Jumat, 24 Juli 2026

Pendekar Sakti Suling Pualam Chin Yung

Pendekar Sakti Suling Pualam -- Chin Yung

Tempat Terbaik Baca Online Pendekar Sakti Suling Pualam -- Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam -- Chin Yung (Lanjutan Pek Ih Sin Hiap)

Sinopsis dan Cuplikan Cerita Suling Pualam

Bagian Kesatu: Penyakit Aneh yang Mencemaskan

Dunia persilatan (Bu Lim) sempat mengecap kedamaian sejenak setelah kematian Bu Lim Sam Mo di tangan Pek Ih Sin Hiap, Tio Cie Hiong. Tokoh-tokoh persilatan dari tujuh partai besar meyakini bahwa masa-masa kelam penuh darah telah usai. Tio Cie Hiong sendiri, bersama para isterinya—Lim Ceng Im, Lie Man Chiu, dan Tio Hong Hoa—memilih menarik diri dari hiruk-pikuk dunia ramai dan menetap di Pulau Hong Hoang To (Pulau Burung Phoenix) yang letaknya terpencil di Pak Hai (Laut Utara).

Pulau Hong Hoang To adalah tempat yang panoramanya sangat indah, menakjubkan, dan seolah terpisah dari dunia luar. Di sana, burung-burung phoenix tampak beterbangan di antara bunga-bunga liar yang memekar segar. Di pulau inilah lahir penerus darah sakti Tio Cie Hiong, seorang bocah laki-laki bernama Tio Bun Yang.

Sejak usia belia, Bun Yang telah menunjukkan bakat yang luar biasa dan jenius. Bayangkan saja, di usia sepuluh tahun, ia bukan main tampannya, siapa yang melihatnya pasti akan timbul rasa suka. Namun yang lebih mencengangkan adalah kepandaian silatnya. Tio Cie Hiong telah menurunkannya ilmu-ilmu pamungkas seperti pan Yok Hian Thian Sin Kang (Tenaga Sakti Pelindung Badan) dan Kan Kun Taylo Sin Kang (Tenaga Sakti Alam Semesta). Bahkan bocah ini telah menguasai Tujuh Jurus Giok Siau Bit Ciat Kang Khi (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian).

"Aku tidak menyangka, Bun Yang baru berusia sepuluh tahun tapi telah dapat menguasai semua ilmu yang kita turunkan kepadanya," ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum bangga kepada isterinya, Lim Ceng Im.

Akan tetapi, di balik kejeniusan itu, tersembunyi kekhawatiran besar di hati Lim Ceng Im. Wajahnya sering berubah murung menatap putranya berlatih. Tio Bun Yang mengidap sebuah penyakit aneh. Penyakit ini semacam tekanan darah tinggi yang misterius. Apabila ia marah besar, peredaran darahnya berjalan lebih cepat menerjang ke arah syaraf otak, sehingga kesadarannya akan tertutup.

Tio Cie Hiong, yang juga mahir ilmu pengobatan, berusaha menenangkan isterinya. Ia yakin bahwa pada dasarnya Bun Yang berhati bajik dan berwatak luhur. Namun, Lim Ceng Im tetap khawatir. Ia masih ingat kejadian setahun lalu ketika Bun Yang dipagut ular. Saking marahnya, bocah itu tidak hanya membunuh ular tersebut, bahkan mencincang-cincangnya pula.

Sementara itu, jauh dari kedamaian Pulau Hong Hoang To, rimba persilatan Tionggoan kembali bergolak. Muncul perkumpulan misterius bernama Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju Berdarah). Dimana Hiat Ih Hwe muncul, di situ pasti banjir darah. Mereka membantai para pembesar yang jujur, pemberontak, dan kini mulai mengarah pada kaum rimba persilatan golongan putih. Keadaan ini mengingatkan pada kekacauan di masa lalu, seperti yang diceritakan dalam kisah Dewa Arak 91 Sapu Jagad yang juga penuh konflik intrik dunia persilatan.

Kembali ke Pulau Phoenix, Tio Cie Hiong mulai mengajarkan ilmu pengobatan dan Ilmu Penakluk Iblis kepada Bun Yang untuk memperkuat imannya agar tidak terpengaruh oleh hawa kemarahan maupun ilmu hitam. Ketenangan pulau itu terusik ketika kerabat mereka, Lie Man Chiu, menunjukkan gelagat aneh. Ia sering melamun di tepi pantai, memandang laut yang membiru.

Man Chiu rupanya tercekam rasa dengki yang halus terhadap Tio Cie Hiong yang namanya begitu harum di dunia persilatan. Ambisinya bangkit. Ia merasa menyia-nyiakan masa mudanya dengan berdiam diri di pulau, meski ia memiliki anak isteri yang mencintainya. Suatu pagi, kegemparan terjadi. Lie Man Chiu lenyap, meninggalkan sepucuk surat untuk isterinya, Tio Hong Hoa.

Paman Tio Tay Seng mencaci-maki, "Kurang ajar. Dasar tak tahu diri! Mantuku itu sungguh kejam, dia meninggalkan anak isteri hanya demi mengorbitkan namanya dalam rimba persilatan."

Kepergian Man Chiu membawa duka mendalam bagi Hong Hoa dan putrinya, Lie Ai Ling. Tio Cie Hiong mencoba mengejar, namun jejak Man Chiu sudah hilang, kemungkinan besar sudah berlayar menuju Tionggoan. Ketenangan keluarga itu benar-benar hancur oleh ambisi satu orang.

Di tengah kedukaan itu, seorang padri tua misterius berkunjung ke pulau. Dia adalah Tayli Lo Ceng. Kedatangannya membawa sedikit pencerahan. Ia menyebutkan bahwa kejadian ini adalah karma. Berhubung dulu ayah Tio Tay Seng pernah meninggalkan isterinya, maka karma itu jatuh pada keturunannya, Tio Hong Hoa. Tayli Lo Ceng juga memberikan pandangan mengenai masa depan Tio Bun Yang, meramalkan bahwa kelak rimba persilatan sangat membutuhkan kehadirannya.

Di tempat lain, di halaman istana Tayli, Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong juga merindukan sahabat mereka, Tio Cie Hiong. Mereka memiliki anak-anak yang sebaya dengan Bun Yang, yaitu Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan. Tayli Lo Ceng yang kemudian mengunjungi mereka, memutuskan untuk mengambil Beng Kiat dan Soat Lan sebagai murid dan membawa mereka digembleng di Gunung Thay San.

Kisah ini beralih ke Kwan Gwa (Luar Perbatasan), di sebuah lembah indah menakjubkan. Di sana hidup pasangan legendaris Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin. Mereka memiliki seorang putri yang luar biasa cantik, bernama Siang Koan Goat Nio. Di usia sembilan tahun, Goat Nio telah menguasai ilmu pedang Giok Li Kiam dan pandai meniup suling emas. Ibunya, Kou Hun Bijin, yang sifat aslinya centil dan suka tertawa cekikikan, sudah sibuk memikirkan perjodohan Goat Nio dengan putra Tio Cie Hiong, Bun Yang, meski mereka belum pernah bertemu.

Kembali ke Tionggoan, **Yo Suan Hiang** yang telah meninggalkan Pulau Phoenix, bertekad menuntut balas kematian ayahnya. Ia mendirikan Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan) untuk menghimpun jago-jago persilatan golongan putih guna melawan kekejaman Hiat Ih Hwe yang dipimpin oleh kasim jahat, Lu Thay Kam.

Lie Man Chiu, yang mengembara demi nama harum, justru tersesat jalan. Tanpa sengaja ia menolong rombongan Lu Thay Kam dari serangan anggota Tiong Ngie Pay. Tergiur oleh kemewahan dan kekuasaan, Man Chiu menjual harga dirinya dan mengabdi pada Lu Thay Kam. Ia bahkan diangkat menjadi wakil ketua Hiat Ih Hwe dan kepala pengawal istana barat. Di sana, ia bertemu putri angkat Lu Thay Kam yang cantik dan bijak, Lu Hui San. Gadis inilah yang perlahan menyadarkan Man Chiu akan kesalahannya meninggalkan anak isteri, setelah melihat pemandangan menyentuh hati tentang induk burung yang menyayangi anaknya.

Badai besar pasti akan melanda dunia persilatan ketika para penerus muda ini—Tio Bun Yang yang perkasa namun berpenyakit aneh, Siang Koan Goat Nio sang bidadari suling emas, serta duet jago Tayli, Beng Kiat dan Soat Lan—mulai turun gunung. Takdir dan karma akan mempertemukan mereka dalam jalinan cinta, dendam, dan perjuangan membela kebenaran melawan persekutuan jahat Lie Man Chiu dan Lu Thay Kam. Bagaimanakah kelanjutan kisah seru ini? Simak terus babak demi babak pertempuran hebat mereka.


Daftar Episode Baca Online (Facebook Group):

Gabung Grup: Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam

Disqus Comments