."

Su-to Yan adalah seorang pemuda jujur, seorang yang belum tahu betapa pahit getirnya kejahatan dan kelicikan dunia, tentu saja tidak mencurigai akan maksud orang yang mengatakan hendak meminjam pedang itu. Diloloskannya pedang In-liong dan diserahkan kepada Sang bengcu rimba persilatan Kong Sun Giok menyambut pedang dengan sikap yang sangat ramah, ia tertawa riang.

Ditimbang-timbangnya berat pedang, rasa kagetnya tidak terkira, apa lagi setelah melihat huruf "In-liong" Yang tercetak pada pedang tersebut. Mata beralih kepada sipemilik pedang dan berkata kepada lainnya. "Saudara Su-to, siapakah gelar nama guru mu yang terhormat?"

Su-to Yan tertawa "Maaf, Guruku sudah tidak menginjakkan kaki didalam rimba persilatan maka tak dapat aku menyebut namanya," Demikian ia memberikan jawaban. Kong-sun Giok mengerutkan sepasang alisnya, tapi dirubahnya segera, dengan wajah ber seri seri, ia menanyakan Su-to Yan. "Saudara Su-to tahukah kepada nama-nama akhli pedang dijaman ini?"

Dengan cepat, tanpa pikir lama-lama, Su-to Yan memberikan jawaban. "Untuk daerah utara sungai Tiang-kang, si pedang utara Auwyang Ie menunduki urutan pertama, dan untuk daerah Selatan, kau si Pedang Selatan Kong-sun Giok, mengepalai semua jago rimba persilatan Kecuali dua akhli pedang ini, masih ada seorang yang tidak pernah menginjakkan kakinya didaerah Tionggoan, itulah Jago Pedang Bayangan Sie An."

Mendengar keterangan Su-to Yan, rasa mangkaknya Kong-sun Giok menjadi-jadi, dia adalah Bengcu atau pemimpin para jago rimba persilatan untuk daerah selatan, ilmu pedangnya belum pernah menemukan tandingan dan hal itu ternyata diketahui semua orang, Dengan hati bangga ia berkata.

"Saudara Su-to, sudah kau ketahui bahwa Kong-sun Giok yang kau sebut itu adalah aku sendiri, Sejak umur lima belas tahun aku berkecimpungan didalam rimba persilatan, hingga kini sepuluh tahun telah kulewatkan, ribuan macam pedang yang telah kulihat, tidak satupun yang dapat memadai pedangmu, namanya pedang Ing-liong-kiam. Aku sangat tertarik sekali, bila kau tidak keberatan, sudikah menghadiahkan pedang ini kepadaku."

Luar biasa, inilah cara perampasan secara halus, Bila Su-to Yan tidak mempunyai ilmu kepandaian yang berarti, bila Su-to Yan tidak mempunyai itu keberanian untuk memintanya kembali, atau setidak tidaknya merebut kembali dari tangan orang, pasti pedang In-liong menjadi korban, Su-to Yan bersenyum, Diam-diam ia berpikir didalam hati. "Hm, Sejak tadi kau bicara ke barat ke timur, ternyata bermaksud tujuan kepada pedangku ? ingin memiliki pedang In-liong? tidak mudah, kawan."

Ia hendak membuka mulut, tapi didahului oleh Kong-sun Giok. "Saudara Su-to, jangan kau salah mengerti Aku ingin memiliki pedang Ing-liong bukan tiada syarat, pedang itu akan kutukar dengan pedangku yang pernah menguasai rimba persilatan didaerah Selatan, Dengan adanya pedang tersebut, bilamana kau berkelana didaerah kekuasaanku kau banyak menarik banyak keuntungan tiada seorangpun yang berani mengganggumu. Melihat pedang itu, mereka akan menaruh hormat dan tidak berani membikin susah." n

"Tapi, saudara Kongsun," Jawab Su-to Yan. "Harap jangan kau berkecil hati, aku tidak dapat meluluskan permintaanmu karena pedang itu bukankah milik pribadiku aku mendapat tugas dari guruku yang memberi perintah untuk menyerahkan pedang tersebut kepada seorang nona yang bernama Ie Han Eng, dengan tempat persemayamannya di lembah Hui-in, di gunung Bu-San."

Wajah Kong-Sun Giok berubah gusar, alis nya mengkerut tinggi, ia berpikir. "Dugaanku tepat! Dengan pedang ini, ia ingin menukar ilmu pedang Maya Nada. Bila kubiarkan dia menuju kelembah Hui-in, setelah berhasil meyakinkan ilmu luar-biasa itu, derajatku akan tertekan olehnya, Didalam dunia bertambah seorang akhli pedang tanpa tandingan. Betul-betul tanpa tandingan! Tiada seorang pun yang dapat mengalahkannya."

Tiba-tiba ia tertawa berkakakan, kemudian berkata. "Saudara Su-to, lembah Hui-in di gunung Bu-san itu telah kujadikan sebagai daerah terlarang, Saudara ingin menuju ke tempat tersebut bukankah ingin melanggar pantanganku? Apakah saudara hendak mencari permusuhan dengan Kong-sun Giok? Aku tidak bermaksud jahat, sudah pasti bahwa pedang In-liong ini akan menjadi rebutan orang, daripada jatuh kepada tangan orang lain, ada baiknya kau serahkan Saja padaku, dengan hadiah pedang bengcu yang kupunyai untuk diserahkan kepadamu."

Su-to Yan tidak puas dengan kata-kata yang diucapkan oleh si Pedang Selatan, ia menjawab. "Kau adalah bengcu untuk daerah Selatan, Dimisalkan pedang In-liong hilang dibawah kekuasaanmu tidakkah akan menurunkan pamor nama Kong-sun Giok yang arif bijaksana?"

"Hm Kau berada didaerah Selatan, daerah yang berada dibawah kekuasaanku, berani kau mengeluarkan kata-kata seperti tadi? Bukankah secara blak-blakan, ingin bermusuhan dengan aku Kongsun Giok?" Berkata si pedang Selatan dengan suara tidak senang. Su-to Yan mendongkol hatinya berpikir.

Menurut keterangan suhu, si pedang Selatan ada lebih jujur dari Pedang Utara, tidak disangka bahwa orang yang bernama Kong-sun Giok inipun sangat tamak, tiada aturan sama sekali, Su-to Yan tidak tahu, betapa pentingnya pedang In-liong itu, maka ia mempunyai pikiran seperti apa yang telah kemukakan diatasi bila ia tahu, berapa nilai pedang In-liong di dalam rimba persilatan, tentunya berpikiran lain. Kong sun Giok telah membalikkan badan, ia meninggalkan pesan. "Aku menetap di kota Kie-Shie. Bila kau ingin meminta kembali pedang ini. Datanglah dikota tersebut untuk menemuiku." Dan si Pedang Selatan siap meninggalkan kelenteng. Cepat cepat Su-to Yan berteriak. "Tunggu dulu!"

Kong-sun Giok menghentikan langkahnya, ia berbalik kembali, ditatapnya Su-to Yan dengan sinar mata tajam, selaput hawa pembunuhan telah mengarungi bengcu rimba persilatan daerah Selatan. Su-to Yan tertawa-tawa, dengan tenang bertanya. "Bagaimana dengan pedang In-liong, milikku yang masih ditanganmu itu?" "Pedang ini akan kubawa pulang." Tukas Kong-sun Giok. "Dengan nama Pedang Selatan Kong-Sun Giok yang ternama, agaknya tidak mungkin meminjam barang tanpa dikembalikan lagi."

Secara tidak langsung, Su-to Yan memberi peringatan kepada sang bengcu, belum lama dikatakan hendak meminjam pedang, bukanlah hendak memilikinya. Kong sun Giok berkata dengan tenang. "Su-to Yan. kau harus mengerti harga dan pentingnya pedang Inliong, Bila tidak kuambil, tokh akhirnya akan diambil orang lain."

Su-to Yan tersenyum, ia berkata. "Saudara Kong-sun, arah tujuanku ke Utara, menyebrangi sungai Tiang-kang, dari sini masih berjarak ratusan lie, Kalau betul-betul hendak memiliki pedang InHong-kiam, kau boleh ambil dengan cara hormat. Rebutlah dari tanganmu, sebelum aku melintasi daerah kekuasaanmu."

"Bagus! Kau ingin menantang diriku? Baiklah, Aku percaya kepadamu, Ambillah pedang ini."

Berkata Kong-Sun, Giok sambil melempar pedang In-liong. Tenaganya ditambah beberapa bagian, sengaja melempar dengan keras, didalam hati ia-berkata. "akan kulihat, bagaimana kau menyanggah pedang yang kulempar kepadamu?"

Dengan gaya yang manis sekali, hanya-menggunakan tiga jarinya, Su-to Yan menangkap datangnya pedang, masak kedalam genggaman tangannya, tanpa goyang! Perbuatan mana membuat Kong-sun Giok kaget, ia harus memuji kepandaian lawan. tidak diketahui, gerangan cara apa yang digunakan orang menyambuti pedang? Sungguh luar biasa! Sebelum Su-to Yan membuka mulut, Kong-Sun Giok sudah berkata lagi.

"Saudara Su-to, jangan khawatir Aku Kong-sun Giok tidak segera mengambil pedangmu itu. Cuma saja aku peringatkan kepadamu bahwa perjalanan masih jauh, bahaya dan rintangan masih banyak bagimu, tidak sedikit dari pada pendekar ulung yang menghendaki pedang itu, harap saja kau dapat menjaga pedang tersebut, demikian sehingga aku dapat mengambilnya secara hormat."

Su-to Yan tersenyum, ia memasukkan kembali pedang In-liongkiam kedalam serangkanya, dan digantungkan lagi di pinggang. Kong-sun Giok menyaksikan sikap Su-to Yan yang acuh tak acuh, hatinya sangat mendongkol ingin sekali ia menerjang pemuda itu, bila tidak takut ditertawakan oleh orang-orang bawahannya yang pasti akan mengetahui di kemudian hari. Su-to Yan berdiri tanpa bergeming. Kong-sun Giok melirik sebentar, hatinya berkata. "Sungguh luar biasa, sayang ia memiliki pedang In-liong. Bila tidak, betapa baiknya kita bekerja sama."

Dengan pikiran seperti yang telah disebut diatas, Kong-sun Giok meninggalkan Su-to Yan. Setelah bayangan Kong-sun Giok lenyap dari pandangan mata, Su-to Yan menggunakan pikirannya mengasah otak, Apakah yang menjadi keistimewaan pedang In-liong? sehingga seorang bengcu yang tersohor tidak takut menurunkan martabat untuk mendapatkannya, ia tidak dapat memecahkan problem itu, karena sang guru tidak memberi tahu kegunaan dari pedang tersebut, pesannya terlalu singkat, ia harus menyerahkan pedang tersebut kepada seorang gadis yang bernama Ie Han Eng, dilembah Hui-in digunung Bu-san."

Maksudnya yang ingin istirahat didalam kelenteng itu hampir mengalami kegagalan, setelah diganggu dengan empat orang dari golongan Thian-lam Lo-sat, kemudian datang Cin Bwee, disusul lagi dengan munculnya Kong-sun Giok. Sungguh sangat menjengkelkan. Peristiwa gangguan Pedang Selatan, dengan ilmu kepandaian dirinya, mungkinkah dapat menandingi Kong-Sun Giok? Karena sudah mengeluarkan kata-kata tantangan, apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya dengan segala ketabahan yang ada. Kekuasaan Kong-sun Giok tidak berada di bawah partai Siauwlim-pay atau Bu-tong-pay. Ancaman bengcu itu harus mendapat tempat yang layak. Sebentar kemudian, haripun telah menjadi terang, Su-to Yan melanjutkan perjalanan.

-ooo0dw0ooo-

...bersambung ke Jilid 2...

Baca Juga: Kelanjutan Kisah Seru Dewa Arak 92: Memperebutkan Batu Kalimaya

Daftar Episode Pedang Wucisan (Baca Online di Facebook)

Bergabunglah di Group FB untuk update terbaru: Group FB Cersil Pedang Wucisan

Disqus Comments